Indihe


Sambil nulis ini, gw lagi di dalam perjalanan menuju Rishikesh dari New Delhi. Beberapa hari lalu gw nyampe di Bangalore dan lumayan excited karena ini pertama kalinya gw menjejakkan kaki di India. Ini beberapa hal yang gw alami dalam beberapa hari terakhir.

Drama Visa

Hari Selasa malam gw uda semangat banget bakal terbang ke India. Paginya gw ke kantor bentar buat beberapa meeting abis itu pulang and langsung naik Uber ke Changi. Setelah print boarding pass, gw mau check in luggage and drama Visanya dimulai.

Si petugas airlinenya bilang kalau gw butuh visa buat ke India. I was like…shit! Beberapa minggu lalu gw udah check di internet kalau orang Indonesia bisa dapet visa on arrival. Ga percaya? Coba deh google “indian visa for Indonesian”. Nanti link pertama bilang kalau kita bisa pakai visa on arrival.

Udah panik dan stress tapi ga bisa ngapa2in lagi akhirnya gw duduk and coba apply e-visa. 30 menitan gw masukin semua data2nya dan dibilang kalau visa bakal ready max 72 jam. Dan sambil kecewa gw tarik lagi koper gw, pesen Uber, dan balik ke apartemen.

Keesokan paginya gw iseng2 email visa inquirynya, melas2 bilang kalau gw butuh banget visanya soon karena beberapa alasan. Dan voila, setelah sekitar 20 menit gw kirim email itu, gw dapet e-visanya. Itu sekitar jam 12 siangan. Gw langsung beli tiket buat malamnya. Lesson learned: ga boleh punya bias. Gw ada unconscious bias kalau India negara miskin, dan biasanya ga butuh visa kalau ke negara miskin. HahaChaosPertama kalinya gw keluar dari bandara Bangalore, impresi pertama gw: polusi!! Udaranya bau banget, kaya asap rada menusuk hidung gt. Waktu tadi pagi gw nyampe di Delhi, polusi bahkan lebih parah lagi. Yang tampak seperti kabut, sebenernya adalah asap polusi. Mata langsung berasa pedas dan bisa batuk2.Chaos yang lain adalah jalanan. Maaan.. orang2 ini lebih gila nyetirnya daripada orang Jakarta atau Ho Chi Minh. Gw pikir Vietnam udah plg top urusan keruwetan di jalan. Tapi ini at least di dua kota yg gw kunjungi, mereka ruwet banget. Orang pake klakson like every 30 seconds. Anjing, sapi di jalan. Orang2 nyebrang seenak jidat. Gila pokoknya. Gw lmyan stress kadang selama di mobil Uber. Berasa gila mereka nyetirnya. Untungnya waktu road trip hari ini, temen gw nyetirnya masih chill.GandhiAda satu waktu dimana kita ngobrolin Gandhi. Sebelumnya dari film2 dan buku yang gw baca, gw pikir semua orang India pasti respect sama Gandhi. Ternyata ada nuance disini. Banyak orang ga suka Gandhi karena dua hal: gimana dia treat perempuan dan gimana dia mendukung sistem kasta. Di hal yang pertama, di beberapa tahun terakhir, mulai banyak perempuan yang mulai open tentang apa yang mereka alami ketika mereka tinggal di Ashramnya Gandhi. Beberapa mengaku mengalami sexual assault. Sedangkan di hal yang kedua, entah karena alasan apa, Gandhi ga terlalu mendukung penghapusan sistem Kasta.

3%

Gw merasa orang India itu pinter banget. Gw baru sadar kalau selama ini sample gw skewed bgt. Gw pernah punya dua manajer cewek orang India dan mereka jago bgt. Manajer gw yg skrg bertahun2 sebelumnya kerja di Nokia and Google. Very sharp and I can learn a lot from him. But again ternyata sample gw very skewed. Orang2 yg gw temui di hotel, uber, dll, they are very different. Banyak bgt yg bahkan ga ngomong Inggris. Persepsi gw dulu most Indians do speak English. Karena ternyata cmn 3% dr org India yg finish their graduate study. Dan cewek yg finish their graduate study and work in top tech companies, they said is 0.0001 %. Pantesan gw shock ketika ketemu persona yg beda banget sama org2 India yg gw kerja brg sehari2.

