2017: The Year of Traveling


And nguli and depressed.

Kalau disuruh ngasih judul 3 kata tentang tahun 2017, gw bakal kasih judul: Traveling, Enslaved, and Depression. (Siapa coba yg nyuruh gw? :p )

Traveling.

Karena I feel that have been traveling (for work especially) too much this year. Kalau dalam setahun ada 52 minggu, I am pretty sure at least 26 minggu nya gw ga stay di Singapore.

Gw coba inget2 lagi traveling gw kemana aja tahun ini. Ini hasilnya

Seoul, Korea – Solo – Jakarta – Singapore – Jakarta – Surabaya – Jakarta – Singapore – SF, Amerika – Lisbon – Porto, Portugal – Nuremberg, Jerman – Singapore – Sydney – Brisbane, Australia – Singapore – Malang – Singapore – Jakarta – Singapore – Jakarta – Singapore – Solo – Penang – Cebu – Singapore – SF – LA, Amerika – Singapore – – KL – Singapore – Jakarta – Singapore – Kuching, Malaysia- Kalimantan – Singapore – Jakarta – Singapore – Oslo – Lofoten, Norway – HCM, Vietnam – Singapore – SF, Amerika – Solo – Jakarta – Solo – HCM, Vietnam Singapore – Amsterdam – Singapore – Montreal, Kanada – Singapore – KL – Singapore – Bangalore – Delhi – Rishikesh, India – Singapore – Jakarta – Singapore – Osaka, Kyoto, Hiroshima, Okayama, Naoshima,

Himeji, Kanazama, Shirakawago, Japan!Nulisnya aja capek. 16 negara berbeda dlm setahun and puluhan kota. 61 kali terbang dari satu negara ke negara lain. Jadi kalau dirata-rata dalam setiap minggu gw pasti ngendon di bandara at least sekali.

Kalau sekarang gw sambil nulis ini, mikirnya “wow keren juga, I am a globetrotter!”. Tapi sebenernya waktu ngalaminnya lumayan capek. I feel that I don’t have life outside of my travel and work. Life is just moving from a hotel to another hotel. Yang sering greet gw ketika pulang kerja “Selamat sore Pak Yoel” lebih sering orang2 sebuah hotel di Jakarta yang sangking seringnya gw disana jadi inget nama gw.

On the other bright side, at least I have experienced it. Dari dulu gw suka travel, akhirnya dikasih juga ama Tuhan kerjaan banyak travel, walau kadang feel that it is too much now.

I think 2018 won’t change too much as long as I still work in Singapore. Should I move back to Indo for good then?

Work

Work, work, work. Berasa jadi kuli di kompeni Ameriki ini. Mau pagi siang sore, gw berasa kudu stand by online via email. Meeting2 gw biasa baru mulai larut malem sampai jam 1, 2 pagiannya – nyesuain time zone kebanyakan colleague gw di US sana.

Gw baru sadar betapa kecanduannya gw ama kerja sampai waktu lagi liburan di Jepang ini, gw ga sadar kalau setiap beberapa jam sekali gw cek email. Padahal ga rencana – otomatis aja. Buka email trus refresh. Baru sadar ketika temen gw nyeletuk “lu ngapain cek email?”. Gw jd realize deh waktu itu. Gobloknya lagi, gw masih kadang bales email2 itu. Padahal udah jelas2 lagi PTO.

On the good side, sebenernya gw lmyan banyak ambil cuti tahun ini. Sekitar 36 hari kata bos gw. That’s effing 7 weeks. :p Jadi sebenernya gw ga terlalu work work work jg. Org 7 dari 52 weeks kerja gw sebenernya gw cuti. Tapi ntah karena beban kerjaan, beban mental, atau tetep suka online waktu cuti yang bikin gw ngerasa kalau gw cukup nguli tahun ini.

Sampai gw bikin hashtag #kuliAmeriki sama #kompeniAmeriki kalau lg complain ttg workload gw di instastories.

