Politik dan Gereja Kaum Muda

Saya termasuk kalangan triple minority di dalam peta perpolitikan Indonesia. Pemuda, Kristen , dan WNI keturunan Tiong-Hoa. Bersama ratusan-ribu pemuda kristen keturunan Tiong-Hoa lainnya hampir dipastikan saya tidak mempunyai suara di perpolitikan Indonesia. Sebutlah satu nama salah satu tokoh Indonesia yang kental dengan mewakili streotipe kaum muda kristen Tiong Hoa, tampaknya tidak ada.

Politik Indonesia terkenal dengan politik primordial, konstelasi politik yang berbasiskan rasial dan agama. Dan nampaknya nada ini akan terus bersenandung sampai beberapa tahun mendatang. Walaupun melihat kenyataan ini kaum pemuda Kristen (tiong-hoa ataupun non tiong-hoa) nampaknya tidak ambil pusing bahkan cenderung apatis. Kata politik masih sedikit tabu untuk dibicarakan dan haram dicicipi. Hal ini sangat mengkhawatirkan, bukan merupakan kejutan jika beberapa puluh tahun kedepan tidak ada satupun politikus kristen yang akan bertengger di pemerintahan.

Coba lihat saya peta perpolitikan saat ini, politikus-politikus yang beragama kristen tampaknya itu-itu saja dan tidak banyak mendapatkan supply baru sejak zaman orba. Sebuah partai berbasis kristen yang diharapkan dapat berbuat banyak tampaknya hanya menjadi k*mbing c*ngek diantara politikus garis keras lainnya. Hal ini tidak bisa dipisahkan dari gereja kaum muda. Gereja kaum muda sendiri tampaknya masih tabu dan canggung dalam ‘melatih’ jemaatnya untuk mulai menyentuh bidang ini. Bandingkan dengan agama seberang, Mesjid sering dipakai untuk menyampaikan pesan-pesan politik dalam sesi kotbahnya atau bahkan dipakai sebagai tempat untuk diskusi politik diantara para pemuda masjidnya. Atau coba lihat PKS misalnya, partai berbasis dakwah Islam ini penuh dengan brilliant-brilliant muda profesional yang siap memimpin bangsa ini beberapa tahun mendatang. Atau coba lihat di seminar-seminar ataupun diskusi politik, sulit menemukan sebuah hidung satu orang manusia dengan mata sipit dan kalung salib menggantung.

Jika gereja kaum muda tidak segera bertindak dan memberikan tempat yang nyaman untuk berkembangnya politikus-politikus kristen maka saya pastikan beberapa tahun ke depan kita hanya akan menjadi penonton dan korban dalam peta politik Indonesia. Tampaknya (sekali lagi) kita perlu banyak belajar pada agama seberang tersebut dalam mengkader pemuda-pemudanya.

2 thoughts on “Politik dan Gereja Kaum Muda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s