New experience

Gw enjoy banget people watching selama road trip ini. The adrenaline kick in ketika semua indera lu nemuin hal2 yang baru. Bau, penglihatan, suara. Semua overwhelming dan fascinating. Seperti kaya gw pertama kalinya ke luar negeri dulu.

People are just nice

Selama beberapa hari ini gw bareng temen2 kantor yang cabang di India. We eat, laugh, joke, and spend good time together. I think people are just nice. Walau mereka orang India dan gw orang asing disini tp mereka very thoughtful. Kalau gw ada, mereka ngomong pake Inggris, dan hal2 nice lainnya. Memang harusnya kaya gitu karena kita semua sama2 bleed red and sweat salt…

Advertisements

Kepercayaan-diri


Dua weekend ini mungkin salah dua akhir pekan terakhir gw di Singapore di tahun 2017. Eh walau masih ada satu weekend lagi sih. Minggu depan gw bakal ada kerjaan di India, dan minggu depannya lagi bakal 2 minggu kerja terakhir di Jakarta sebelum gw ambil cuti akhir tahun. Karena pumpung gw lagi di Singapore, gw jadi berusaha ke gereja. Minggu kemarin I had fun actually: dengerin kotbah, nyanyi hymn, dengerin choir, perjamuan kudus. Tapi minggu ini lumayan sucks. Gw kembali limbo.

Gw ke gereja Indonesia di salah satu hotel mewah di Orchard sana. Sayangnya kotbahnya bikin gw eneq. Yang pertama kotbahnya emang ga jelas isinya mau ngomong apa. Plus dibumbui cerita2 fake. Tapi yang paling bikin gw lmyan struggle ketika terakhir out of nowhere si pendetanya ngebahas Halloween – yang ga ada hubungannya sama isi kotbah dia hari itu. Yang gw bikin struggle karena ketika si pendeta ini kotbah tentang Halloween – gw kembali berasa misplaced.

Nurut gw isi kotbah ttg Halloween itu bodoh banget. Si pendeta ngotbahin tentang hubungan Halloween dengan praktek okultisme, Druid, dan paganisme. Abis itu bilang kalau pesta Halloween berfokus pada kekerasan, ketakutan, dan okultisme. Plus ngasih foto2 seronok orang yang berpesta Halloween (“Tuh apa kalian mau kaya gitu?’).

I was like shit…kenapa sih lu harus nyebarin kebodohan dan kegoblokan gitu. Itu ada berapa banyak orang tua yang akhirnya percaya trus ga ngebolehin anak2nya ikut pesta Halloween anaknya. Skenario terburuknya, anak2nya diejek2in ama temen sekolahnya. Trus anak2nya kepaitan dan benci ama gereja. Can people just have fun? Hey man, kita di gereja juga setiap bulan perjamuan kudus, memakan roti dan minum anggur sebagai perlambangan TUBUH dan DARAH Kristus. Kurang pagan apa agama Kristen kalau mau dipandang dari sisi kaya gitu. Anyway ini ada artikel Kristen yang ga goblok tentang bagaimana orang Kristen harus menanggapi Halloween.

Tapi gw ga mau ngomongin tentang kegoblokan itu. Gw mau ngomongin tentang satu tema: kepercayaan diri. Nurut gw ini akar banyak kegoblokan. Di sebuah buku yang judulnya “Sapiens: A brief history of humankind”, si penulisnya berhipotesis kalau salah satu alasan bangsa Eropa dulu bisa jadi menguasai hampir seluruh pelosok dunia karena satu trait mereka: Ketidakpercayaan diri. Mereka tidak percaya bahwa mereka mengetahui semuanya. Mereka mengakui hal-hal yang tidak mereka ketahui. Dan terus mempertanyakannya. Dengan karakter inilah mereka berhasil menemukan benua Amerika dan temuan2 lainnya.

Sebaliknya bangsa Asia cenderung punya trait kepercayaan diri waktu zaman itu. Bahwa kebenaran mutlak milik mereka. Percaya diri kalau mereka tahu semua hal.

Memang penulisnya orang US juga, jadi ada bias. Tapi somehow gw percaya dengan tesis bahwa kepercayaan diri bahwa kita tahu semuanya bikin orang goblok.