2018, again I don’t think things will change too much. Yg ada mgkn workload malah nambah. Kecuali Uber gabung sama Grab. #eaaaaa

Depression

Yang terakhir depresi. Gw lmyan depresi di sekitar bulan Mei Juni tahun ini. Sampai gw harus kabur ke Solo and middle of nowhere di Kalimantan for bouncing back. Somehow it becomes one of the highlight (or lowlight) of this year. Sangat berpengaruh sampai efeknya sekarang: my life, who I hang out with, who I talk about my life to, what I spend my life on, dll jadi ditentuin karena pengalaman itu.

Won’t definitely want to experience it again. Tapi somehow itu jadi bagian hidup gw yang berharga aja. Kaya prajurit yang bangga sama bekas luka perangnya (alah!).

2018, not sure whether I will face this again. If yes, I think I am more prepared now.

So this is it. 2017: the year of traveling, enslaved, and depression!!!

How is your 2017?? Want to hear it too.

Advertisements

All Nippon Airways: I am impressed!


Gw emang dari dulu demen banget naik ANA, karena makanannya enak plus layanan servis khas Asia timur/tenggara yang ciamik.

Kali ini gw makin amazed lg ama pelayanan mereka. Jadi gw terbang dari Singapore ke Tokyo dari jam 6.35 pagi di Singapore. Sebelumnya gw pakai drama bangun telat (5 am!!!), kebelet boker waktu di Uber (jadi kudu minta tolong berenti di pom bensin bentar), tapi alhamdulilah masih bisa check in waktu sampe Changi.

Jadinya gw lumayan uring2an and langsung mau tidur aja begitu uda masuk pesawat. Gw tidur 4 jaman dan bangun mungkin jam 10an. Kelewatan deh breakfast yang dikasih di dlm pesawat.

Nah tp sangking ciamiknya ANA ini, dia notice kalau gw skip breakfast karena tidur. Si pramugarinya ngedatangin gw dan bilang “good morning”. Setelah itu dia nawarin mau breakfast apa. Gw lumayan impressed. Woooow.

Biasanya gw yang perlu nanya bisa dpt makanan ga kalau kelewatan. Ini mereka bisa inget kalau gw td ketiduran and nawarin makanan.

I am impressed! Good game ANA!

Yoel kecil


Malam tadi gw seperti tidak mengenal diri gw sendiri. Beberapa kali gw berpikir “is that you Yoel?”. Seperti air yang menerobos bendungan, air itu menyeruak kemana-mana. Lalu gw berpikir, kalau gw berkeluarga dan mempunyai anak, apa yang istri dan anak gw akan pikir yah ketika Yoel yang itu keluar.

Sekarang ketika gw bisa berpikir lebih jernih, gw merenung. Apa itu Yoel yang masih kecil yah. Yoel kecil yang masih berumur 4 atau 5 tahun, menggerakkan hidup Yoel yang berumur 29 tahun ini.

Seperti seorang dalang yang handal, Ia menghidupkan wayang-wayang di hadapan para penonton yang menyimak dengan cermat. Yoel kecil ini pun sangat handal. Ia menggerakkan tubuh fisik Krisnanda dewasa ini, pikirannya, cara bertuturnya, cara berjalannya, layaknya seorang dalang menghidupkan Prabu Kresna.

Lalu manakah Yoel yang sebenarnya? Gw pikir dua-duanya. Yoel dewasa harus belajar berdamai dengan Yoel kecil. Bahkan mungkin bertutur dan menasehatinya. Agar Ia semakin dewasa. Yoel dewasa harus belajar mengasihi Yoel kecil. Sehingga Yoel kecil bisa merasa diterima dan dikasihi.

Hanya dengan cara itu, Yoel dewasa bisa menjadi utuh, karena Yoel kecil akan menjadi dewasa juga.

Sembari gw belajar mengasihi dan menerima Yoel kecil, gw akan terlebih dahulu belajar untuk mengarahkan pandanganku pada Sang Kuat. I will hold strong to his promise:

“Fear not, for I am with you, be not dismayed, for I am your God, I will strengthen you. I will help you, I will uphold you with my righteous right hand”

Indihe


Sambil nulis ini, gw lagi di dalam perjalanan menuju Rishikesh dari New Delhi. Beberapa hari lalu gw nyampe di Bangalore dan lumayan excited karena ini pertama kalinya gw menjejakkan kaki di India. Ini beberapa hal yang gw alami dalam beberapa hari terakhir.

