Two Different Worlds


Di atas Truk sehabis berladang dan bikin batako

lanjutan dari post gw sebelumnya

Selama gw di Kampung, ga jarang gw bergulat dengan pikiran gw sendiri. Sometime I feel very amazed but sometime I also feel hopeless. Berkali-kali gw harus mengingat diri gw sendiri kalau gw ga bisa memaksakan standard hidup gw ke anak-anak di Kampung ini dan bahwa kehidupan anak-anak ini jauh lebih baik daripada hidup di kampung halaman mereka. Ada banyak hal yang cukup berbeda.

Makanan

Makanan untuk semua orang yang tinggal di Kampung ini akan selalu seragam. Hari senin hingga minggu tipe makanannya akan selalu sama. Hari senin dan selasa: sayur dan tempe, rabu: sayur dan ikan, kamis: sayur dan tahu, jumat: roti, sabtu: sayur dan ayam, minggu: sayur. Selalu sama sepanjang tahun! Hari paling bahagia untuk mereka adalah hari sabtu dimana mereka bisa makan ayam. Menurut gw makan siang yang paling susah, hanya nasi dan satu jenis sayur. Sangking parahnya pernah gw liat anak2 ini menaruh garam atau penyedap rasa di tengah2 meja dan anak2 itu menyantap makanan siang mereka sambil mencocol jari mereka ke garam atau msg itu – agar nasi sayur mereka berasa lebih enak. Gw bener-bener berasa gimana ketika lihat itu.

Ada beberapa asrama yang mempunyai dapur sendiri sehingga mereka bisa makan sendiri. Namun ketika di sana, gw selalu makan pagi, siang, dan sore bersama-sama di satu tempat yang dinamai TC (Training Center). Di tempat ini, 200an anak yang tinggal di asrama yang tidak mempunyai dapur makan bersama-sama setiap harinya di jam yang sama: 6 pagi, 12 siang, dan 6 sore. Every day…

Setiap harinya akan digilir asrama mana yang akan memasak makanan, asrama mana yang membersihkan ruang makan, dan asrama mana yang mencuci peralatan makan/masak. Karena lumayan sering bermain dengan anak2 asrama orange, gw jadi ikut mencuci peralatan makan bersama mereka. Lumayan epic, gw bagian ngebilas 200an lebih piring mangkok itu.

Uniknya, they were not grumbling when they do that. Mereka bercanda dan tertawa sambil mencuci piring bekas orang lain. Something that’s very hard to digest for me.

Makanan sehari-hari: Nasi banyak + sayuran

 

Bekerja

Cuman ada dua season buat anak-anak ini: bekerja atau sekolah. Ketika gw datang, sekolah belum mulai, jadi mereka semua ada di jadwal bekerja. Jadwalnya selalu sama dari hari Senin sampai Jumat dan gw juga harus mengikutinya.

  • 5.30: Bangun
  • 6: Makan Pagi
  • 7.30-11.30 Kerja shift pagi
  • 12: Makan Siang
  • 13.30-15.30 Kerja shift sore
  • 18: Makan Malam
  • 19: Meeting malam

Yang menarik (kadang sedih) ya anak-anak ini hanya ada waktu libur di hari Sabtu dan Minggu ketika di masa liburan sekolah. Sisa harinya diisi dengan bekerja. Lalu bekerja apa? Ternyata banyak yang harus dikerjakan di Kampung ini: berladang, membuat batako, mengangkut bahan2 bangunan, mengecor beton, bersih2, membuat roti, mengecat tembok, kerja di workshop mobil, dan banyak hal lainnya. Gw juga jadi ikut mencoba hal2 itu tergantung di hari itu gw disuruh ikut melakukan apa oleh koordinator volunteernya.

Are they happy? Again they look happy. I am talking about anak SMP yang harus angkut2 pasir buat campur beton disini. Or anak SMA yang harus bawa alat pemotong rumput yang berat kemana-mana. Gw yang lihat? Sering gw merasa miris. I feel like…they should not do that in their teenage. But again, mungkin gw salah.

Di mode bekerja ini mereka semua akan memakan “baju kerja” aka baju yang jelek2 banget. I was very surprised when they entered the school time that suddenly the same kids who wore very shabby clothes were wearing very clean uniforms.

Bikin Batako

Peraturan Ketat

Sisi lain dari Kampung ini adalah peraturan yang ketat: ga boleh punya HP dan pacaran sampai lulus SMA, hanya boleh pulang kampung 3 tahun sekali (konon katanya banyak yg pulang kampung dan menjadi terlalu nyaman dan ga mau balik sekolah lagi), ga boleh ngomong kotor, berkelahi, dll. I saw a very sterile environment. Mungkin cuman gw satu2nya yang sering bilang “shiiit” di sana.

