Routine


I do miss my routine. Sebulan terakhir hidup gw beneran ga teratur. Dibanding hidup gw yang cukup teratur di Jerman, kerjaan gw di perusahaan yang baru kaya bumi langit. Coba liat jadwal gw dua bulan terakhir ini:

  • Singapore. July 14-July 24
  • San Francisco: July 24- August 5
  • Jakarta: August 5-August 10
  • Singapore: August 10-August 11
  • Jakarta: August 12-August 17
  • Manila: August 18-August 20
  • Singapore: August 20 – tbd

Dulu gw pikir kalau kerja yang banyak travelnya bakal seru. Tapi ternyata capek banget. Hari rabu kmrn gw cuman tinggal di kamar apartment gw semalem di Singapore, sebelon keesokan harinya harus balik lagi ke Jakarta. Dan di SF atau Jakarta, setiap kali gw plg dari kantor, gw uda capek banget. Paling dinner ama temen.

I miss my low key life. Where I can just watch Netflix after going home from work and order junk food. What kind of your dream job? Gimana nurut lu ttg kerjaan yang banyak travelnya?

IMG_0853

Empathy


Saya bekerja di sebuah perusahan dimana hampir semua product dan engineering teams bekerja di kantor pusat di San Fransisco. Tantangan muncul ketika produk yang dikembangkan akan dipakai oleh pengguna dari seluruh pelosok dunia, termasuk Indonesia. Akan sangat mudah bagi product designers, product managers, dan engineers untuk mempunyai budaya yang sangat US (atau bay area)-centered.

Untuk itu, menurut saya, sebagai UX researcher, diluar dari semua insight menawan yang bisa saya buru untuk mengembangkan berbagai macam produk, hal yang lebih penting adalah untuk merangsang empati akan para pengguna produk kita.

Cara paling praktis adalah dengan cara melakukan user research bersama-sama dengan tim produk kita. Berikut adalah beberapa tips praktis yang saya telah pelajari selama ini.

1. Use your own products together with the locals
Kebanyakan user research dilakukan di lingkungan yang steril seperti lab atau kantor. Keuntungannya tentu saja kita bisa lebih fokus dalam menggali informasi dari pengguna. Namun user research dengan ecological validity yang tinggi bisa menimbulkan empati bagi tim produk kita. Misalkan produk kita adalah aplikasi pokemon-go, maka ajak tim kita untuk memakai aplikasi pokemon-go dimana mereka harus berjalan melewati trotoar yang hampir diisi penuh oleh penjual gorengan dan lubang selokan yang terbuka lebar.

Bekerja di perusahaan penyedia ride sharing app, saya ajak beberapa designer, pm, dan engineer untuk berputar2 mengelilingi Jakarta, baik dengan produk kami sendiri ataupun produk kompetitor. Hasilnya cukup menyenangkan. Semua dari mereka berasal dari first world country dimana kemacetan yang akut, akurasi gps yang rendah, koneksi internet yang lambat, kesemrawutan struktur jalan, perumahan kumuh, ketidakjelasan rambu2 lalu lintas, dan makanan sehari2 rakyat Jakarta lainnya tidak ada di kamus mereka. Dengan mengalaminya sendiri, mereka bisa membuka mata lebar2 dan mendapatkan context of use dengan lebih jelas. Jauh lebih efektif daripada file presentasi yang bisa saya berikan pada mereka.

2. Ask them to observe our deep dive study
Memakai produk bersama tim kita sudah merupakan kemajuan besar. Setelah mereka mendapatkan konteks dari produk mereka dalam setting lokal, deep dive study bisa memberikan insight yang lebih kaya untuk mengembangkan produk kita. Dengan deep dive study, pengguna juga bisa berbicara lebih banyak tentang motivasi, persepsi, masalah, dan kefrustrasian mereka. Empati tentu saja menjadi salah satu tujuan kita.