Drama Visa

Hari Selasa malam gw uda semangat banget bakal terbang ke India. Paginya gw ke kantor bentar buat beberapa meeting abis itu pulang and langsung naik Uber ke Changi. Setelah print boarding pass, gw mau check in luggage and drama Visanya dimulai.

Si petugas airlinenya bilang kalau gw butuh visa buat ke India. I was like…shit! Beberapa minggu lalu gw udah check di internet kalau orang Indonesia bisa dapet visa on arrival. Ga percaya? Coba deh google “indian visa for Indonesian”. Nanti link pertama bilang kalau kita bisa pakai visa on arrival.

Udah panik dan stress tapi ga bisa ngapa2in lagi akhirnya gw duduk and coba apply e-visa. 30 menitan gw masukin semua data2nya dan dibilang kalau visa bakal ready max 72 jam. Dan sambil kecewa gw tarik lagi koper gw, pesen Uber, dan balik ke apartemen.

Keesokan paginya gw iseng2 email visa inquirynya, melas2 bilang kalau gw butuh banget visanya soon karena beberapa alasan. Dan voila, setelah sekitar 20 menit gw kirim email itu, gw dapet e-visanya. Itu sekitar jam 12 siangan. Gw langsung beli tiket buat malamnya. Lesson learned: ga boleh punya bias. Gw ada unconscious bias kalau India negara miskin, dan biasanya ga butuh visa kalau ke negara miskin. HahaChaosPertama kalinya gw keluar dari bandara Bangalore, impresi pertama gw: polusi!! Udaranya bau banget, kaya asap rada menusuk hidung gt. Waktu tadi pagi gw nyampe di Delhi, polusi bahkan lebih parah lagi. Yang tampak seperti kabut, sebenernya adalah asap polusi. Mata langsung berasa pedas dan bisa batuk2.Chaos yang lain adalah jalanan. Maaan.. orang2 ini lebih gila nyetirnya daripada orang Jakarta atau Ho Chi Minh. Gw pikir Vietnam udah plg top urusan keruwetan di jalan. Tapi ini at least di dua kota yg gw kunjungi, mereka ruwet banget. Orang pake klakson like every 30 seconds. Anjing, sapi di jalan. Orang2 nyebrang seenak jidat. Gila pokoknya. Gw lmyan stress kadang selama di mobil Uber. Berasa gila mereka nyetirnya. Untungnya waktu road trip hari ini, temen gw nyetirnya masih chill.GandhiAda satu waktu dimana kita ngobrolin Gandhi. Sebelumnya dari film2 dan buku yang gw baca, gw pikir semua orang India pasti respect sama Gandhi. Ternyata ada nuance disini. Banyak orang ga suka Gandhi karena dua hal: gimana dia treat perempuan dan gimana dia mendukung sistem kasta. Di hal yang pertama, di beberapa tahun terakhir, mulai banyak perempuan yang mulai open tentang apa yang mereka alami ketika mereka tinggal di Ashramnya Gandhi. Beberapa mengaku mengalami sexual assault. Sedangkan di hal yang kedua, entah karena alasan apa, Gandhi ga terlalu mendukung penghapusan sistem Kasta.

3%

Gw merasa orang India itu pinter banget. Gw baru sadar kalau selama ini sample gw skewed bgt. Gw pernah punya dua manajer cewek orang India dan mereka jago bgt. Manajer gw yg skrg bertahun2 sebelumnya kerja di Nokia and Google. Very sharp and I can learn a lot from him. But again ternyata sample gw very skewed. Orang2 yg gw temui di hotel, uber, dll, they are very different. Banyak bgt yg bahkan ga ngomong Inggris. Persepsi gw dulu most Indians do speak English. Karena ternyata cmn 3% dr org India yg finish their graduate study. Dan cewek yg finish their graduate study and work in top tech companies, they said is 0.0001 %. Pantesan gw shock ketika ketemu persona yg beda banget sama org2 India yg gw kerja brg sehari2.