Pernah suatu ketika gw melihat pertandingan sepakbola antara anak-anak Kampung Air ini melawan anak-anak dari kampung lain. Waktu itu gw bisa melihat kontras perbedaan anak-anak ini. Di bagian tempat duduk pemain pengganti anak dari kampung lain gw liat sampah gelas plastik air minum di mana-mana. Di bagian Kampung Air? bersih-sih. Semua gelas plastik dimasukin di sebuah kardus. Waktu itu gw bener2 berpikir kalau ini efek mereka terbiasa hidup disiplin di asrama.

Ada dua anak ketahuan bawa HP dari kampung. What did their school officers do? they hammered those Nokia phone into pieces. Buat gw ga manusiawi tapi mungkin buat mereka itu necessary to maintain the school system.

Team Bola Kampung Air

Uang Saku

Dua minggu sekali, anak-anak ini bisa pergi ke kota kecil/kampung terdekat – Pinoh. Di sana gw sempat traktir beberapa anak SMP dan SMA itu makan di kedai restaurant. And I could see from how they thanked me that they were so grateful about that. Mungkin itu pertama kalinya mereka makan di restoran luar dan minum juice. Segelas juice dihargai 18ribu di Pinoh – memang harga makanan di Kalimantan lebih mahal daripada harga makanan di Jawa. Sedangkan tebak berapa uang saku yang mereka terima setiap bulan? 15 ribu. Dengan uang itu mereka harus cukup untuk membeli detergen dan jika ada uang sisa bisa menabung untuk membeli baju dll. And this is all the money they got in their whole life. Terkadang keluarga mereka mengunjungi beberapa tahun sekali dan memberi tambahan uang. Uang ini mereka pakai untuk membeli speaker mini atau sepatu sepakbola.

Ketika gw datang, akan ada turnamen sepakbola antar kampung di kabupaten tempat Kampung Air berada. I saw them practice and their first match. They did win! 5 – 0 to another kampung. But…you will amaze when you saw their football shoes. Pernah kerja di adidas dimana setiap dari pekerjanya kita pasti punya lebih dari 30 pasang sepatu dan melihat sepatu-sepatu berlimpah, gw sedih aja lihat mereka. Langsung gw foto anak2 itu dan kirim ke temen2 gw di adidas siapa tau mereka mau kirim sepatu2 mereka.

Pernah suatu ketika gw diundang buat makan di asrama 1. Karena itu malam terakhir gw di Kampung, gw berpikir untuk menghabiskan uang rupiah gw di dompet. Jadi gw beli sekitar 30 kaleng coca cola seharga @4000 buat anak2 di asrama 1. I thought that it was a normal thing. I was just grateful since they invited me for a dinner in their place. But you know what, those cokes were a big thing for them. Setelah selesai dinner, pemimpin asrama 1 bagikan coca colanya ke masing2 anak. And literally they hold those cokes and treasured it like they just got a new iphone 7. Again, I felt sad and happy in the same time. Setelah gw pikir2 mungkin make sense juga. 4000 rupiah is like a fourth of their monthly stipend. Again, I felt sad, happy, a mixed feeling.

Naik truk buat ke kampung sebelah (Pinoh)

Dream

Hampir tidak mungkin anak-anak ini mempunyai uang untuk kuliah ketika mereka lulus. Jadi ketika anak2 SMA di Jawa bisa mempunyai mimpi setinggi langit untuk melakukan apapun, a college dream is a luxury thing for them. NGO memang memberi pilihan untuk membiayai kuliah untuk anak-anak yang mau tapi dengan harga yang mahal: setelah mereka lulus kuliah mereka harus kembali mengabdi selama 8 tahun di Kampung Air itu, entah sebagai guru atau pekerja lainnya.

Again, I felt hopeless when I talked to these people. Biasanya ketika gw berbicara dengan anak muda, gw selalu bisa memberi tips and trick atau saran tentang rencana studi mereka. But not to these students. My suggestions won’t work for them…

Beberapa anak kelas 3 SMA

Happiness

Di atas semua kegalauan dan konflik di pikiran gw, berkali-kali gw melihat kontras di kehidupan mereka. These people are so happy. They smile almost all the time. They joke around and enjoy each other presence every day. They welcome me like their family. They never grumble or complain. I just can’t understand them…even until I left the Village. How come I saw much more depressed people in my office where they earn 7 digits salary compared to this Village kids?

I don’t know the answer even until now..

