Esensi dan Ekspresi Karakter dalam sebuah Gereja

“Anak komsel i*b itu gayanya ga banget yah, cenderung aneh dan gimana gt”
“Anak unp*d kayaknya beda daripada yg laen yah”
“Area si itu orangnya nekad2 n gila2 yah”
“Anak-anak divisi m*sik lumayan unik lo…”
etc..
etc..

Terkadang streotipe (aka Stereotipe, adalah pendapat atau prasangka mengenai orang-orang dari kelompok tertentu, dimana pendapat tersebut hanya didasarkan bahwa orang-orang tersebut termasuk dalam kelompok tertentu tersebut. Stereotipe dapat berupa prasangka positif dan negatif, dan kadang-kadang dijadikan alasan untuk melakukan tindakan diskriminatif) tidak rela melepaskan jaringnya di beberapa tempat, bahkan di gedung gereja (baca : The bridge). Streotipe ini berkembang subur ditengah gereja yang berbasiskan sel dimana satu tubuh gereja di bagi menjadi sub-sub area yang lebih kecil (Area mahasiswa, pelajar, unpar, itb, dsb). Apalagi gereja (baca : the Bridge) yang mempunyai banyak ranah pelayanan didalamnya (eg : Multimedia, Musik, Usher, Dancer, Security, EO, etc) semakin membuat streotipe berkembang juga di ranah-ranah ini.

Streotipe tidak selamanya negatif, karena tidak bisa dinafikan bahwa komunitas senantiasa menularkan nilai-nilainya ke dalam setiap anggotanya (baca : mencuci ot*k). Nilai-nilai ini bisa positif bisa juga negatif, tentu saja nilai-nilai yang positif sangat membantu berkembangnya karakter seseorang. Sebagai contoh saya sangat bangga menjadi salah satu bagian dari area komsel ITB di gereja. Di area ini, sadar tidak sadar saya diajarkan untuk tetap menjadi kritis walaupun tetap tunduk pada otoritas. Bekerja secara maksimal, excellent, dan detail sering (selalu) didengung2kan oleh Gembala Area saya (baca : Ko Fr*ns). Nilai-nilai unik lainnya seperti tetap memprioritaskan studi (yah ini alasannya saya masih disebut mahasiswa), pengajaran yang kuat, kreatifitas (the fingers aka ITB team menang lo di cell group fiesta.heheh), dll menjadikan kita (saya) sebuah komunitas yang unik diantara komunitas-komunitas lainnya.

Namun tidak jarang streotipe negatif bergentayangan di gereja.Tidak perlu kaget ketika saya mendengar ada seseorang (atau lebih) berbicara seperti ini pada saya “anak-anak komsel ITB tuh ‘unik-unik’ yah orangnya”. Diksi subjek seperti “anak-anak ITB”, “komsel ITB”, “area ITB” jelas menekankan sebuah streotipe. Saya tidak terganggu dengan hal ini karena saya juga suka membuat streotipe terhadap banyak orang (“iih serem yah si veni, ko frans, yoyo, dan pasukan2nya”, “area ci essly anak2nya kreatif yah, banyakan jadi pemimpin pelayanan semua, ga keteteran yah komselnya?”, dsb). Yang menjadi masalah dalam streotipe ini (menurut saya) adalah ketika orang tidak bisa membedakan mana ekspresi dan mana esensi.

Mana yang esensi? Menurut saya nilai-nilai seperti servanthood, brotherhood, membayar harga, make influence, kreatifitas, excellence, pengejaran visi, sonship, dsb adalah sebagian esensi dari The Bridge. Sedangkan contoh dari ekspresi adalah cara berbicara, gaya keintiman, gaya bergaul, gaya bermain, tempat-tempat favorit buat komsel/nongkrong, style dalam caring, dan ekspresi-ekspresi lainnya (termasuk didalamnya ketertarikan pribadi, prioritas dalam hdp, visi, hati, pemikiran tidak esensi, dsb).