New experience

Gw enjoy banget people watching selama road trip ini. The adrenaline kick in ketika semua indera lu nemuin hal2 yang baru. Bau, penglihatan, suara. Semua overwhelming dan fascinating. Seperti kaya gw pertama kalinya ke luar negeri dulu.

People are just nice

Selama beberapa hari ini gw bareng temen2 kantor yang cabang di India. We eat, laugh, joke, and spend good time together. I think people are just nice. Walau mereka orang India dan gw orang asing disini tp mereka very thoughtful. Kalau gw ada, mereka ngomong pake Inggris, dan hal2 nice lainnya. Memang harusnya kaya gitu karena kita semua sama2 bleed red and sweat salt…

Kepercayaan-diri


Dua weekend ini mungkin salah dua akhir pekan terakhir gw di Singapore di tahun 2017. Eh walau masih ada satu weekend lagi sih. Minggu depan gw bakal ada kerjaan di India, dan minggu depannya lagi bakal 2 minggu kerja terakhir di Jakarta sebelum gw ambil cuti akhir tahun. Karena pumpung gw lagi di Singapore, gw jadi berusaha ke gereja. Minggu kemarin I had fun actually: dengerin kotbah, nyanyi hymn, dengerin choir, perjamuan kudus. Tapi minggu ini lumayan sucks. Gw kembali limbo.

Gw ke gereja Indonesia di salah satu hotel mewah di Orchard sana. Sayangnya kotbahnya bikin gw eneq. Yang pertama kotbahnya emang ga jelas isinya mau ngomong apa. Plus dibumbui cerita2 fake. Tapi yang paling bikin gw lmyan struggle ketika terakhir out of nowhere si pendetanya ngebahas Halloween – yang ga ada hubungannya sama isi kotbah dia hari itu. Yang gw bikin struggle karena ketika si pendeta ini kotbah tentang Halloween – gw kembali berasa misplaced.

Nurut gw isi kotbah ttg Halloween itu bodoh banget. Si pendeta ngotbahin tentang hubungan Halloween dengan praktek okultisme, Druid, dan paganisme. Abis itu bilang kalau pesta Halloween berfokus pada kekerasan, ketakutan, dan okultisme. Plus ngasih foto2 seronok orang yang berpesta Halloween (“Tuh apa kalian mau kaya gitu?’).

I was like shit…kenapa sih lu harus nyebarin kebodohan dan kegoblokan gitu. Itu ada berapa banyak orang tua yang akhirnya percaya trus ga ngebolehin anak2nya ikut pesta Halloween anaknya. Skenario terburuknya, anak2nya diejek2in ama temen sekolahnya. Trus anak2nya kepaitan dan benci ama gereja. Can people just have fun? Hey man, kita di gereja juga setiap bulan perjamuan kudus, memakan roti dan minum anggur sebagai perlambangan TUBUH dan DARAH Kristus. Kurang pagan apa agama Kristen kalau mau dipandang dari sisi kaya gitu. Anyway ini ada artikel Kristen yang ga goblok tentang bagaimana orang Kristen harus menanggapi Halloween.

Tapi gw ga mau ngomongin tentang kegoblokan itu. Gw mau ngomongin tentang satu tema: kepercayaan diri. Nurut gw ini akar banyak kegoblokan. Di sebuah buku yang judulnya “Sapiens: A brief history of humankind”, si penulisnya berhipotesis kalau salah satu alasan bangsa Eropa dulu bisa jadi menguasai hampir seluruh pelosok dunia karena satu trait mereka: Ketidakpercayaan diri. Mereka tidak percaya bahwa mereka mengetahui semuanya. Mereka mengakui hal-hal yang tidak mereka ketahui. Dan terus mempertanyakannya. Dengan karakter inilah mereka berhasil menemukan benua Amerika dan temuan2 lainnya.

Sebaliknya bangsa Asia cenderung punya trait kepercayaan diri waktu zaman itu. Bahwa kebenaran mutlak milik mereka. Percaya diri kalau mereka tahu semua hal.