Ketika gw mau pulang, ada beberapa anak yang sengaja nungguin. Anak2 SD, SMP, dan SMA. Ada satu kejadian yang gw ga akan lupa. Sambil jalan2, tiba-tiba ada 4 anak SD yang teriak2 “Itu bang Yoel. Bang Yoeeel..bang Yoeeel…bang Yoeeel” sambil teriak2 mereka berlari mengejar gw. Trus sambil malu2 mereka berkata kalau mereka mau memberi bekal buat gw pulang ke Singapore. Ada yang ngasih satu sachet Milo, satu sachet Energen, satu bungkus kacang, dan satu kertas berisi gambar mereka. I was like…shiiit. hahahah. Tau kalau itu satu sachet Milo mungkin seharga 500 perak atau 1000 perak, yang lumayan besar untuk uang saku 15ribu mereka per bulan. Even when remembering that moment, I could feel their warmth.

Again, I don’t know why these people think so differently to the people I am used to meet and interact. Many things that I receive and think as a depressive and hopeless situation or condition, they just digest it differently. They are just very grateful.

 

Salon gratis

 

The Kampung


Upacara Hari Senin di Sekolah

Belakang Layar

Semuanya dimulai sekitar 9 minggu lalu. Ketika itu, gw depressed, very depressed, suicidal dan memutuskan untuk pulang ke Solo, tempat asal gw. Di sebuah sore, gw nonton acara Kick Andy bersama cici, koko, dan nyokap gw. Ada dua hal yang somehow gw lumayan inget dari acara itu.

Yang pertama ada seorang Ibu yang depresi berat selama 2 tahun karena dua anaknya terkena dyslexia. Untuk menekan depresinya, Ia menghabiskan waktunya berkarir secara cemerlang di dunia pekerjaan sambil menitipkan kedua anaknya ke neneknya. Setelah bertemu dengan seorang psikolog, Ia disuruh untuk naik transportasi publik setiap harinya. Kata sang psikolog “Being grateful is not given. Tapi itu merupakan sebuah skill yang harus terus dilatih dan dikembangkan.” Yang kedua adalah cerita seorang pemuda yang mengajar di sebuah desa di Sulawesi. Meninggalkan kampus dan kemungkinan karir mentereng, Ia memilih untuk mengajar anak-anak SD di kampung itu. Kedua cerita itu cukup menempel di kepala gw.

Lalu sekitar beberapa minggu lalu, realizing that I am quite depressed, stressful, and burnout, my manager offered me two options. Yang pertama, dia menyuruh gw kerja dari kantor kami yang di Amsterdam. Tau kalau gw cukup cinta dengan Eropa, dia menawarkan kesempatan untuk gw selama 2 minggu chill out di Amsterdam, dibiayai kantor untuk semua akomodasi dan mungkin bisa sering smoking weed disana :p. Sedangkan opsi yang kedua, dia meminta gw untuk ambil long vacation, go to a very remote place, and will be totally unreachable from the office’s emails. Setelah berpikir, akhirnya gw ambil opsi kedua.

After making the decision, I was thinking about what I should do and where I should go. Teringat dengan dua hal dari acara Kick Andy waktu itu, gw memutuskan untuk mungkin menghabiskan 2 minggu untuk melakukan pekerjaan sosial. After asking around, I sent email to 3 different NGOs (including that one school in Sulawesi which was featured in Kick Andy). Two replied and one gave me a yes for me to volunteer in their place: in a village in the middle of nowhere in West Kalimantan.

Singapore – Kuching – Entikong – Sosok – Pinoh – the Village

Setelah berbelanja bekal perjalanan (semprotan nyamuk – the NGO asked me to eat Malaria pills but I did not do that-, sabun tangan,  banyak snacks), gw naik Uber ke airport. Untuk pergi ke kampung itu, gw bisa terbang ke Pontianak atau Kuching. Karena ada direct flight ke Kuching gw pilih terbang ke ibukota provinsi Sarawak di Malaysia itu.

Perjalanan dimulai dengan sedikit drama. Di dalam Uber, gw check tiket pesawat gw. Setelah beberapa menit cari-cari di email dan akun traveloka gw, ternyata gw belon beli tiket pesawatnya! Entah kenapa tiket yang gw beli di traveloka did not go through. Akhirnya sedikit panik, gw langsung cari2 tiket lain ke Kuching untuk malam itu. Setelah beberapa masalah -jaringan AirAsia error, tidak bisa beli tiket Singapore airline karena sudah mepet dengan waktu terbang, sampai di terminal SQ tapi tiket ke Kuching sudah mahal banget – akhirnya gw berhasil beli tiket AirAsia ke Kuching untuk malam itu. Sedikit lebih mahal, tapi at least gw ga perlu balik ke apartemen lagi.

Malem itu gw sampai di Kuching dan menginap semalam untuk keesokan harinya melalui perjalanan darat menuju Kalimantan Barat. Dari terminal bus sentral di Kuching, gw naik bis Damri, melewati perbatasan Indonesia Malaysia di Entikong, lalu berganti bis di Sosok, dan akhirnya menuju satu kampung bernama Pinoh. Total perjalanan darat ini kira-kira sekitar 12 jam. The trip was okay. I spent my time reading a book called Counterfeit gods by Timothy Keller (great book – especially when you are depressed), watching documentaries about Russia and South Africa by Reggie Yates, sleeping, or just simply wandering around in my mind.