Di dalam satu sesi wawancara berikut percakapan saya:

A: “Pak bisa ceritakan bagaimana pengalaman bapak kalau misalkan penumpangnya memakai promo code?”
B: “Ya kalau penumpang pakai promo, biasanya mereka ga bayar apa2 pak. Nanti di aplikasi saya ditulisnya nol”
A: “Wah jadi bapak ga dapat uang sama sekali?”
B: “Ya ga dapat pak. Kan lagi pakai promo penumpangnya”
A: “Bapak gpp? Kan udah habis bensin dan waktu?”
B: “Ya gimana lagi pak. Rezeki di tangan Allah. Kalau saya ga dapat dari penumpang ini, mgkn saya akan dapat dari penumpang berikutnya”

Setelah percakapan di atas saya mengakhiri sesi wawancara saya dan segera menuju ke ruangan lain dimana semua tim produk saya bisa mendengar dan melihat wawancara saya dengan bantuan translator dan video conference. Ketika saya masuk ruangan, tampak sekali emosi yang terpancar. Budaya “nrimo” yang baru mereka dengar sangatlah asing untuk tim produk saya. Percakapan sengit pun mulai timbul

“Shit. How come they do not know that we will pay them if our riders use promo code. These drivers are so different. <menyebut sebuah negara) drivers are so asshole and will never say something like this Indonesian drivers"
"I think we should not show zero money on their apps or at least give additional information that they will get reimbursed later on by the company"

Empati berhasil didapatkan!

3. Use translators and study settings
Study di market seperti ini butuh banyak translators. Setting yang saya pakai biasanya dengan memasangkan satu translator dengan satu orang dr tim produk. Masing2 tim akan saya brief apa yang harus mereka lakukan. Untuk deep dive study, saya pakai dua ruangan. Satu ruangan dimana saya interview participant 1 on 1. Saya akan memakai video conference dan camera yang mengarah pada muka participant. Di ruangan lain, semua tim produk bisa mengamati dengan bantuan translator yang menerjemahkan semua percakapan. Jika ada dr tim produk yang ingin memberikan pertanyaan, mereka bisa mengirim pertanyaan mereka lewat aplikasi chat yang akan saya baca di ruangan sebelah.

4. Be ready for sudden change and improvise
Terkadang budaya Indonesia harus diakui kurang bagus di bidang menepati janji dan tepat waktu. Dalam satu hari sangat bisa terjadi akan ada beberapa participant yang membatalkan janji mereka. Atau datang terlambat karena “jam karet”. Sesuatu yang tidak pernah saya alami ketika melakukan riset di Jerman. Maka dari itu, kita harus selalu siap untuk plan B, C, dan D. Undang participant satu jam atau setengah jam sebelum jadwal pasti. Siapkan cadangan participant. Jangan berhenti dengan jawaban “Insya Allah”. Dan hal2 lain dimana kita harus ajak tim produk untuk memahami dan beradaptasi dengan budaya lokal.

IMG_0793

product designer dari SF yang freaking out waktu menyebrang di jalanan Jakarta.

Pesawat


People change.

Gw masih inget bgt pengalaman long haul flight pertama gw. Pesawat dari singapore ke melbourne naik SQ. Rasanya excited bgt. Gw nonton film nonstop di dalem pesawat. Alhasil waktu nyampe di Melbourne, gw kaya zombie yang ngantuk bgt.

Sekarang gw malah males bgt perjalanan pesawat. Pengen cepet2 turun selalu. Makanan ga enak, kursi sempit, toilet sempit, tidur ga nyaman.

Kali ini the worst. Sambil nulis ini gw lg di dlm 787, naik united. Udah 10.5 jaman gw di sini and udab mati gaya abis. Koran uda dibaca. Film uda ditonton. Path uda dibaca. Makanan uda dimakan. Dan masih 6 jam lagi gw kudu dikerangkeng di burung besi ini.

Ini perjalanan nonstop terpanjang gw. 16.5 jam dari SG ke SF. Semoga waktu turun nanti gw ga kaya zombie.

nUber


IMG_0270

I am a nUber!! Wohooo!

Yes, since last week I have been joining Uber. Long story short, actually I applied to Uber Amsterdam but they offered me a very interesting role based in Uber Singapore. So here I am, stucked in this urban canyon once more.🙂

The first impression so far is so good. I am the only product team who is based in SG, and most (or all) of my counterparts are based in the HQ in SF. So why do they put me in SG? Because my role will focus on bringing Uber products closers to South East Asia region, meaning I will travel a lot in SEA, talk to our customers and learn their needs and behaviours. I am very stoked!

One of the best perks of being Uber employee is Uber credits which means I can roam freely with UberX and order food via UberEats, all free. I am afraid that I gonna gain too much weight in a second. I have been ordering these ayam penyet and es cendol for three consecutive dinners.😦 Breakfast and lunch are also free and the office pantry is always full with food and milos. I forecast that there will be a double chin soon. :p

to make it worse, UberX makes me very lazy to take MRT, meaning less calories burnt for walking.