Memang penulisnya orang US juga, jadi ada bias. Tapi somehow gw percaya dengan tesis bahwa kepercayaan diri bahwa kita tahu semuanya bikin orang goblok.

Orang yang percaya diri kalau cuman agama dan Tuhannya yang benarlah yang biasanya jadi teroris tukang ngebom2 itu. Orang yang yakin bahwa rasnya lah yang paling benarlah yang jadi orang rasis. Orang yang yakin bahwa budaya Indonesialah yang paling hebatlah yang jadi orang gampang dibodohin isu komunisme, PKI, Zionisme, dsb.

Balik lagi ke soal Halloween tadi, ketika si pendetanya nanya “Is it cute or dangerous when your kids dress in a Halloween party”. Semuanya diem, tapi gw agak teriak “Cute!”. Gw yakin akan ada lebih banyak orang yang bakal teriak “Cute” sama gw tadi, kalau kita ga terlalu percaya diri atau yakin akan diri kita sendiri. Counter-intuitive? Yes it is. Gw bisa percaya diri kalau kotbah si pendeta itu goblok, karena pondasinya adalah ketidakpercayaan dan ketidakyakinan. Jadi semoga kita tidak terlalu yakin kalau kita selalu benar sehingga kita bisa yakin ketika ada kegoblokan yang disodorkan di depan mata kita sendiri. Does it make sense?

Cimz



Pernah stoned waktu ngecimeng?

This is what I felt (thought) on the first few minutes when I was stoned 2 days ago. :p

Lagi nyimeng dari sebuah jendela di salah satu hotel di Montreal.

Sambil ngrokok, cimengnya keliatan uda mau abis setengah. Kapan yah harus berhentinya? Koq belum habis2. Hmm it’s time to stop now. Udah habis setengah. Lalu gw tutup jendela dan siap2 mau makan Poutine. 

Shit, bukan bungkus Poutinenya susah bgt, kecipratan sausnya. Gw jalan ke bath room buat ambil tissue. Waktu jalan ke bathroom koq uda merasa ga seimbang yah. Shit, cimengnya kick in. Gw tetep niat ambil tissue. Setelah dapat tissuenya gw balik ke meja makan, buka bungkus Poutine dan coba makan. But shit, cimennya bener2 kick in. Gw coba makan satu potong suwiran ayam, koq berasa ga enak malah. Gw kayanya harus ke kasur nih. Kali ini too much cimengnya yg gw hisap.

Gw jalan ke kasur. Terlentang di kasur gw mulai berpikir. Maaan, kali ini gw kebanyakan lagi cimengnya. Terakhir kaya gini di portland. Shit, I should not take too much. Waktu mulai berjalan pelan banget. Gw liat jam di TV: jam 9:47. Gw harus inget2 terus jam itu, biar gw tau kalau waktu berjalan maju.

Shit, waktu mulai aneh. Satu detik berasa lama banget. Indera gw mulai makin sensitif. Terutama lidah, tenggorokan, kuping. Shit, gw lupa matiin lagu spotify lagi. Gila ini lagu instrumen keras banget. Man gw harus matiin lagu spotify. But, shit I dont think I have enough energy and concentration to open my phone and close spotify. 

Tenggorokan mulai kerasa kering banget. Mulut juga. Dan ketika gw menelan ludah, berasa banget ludah itu mengalir masuk ke tenggorakan. Bang! Gw terlempar ke dimensi lain. Ini apa yah, banyak banget pattern2 3 dimensi. Gila, gw berasa tercerahkan banget. Dari satu pattern gw pindah ke pattern lain. Dari satu khayalan ke khayalan lain. Semuanya berbentuk 3 dimensi. Gw mulai bikin garis yang menghubungkan tempat2 dimana gw pernah stoned berat kaya gini: Amsterdam, Nuremberg, Seattle, Portland

, San Fransisco, Amsterdam, and kali ini Montreal. 

