Safari orang marginal

Slumdog Millionare meraih 8 oscar dari 10 nominasi yang didapatnya, menurut saya hal ini cukup mengesankan. Selain menunjukkan ketertarikan baru perfilman dunia barat terhadap dunia sosial dan asia, film yang berlatar belakang kehidupan di daerah kumuh (slum) Mumbay India ini, juga menunjukkan realita kehidupan sosial di Dunia ini.

Saya pribadi sangat menyukai film ini, selaen musik yang cukup bagus beberapa adegan juga menggambarkan gambar-gambar yang menarik dan natural. Kesukaan saya terhadap film ini saya sebut sebagai salah satu bentuk dari “Safari orang marginal”. Apa itu safari orang marginal? Saya definisikan safari orang marginal sebagai kepuasan jiwa yang merupakan efek dari berhubungan dengan kalangan di bawah marginal (miskin, sakit, tuna susila, dsb).

Seperti halnya orang kota yang rindu akan kehidupan alami, seperti halnya profesional muda yang begitu menikmati melihat curug, safari orang marginal tidak beda jauh dari kerinduan untuk merasakan sesuatu yang jarang atau tidak pernah disentuh. Terkadang safari ini bersifat egois karena kita memuaskan kepuasan jiwa kita diatas kondisi kaum di bawah marginal ini.

Praktek egois ini bisa dilihat dibanyak tempat, walaupun terkadang tidak disadari orang banyak. Reality-reality show seperti tolong, bedah rumah, uang kaget, dsb mengeskpose sisi ini dan menjadi safari orang marginal yang bisa dinikmati dengan hanya menonton TV. Acara senada seperti big give milik oprah winfrey juga menampilkan hal ini dalam versi amerikanya. Fenomena lainnya yang lebih halus bisa dilihat di acara-acara seperti bolang (bocah petualang), ekspedisi, dan acara-acara lainnya yang saya kurang tahu namanya. Selain slumdog millionare sendiri juga terdapat film2 yang juga menawarkan safari bentuk ini, sebagai contoh ada film Laskar Pelangi yang cukup populer beberapa bulan yang lalu.

Walau saya katakan egois, saya sendiri menikmatinya dan tidak merajamnya. Tentu saja lebih baik melakukan safari ini dibandingkan menonton sinetron-sinetron s*mpah ataupun infotainment b*suk. Dari praktek ini diharapkan budaya masyarakat bisa berkembang, dari safari yang sekedar menonton, tersentuh hatinya, menitikkan air mata menjadi melakukan suatu tindakan entah apapun itu. Walau kejam, karena kita menikmati sesuatu yang maya diatas kehidupan real orang lain.

Saya sendiri suka melakukan safari ini secara tdk langsung. Suatu ketika saya makan sendirian di suatu warteg di bilangan cipaganti. Karena hanya saya seorang yang menjadi pengunjung di tempat itu, saya memulai percakapan dengan Ibu pemilik warteg itu. Ibu itu cukup ramah dan sudah berumur senja. Obrolan berkembang dari sekedar menanyakan keadaan wartegnya hingga membicarakan mengenai 6 orang anak dan 8 orang cucunya. Kerinduan saya akan budaya kehidupan yang tidak pernah saya sentuh menjadi terpenuhi. Kejam, karena baginya segala macam lagu kehidupan yang diceritakan adalah kehidupan yang nyata dan penuh perjuangan. Sedangkan saya sembari makan, melahap ceritanya bak membaca novel fiksi penuh dengan alur menyentuh. Bagi sebagian orang (termasuk saya) terkadang safari ini dilakukan secara tidak sadar. Namun takpapa, bersafarilah sesukamu!

Ya, bersafarilah sesukamu hingga panggilan hati mengubah cara safarimu. Dari sekedar pemuasan jiwa hingga pemenuhan tujuan. Dari sekedar aktivitas egois menjadi aktivitas berguna bagi orang lain.

Bersafarilah sesukamu hingga sesuatu yang besar mendesak dari dalam, membuatmu menjadi sadar akan kehidupan. Yang maya menjadi real, yang fiksi menjadi non-fiksi. Bersafarilah hingga batasmu! (Safari kejam nan egois)

One thought on “Safari orang marginal

  1. Congaratulations utk Slumdog Millionaire..walaupun yg ditampilkan dlm film itu merupakan realita sehari2 puluhan juta penduduk Indonesia juga..tp buat Hollywood itu adalah hal baru, maka layak diberi sedemikian bnyk penghargaan.
    Menurut gw, Amerika seperti Shire dalam trilogi The Lord of The Rings karya JRR Tolkien, dimana padang rumput begitu hijaunya, sungai gak pernah kering, panen selalu berhasil, malam2 selalu dihabiskan di bar2 sambil menenggak bergelas2 bir dan menghirup cerutu dan semua orang hidup dalam damai..the only problem is diluar Shire, things don’t work that way. There are poverty, wars, famine, natural disasters, etc..lewat Slum Mill at least mrk bisa sedikit melek ttg kehidupan diluar sana.

    Nah, balik ke Indonesia sini, gw justru heran bnyk org gak ngeh dg fenomena yg ada..I mean di Indonesia sini poverty, famine, etc are only at our doorstep! Sekali lagi, org2 gak ngeh!! Left alone doing something to address them..yg ngeh juga paling2 cuma berhenti pd perasaan simpati..

    Yg paling bikin bete tentu saja org2 yg memanfaatkan disadvantage org lain utk menghasilkan duit. that’s just sick! contohnya spt acara2 yg disebut diatas: tolong, bedah rumah, uang kaget, dll. I think somebody should BAN Helmy Yahya from producing such shows and people should be educated not to watch such cheap productions!

    tapi untuk acara2 spt ekspedisi, bocah petualang dan laskar pelangi menurut gw lebih punya misi dan menginspirasi. jujur lewat acara2 itu gw jd lebih mengagumi Indonesia dan lewat acara2 itu gw bisa ‘pergi’ ke tempat2 yg blm pernah gw kunjungin di Indonesia ini..bocah petualang in particular sangat mengingatkan gw ttg masa kecil gw bermain2 di pedalaman Riau yg dikelilingi hutan rimba (hutan yg sialnya 10 tahun belakangan ini dibakarin org2 utk buka kebun kelapa sawit!!). I found a glimpse of innocence and purity when I watched the show.

    anyway, apakah seseorang hanya bersafari dg simpatinya ataukah benar2 menjadikan dirinya berguna utk org lain tentu saja berpulang pd pribadi ybs dan kematangannya dlm memaknai hidup..yg jelas thank you for this reflective note, nyo!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s