We buy groceries via Honest bee app, delivered to the front of our doors. Order dinners via UberEats. Roam around using UberX. It is a fine line at what point do I go over the edge from getting rid of time suckers from my day to getting rid of everything that makes me human and my brain functioning…

For the next two weeks, I will be in SF, meeting my manager and my teams. So excited that finally I can eat in-and-out burgers again.😀 Will talk more about the company once I settle in!

IMG_0142
View from my apartment’s window. Stucked in this urban canyon once more.

Danke!


For 2 years full of stellar memories. I could proudly say that these two years were one of the best phase of my life. These are some of the highlight (not ordered in any way)

1. Pertama kali nginjekin kaki di Praha, Ceko

Sekitar bulan Agustus 2014, gw jalan2 ke Praha bareng 2 temen kuliah ITB dulu. Ini negara pertama di luar Jerman yang gw injek. Dan pertama kali bis gw masuk ke deket jembatan di kota Praha, gw beneran mesmerized. Ga lebay tp beneran. Haha. Itu kota “cantik” Eropa yang gw liat dan gw beneran kagum dengan arsitektur, jalan, sungai, castle. Speechless. Seneng banget akhirnya dream gw comes true buat jalan2 di Eropa.

2.  TKI adidas

Bareng 3 org Indonesia yang kerja di adidas juga (Erick, Yuki, and Dina), gw jalan2 ke Vienna, Austria. 4 hari 3 malam kita spend waktu bareng2 terus. Ketawa, jalan2, dan mulai ngobrol2 hal yang personal. Setelah dipikir2 setelah itu baru akhirnya kita lumayan deket. Dan sampai sekarang org2 Indo di adidas ini (ditambah Taman yang nantinya bergabung), yang bikin gw betah banget tinggal di Nuremberg.

Sering banget kita ngumpul di satu tempat, trus dinner, nonton, atau nyim*ng bareng. Kita ketawaaaaaaaa terus kalau ketemu bareng. Entah tanpa atau dengan cimeng. Gw bener2 jadi sayang banget ama mereka. Kita ngobrol hal2 yang pribadi. Uniknya kita semua beda2 banget karakternya. Jadi berasa kaya power ranger yang walau beda2 warnanya bisa jadi team superhero. Dina asalnya dari Jakarta, kuliah S1 di UI, terus kuliah S2 di Jerman dan akhirnya kerja di bagian real estate/stores management di adidas. Taman asli dari Jogja, kuliah S1 di Belanda, kuliah S2 di Jerman trus kerja di bidang sport marketing di adidas. Yuki dari Makasar, kuliah S1 di belanda, kuliah S2 di Jerman trus kerja di bidang talent acquisition di adidas. Erick dari Bekasi, Kuliah  S1 di Belanda, trus kerja di bidang digital marketing di adidas. Semua ngaco sih otaknya menurut gw. Benerang anomali buat kita bisa nyambung. Di depan mereka gw berasa jadi anak paling kecil. Berbanding sama waktu di Bandung atau Singapore, dimana gw sering/harus jadi anak paling “tua”.

Highlight jalan2 kita berikutnya ke Dubrovnik (Kroasia), Kotor (Montenegro), and Ljubljana (Slovenia). Paling banyak ketawa pas gw tipsi setelah ditraktir Erick makan2 fine dining di Ljubljana. Jalan dari restoran pulang ke apartemen, gw berasa super bahagia jadi ketawa terus. Padahal cmn gara2 2 gelas wine. Dan jalan pun dipapah Erick and Taman.🙂 Malam berikutnya waktu kita clubbing bareng, juga seru banget. I sweat laughters at that night.

I will miss them.

3. Alsa and Joel

Alsa and Joel adalah 2 temen kuliah ITB gw dulu. Alsa lagi kerja di Paris and Joel kuliah di Belanda. Kalau lg jalan ama mereka, gw selalu ketawa gila. Asiknya juga mereka berdua lebih pinter dari gw. Jadi gw selalu bisa belajar banyak dari mereka.

Kita jalan2 ke UK, Belanda, Jerman, dan Norway bareng. Dihadang kambing waktu nyetir di jalan, tidur di kabin kapal dari selatan ke utara Norway, bikin video2 gila dimana2, tahun baruan bareng, roadtrip sambil nyanyi “sudah terlalu lama sendiri”, dan ngobrol banyak hal.

Joel sekarang balik di Indonesia and kerja buat Jakarta Smart City. Alsa nanti bulan September bakal balik kerja di Singapore. Jadi kemungkinan besar kita bakal bisa reuni di Asia. Yaaay! I really look forward to meeting all of them agaiin.