Orang yang percaya diri kalau cuman agama dan Tuhannya yang benarlah yang biasanya jadi teroris tukang ngebom2 itu. Orang yang yakin bahwa rasnya lah yang paling benarlah yang jadi orang rasis. Orang yang yakin bahwa budaya Indonesialah yang paling hebatlah yang jadi orang gampang dibodohin isu komunisme, PKI, Zionisme, dsb.

Balik lagi ke soal Halloween tadi, ketika si pendetanya nanya “Is it cute or dangerous when your kids dress in a Halloween party”. Semuanya diem, tapi gw agak teriak “Cute!”. Gw yakin akan ada lebih banyak orang yang bakal teriak “Cute” sama gw tadi, kalau kita ga terlalu percaya diri atau yakin akan diri kita sendiri. Counter-intuitive? Yes it is. Gw bisa percaya diri kalau kotbah si pendeta itu goblok, karena pondasinya adalah ketidakpercayaan dan ketidakyakinan. Jadi semoga kita tidak terlalu yakin kalau kita selalu benar sehingga kita bisa yakin ketika ada kegoblokan yang disodorkan di depan mata kita sendiri. Does it make sense?

Cimz



Pernah stoned waktu ngecimeng?

This is what I felt (thought) on the first few minutes when I was stoned 2 days ago. :p

Lagi nyimeng dari sebuah jendela di salah satu hotel di Montreal.

Sambil ngrokok, cimengnya keliatan uda mau abis setengah. Kapan yah harus berhentinya? Koq belum habis2. Hmm it’s time to stop now. Udah habis setengah. Lalu gw tutup jendela dan siap2 mau makan Poutine. 

Shit, bukan bungkus Poutinenya susah bgt, kecipratan sausnya. Gw jalan ke bath room buat ambil tissue. Waktu jalan ke bathroom koq uda merasa ga seimbang yah. Shit, cimengnya kick in. Gw tetep niat ambil tissue. Setelah dapat tissuenya gw balik ke meja makan, buka bungkus Poutine dan coba makan. But shit, cimennya bener2 kick in. Gw coba makan satu potong suwiran ayam, koq berasa ga enak malah. Gw kayanya harus ke kasur nih. Kali ini too much cimengnya yg gw hisap.

Gw jalan ke kasur. Terlentang di kasur gw mulai berpikir. Maaan, kali ini gw kebanyakan lagi cimengnya. Terakhir kaya gini di portland. Shit, I should not take too much. Waktu mulai berjalan pelan banget. Gw liat jam di TV: jam 9:47. Gw harus inget2 terus jam itu, biar gw tau kalau waktu berjalan maju.

Shit, waktu mulai aneh. Satu detik berasa lama banget. Indera gw mulai makin sensitif. Terutama lidah, tenggorokan, kuping. Shit, gw lupa matiin lagu spotify lagi. Gila ini lagu instrumen keras banget. Man gw harus matiin lagu spotify. But, shit I dont think I have enough energy and concentration to open my phone and close spotify. 

Tenggorokan mulai kerasa kering banget. Mulut juga. Dan ketika gw menelan ludah, berasa banget ludah itu mengalir masuk ke tenggorakan. Bang! Gw terlempar ke dimensi lain. Ini apa yah, banyak banget pattern2 3 dimensi. Gila, gw berasa tercerahkan banget. Dari satu pattern gw pindah ke pattern lain. Dari satu khayalan ke khayalan lain. Semuanya berbentuk 3 dimensi. Gw mulai bikin garis yang menghubungkan tempat2 dimana gw pernah stoned berat kaya gini: Amsterdam, Nuremberg, Seattle, Portland

, San Fransisco, Amsterdam, and kali ini Montreal. 

Bang! Gw kelempar lagi. Kali ini gw ketakutan. Gw takut kalau gw bikin hal2 yang aneh. Pikiran gw mulai berpikir skenario macem2. Lompat dari jendela, keluar dari kamar, dll. But tenang, dari pengalaman gw, gw selalu di kasur aja kalau lg stoned. Itu cmn ilusi el. Ayo fokus ke jam tadi. Jam yg jd jangkar untuk hal2 yg real. But shit! Jamnya masih 9:47. Dari tadi jamnya ga maju2. Aduh Tuhan, gw ga mau lagi deh kalau over gini cimengnya. Alah! Tp ntar kalau uda sober lu pasti ttp pgn cobain cimeng lg kalau bisa.

