Gerejaku putih sekali….Dimana Guruku?

Aneh, ketika kaki ini menginjakkan langkah pertamanya melewati pintu Gereja, yang nampak adalah pemandangan yang ganjil.Bingung hati ini.
Kumenerawang ke sekitarku. Kucari Guruku.
Sejauh mataku memandang, kulihat manusia-manusia putih.
Kulit mereka putih, hati mereka putih.


Dimana Guruku?
Yang kutahu kulit Guruku coklat – kasar, akibat terik sinar matahari yang senantiasa menemani perjalanan kakinya.
Yang kutahu kulit Guruku kotor – penuh debu, akibat pertemuannya dengan beberapa orang. Setahuku Ia suka sekali memeluk anak-anak yang kotor, yang bermainan di pasar dan tempat pelacuran.


Dimana murid-murid Guruku?
Mereka semua tampak baik. Perawakan mereka baik. Sifat mereka juga nampak baik.
Bingung hati ini.
Setahuku, Guru biasanya bersama dengan murid-murid dari golongan orang termarginalkan. Orang-orang yang tidak tahu definisi baik dalam hidupnya, dan juga tak berpura-pura baik.


Mereka tampak dari keluarga baik-baik. Mereka kaya. Mereka menghabiskan uangnya untuk membeli baju terbaiknya.
Pantas saja mungkin Guruku tidak ada bersama mereka.
Setahuku orang-orang di sekitar Guru selalu orang-orang yang merasa dirinya miskin. “Berbahagialah mereka yang miskin di hadapan Tuhan” kata Guru suatu kali.


Dimana komunitas Guruku?
Di sini semuanya putih. Semuanya nyaman. Semuanya bersih. Semuanya silau. Semuanya enak dipandang.
Biasanya guruku berada di komunitas yang sangat berbeda. DI tempat para pelacur yang mabuk seharian. Mereka suka muntah di baju Guruku. Kadang muak aku menghirup baunya.


Biasanya guruku berada diantara para sampah masyarakat. Ada yang suka menarik uang orang banyak. Menipu masyarakat. Mempunyai identitas seksual yang aneh. Anak-anak jalanan. Hal ini membuat mereka dibenci masyarakat. Namun guruku senang bersama mereka. Guru suka berbicara banyak hal pada mereka. Makan dan berjalan-jalan bersama mereka. Hal ini membuat Guruku suka diejek banyak orang. Mereka bilang “Guru mengapa engkau mau bersama mereka? Mereka jahat! Mereka kotor! “. Guruku hanya diam. Aneh, guru lebih suka bersama-sama mereka. “Mereka orang-orang yang jujur dan membutuhkanku,” kata guruku.


Ah, aku tahu sekarang! Aku tahu dimana aku sekarang.

Orang-orang putih ini juga orang-orang yang suka ada diantara Guruku. Namun biasanya mereka ada di lingkarang terluar. Orang-orang putih ini terlihat sangat putih. Menawan dan silau. Mereka terhormat dan kaya. Bajunya putih, janggutnya putih. Mereka juga suka berbicara di depan banyak orang seperti guruku. Kadang aku takjub pada mereka. Mereka tampak sangat menarik dan suci. Tergoda aku ingin bersama-sama mereka.


Akhirnya aku masuk ke tengah-tengah mereka. Memakai baju putih dan mencat kulitku menjadi putih. Lalu aku lihat apa yang sedang mereka bicaraka. Tidak! Ternyata mereka sedang berencana menangkap Guruku. Tidak! Ternyata aku berada bersama-sama orang putih ini dan menjadi kuburan berlabur putih.

11 thoughts on “Gerejaku putih sekali….Dimana Guruku?

  1. I felt my heart’s sinking…well put, nyo!

    A little thought: coba baca bukunya Shane Claiborne yg judulnya ‘Irresistible Revolution: Living as an Ordinary Radical’. Menurut gw hal2 ky gini yg harusnya jd batu penjuru di gereja hari2 ini..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s