Dari Pinoh ada 2 orang dari NGO tempat gw akan volunteer yang menjemput dengan mobil truck mereka untuk mengantarkan gw ke kampung itu. Dan setelah lebih dari 24 jam perjalanan, I was safe and sound arriving at the Village.

The Village

One of the best view from the Village

Untuk ukuran sebuah kampung yang berada di tengah hutan, sebenarnya Kampung ini cukup maju, gw sebut sebagai Kampung Air. 15 tahun lalu seorang pekerja sosial dari Belanda “membeli” tanah/hutan seluas 300 hektar. Sejak itu pekerja sosial ini membangun Kampung ini beserta dengan NGO yang dibangunnya. Ketika gw sampai di Kampung ini, ada sekitar 500-an orang yang tinggal di sana, kebanyakan adalah murid dari TK hingga SMA. Selain murid-murid yang tinggal di sana tentu saja ada para guru, pekerja bangunan, pekerja yayasan, mekanik, dan macam-macam tipe pekerja lainnya yang tinggal secara permanen di sana.

Sekitar 400an murid tinggal secara permanen di sana. Murid-murid hampir semuanya berasal dari keluarga tidak mampu. Mayoritas pekerjaan orang tua mereka adalah penoreh karet. Dengan harga karet yang terus menurun (4000 rupiah per kg), bisa dikatakan bahwa hampir kebanyakan dari keluarga mereka tinggal di batas garis kemiskinan. Walaupun SD dan SMP di Indonesia secara umum adalah gratis tapi akses ke sekolah tidak begitu mudah untuk mereka. Gw ngobrol dengan satu anak SMP di sana yang bercerita bahwa dia perlu berjalan sejauh 4 km untuk pergi ke SD di kampung-nya.

From 5 km walks now these children just need to walk for max 15 min to their school

Kampung Air berusaha menjawab kebutuhan ini. Orang tua yang tidak mampu bisa mengirim anak mereka untuk bersekolah di sana mulai dari TK hingga SMA secara gratis tanpa biaya sepeserpun. Namun anak-anak mereka harus mau tinggal di asrama Kampung Air secara permanen hingga mereka lulus dari SMA. Makanan, tempat tinggal, peralatan sekolah semuanya disediakan oleh NGO.

Di kampung itu anak-anak tinggal di berbagai macam asrama. Di setiap asrama biasanya ada sekitar 20 orang anak dengan jenis kelamin yang sama dan dipimpin oleh semacam pembina yang tinggal bersama mereka dan pembina ini biasanya seorang guru juga. Satu kamar biasanya diisi oleh 4 hingga 10 anak dengan memakai bunk bed. Ada sekitar belasan asrama di sana (Asrama 1 sampai 4, Rumah Merah, Rumah Kuning, Rumah Oren, dll)

Asrama 1

Yang lumayan bikin gw takjub adalah bagaimana kampung ini berusaha untuk self-sufficient. Karena akses yang lumayan jauh dari kota mereka membangun fasilitas-fasilitas mereka sendiri. Ada rumah roti yang buka tiga kali seminggu dimana mereka berjualan roti (harganya sekitar 3000 rupiah per roti seperti cupcake). Ada toko kecil yang disebut the Cafe, juga hanya buka selama satu dua jam selama 3 kali seminggu. Toko ini berjualan shampoo, sabun, makanan-makanan snack, dan minuman seperti coca cola. Untuk keperluan listik, mereka memakai generator listrik dengan bahan bakar solar. Untuk keperluan air minum, mereka mengambil dari hujan untuk berikutnya difilter. Sedangkan untuk  keperluan air mandi, mereka mengambil dari air sungai. Jadi terkadang setelah hujan lebat, air mandi/cuci biasanya agak kecoklatan karena banyak pasir turun ke sungai.

Ada juga gudang peralatan2 bangunan, workshop, dan bahkan tempat pembuatan batako dan bata. Di setiap asrama biasanya memiliki ladang mereka sendiri dan beberapa asrama juga memiliki kolam ikan yang diisi ikan Nila/Bawal. Karena tanah merah yang tidak terlalu subur, ladang biasanya ditanami tanaman2 tertentu seperti pisang, pepaya, ubi, dan peringgi (buah khas Kalimatan seperti semacam labu).

Dan yang terutama ada dua bangunan sekolah: satu untuk TK SD dan yang lain untuk SMP dan SMA. Bangunan SMP/SMAnya masih separuh jadi – menunggu uang sponsor. Ada juga lapangan sepakbola dan basket yang cukup minimalis.