Bang! Patern2 keluar lagi. Kali ini musik mulai menjadi pattern. Dari musik jadi pattern circular, kaya jam yang berputar. Gila, gw yakin ke depannya bakal ada virtual reality yg bisa bikin org ngapain aja. Ini aja gw cuman pake substance cimeng, otak gw uda terbang dari satu pattern ke pattern lain. Kali ini rekursif! Dari satu pattern, gw zoom in ke bagian dalamnya, dan di bagian dalamnya ada pattern lainnya. Maaaan! Ini kapan berhentinya. Koq kaya infinity patternya. Apa ini yah rasanya neraka nanti. Kita dihukum di dlm dunia infinity dan lu ga bisa ngapa2in. Dan ga perlu badan untuk menghukum kita. Karena semuanya di pikiran.

Man, jangan2 gw ini di dunia matrix. Yg infinity. Dan kalau gw lagi nyimeng gini, berarti ada Morpheus, Trinity, dll yang berusaha sadarin gw. Ayoo terus Morpheus! Kalian harus sadarin gw. 

But kayanya ga bisa deh, gw pasti bangun di dunia matrix. Kembali ke dunia yg mundane. Tp gpp sih, asal nantinya ketika gw di dunia mundane, gw ga sadar kalau ada dunia matrix di luar dunia gw.

Bang, gw ke zoom out, dunia gw ternyata cmn kaya bola mata kecil di dunia lainnya, dan terus rekursif ke zoom out. Man, ini kayanya efek dulu gw nonton Man in Black.

Ah koq dingin yah. Selalu kalau gw stoned gini jadi berasa lebih dingin. Tp gw bisa gerakin tangan kaki gw ga yah. Oh bisa, berasa aneh banget tp ini rasanya. Gw ngerasain tangan gw. Coba jarinya dulu deh. Oh bisa. Gw ambil selimut deh. Dingin. Jam brp yah. Pasti belum maju lagi. 9:48. Untungnya ini ga pertama kalinya. Oh gw tau skrg, knp waktu pertama kalinya dulu gw stoned di Amsterdam, gw ketakutan banget. Krn konsep waktu yg melambat ini mengganggu banget. Gw berasa trap dan ga bisa mengapa2in. Gila el, dasar lu. Dasar researcher. Lagi stoned aja masih menganalisa waktu lu stoned lainnya. Tp ya emang cmn di kondisi seperti ini sih gw bisa menganalisa karena jarang bgt ngalamin waktu stoned kaya gini.

Bang! Gw kelempar lagi. El, lu harus santai. Coba ikutin ritmenya aja. Itu kata Yuki dulu. Oke deh gw ikutin ritmenya. Let’s have crazy but nice imagination. Oke, gw coba terbang. Seru juga. But bang! Pattern rekursifnya keluar lagi. Shit ini yg plg mengganggu sih dr imaginasi gw. Kenapa selalu rekursif. Ini yg bkn gw kelempar terus. 

Tapi 3D patternnya bagus banget sih. Gw berasa kreatif banget. Maan, kayanya kalau gw sekreatif ini terus gw bakal bisa nulis buku dengan gampang. 

Haah. Capek. Aduh ini kapan berentinya yah. Gw kayanya kudu buka kacamata and berusaha tidur. Aduh tp nanti gw ga bisa lihat jamnya. Ga bisa tau kalau jamnya maju. Bisa pake hp kan? Amit2 engga. Jangan pegang2 hp deh. Nanti gw post aneh2 lagi. Bang! Gw masuk skenario gw post aneh2. Ini real engga. Ini engga real! Inget el, jangkar kamu kasur sama jam tadi. Selama itu masih ada kamu ya di kasur aja, ga bakal ngapa2in.

Tapi ini susah bedain imaginasi sama real. Oh gw tau, imaginasinya lu bikin extrim banget aja misalin lu tau2 di Indonesia, ga mungkin kan. Karena lu masih di Montreal. Ok lets try it. Gw tau2 di Afrika, ini ga real. Gw di kasur, ini real. Gw tau2 masuk rumah sakit, ini ga real. Gw di kasur selimutan, ini real. Shit capek. Ini kenapa susah banget. Gw harus tidur. Gw copot kacamata. Coba tutup mata.