Bang! Gw kelempar lagi. Kali ini gw ketakutan. Gw takut kalau gw bikin hal2 yang aneh. Pikiran gw mulai berpikir skenario macem2. Lompat dari jendela, keluar dari kamar, dll. But tenang, dari pengalaman gw, gw selalu di kasur aja kalau lg stoned. Itu cmn ilusi el. Ayo fokus ke jam tadi. Jam yg jd jangkar untuk hal2 yg real. But shit! Jamnya masih 9:47. Dari tadi jamnya ga maju2. Aduh Tuhan, gw ga mau lagi deh kalau over gini cimengnya. Alah! Tp ntar kalau uda sober lu pasti ttp pgn cobain cimeng lg kalau bisa.

Bang! Patern2 keluar lagi. Kali ini musik mulai menjadi pattern. Dari musik jadi pattern circular, kaya jam yang berputar. Gila, gw yakin ke depannya bakal ada virtual reality yg bisa bikin org ngapain aja. Ini aja gw cuman pake substance cimeng, otak gw uda terbang dari satu pattern ke pattern lain. Kali ini rekursif! Dari satu pattern, gw zoom in ke bagian dalamnya, dan di bagian dalamnya ada pattern lainnya. Maaaan! Ini kapan berhentinya. Koq kaya infinity patternya. Apa ini yah rasanya neraka nanti. Kita dihukum di dlm dunia infinity dan lu ga bisa ngapa2in. Dan ga perlu badan untuk menghukum kita. Karena semuanya di pikiran.

Man, jangan2 gw ini di dunia matrix. Yg infinity. Dan kalau gw lagi nyimeng gini, berarti ada Morpheus, Trinity, dll yang berusaha sadarin gw. Ayoo terus Morpheus! Kalian harus sadarin gw. 

But kayanya ga bisa deh, gw pasti bangun di dunia matrix. Kembali ke dunia yg mundane. Tp gpp sih, asal nantinya ketika gw di dunia mundane, gw ga sadar kalau ada dunia matrix di luar dunia gw.

Bang, gw ke zoom out, dunia gw ternyata cmn kaya bola mata kecil di dunia lainnya, dan terus rekursif ke zoom out. Man, ini kayanya efek dulu gw nonton Man in Black.

Ah koq dingin yah. Selalu kalau gw stoned gini jadi berasa lebih dingin. Tp gw bisa gerakin tangan kaki gw ga yah. Oh bisa, berasa aneh banget tp ini rasanya. Gw ngerasain tangan gw. Coba jarinya dulu deh. Oh bisa. Gw ambil selimut deh. Dingin. Jam brp yah. Pasti belum maju lagi. 9:48. Untungnya ini ga pertama kalinya. Oh gw tau skrg, knp waktu pertama kalinya dulu gw stoned di Amsterdam, gw ketakutan banget. Krn konsep waktu yg melambat ini mengganggu banget. Gw berasa trap dan ga bisa mengapa2in. Gila el, dasar lu. Dasar researcher. Lagi stoned aja masih menganalisa waktu lu stoned lainnya. Tp ya emang cmn di kondisi seperti ini sih gw bisa menganalisa karena jarang bgt ngalamin waktu stoned kaya gini.

Bang! Gw kelempar lagi. El, lu harus santai. Coba ikutin ritmenya aja. Itu kata Yuki dulu. Oke deh gw ikutin ritmenya. Let’s have crazy but nice imagination. Oke, gw coba terbang. Seru juga. But bang! Pattern rekursifnya keluar lagi. Shit ini yg plg mengganggu sih dr imaginasi gw. Kenapa selalu rekursif. Ini yg bkn gw kelempar terus. 

Tapi 3D patternnya bagus banget sih. Gw berasa kreatif banget. Maan, kayanya kalau gw sekreatif ini terus gw bakal bisa nulis buku dengan gampang. 

Haah. Capek. Aduh ini kapan berentinya yah. Gw kayanya kudu buka kacamata and berusaha tidur. Aduh tp nanti gw ga bisa lihat jamnya. Ga bisa tau kalau jamnya maju. Bisa pake hp kan? Amit2 engga. Jangan pegang2 hp deh. Nanti gw post aneh2 lagi. Bang! Gw masuk skenario gw post aneh2. Ini real engga. Ini engga real! Inget el, jangkar kamu kasur sama jam tadi. Selama itu masih ada kamu ya di kasur aja, ga bakal ngapa2in.