SMP – SMA yang setengah jadi

Kampung ini terkadang menerima volunteer yang kebanyakan datang dari Eropa. Jadi ada tiga kamar yang berfungsi sebagai kamar tamu. Gw tinggal di salah satu kamar itu bersama dengan 2 bule dari Belanda, satu British, dan satu orang dari Hongkong. Hanya di kamar2 tamu ini ada toilet duduk. :p

So far, I was quite amazed. Walaupun dari 300 hektar tanah itu baru sedikit yang dibangun tapi bener2 ga nyangka ada kompleks seperti itu di tengah hutan.

Selama 2 minggu gw volunteer di Kampung ini. Aktivitas gw cukup random: gw bersihin keramik dari cat (scrapping), cuci2 piring 300 anak sehabis dinner, ngajar sejarah ke anak sma, bikin batako (Yes I did!), pasang kawat nyamuk, main ama anak2 SD, nonton pertandingan sepakbola antar kampung, dipotong rambutnya sama anak SMP, masuk keluar hutan, bikinin program buat perpustakaan, bikinin database buat SD, bersihin ruangan2, and many other random stuff.

Getting a haircut by anak SMP by sitting inside a toilet. 🙂

Selama di sana kadang gw suka ketawa dalam hati like thinking: what am I doing here? I did not sign up for this. Is this my holiday? Hahhahahah. But I think I made the right decision.

I am gonna write more about the Village later on – if I still have the time.

Their names are Galang, Moses, Sabil, and Darrell.

Merah Sunset


Writing has been a relieving activity for me for the last several years. Usually I can be truly honest to myself.

But when I know that my friends know about my writings, I can feel insecure. “What will they think about me?”

So when these last several days I wrote several morbid postings, several friends contacted me or even my mom. In one side, It helps me by knowing that they do care and that they have good intentions. But on the other side, I become more reluctant to write with full honesty. Sometimes it is not very comforting to think that your friends know that you are currently vulnerable and naked.

But then, why don’t you just write a private personal diary? Idk too, I feel that knowing that someone, a human, will read your writings is like knowing that someone else will listen your lamenting and mourning. I feel it better than just writing on my personal diary.

So oxymoron right?

So I gonna continue writing in this tough time. The middle ground is that I will write from this new blog so that people who used to follow my blog won’t be disturbed with my morbid postings. And migrating those postings to the new one.

 

Indonesian Malls


My colleague: “when will you fly to Jakarta?”

Me: “Friday night”

My colleague: “What? Why? What will you do in Jakarta? ”

Itu percakapan gw ama salah satu tim gw yg dari SF. Kita sama2 harus ke Jakarta but she prefers to spend a weekend in Singapore and thinks I am such a crazy idiot since I want to spend my weekend in Jakarta.

Gw jg ga tau kenapa gw impulsively decided to fly on Friday night instead of Monday morning. Maybe makanan Indo? Not really. Since I have been travelling a lot to Jakarta, I don’t have that craving anymore. 

But I just found out one of the reasons: Indonesian malls! 

Indonesian malls emang gila. I literally can do anything I need in it. In plaza Indonesia I can get a hair cut, visit a dentist, get a feet reflexology, get my shoes cleaned, watch a movie, eat good food, and the list will just be longer. 

As for now example, since the barbershop that I wanted to go has a long queue, I needed to wait. So I just asked a person in the shop “is there any massage place here” and she answered “yes. Just in that corner”.

And voila! while waiting I can get my feet massaged for an hour only for 12 sgd.

Indonesians are really pampered! 🙂

Day 29


Toshi, engineer ama Elisha, designer.

It is day 29 of my long trip. I feel numb. Hahaha. My body clock acts weirdly. For 2 days in row I went to sleep at around 4 am. Was awake for the whole night.

The good news is that my SF part of the trip is over. It is usually the most important one since I need to meet my stakeholders and present my work. I did 4 presentations in the HQ, mostly about my last 2 weeks research in SEA. It was fun too since I could catch up with other folks like Toshi and Elisha.

The interesting part was that (again) I was in the Uber HQ when something hot was happening. Last year in July I was there when UberChina-Didi merger was happening. This time, I was there when Susan Fowler’s article about her bad experience working at Uber was getting viral. It was a tough week for the company. A lot of emotional discussions and crying too. Hopefully we will make our company’s culture better.

Two more legs and I will be back to Singapore!

Kerja sebagai UX Researcher di Uber


Udah sekitar 8 bulan gw kerja sebagai UX Researcher di Uber. Posisi ini lumayan beda dengan role gw sebelumnya. Kalau sebelumnya di adidas Group gw memimpin tim UX dan juga act sebagai UX designer, kali ini gw murni ngerjain UX Research sebagai individual contributor. So sambil nungguin pesawat ke Portland gw yang delay 4 jam, let me share about what I learned from my last 8 months experience at Uber.