4. Keluarga dateng ke Eropa

Mama, 2 kakak, kakak ipar, dan 2 ponakan dateng ke Eropa di Spring 2015. Happy banget. Pengen pengen banget jalan2 bareng mereka lagi. Semoga terlaksana segera.

5. adidas Group

Jumat kemarin hari terakhir di adidas. Dan adidas adlah tempat f*cking cool yang pernah gw tau. adidas adalah pintu yang bikin gw melihat hal2 yang sering bikin gw awe intelectually.

6. Makan space cake di Amsterdam

Setelah gw makan space cake (brownies dikasih ganja) di Amsterdam, gw pulang ke hotel dan ketika di hotel efek ganja kicked in. And I was…so STONED. 4 jam gw nangis, berasa ketemu Tuhan, takut mati, melihat pattern2, menghitung, berimajinasi, bergetar, takut, bingung, distorsi waktu selama 4 jaman.

7. Ketemu orang2 yang bikin paradigma gw semakin kaya

Gw ketemu keluarga Ikson and Andin di London. Gw liat gmn mereka ngedidik anaknya Haqqi, tinggal dan hidup di London sebagai keluarga kecil, dan cara pandang mereka, dan somehow gw belajar banyak. Berasa tambah kaya. Gw ketemu anak2 PPI Jerman yang ngajari gw banyak dari cerita2 pengalaman (sulit) mereka belajar di sini. Walaupun mereka kadang lebih muda dari gw. Risang, Taufan, Freddy, Stella, Dhio, dll. They are just cool.

Mike orang Ameriki kapitalis libertarian banget. Kaipei dari Cina daratan yang tipikal orang PRC banget. Jerome anak Singapore yang hipster physically and intelectually. John Oliver and Jon Stewart. Teman2 kantor orang Jerman yang bikin gw berasa di Jerman.

Gw ketemu 2 keluarga Indo adidas yang asik banget. Even anak2 mereka asik bgt. Kalau di Indonesia ada banyak keluarga2 Islam yang kaya mereka. Gw berasa Indonesia bisa asik banget walau tetep islami secara moral. Gw ketemu orang Indo yang belajar bhs Hungaria di Budapest, orang Padang bekas sekolah STPDN di Warsawa, gw ketemu Rindang dan anaknya, Rusdi dan Andrea – pasangan unik di Berlin, dan orang2 unik lainnya yang bikin paradigma gw semakin kaya.

8. Gereja International di Erlangen

Gw suka banget gereja tmpt gw pergi ini. Karismatik tapi ga over, ga kebablasan. Pastor Chris pernah gw ajak main ke adidas dan beneran being white sheet to him. Dia fair orangnya. Spiritual tapi menjejak tanah. Mungkin darah Jermannya yang bikin dia kaya gt. Gw harap abis ini gw bisa nyari gereja yang kaya gt lagi.

9. Christmas – NYE 2016

Temen deket dari Indo dtg. Kita jalan2 ke Ceko, Jerman, Spanyol, dan Iceland. Satu2nya temen Bandung gw yang nginjakin kakinya di kantor gw.🙂

10.  Naikkin jam terbang naik mobil

Di Solo, Seattle, Singapore, Bandung gw jarang banget nyetir. Di sini terpaksa karena letak kantor. Kalau ga karena ini mungkin selamanya gw bakal ga jago nyetir.

11. King’s Kaleidoscope

2 albumnya yang terakhir Beyond Control dan Becoming Who We Are diputer puluhan kali di kuping gw selama 2 tahun di Eropa ini. Dan masalahnya kita menyimpan memori di dalam pendengaran juga. Jadi pasti dijamin gw akan bermemori Eropa ketika nantinya gw dengerin 2 album ini. Lagu terakhir yang gw ulang puluhan kali judulnya “A prayer” di album Beyond Control. Tipikal lagu dark jujur kesukaan gw. Ini salah satu potongan liriknya.

Will you be there for me after?
Cause I’m wasting in this silence
And my fear is fucking violent
I’m a child thrown to lions
Is there hope on the horizon?
If I fall or if I misstep

12. Bandul

Kalau otak gw dianggap sebagai bandul di atas sumbu x-y. Sumbu X sebagai tingkat spiritual dari atheis hingga super devoted. Dan sumbu Y sebagai beberapa pertentangan konsep politik-sosial di dunia (sosialis – kapitalis, kanan – kiri, individual – komunitas, logika – emosi), bandul gw agak berayun lumayan keras mulai sejak dari Solo -> Bandung -> Seattle -> Singapore -> Jerman. Di Jerman ini gw merasa berayun lebih kiri, individual, emosi, libertarian, dan reformed. Gw percaya kalau bandul biarlah berayun ke titik-titik ekstrem. Daripada di halang2i malah bikin penasaran. Dan gw percaya kalaupun bandul  berayun, suatu saat pasti bisa sampai kesetimbangannya juga.