Man, pattern lagi deh. Kaya berada di dalam silinder. Kalau kaya gini gw malah merasa Tuhan itu ada atau Tuhan itu ga ada yah. Oh tapi kalau kaya gini, semua hal2 yg mundane jadi ga penting lagi. Gw mulai bertanya ttg hal2 apa yang penting dalam hidup gw. Teman, keluarga. Yg lain jadi ga penting. Kenapa harus berpikiran kaya gt yah, udah ah ga usah self reflection gt. Lu malah sedih nanti. Ayo tidur. 

Gw coba balik badan. Ini bantal, iya bantal bener. Waktunya aneh banget. Gw coba mundur deh, kapan yah timestamp gw mulai stonednya? Tadi waktu beli poutine, ga mungkin. Waktu abis ngrokok cimengnya lah. Aduh ini waktunya koq mundur. Engga, itu yg imaginasi. Waktu ttp maju. Jangkar kamu kasur. 

Ayo tidur. And this will continue for the next several minutes until I fell asleep. 

Ask me anything



Sejak nulis di blog ini, ada aja orang yg kirim email ke gw. Emailnya isinya macem2. Encouragement, questions, stories, etc. Plg sering sih pertanyaan2. Pertanyaan2nya juga suka macem2. Dari nanya tips untuk menulis (man..gw kalau nulis acak kadut campur aduk bahasanya. 😅) , beasiswa, sampai personal life.

So here is it. If you have any questions for me, just use the comment function on this post. I will update this post based on the questions I receive. 

Ask me anything!

Friday the 13th


Amsterdam, Friday, October 13th

Hey. Today is my birthday! Kebetulan gw lagi ada kerjaan di Amsterdam, jadi aga aneh ga ngerayain ulang tahun di rumah – walaupun “where is my home?”, Singapore? Solo?. Tambah satu tahun umur gw, dan tahun ini bakal terakhir kalinya gw bakal umur di kepala dua. Maaaan, I am old!

Tahun ini banyak hal terjadi di hidup gw. Baik dan buruk. Depresi dan bahagia (sedikit). With all of the things that happened, I learned a lot.

Gw belajar menerima diri gw sendiri

Gw pikir, gw udah menerima diri gw sendiri sejak beberapa tahun lalu. But somehow this year, gw berasa kalau gw naik level di bidang ini. Gw berasa bener2 chill akan diri gw sendiri. Gw ga terlalu peduli apa kata orang. Gw bisa lihat how shit Yoel is and accept it. Does not mean that I give up, but I just can be more relaxed about it. Acknowledge all of the shits that I own.

Gw belajar buat lebih open

I don’t really realize this until several people mentioned about it. Beberapa orang share ke gw betapa mereka appreciate how open I am to them. They appreciate how I can be vulnerable in front of them. Anehnya, this thing somehow help them. Counter intuitive banget. Karena how come just being vulnerable can help other people. Tapi bagi gw, for some good friends that I trust, I am  a blank open book now. If I have a shitty day, I will say that I have a shitty day. And if I have a happy day, I will try to celebrate it with them.

Gw belajar appreciate my days

Ketika gw depresi, gw bener-bener berada di jurang kelam. At that time, I just tried to survive for one day. Day by day. Gw cmn mikir gimana caranya bisa lewatin hari ini. Makan, kerja, tidur. Somehow, karena itu, gw lebih bersyukur untuk hari2 “normal” gw. Gw lebih bisa bersyukur ketika gw bisa menikmati makanan, wine, musik, buku, seni, dll. Gw lebih bisa bersyukur ketika gw melewati hari2 dengan normal.

Gw belajar buat appreciate good friends & families

Again, ketika gw jatuh depresi, saat itu beberapa temen dan keluarga gw bener2 there for me. Ada satu orang yg nemeni gw di apartemen gw di Singapore ketika gw takut sendirian. Ada satu orang yang nemenin gw waktu gw lagi di Jakarta, waktu gw nangis seharian dan harus terbang balik ke Singapore. Ada satu orang yang nemenin gw waktu gw lagi lumayan down di Jakarta. Ada keluarga di Solo, Australia, Jakarta yang ngasih kasih yang tulus buat gw. Ada temen di Singapore yang gw bisa saling support each other. Ada orang2 yang genuine care dan pengen bantu gw. Thanks to you all. I really do appreciate it.