1.Gw belajar banyak dari UX researcher lainnya

Di seluruh Uber ada 29 UX researchers sebagai individual contributors dan 4 UX managers. In my previous companies, at max I worked with three other UX researchers, but not 33. Keuntungan utamanya tentu gw bisa belajar banyak dari pengalaman mereka. Dari satu orang yang PhD-nya ngerjain cognition dan perception, gw belajar gimana run study tentang gangguan ketika mengemudi. Dari dua orang researchers bekas IDEO, gw belajar BANYAK banget metode kreatif buat cari insight tentang hal-hal rumit dan sensitif seperti penghasilan. Dari mantan researcher pertamanya Google China, gw belajar gimana caranya masukin proses UX research kita di design sprint. Dari manajer gw yang memimpin tim researcher Global di Amsterdam, Bangalore, Singapore (gw!), London, dan San Paulo, gw belajar hal2 praktis gimana kerja remotely dan bekerja antar negara. Dari salah satu senior researcher yang ahli banget tentang survey dan quant method, gw belajar buat teliti banget dalam merancangan pertanyaan-pertanyaan surel gw. Dari salah satu staff researcher gw yang asli dari China dan aksen Chinanya masih kental, tapi semua orang mengakui kejeniusannya dan mengagumi paten2nya, gw belajar kalau walaupun aksen Inggris gw masih ga bagus, gw tetep ga boleh minder di hadapan researcher2 lainnya. Tapi yang paling terutama, gw bener2 belajar banyak hal praktis tentang UX research. Dari yang paling kecil seperti gimana caranya set kalender gw supaya nampilin beberapa time zone di waktu yang sama (berguna banget buat set up meeting) sampai hal rumit seperti bikin framework untuk menyampaikan findings dari riset gw. I really love these smart critters and I am really proud to be part of them.

2. Gw belajar untuk berkata tidak

Di perusahaan gw sebelumnya kadang tim gw kudu “nyembah2” supaya tim UX bisa diikutsertakan untuk mengambil keputusan2 strategis. Di Uber, pertandingan untuk menunjukkan seberapa pentingnya design dan riset udah dimenangin oleh orang2 sebelum gw. Jadi gw tinggal menikmatinya. Challenge yang ada justru kebalikannya. Request untung do riset bisa datang bertubi-tubi. Padahal jumlah UX researchernya ga sebanding dengan jumlah product/engineering teamnya. Sehingga yang terjadi, gw belajar banyak buat berkata tidak jika ada proyek riset yang menurut gw impactnya akan kecil. I learnt it the hard way. Di 3 bulan pertama, gw masuk ke fase “mendapatkan trust stakeholder”. Karena itu hampir gw selalu bilang yes untuk semua UX research yang gw dapet. It made me went quite insane. Gw masih inget pernah habis  2 minggu di SF, gw langsung do riset di Jakarta for a week, then gw ambil penerbangan pagi ke Singapore, do my stuff with my product team there, and then the day after that I needed to fly again to Manila, did 3 days research, and finally could come back to Singapore. Or on the other occasion, I packed my luggage just to stay for 5 days research in Jakarta but then I was stucked for another 3 weeks there just because requests kept coming.

Nowadays, after gaining good trust from my stakeholders, I am brave enough to say no for their request if I think its priority is low. Gw selalu bertanya 3 hal buat setiap request mereka: 1. Lu bakal apain hasil riset gw 2. Seberapa besar impactnya (in numbers kalau bisa) 3. Siapa yang bakal own setiap action point dari hasil riset gw. Dari pertanyaan2 itu gw bisa filter request2 yang asal2an dan pilih proyek mana yang impactnya bakal besar untuk perusahaan.

3. Gw belajar kalau kerjaan gw sekarang ga bakal sustainable buat gw ke depannya

Gw masih inget ketika gw di dalam pesawat dari Hanoi ke Ho Chi Minh. Ironi banget, karena gw lagi duduk di first classnya Boeing 777 but I was so depressed. I was just not that excited at that time for conducting UberMOTO research in Ho Chi Minh. It was not usual since at that time I felt so demotivated and tired to hear all of the drivers complaint or try to conduct a research with a translator. I found out why: I was burnt out!

Kalau kata colleague2 di Uber, learning curve di Uber itu 6 bulan. Setalah 6 bulan kita bakal tau apa bakal bisa survive di pace kerjanya Uber. It turnt out that I was not that strong. But I am getting better now. For example now, I am at day 22 of my f*cking 7 weeks research sprint outside my home in Singapore. Jakarta – Surabaya – SF – Portland – Germany – Sydney – and then back to Singapore. Yes I do miss my netflix and Nasi Ayam Penyet Presiden in Singapore but somehow I get used to with this nomad life as a field researcher. Do I want this kind of job forever? def no. Do I think this kind of role is sustainable? not at all. Gw def pasti berpikir pekerjaan lain yang less capek and less tensed in the future.