Danke!

 

IMG_9311

Sakit itu ga enak (banget)


Bulan Maret waktu gw balik dari Indonesia, entah kenapa gw jadi susah bernafas kalau berbaring. Hidungnya berasa congested. Makin hari makin parah. Gw pikir mungkin gw alergi pollen karena musim Spring udah tiba, jadi deh akhirnya gw ke dokter umum. Ke dokter umum malah dibilangnya gw infeksi kuping dan dikasih antibiotik. Ya gw sih nurut2 aja.

Ketika gw bilang ke temen kantor gw, pada shock karena gw dikasih antibiotik. Kata mereka, sebelon minum antibiotik mending gw ke dokter kedua buat second opinion. Segitu antinya orang Jerman ama antibiotik. Ga tau mereka kalau di Indonesia, infeksi dikit aja dikasi antibiotik langsung. :p

Singkat cerita akhirnya gw cari dokter THT dan dibilang kalau ga ada infeksi di telinga gw and gw suruh periksa tes alergi. Dites alergi di kulit, ga  ada alergi juga. Diambil darahnya deh. “Tes alergi yang pake darah lebih akurat”. Gw pun nanya “kalau bukan alergi, kira2 karena apa dong dok?” dan dijawab “Ya harus dioperasi, karena tulang di dalam hidung kamu bengkok ke sebelah. Jadi aliran udaranya ga seimbang”

Nunggu seminggu akhirnya hasilnya keluar. Gw harap2 cemas. Berharap kalau hasilnya gw alergi something sebenernya. Daripada gw dioperasi. Males abis.

Eng ing eng. Ternyata hasilnya negatif. Gw ga ada alergi apa. Jadi…kemungkinan besar gw harus dioperasi. Dokter THT gw refer ke dokter THT yang lain, yang biasa operasi hidung “Saya udah lama ga operasi hidung” katanya. Bikin appointment lah ke dokter THT yang satunya, dr. Heissenberg namanya. Baru dapat appointment 2 minggu berikutnya. Jerman memang rada parah urusan bikin janjian ama dokter. Nunggunya selalu lama abis.

Gw pun beradu “dok, saya bakal leave Jerman soon nih, di akhir Juni. Kalau bener harus operasi, harus dijadwalin cepet”. Ini sekitar tanggal 9 Mei. Untungnya dokternya pengertian. Gw dikasih jadwal ketemuan agak lebih cepat. Dan setelah tiga kali kunjungan ke dokter umum, dokter THT, dan dokter anestesi untuk cek ini itu, operasi gw dijadwalin tanggal 30 mei. Haiyoooo.

Bilang ke manajer rasanya sungkan abis. Karena gw kudu cuti 2 minggu setelah operasi. Which is 30 mei-12 Juni. Padahal Juni, bulan terakhir gw kerja di adidas. Jadi setelah operasi, gw cmn bakal kerja 2 minggu lagi. So practically sejak gw bilang ke manajer gw kalau gw bth cuti sakit, itu kaya bilang “Hi manager, gw leave company minggu depan”. Ya karena ga mungkin ada project yang bisa dikasih ke gw kalau waktu kerja gw tinggal 2 minggu. Semua project yang gw pegang mulai dihandover deh ke koleg2 gw.

Dan hari operasi pun dtg 30 Mei. Septoplasty namanya. Ngelurusin tulang dalam hidung, pembatas bagian kanan and kiri (nasal septum). Gw uda lumayan prepare: siapain buku and film yang banyak di laptop. Karena gw kudu dirawat inap at least 2 malem setelah operasi. Waktu di operasi sih ga kerasa apa2. Cuman hari waktu operasinya nahan lapar kaya orang gila karena operasi gw dimundurin 4 jam ke jam 5 sore. Gw jadi minta tolong Erick and Yuki buat beliin pad thai, siap2 buat makan malem abis operasi.🙂

Jam 5an, gw didorong ke ruang operasi. Literally didorong. hahahah. berasa geli sendiri. Gw beneran hampir ketawa. Habis gimana ga ketawa, orang didorong di atas kasur gitu ama dua suster and gw cuman  bisa liat lampu di atas. Berasa kaya di film2. Hahaha.