Tapi ini susah bedain imaginasi sama real. Oh gw tau, imaginasinya lu bikin extrim banget aja misalin lu tau2 di Indonesia, ga mungkin kan. Karena lu masih di Montreal. Ok lets try it. Gw tau2 di Afrika, ini ga real. Gw di kasur, ini real. Gw tau2 masuk rumah sakit, ini ga real. Gw di kasur selimutan, ini real. Shit capek. Ini kenapa susah banget. Gw harus tidur. Gw copot kacamata. Coba tutup mata.

Man, pattern lagi deh. Kaya berada di dalam silinder. Kalau kaya gini gw malah merasa Tuhan itu ada atau Tuhan itu ga ada yah. Oh tapi kalau kaya gini, semua hal2 yg mundane jadi ga penting lagi. Gw mulai bertanya ttg hal2 apa yang penting dalam hidup gw. Teman, keluarga. Yg lain jadi ga penting. Kenapa harus berpikiran kaya gt yah, udah ah ga usah self reflection gt. Lu malah sedih nanti. Ayo tidur. 

Gw coba balik badan. Ini bantal, iya bantal bener. Waktunya aneh banget. Gw coba mundur deh, kapan yah timestamp gw mulai stonednya? Tadi waktu beli poutine, ga mungkin. Waktu abis ngrokok cimengnya lah. Aduh ini waktunya koq mundur. Engga, itu yg imaginasi. Waktu ttp maju. Jangkar kamu kasur. 

Ayo tidur. And this will continue for the next several minutes until I fell asleep. 

Ask me anything



Sejak nulis di blog ini, ada aja orang yg kirim email ke gw. Emailnya isinya macem2. Encouragement, questions, stories, etc. Plg sering sih pertanyaan2. Pertanyaan2nya juga suka macem2. Dari nanya tips untuk menulis (man..gw kalau nulis acak kadut campur aduk bahasanya. đŸ˜…) , beasiswa, sampai personal life.

So here is it. If you have any questions for me, just use the comment function on this post. I will update this post based on the questions I receive. 

Ask me anything!

Friday the 13th


Amsterdam, Friday, October 13th

Hey. Today is my birthday! Kebetulan gw lagi ada kerjaan di Amsterdam, jadi aga aneh ga ngerayain ulang tahun di rumah – walaupun “where is my home?”, Singapore? Solo?. Tambah satu tahun umur gw, dan tahun ini bakal terakhir kalinya gw bakal umur di kepala dua. Maaaan, I am old!

Tahun ini banyak hal terjadi di hidup gw. Baik dan buruk. Depresi dan bahagia (sedikit). With all of the things that happened, I learned a lot.

Gw belajar menerima diri gw sendiri

Gw pikir, gw udah menerima diri gw sendiri sejak beberapa tahun lalu. But somehow this year, gw berasa kalau gw naik level di bidang ini. Gw berasa bener2 chill akan diri gw sendiri. Gw ga terlalu peduli apa kata orang. Gw bisa lihat how shit Yoel is and accept it. Does not mean that I give up, but I just can be more relaxed about it. Acknowledge all of the shits that I own.

Gw belajar buat lebih open

I don’t really realize this until several people mentioned about it. Beberapa orang share ke gw betapa mereka appreciate how open I am to them. They appreciate how I can be vulnerable in front of them. Anehnya, this thing somehow help them. Counter intuitive banget. Karena how come just being vulnerable can help other people. Tapi bagi gw, for some good friends that I trust, I am  a blank open book now. If I have a shitty day, I will say that I have a shitty day. And if I have a happy day, I will try to celebrate it with them.

Gw belajar appreciate my days

Ketika gw depresi, gw bener-bener berada di jurang kelam. At that time, I just tried to survive for one day. Day by day. Gw cmn mikir gimana caranya bisa lewatin hari ini. Makan, kerja, tidur. Somehow, karena itu, gw lebih bersyukur untuk hari2 “normal” gw. Gw lebih bisa bersyukur ketika gw bisa menikmati makanan, wine, musik, buku, seni, dll. Gw lebih bisa bersyukur ketika gw melewati hari2 dengan normal.