4. Gw belajar kalau di atas langit masih banyak galaxy

We know that yang lagi (atau masih) sexy di SV sekarang ada 4: Facebook, Google, Airbnb, dan Uber. Efeknya the hiring bar becomes higher dan so many awesome people who were bored working at Google or Facebook moved to Uber.

Di salah satu projek gw kerja ama sebuah tim produk yang namanya Markethealth place. Itu pertama kalinya gw berasa bodoh banget sejak beberapa tahun lalu waktu gw masih di bangku kuliah. Shit, these people are crazy. Most of them are having PhD in either economics, maths, cognitive behaviours, or comp science. So I was literally had no idea when they discussed on supply (drivers) positioning with some math formula. At that time I felt like how different is the playing field. I wish I grew up with that kind of environment yang bisa bikin gw buat lebih semangat buat ga skip kelas programming gw waktu di ITB dulu. :p

5. Gw belajar tentang positive leadership

I can say that I have the best manager I’ve ever had in my whole career. What is interesting is she employs positive leadership, meaning she will just do whatever she can to encourage me doing my job well. There is no micromanagement at all. There is no “you need to do this. you need to do that.” She def lets me do whatever I want as long I am responsible with my OKRs. Do I want to have 2 weeks vacation in December? Yes why not. Do I want to have another 2 week vacation in Feb? Yes, why not as long as I finished my projects. She just knows that I work my ass pretty hard and she doesn’t care if take 2 weeks holiday every 2 months or working from home everyday. She said that “I believe that people will work the best with a positive encouragement compared to with a punitive approach” which I think work pretty well for me.

Ok. my flight is boarding will continue this writing sometime

Milano . Soho


Karena gw nginep di sebuah hotel deket bundaran HI, gw jadi sering banget makan di Grand Indonesia. Nah, surprisingly ada dua restaurant yang gw sering kunjungin dan dua-duanya jarang mengecewakan. Namanya Milano dan Soho. Ini hari ketiga gw lagi kerja di Jakarta, dan udah dua kali jg makan di dua tempat itu. Both were not disappointing at all!

Milano

Lidah gw Jawa abis. Jadi sebenernya kurang suka makanan bule. Cuman kadang kalau gw travelling di Europe dulu, gw suka nemuin makanan2 barat yang gw demen. Nah, Milano ini cukup mengingatkan gw akan Eropa. Restorannya sebenernya kecil dan agak tersembunyi, yaitu di dalam Central, department storenya GI. Tapi surprisingly makanan2nya enak banget, terutama pastanya!

Pastanya somehow ngingetin pasta2 di Eropa sana. Gw lumayan suka pasta aglio olio + pasta item kepitingnya. Jarang banget gw bisa abisin pasta, tp Milano salah satu exceptionnya.

Kekurangannya cuman satu: semua daerahnya smoking area! Walau gw jarang liat orang ngrokok sampai ngepul2 disitu sih.

If you are in Grand Indonesia, you should definitely try this restaurant!

O ya, walau restorannya casual, ga dibolehin pakai sandal jepit yang cowok. Aneh bgt emang peraturannya. Kalau ga enak makanan-nya, pasti uda gw kata2in. Sayang enak. hahah. Pernah suatu kali gw sama temen kantor makan disini. Salah satu tim gw dari SF pake sandal jepit. Dan udah nego sana sini sampai berbusa2 mulutnya, tetep ga dibolehin masuk!

Soho

Dulunya gw pikir tempat nongkrong kaya Soho gt bakal ga enak makanannya. Tapi again, surprisingly makanan disini bisa enak. Jadi good combo. You can get good wine here while also eating good food! Yang lebih asik buat gw, mereka jual makanan fusion Indonesia! Jadi bakal ada makanan kaya nasi goreng buntut, dll.

Kekurangan ada dua: Kalau diatas jam 10.30an, musiknya mulai keras banget. Jadi kadang susah ngobrol. Yang kedua, selalu rame! Jadi selalu nunggu kalau buat dapat meja.

Overall Soho and Milano have been one of my fav restaurants while I am working in Jakarta. You guys need to check it!

Agus . Anies. Ahok


Tinggal pilih variabel mana yang paling penting untuk kita.