Masuk ruang operasi dan di anestesi general. Tidur as usual. Waktu mulai sadar, somehow gw jadi jago gitu ngomong Jermannya. Hahah. Separo sadar gw nanya2 “Entschuldigen. Wie viel Uhr ist es jetzt?” – excuse me, what time is it now. Terus dengan patah2 gw bilang “alles gut?” atau “in die laste minuten auf die operation, ich kann verstehen the pain” – maksundya “everithing is good? in the last minutes  of the operation, I could feel the pain”. Huahahhahah. itu jermannya ngaco abis, grammar and campur2 bahasa inggris. Tapi ya namanya kena obat bius, jadi rada ngaco.

Jam 9 malem, gw divonis udah bener2 sadar and didorong balik ke kamar. Erick and Yuki udah pulang karena nunggu kelamaan. O ya, ada dokter Indonesia yang kerja di RS tempat operasi gw. Dia temen main gw juga. Jadi lumayan dia suka bantuin gw translate, dll. termasuk bawain pad thai titipan Erick and Yuki di malem itu.

Gimana rasanya abis operasi? Ga sakit. Tapi ga nyaman banget. Di kasih semacam perban di hidung buat nahan darah yang netes and dikasih splint silicone di dalam hidung. Jadi otomatis gw ga bisa nafas pake hidung. Trus gimana? pake mulut. hahahaha. Ampun.

2 malem berikutnya gw survive di RS. Tidur ga nyaman karena nafas pake mulut terus (which makes your throat and mouth becomes very dry). Darah juga masih suka ngucur dari hidung. Tapi hari rabu 1 Juni, gw dibolehin pulang. Jumat kontrol lagi. dan weekend gw udah bisa jalan2 ke rumah Taman and Erick. Tapi masih ga nyaman bangeeeet. Karena kudu nafas pake mulut terus.

Senin, hari ketujuh setelah operasi, gw balik lagi ke dokter. Kali ini splint siliconenya mau dicopot dari dalam hidung. Masalah mulai timbul ketika darah gw ga berenti ngucur setelah splintnya dicopot. Disuruh nunggu bentar di tempat praktek tapi ga berenti2 juga darahnya ngucur. Sampeee, akhirnya dua lubang hidung gw dimasukin packing alias tampon. oh nooooooo. Penderitaan gw belon berakhir ternyata.

Karena lubang hidung gw dimasukin tampon, darah yang dari hidung jadinya merembes lewat kerongkongan ke mulut. Aaaaaargh!! It was a misery. Dokter bilang gw kudu balik hari Rabu buat copot tamponnya. gw pun nyetir pulang.

Sinetron masih berlanjut. Di rumah, beberapa kali gw muntah darah. Gw pikir ini darah dari hidung, karena kesumbat tampon itu. Masalahnya darahnya lumayan banyak and menggumpal gitu. Setelah muntah yang ketiga, gw mulai panik. Gw putusin buat ke RS, berharap tamponnya bisa dibuka, karena bikin gw ga nyaman banget.

Gw pun nyetir ke RS. Parkirin mobil di belakang RS dan jalan ke RSnya. Waktu jalan…berasa lemeees banget. Sampe di receptionist gw udah separo ga sadar. Cuman bisa bilang “do you speak english?”. Abis itu gw uda ga kuat and ngluyur ke tempat duduk. Sambil berbaring di tempat duduk, gw udah hampir pingsan. Udah sempet doa minta maaf segala ke Tuhan Yesus. Hahahah. berasa mau meninggal gitu. Hingga akhirnya dokter emergency nya datang sama seorang suster,

Si dokternya berusaha bangunin gw, ngomong bahasa Jerman banyak yang gw kaga ngerti sama sekali. Gw jawab bhs Inggris akhrinya dia tahu kalau  gw ga ngerti Jerman. Si dokternya berusaha nyari nadi buat dikasih infus. Susah banget. Percobaan keempat baru akhirnya dapet. Setelah diinfus, gw lmyan better. Tekanan darah naik dan gw didorong balik ke kamar pasien. Hahahha

Dari senin ampe pagi tadi (kamis)- 3 malam gw tinggal di RS lagi. 2 malem pertama lumayan kesiksa karena ada tampon dihidung. Ketika kmrn tampon dicopot, gilaaaa. enak banget rasanya. Bayangin ajaaa. Gw nafas pake mulut selama 9 hari. Ga enak tidur. Capek. Makan-makanan RS Jerman yang roti ama keju terus. Ampuuuun. Cranky abis lah.