Mengapa sangat perlu dibedakan antara esensi dan ekspresi? Karena bagi saya otoritas boleh memaksakan sesuatu yang esensi untuk karakter saya namun tidak untuk ekspresi saya. Sangat legal ketika kak victor berteriak “Ayo kalau menyembah harus sperti anak muda, kasih yang terbaik!”, namun tampak janggal ketika kak victor berkata “Ketika memuji lompatnya tidak boleh di tempat harus zig-zag kekanan kiri”. Sangat tidak esensi juga ketika sesorang yang tidak tau tentang ekspresi berkata “Anak ITB koq gt banget seh, ga mau gaul ama orang di area lain” atau kata2 streotipe negatif tidak esensi lainnya.

Keanekagaraman ekspresi harusnya menjadi kekayaan dalam sebuah gereja (the bridge). Tanpa meninggalkan esensi seharusnya setiap komunitas bebas mengekspresikan gayanya. Tidak ada yang lebih cool, lebih gaya, apalagi lebih benar. Yang tersisa adalah perlombaan untuk mencapai visi masing-masing di bidangnya masing-masing. Tak seorang pun juga perlu malu (tidak bangga) akan stereotipe ekspresi yang melekat pada komunitasnya, jika memang ada konsesus untuk mengubahnya, ubahlah bersama-sama jika dirasa bisa lebih baik.

Hanya saja perubahan yang prematur, dipaksakan, dan hanya ikut-ikutan hanya akan merusak jati diri komunitas tersebut. Bayangkan jika anak ITB berkata “mulai sekarang kita harus berpakaian 4 pieces, ga boleh 2 pieces lagi, semuanya! Jangan lupa juga menicure, pedicure, hair spa, dan produk metroseksual lainnya” atau anak multimedia berkata “mulai sekarang kita ga boleh kalah ramahnya dengan usher, di slide multimedia kata2 ‘welcome’,’selamat siang’,’haiiii!’, wajib hukumnya di setiap slide yang kita bikin, kita harus ramah!” atau lebih parah lagi ketika k victor berpikir “wah k j*mes dengan kata-kata lelucon favoritnya (aka toilet-b*ker-p*ntat) tampaknya cukup digemarin, mulai sekarang saya akan bercanda dengan kata-kata yang tidak kalah lucunya (aka upil-ingus-ac*y)”. Akan menjadi sangat menggelikan dan fenomena ekspresi yang dipaksakan.

Sebagai kesimpulan ada 2 hal penting yang ingin disampaikan. Yang pertama saya tidak membenci dan ingin menihilkan streotipe karena itu hal yang mustahil nampaknya, namun kita bisa sama-sama belajar untuk menghasilkan streotipe yang positif dan mengurangi streotipe negatif yang tidak membangun. Yang kedua kita harus belajar membedakan mana esensi dan mana ekspresi agar masing-masing kita bisa menjadi pribadi yang unik, bangga akan keunikan komunitasnya, dan tidak berusaha menyamakan ekspresi dengan komunitas yang lain. Pembelajaran ekspresi penting dan boleh jika hal itu bisa menambah nilai positif dan tidak merusak jati diri. Pembelajaran ini juga tidak akan memakan waktu yang sebentar dan membutuhkan bantuan dari komunitas yang lain sehingga jangan paksa anak komsel ITB untuk lebih ‘gaul’ (apa itu definisi gaul?) hanya dalam waktu satu tahun dan tanpa bantuan komunitas(area) laiinnya. Keanekaragaman ekspresi menjadikan The bridge suatu realita keanekaragaman pancaran karakter Kristus dalam hidup manusia.

Terakhir, saya sangat bangga menjadi salah satu bagian dari komunitas komsel ITB dan tidak pernah terpikir dalam benak saya untuk menjadi pribadi yang tidak unik dan dipaksakan. Ulat buku ini tidak ingin berubah menjadi anak merak yang tampak lebih indah, tapi ulat buku ini ingin berubah menjadi kupu-kupu yang terbang tinggi mencapai visinya, dan biarlah anak merak itu menjadi merak yang dikagumin banyak orang dan mencapai visinya. “Kau indah dipandang, tapi aku bisa terbang”