Gw belajar buat appreciate good friends & families

Again, ketika gw jatuh depresi, saat itu beberapa temen dan keluarga gw bener2 there for me. Ada satu orang yg nemeni gw di apartemen gw di Singapore ketika gw takut sendirian. Ada satu orang yang nemenin gw waktu gw lagi di Jakarta, waktu gw nangis seharian dan harus terbang balik ke Singapore. Ada satu orang yang nemenin gw waktu gw lagi lumayan down di Jakarta. Ada keluarga di Solo, Australia, Jakarta yang ngasih kasih yang tulus buat gw. Ada temen di Singapore yang gw bisa saling support each other. Ada orang2 yang genuine care dan pengen bantu gw. Thanks to you all. I really do appreciate it.

Gw belajar bersandar ama Tuhan

Di titik paling bawah, ketika temen, keluarga, pikiran, perasaan udah ga bisa diandalin lagi, ga ada lagi yang bisa tolong gw selain si Khalik. Gw tau, gw pragmatis banget. Ketika di atas sering lupa akan Dia. But yeah, I am that shitty. Luckily, He does still accept me. Di hari2 tergelap itu, gw berasa Dia jagain gw banget. Gw masih inget di waktu2 dimana gw cmn bisa berdoa di kasur: Tuhan let me go through this..please help me. And He does help me. Walaupun in those moments, not very seldom I also prayed for him to take my life. :p

Gw belajar menikmati kebebasan gw

After being open, being vulnerable, surviving the depression, I got some weird feeling of freedom. Mungkin karena I really don’t have anything to hide now. It is like saying to the world, Hey this is me. I am a sinful person. I do sin. Have done a lot of shitty things. But I also do have good intentions  and have other good things in my life.

So, happy birthday Yoel! You are doing good at surviving this year.

As a bonus, these songs helped me to survive in those dark days. Enjoy!

 

“Don’t you get that I’m defended, I will never die, it’s a battle that you can’t win, it’s love that keeps me alive, and I won’t ever have to die a death, my final breath will birth a life, and I will rise up resurrected, my past and future in Christ!…Till I rise up resurrected, I’m right here right now alive!” – Alive, KK

I deserve it


Sambil nulis ini gw sambil berendam di bathtub apartemen gw, hidupin lilin, and mainin musik instrumental. Niat abis yah. But I think I deserve this break.


Weekend ini tumben banget gw lagi di Singapore. Satu dan setengah minggu pitstop sebelum gw kudu kerja nguli lagi di negara orang. 

Abis pulang dari Norway, Vietnam, US, Solo, Jakarta, Solo, Jakarta, Vietnam, dan akhirnya skrg istirahat sementara di Singapore. Next week gw kudu nguli lagi, ke Amsterdam buat do group analysis. The last 2 months gw ada satu projek lumayan gede. Gimana kita, 4 researcher, do the same research in Vietnam, Brazil, Mexico, and Saudi Arabia. Tentu saja gw kebagian Vietnam. Di research ini kita ikutin terus 12 driver supaya kita bisa tau experience mereka gimana, terutama yang berhubungan dengan earnings. 

Yang bikin tough karena gw ga bisa kerja sendiri dengan pace gw sendiri. Tp harus nyamain ama researcher yg dari Amsterdam, Brazil, and Mexico. Parahnya lagi timezone buat kita meeting. Biasanya gw kena jam 11maleman (jam 5 di Amsteram, jam 8 pagi di Mexico, 10 pagi di Brazil). Habis lah hidup gw beberapa minggu terakhir ini.

Untungnya kita uda hampir selesai. Habis ini tinggal kita semua ketemu di Amsterdam selama seminggu, buat analysis hasil bareng2. Dan setelah itu another week di SF buat presentasiin hasil kita.

Jadi di tengah2 research sprint ini, I feel that I really deserve this break. Hari ini gw ke Orchard bareng temen2. I bought myself a nice designer wallet and bath soap. Had nice dinner and drank good wine with some friends too.

And here I am now, tapping my back and say “breath in breath out, you deserve this el”.