Gw belajar bersandar ama Tuhan

Di titik paling bawah, ketika temen, keluarga, pikiran, perasaan udah ga bisa diandalin lagi, ga ada lagi yang bisa tolong gw selain si Khalik. Gw tau, gw pragmatis banget. Ketika di atas sering lupa akan Dia. But yeah, I am that shitty. Luckily, He does still accept me. Di hari2 tergelap itu, gw berasa Dia jagain gw banget. Gw masih inget di waktu2 dimana gw cmn bisa berdoa di kasur: Tuhan let me go through this..please help me. And He does help me. Walaupun in those moments, not very seldom I also prayed for him to take my life. :p

Gw belajar menikmati kebebasan gw

After being open, being vulnerable, surviving the depression, I got some weird feeling of freedom. Mungkin karena I really don’t have anything to hide now. It is like saying to the world, Hey this is me. I am a sinful person. I do sin. Have done a lot of shitty things. But I also do have good intentions  and have other good things in my life.

So, happy birthday Yoel! You are doing good at surviving this year.

As a bonus, these songs helped me to survive in those dark days. Enjoy!

 

“Don’t you get that I’m defended, I will never die, it’s a battle that you can’t win, it’s love that keeps me alive, and I won’t ever have to die a death, my final breath will birth a life, and I will rise up resurrected, my past and future in Christ!…Till I rise up resurrected, I’m right here right now alive!” – Alive, KK

I deserve it


Sambil nulis ini gw sambil berendam di bathtub apartemen gw, hidupin lilin, and mainin musik instrumental. Niat abis yah. But I think I deserve this break.


Weekend ini tumben banget gw lagi di Singapore. Satu dan setengah minggu pitstop sebelum gw kudu kerja nguli lagi di negara orang. 

Abis pulang dari Norway, Vietnam, US, Solo, Jakarta, Solo, Jakarta, Vietnam, dan akhirnya skrg istirahat sementara di Singapore. Next week gw kudu nguli lagi, ke Amsterdam buat do group analysis. The last 2 months gw ada satu projek lumayan gede. Gimana kita, 4 researcher, do the same research in Vietnam, Brazil, Mexico, and Saudi Arabia. Tentu saja gw kebagian Vietnam. Di research ini kita ikutin terus 12 driver supaya kita bisa tau experience mereka gimana, terutama yang berhubungan dengan earnings. 

Yang bikin tough karena gw ga bisa kerja sendiri dengan pace gw sendiri. Tp harus nyamain ama researcher yg dari Amsterdam, Brazil, and Mexico. Parahnya lagi timezone buat kita meeting. Biasanya gw kena jam 11maleman (jam 5 di Amsteram, jam 8 pagi di Mexico, 10 pagi di Brazil). Habis lah hidup gw beberapa minggu terakhir ini.

Untungnya kita uda hampir selesai. Habis ini tinggal kita semua ketemu di Amsterdam selama seminggu, buat analysis hasil bareng2. Dan setelah itu another week di SF buat presentasiin hasil kita.

Jadi di tengah2 research sprint ini, I feel that I really deserve this break. Hari ini gw ke Orchard bareng temen2. I bought myself a nice designer wallet and bath soap. Had nice dinner and drank good wine with some friends too.

And here I am now, tapping my back and say “breath in breath out, you deserve this el”.

Munafik


Gw naik pesawat dari SF – Singapore – Jakarta. Ketika tiba di Jakarta, panasnya langsung menyengat. Bikin gw agak uring2an.

Gw harus berpindah dari terminal international 2 ke domestik. Karena gw mau ke Solo. Gw pun harus naik shuttle bus, sambil bawa 2 koper + 1 ransel. Dalam hati gw agak ga sabaran. Berasa busnya lama banget padahal jadwal gw lmyan ketat. Gw banding2in ama train antar terminalnya di Changi.

Sesampai di terminal domestik, gw antri buak drop in bagasi. Di depan gw ada satu org yg bagasinya over, 7 kilo lebihnya.

Si pegawai check in lalu bilang “Ini overnya 10ribu perkilo. Mau bayar di sini atau di counter?” Dijawab sang penumpang “di sini saja mbak.” Lalu mbaknya jawab “oke. 50 ribu saja pak.” Dan tentu saja kita tau kemana uang itu bakal berlabuh.

Lihat hal kaya gt, langsung gw kesel and maki2 di hati. “Dasar korup. Dasar Indo kaya gini nih. Dasar dasar dasar…”

Gw langsung pengen maki2 and cerita ke keluarga gw. 