Kalau mau research satu hal, biasanya gw bikin framework dengan dua sumbu. Dengan isi sumbu kira2 variabel apa yang penting untuk si objek riset itu. Tinggal diapply jdnya ke Ahok Anies dan Agus. Contohnya, menurut prediksi gw krn pak Ahok rada koboi, dia akan lebih jago Moshing nya drpd Pak Anies. Tapi Agus bisa kombo, ga cmn jago moshing tapi dia bisa moshing ganteng. Sekian.

Law of diminishing returns


The following 7 weeks will be tough. My trip is finally set. Just finished booked all the flights and hotels (except the Aussie part): Singapore – Jakarta – Surabaya – Bali – San Francisco – Portland – SF – Lisbon – Porto – Nuremberg – Oberstdorf – Singapore – Sydney – Brisbane. 

Gw beneran ngiterin dunia mak! Asia – US – Eropa – Asia – Australia.

Law of diminishing returns – dulunya gw bakal excited kalau punya plan kaya gt. Sekarang? Ngebayangin nya aja gw jiper. Paling mati gaya waktu di pesawat sih. Any tips and trick how I can kill my time there? Or how I can be less pegel2? 

To make it worse, perusahaan lg ada efisiensi. Jadi sekarang ada maksimum harga hotel yg boleh di inepin (dulunya kaya raja minyak. Bebas milih hotel mana). Nah SF jadi masalah. Krn harga hotel2 disana ga masuk akal! Masak hotel motel yg kaya di film2 horror US bintang 3 aja bisa sampe 280 usd per malem! Ga masuk akal. Any recommendation on good hotel/airbnb in SF? My max cap is 250 usd per night.

Yang paling excited bakal mampir ke nuremberg sih. Gw kangen nyimeng! Hahaha. Been almost a year since nyimeng di Jerman. Sungguh fana hidup gw.

Yang jg aga mikir. The next 7 weeks berarti bakal susah ke gereja. Haish. This has been a problem until now. Any tips on finding a church while you are on business trip? 

And the next 7 weeks will make me fatter too. La pie. Kalau lg traveling tu bkn males olahraga. 

Ah too much complains. You should stop complaining and just say: C’est la vie..

Tajir


Ini postingan bakal bisa dikira postingan super congkak. But anyway I don’t care.

I don’t think I’ve never been this tajir before. Lima hal yang bikin gw merasa tajir:

  1. Gaji di bidang tech company yang lagi lumayan hype
  2. Pajak penghasilan Singapore yang kecil abis disbanding pajak Jerman gw
  3. Gw sering banget having business trip, jadi biaya hotel, makan, laundry, transport, dll ditanggung semua.
  4. Gw sering travel ke Indonesia padahal living expense di sana jauh lebih kecil daripada living expense di Singapore
  5. Gw belon berkeluarga

Karena 5 hal diatas bikin gw ngerasain yang namanya hidup tajir. I meant not tajir kaya the 10% or even the 1%, tapi tajirnya middle class. Hahahaha. Jadi sebenernya ga tajir2 amat juga.

Tapi karena ketajiran ini akhirnya gw baru ngerasain buat ga pernah mikir buat spend apapun. If I think I need it, then I will buy it. Pernah gw lagi jalan di mall, mau beli pemotong kuku buat anjing, lewat toko game, ada urge buat beli PS, ya gw langsung beli. Thug life.

But tajir ini bikin gw mikir juga. I meant gw ga setajir Ciputra, tp gw disatu titik dimana gw ngerasa ada di titik ekstrim ketajiran dalam 28 tahun kehidupan gw. Trus apa yang gw rasakan?

Nothing.

Klise tp bener. Kalau tajir ga bikin lu happy. Ada riset bilang bahwa sampai titik penghasilan tertentu (kalau di US skitar 90rb USD/tahun) maka kenaikan penghasilan lu ga akan menaikkan kebahagiaan di kehidupan lu.

I think that’s what I feel currently. Gw ga merasa gw lebih happy dibanding waktu gw kuliah dulu. Padahal mungkin dulu pengeluaran gw dalam sebulan bisa sama kaya pengeluaran gw 4 hari sekarang. Kalau secara matematis harusnya kebahagiaan gw sekarang sekitar 7.5 kali lebih besar. Tapi ga, bahkan kadang ga jarang kalau gw ngerasa dulu jauh lebih happy.

Mungkin bener apa yang gw tonton dari documentary yang judulnya “happiness”. Kalau orang suka ngejar 3 hal dalam kehidupannya, yaitu: uang, fame, dan recognition. Ternyata 3 hal itu cuman tipuan dan ga bikin lu happy. Sebaliknya 3 hal yang bikin orang happy sebenernya: berguna buat orang lain, perkembangan diri, dan hubungan yang berkualitas. 3 hal yang gw ga ada tajir2nya sama sekali….

How about you?

Are you tajir? Are you happy? Are you not tajir but happy? Are you tajir but happy? Are you not tajir and not happy? Are you tajir but not happy?