anak-anak komsel TI

31 thoughts on “Esensi dan Ekspresi Karakter dalam sebuah Gereja

  1. HUAAA!!!
    bete banget!
    td dah nulis komen panjang lebar, eh MATI…hahahaha

    Nanti aja yah dikomen lagi, mo sekolah dulu…

  2. keren.. being unique is so natural.. kenapa? Tuhan menciptakan kita gak pernah ada yang sama kok.. =D

    so.. be unique! ^^

  3. ah, ga gitu panjang kok… hahaha…

    ekspresi mah sendiri2 kali… kayak orang kaya gw sukanya mengekspresikan hal2 ilmiah (sorry bro… gw udah belajar hal2 aneh dari umur 6 taunan ampe sekarang) ada yang kaya ko abed yang suka teriak2, ada yang kaya ci presi yang diem aje, yang penting mah kompak ui… merasa sebagai 1 komunitas, bukan komunisme.

  4. masalahnya, gada yg mutlak..

    ada jg sesuatu yg dianggap sbg ekspresi oleh kelompok tertentu, yang overlap dgn apa yang dianggap sebagai esensi oleh kelompok lain..

    intinya mah, bebas tp tau batas😀

    Gudluck TA nya ya ..hehe

  5. yep..smuanya subjektif…
    ko2 lumayan kritis tuh…
    nurut ku, ada bbrp hal yang bisa kita lakukan terhadap dareah abu-abu esensi dan ekspresi…

    seperti hukum UUD 45 di indonesia misalnya, dipakai sebagai acuan sebuah esensi di indonesia. yang mungkin saja bagi org amerika bukan esensi.

    tapi biasanya kita bisa bertanya kepada yang kokoh tentang mana yang memang merupakan esensi untuk kebaikan saya…

    seperti makan itu esensi penting untuk hidup..
    makan apa itu ekspresi..
    tapi makan sayur itu juga esensi untuk sehat…
    tapi aku ga mau makan sayur, karna menganggapnya susah untuk dimakan…dan ga enak..bleh,…ga nyaman juga,…

    perdebatan bisa muncul antara saya dan ahli gizi.. baginya makan sayur esensi.. bagi saya itu ekspresi..karena saya malas makan sayur..akakkaka

    sangat subjektif, sampai mama saya datang dan memarahi saya bahwa makan sayur adalah esensi. pertanyaannya mengapa saya lebih percaya kepada mama dibanding ahli gizi?
    karena si mama telah berinvestasi buat hidup saya..

    mungkin sang kokoh adalah pihak yang paling berinvestasi buat hdiup saya…
    masalahnya, susah untuk menangkap pancaran pendapat dari sang kokoh..
    dari buku yang diilhami olehnya saja bisa dibikin banyak interpretasi..
    yah..kita tunggu saja pengalaman pribadi kita dengan sang kokoh…

    panjang ah..akakak

    iya ko..thanks…pengen cepet2 lulus..
    udah kegendutan neh di bandung…akakka

  6. hahahaha, iya setuju banget nyo ya ampun setiap kali loe ngomong selalu ada sesuatu yang berbeda. good boy! mungkin ini satu ciri anak ITB kali ya… berpikir dengan kritis untuk mendapatkan sesuatu yang detail dan berbeda.

    mengenai lontaran2 orang yang kamu sebut sebagai stereotipe itu sih kalo menurut gue merupakan bahasan yang gak pernah berhenti karena justru itu jadi budaya yang berbeda2 di dalam suatu gereja, dan thebridge menjadi wadah untuk membuatnya satu.

    menurut gue, ekspresi itu sebuah esensi juga nyo. karena tanpa ekspresi semuanya hambar, seperti sayur tanpa garam. orang tau itu sayur, tapi gak bisa ngerasain apa2. so tetep harus ada garamnya (baca: ekspresi). ekspresi yg esensi itu adalah memuji Tuhan dengan segenap hati, jiwa, akalbudi, dan kekuatan. nah, masalahnya gak semua orang memuji dengan segenap dirinya, itu lah yang sering diomongin sama ka victor atau orang2 lain mengenai gaya penyembahan dan pujian. apalagi gue, secara anak musik, gue akan sangat merasa senang dan bahagia ketika semua jemaat debrij, tanpa memedulikan area dan segala stereotipe yang ada, melompat dan memuji Tuhan dan pada akhirnya sampai kepada hadirat Tuhan. and vice versa, ketika gue melihat jemaat tidak mengekspresikan pujian dan penyembahannya (walaupun sebenernya itu mah gimana Tuhan), gue akan banyak bertanya: kok gini ya, kok gitu ya, ada yg salah gitu, apa dosa gue, dan segala bentuk pertanyaan yg lain.