Tp sembari gw jalan ke pintu gate penerbangan, gw mulai berpikir kalau gw sebenernya worse than that petugas check in yang korup 50ribu…

Kenapa? Perusahaan gw kerja kasih budget travel yg lumayan flexible. Dimana gw bisa reimburse biaya makan, internet, laundry, hotel, telepon, dan kebutuhan2 lainnya. Nah kadang gw juga pake loop hole buat “korup”. Misalin terakhir waktu terbang dari singapore ke SF, gw beli internet di pswt yg cost me like 50 USD – 650rb. Cuman buat gw whatsapp-an and update instagram stories. Atau gw suka traktir anak intern gw kalau pas lagi travel padahal uang budget makan itu buat gw doang, bukan anak intern gw. Atau kadang gw jg reimburse makanan2 oleh2 yang sering gw beli di airport. Sebenernya semuanya emang ga crystal clear batasnya. Dan toh manager gw selalu approve2 aja. Cuman sebenernya gw ga beda jauh ama petugas korup itu. Mungkin lebih parah.. kalau dia korupnya 50 ribu.. gw korupnya 50 usd. Hanya demi gegayaan instagram stories dari pesawat.

Good People


I just finished my US leg of my trip and now am spending few days in Indonesia. 

Sesuatu yang kadang gw selalu heran adalah jumlah hubungan berkualitas yang gw bisa dapetin setiap kali gw ke US. Mungkin karena waktunya singkat, jadi mau tak mau memang harus quality over quantity. Here are some good people that I met last week.

Oliver and Kirsti.

Keduanya dari kantor Uber yang di Amsterdam dan kebetulan banget mereka juga lagi ada kerjaan di kantor SF. Tahun lalu gw pernah kerja bareng Oliver, a UX designer, di salah satu projek riset gw. Gara2 itu entah kenapa gw jadi lumayan deket. 

Oliver ini campuran dari bapaknya yg org Malang dan ibunya yg org Belanda. Mungkin karena itu juga jadi kita jadi lebih gampang connect. Selama setahunan terakhir sering kita ngomongin hal2 ga random di chat kantor: Ahok, Islam, keluarganya, depresi gw, Uber, dll. Sedangkan Kirsti biasanya chat ama gw di instagram. Kirsti juga campuran dari Belanda and Norway – tapi kalau kata Oliver “dia ma tampilan nya aja bule. Tapi dalemnya Indonesia.” – which I totally second him. 

Ketika tahu kalau kita bakal di SF di timeframe yg sama, kt langsung plan dinner bareng. So we ate really good Mexican dinner in Mission neighborhood. Mungkin kita cmn bareng 4 jaman. Tp somehow gw berasa kita uda temenan lama bgt. Kita share hal2 yang personal : depresi gw, bokapnya Oliver yg barusan meninggal, happiness, and so many other things. Tp mungkin juga didukung bahwa kita somehow berasa di spektrum ideologi yg sama: suka budaya collectivism Indonesia tapi benci kegoblokan fanatism. I will celebrate my birthday in Amsterdam this year, and will for sure spend good time again with them.


Garth



Garth ini dulunya data scientist di team gw sampai skitar bulan Juli. Again, dari sejak awal gampang banget buat connect ama dia. Setiap kali gw ke US, dia selalu ajak gw dinner bareng. Uniknya si Garth ini walau murni bule, tp dia pernah tinggal beberapa tahun di Jakarta waktu masih kecil. Ayahnya bekerja buat US state department, jadi dia sekeluarga harus berpindah2. 
Karena ada Jakarta connection ini, Garth suka banget bercanda pakai kata2 Indonesia yang dia masih bisa ingat. Dan tentunya kata2 ini biasanya kata2 kotor atau ga jelas. Hahahah. 
Tp in overall, I really like how cheerful he is as a person. Kayanya energinya ga habis2 aja. 