Tapi bersyukur banget, 2 hari terakhir ini feeling so much better. Masalahnya masih ada kemungkinan tulang dlm hidung gw balik lagi ke dulu (karena tulang ternyata punya “memory”). Jadi masih kudu perawatan terus sampe 6 minggu ke depan. Haiiiiishhh.

Kadang (sering) gw pikir waktu gw sakit itu. Gw salah apaaaa sih. Hahahah. why noooow? Harusnya kan di bulan terakhir di Jerman, gw menikmati matahari sambil minum beer. Hahahah. Mungkiiiin. Ini semua salah darah Cina gw. :p

Jadi karena tahu gw udah bayar asuransi kesehatan tiap bulan, pumpung masih di Jerman, darah Cina gw mempengaruhi alam bawah sadar gw buat munculin penyakit kronis ini sekarang. Hahahhaha. Daaasaaaaaar badan Cina gwwwwww.

 

Alat perang buat jalan2


13139214_10154827928724167_2924945717532898294_n

Pardon me for my constant writing. I am currently on sick leave for two weeks because of a nasal septum operation. So things are so boring here. Writing is just one way to expedite my day.

Jalan2!

Selama dua tahun terakhir tinggal di Eropa, gw bener2 puasin jalan2 keliling Eropa. So far gw mengunjungi 20 negara di Eropa dalam 24 bulan terakhir ini. Selama jalan2 keliling Eropa ini ada beberapa alat perang yang menurut gw handy banget. Here they are:

  1. Google Flight

Di hari-hari libur nasional, kadang gw ga ada rencana spesifik buat mau jalan2 kemana. Kalau kaya gini kondisinya biasanya gw pake Google Flight. Di Google flight gw bisa tinggal masukin tanggal kapan gw mau jalan2 dan dia akan visualisasi-in pake peta yang berisi harga2 tiket pesawat buat kota-kota di map itu. Jadi gw tinggal pilih kota mana yang tiket pesawatnya bakal murah dikunjungi.

2. Skyscanner

Setelah dapet rute murah dari google flight baru deh gw beli tiketnya dari skyscanner. So far gw selalu dapat tiket paling murah dari website ini.

3. Uber

Awal2 di Eropa, kalau lagi jalan2 gw selalu pake public transportasi karena murah. Tapi akhir2 Uber jadi andalan utama. Yang pertama Uber jauh lebih murah dari Taxi, jadi kalau misalin gw jalan2 berbanyakan, ga beda jauh harga akhirnya drpd naik trem/bis/subway. Yang kedua, gw biasanya takut pake taxi karena takut bakal diputer2in atau kena scam harga kemahalan. Nah, dengan Uber ketakutan ini hilang karena Uber selalu kasih rute terpendek dan harga yang fixed. Ketiga, gw juga takut pake taxi kalau jalan2 karena di negara yang ga ngomong bahasa Inggris, gw takut ga bisa komunikasiin tempat tujuan gw. Dengan Uber sekali lagi masalah ini terpecahkan karena gw tinggal masukin tujuan destinasi di appnya.

So far pengalaman gw pake Uber asik2 aja. Gw pake di Polandia, Belgia, dll. Paling ribet sih buat hailing Uber di bandara karena kita biasanya ga tau dimana mobil2 pribadi biasanya masuk. Jadi gw pake Uber buat jalan2 di kota atau menuju bandara.

Kalau belon punya akun Uber bisa coba buka akun baru pake link ini. Gw ada vocer 150ribu rupiah buat lu. Hehe #promosi

4. Airbnb

Gw udah pake airbnb sejak dari jaman kuliah di US dulu. So far pengalaman oke juga kalau pengen dapet harga miring. Yang ribet biasanya cuman satu, harus janjian ama yang punya kapan kita bakal nyampe ke rumahnya. Pengalaman paling unik pas gw tinggal di sebuah desa dekat Allesund di Norway pake airbnb. Rumahnya sih oke bangeeet, di pinggir Fjord dan waktu pagi disambut banyak banget domba2. Keren abis lah. Satu rumah gede cuman buat kita ber3. Tapiiiii..ada satu hal lucu. Rumahnya ga ada air mengalir! hahahah. Jadi kalau ke WC kita kudu ke gubuk kecil di luar gitu dan buangan manusianya ditimpuk pake pasir. Hahhahah

Sekali lagi kalau belon punya akun airbnb, bisa coba buka akun baru pake link ini. Ada vocer 300 rb buat pemakaian pertama. #promosi lagi

5. Booking.com

Selain airbnb, kalau gw mau booking akomodasi ya ga jauh2 pake booking.com. So far selalu dapet harga paling murah dari website ini juga. Tinggal liat rank hotelnya di tripadvisor dan kalau oke tinggal di book deh.