Nick

.
Nick pernah kerja di salah satu projek jg bareng gw. Sejak itu he has been a really good colleague. Dia juga yang bantu gw dpt promosi by giving me a really good recommendation.
Nick ini lmyan jago, lulusan Stanford, salah satu yg bikin app Smule, bekas Google, dan sekarang lmyan berpengaruh juga di Uber. Tp uniknya with that credential he is a very humble and thoughtful person.
Beberapa hari sebelum gw plg balik Asia, dia nanya kapan gw kosong buat jalan2. Dan akhirnya gw blg kalau gw ada beberapa jam di hari Sabtu sebelum terbang balik di malam hari.
Dan bener; dalam beberapa jam Nick bener2 coba kasih yg terbaik by kasih liat tmpt2 cool di sekitar san francisco. Yang gw kagum- how thoughtful he is. He kept checking the weather app and changed his plan if the weather was not so good in a particular area. Kaya beneran dia pengen gw experience the best of SF in that last several hours. And he def nailed it. 

Leo.

Leo ini manager gw waktu di adidas Jerman dulu. Kebetulan lagi, dia lagi liburan di SF dan beberapa hari lalu kontak gw buat ajak ketemuan. Maaan, he is so nice. We had brunch and touched base about our life. The good news is that he will have a son in Feb!  

Deddy.

Deddy ini temen kuliah gw di ITB dulu. Sekarang kerja di Amazon di Bay area. Nah hari rabu kamis kemarin gw kudu kerja di kantor Uber yg di Palo Alto. Daripada harus bolak balik Palo Alto – SF, gw decide buat nginep di tempat Deddy di hari Rabunya. Sebentar banget ngobrolnya. Cuman dari perjalanan Palo Alto ke rumah dia di hari Rabu malem and dari rumah dia balik ke kantor Uber Palo Alto kamis paginya. Mungkin sekitar total 2 jam lah kita ngobrol. It was very quick catch up. Tp cukup buat kita saling mempertanyakan self existence kita. Haha


My global UX researcher team


I should say that I really like them. This is so far the most international team I’ve ever had. Selama ini gw sering banget video conference ama mereka. Jadi langka banget buat akhirnya bisa ketemu in person. Total ada 10 orang di tim kita. Ada 3 org pegang India, 1 orang pegang Eropa, 1 orang pegang Middle East & Afrika, 3 based in US, 2 orang pegang Amerika Latin, dan gw pegang Asia Pacific. 2 hari kita habisin 8 jam di ruangan yang sama dan asik bgt rasanya bisa kenal lebih personal ttg mereka. We plan to have our next offsite meeting in Brazil!

Anak Magang



Beberapa tahun terakhir ini gw selalu bekerja dengan anak magang. Dan gw baru sadar kemarin2 ini kalau ada budaya perusahaan Ameriki buat handle anak magang yang menurut gw menurun ke gw.

Waktu gw jadi anak magang di salah satu perusahaan tech di Jakarta (IBM), pengalaman gw lumayan jelek. Dikasih pekerjaan ga jelas, ga digaji, pokoknya kurang jelas lah. Padahal IBM, salah satu perusahaan lumayan bonafid di dunia.

Lain cerita waktu gw jadi anak magang di salah satu perusahaan tech di Seattle. Pengalaman gw bagus banget. Manajer gw, Jason namanya, really took care of me. Waktu itu gw lagi nyari kerjaan full time karena hampir lulus. Dan beneran si Jason nyariin kerjaan banget buat gw, baik internally maupun externally. Setiap kali dia dapet tawaran kerjaan, tawaran kerjaannya di forward ke gw. Dia juga berusaha connect-in gw ke network dia supaya gw dapet kerjaan.

Dan akhirnya lewat salah satu koneksi dia akhirnya gw dapet kerjaan full time pertama gw di bidang UX. So it was really thank to him actually.

Menurut gw budaya ini Ameriki banget. Dimana anak intern beneran di take care, dikasih meaningful project (bukan cuman projek kecil2), dan terutama beneran berusaha di cariin kerjaan kalau memang kerjaan lu bener.

Begitu juga yang gw alami di perusahaan gw sekarang. Gw punya dua anak intern currently. Mereka dikasih projek2 independent yg penting. Yang hampir sama ama yang gw kerjain.

Somehow ada budaya Ameriki dari tim gw and manager gw bahwa kita harus beneran cariin kerjaan anak2 ini kalau emang kerjaan mereka oke. Jadi dua bulanan terakhir ini gw lumayan sibuk ping orang sana sini buat cariin mereka headcount. Dan lumayan happy ketika kayanya bakalan berhasil offer mereka full time position.

Gimana budaya anak magang di tempat kerja kalian?