6. Google docs

Kalau lagi jalan2 bareng biasanya ribet kalau bayar apa2 sendiri. Jadi biasanya ada satu orang yang bayarin buat setiap kali pengeluaran dan bisa gantian. Tinggal assign satu orang buat mencatat setiap kali siapa yang ngebayarin and at the end semua cost ditaruh di google docs (spreadsheetnya tentunya. D). Gw biasanya juga yang rekap di akhir perjalanan siapa utang siapa. Contohnya spreadsheetnya di sini.

Semoga link2nya berguna!

What have you (I) done in your (my) life?


13062878_10154810765089167_9094065937747102415_o

Jadi gw abis nonton My Chef’s table netflix series yang episode chef dari India, Gaggan Anand namanya. Nurut gw keren abis. Nyeritain si Gaggan yang sempet beberapa kali gagal, hancur2an, ambil jalan puter, hingga akhirnya bikin restoran di Bangkok, offer progresive Indian food, dan jadi restaurant paling bagus se Asia di tahun 2015. Plotnya emang cukup umum, from zero to hero. Tapi lumayan bikin mikir sih.

What have you done in my life, el?

I am almost 28 y.o and somehow I feel that I am too faaar behind these kind of cool people. Apalagi kalau tiap kali gw ngobrol dengan orang2 keren di Indonesia, yang bikin startup2 atau yang bikin banyak perubahan keren. Sementara gw? Asik nonton Netflix.

Lalu apa root problem nya?

Setelah gw pikir2. Salah satu masalah utama gw adalah nature gw yang sangat risk-averse. Gw bukanlah orang yang berani ambil resiko, selalu menganalisa kemungkinan terburuk, dan ujung2nya ga berani mengambil keputusan radikal. Padahal, low risk low return dan high risk high return. Jadi selama gw selalu di area comfort zone gw, ya gw cuman bisa jadi Yoel yang nonton Netflix.

Masalah kedua adalah males. Dari kecil gw males abis orangnya. Selalu cari cara terpendek untuk mecahin sebuah masalah dan enggan untuk bekerja habis2an. “kalau dengan 80% energi aja masalah udah selesai, kenapa gw harus pour 110% energi?”. Padahal kalau kita mau do extra mile, hasilnya juga pasti extraordinary.

Although I realize my problem, it is not that easy to change those two nature.

Dan jadinya kembalilah gw nonton Netflix aja…

#badai-insecurity

Anggur


IMG_7944

Kalau gw lagi minum alkohol sama temen2, gw suka dikatain “Murah lu el. Murah banget”. Hahahha. Maksudnya…murah banget buat gw bisa sampai ke level tipsy atau mabuk kalau mau.

Entah kenapa toleransi gw ama alkohol lumayan rendah. Satu gelas wine aja, udah bisa bikin gw tipsy dan merah banget muka gw. “Udang rebus!” itu kata temen2 gw. Buat beer, masih lumayan gw bisa minum. Mungkin karena kadar alkohol beer yang rendah. Tapi beneraaan, kalau udah ama wine??? Murah abis gw…dua gelas wine udah bisa bikin gw gampang ketawa and jalan sempoyongan.

Uniknya lagi gw punya satu temen dari Jogja yang sama2 pny kadar toleransi wine yang rendah. Kalau kita lagi makan bareng2 dan buka botol wine, udah deh kita berdua sama2 langsung gatel2 and merah setelah beberapa teguk wine. Kita suka bercanda “Ya gimana lagiii… Di Jogja and Solo (tempat asal gw), orang minumnya tapeee. Jadi kampung abis kita. Bisanya cmn minum (makan) tape” Hahahhaha

Begitu juga tadi malem. Kita ber5 makan proper steak dan minum wine. Dan after satu gelas (gede) wine????? Pulangnya gw jalan sempoyongan ke mobil temen and cuman setelah dikerokin and dipijetin temen gw, pusing gw ilang. Dasar muraaaah. :p

 

Gimana tingkat toleransi alkohol kalian?