    kalo masalah pergaulan sih ya… hmmm, apa ya. makanya nyo, maennya gantian dong, jangan anak ITB (no offense). supaya loe tau kenapa orang2 di luar area ITB kok kayak gitu ya, seperti yang loe bilang, kok area si anu gaul banget ya, komselnya gimana sih. kalo loe masuk dan bergaul sama mereka loe bakal ngerti, dan akhirnya tidak menimbulkan stereotipe yang negatif.

  7. menurut gw ga seh vid.. esensi tetap esensi, ekspresi tetap ekspresi..

    nah ini kasus berbeda vid, gw setuju banget kalo memuji tuhan harus bla..bla..bla. Ini yang dinamakan esensi dari ekspresi memuji. Gaya memuji itu ekspresi, tapi segenap hatinya esensi. So sangat legal untuk menekankan gaya memuji yang ekspresif karena di dalamnya ditekankan esensi memberi yang terbaik. Tapi tetap jelas garis batas ekspresi dan esensi (dalam kasus ini lo).

    keknya tulisan gw kurang mencapai sasaran dari yang ingin gw bicarakan ke lu vid. COba deh dibaca lagi. Pernyataan lu diatas jelas sekali kembali menekankan perubahan ekspresi yang prematur dan hanya dengan kacamata sepihak. Kalo vice versa, bisa juga donk gw bilang gini “ya. makanya vid, maennya gantian dong, ke ITB juga. supaya loe tau kenapa orang2 di area ITB kok kayak gitu ya,”.
    lu sedang mencoba menhujamkan prejudice yang belum tentu cocok dan membangun. menurut gw seh…

  8. hahahahaha, iya deh iya… gue kan sering main sama anak2 itb nyo, iya kan? sama stefen, ronald, abed, dan lain2. maksud gue tuh, ya loe juga kan gak pernah main ke komsel lain. makanya kali2 main…

    perlu ditambahkan bahwa esensi dari memuji Tuhan adalah:
    1. segenap hati
    2. segenap jiwa
    3. segenap kekuatan (ekspresi yang keluar)
    4. segenap akal budi
    gak cukup hati kan? sama seperti sayur tanpa garam seperti kata gue. “sayuran” nya ya esensi, tapi kalo tanpa garam, ya bukan sayur namanya. gitu kan? so di dalam sayur yang esensi itu “sayuran”nya, air, garam, dan komposisi lainnya.

    antara ekspresi dan esensi memang jelas batasnya kali. emang gue bilang itu sama? kan engga. ekspresi itu merupakan esensi (bagian dari itu). ekspresi itu menggambarkan apa yang esensi. tanpa ekspresi gak akan terlihat ada esensi. rite?

  9. yah..siapa bilang gw ga pernah maen ke komsel lain.. maen koq..lu nya aja yang mungkin ga tau.. cmn prinsip gw tetap..
    setelah gw bermain 2 jam dengan keluarga inti gw, baru gw mau bermain 1 jam dengan keluarga besar di luar…

    yang parah kalo ada seseorang bermain 2 jam di keluarga besar dan dan hanya menghabiskan 30 menit di kelurga inti..dengan berbagai macam alesan, yah jadi kaya fenomena broken home ajah.. jadi lebih suka maen di luar karena malas berproses di dalam.. nantinya ketika anak2 ini menjadi bapa buat keliuarga intinya.pasti susah untuk mengubah habit ini. dan unjung2nya anak2nya terlantar.. karena si bapanya suka maen keluar..akakkaka…

    ttg esensi memuji..yah gw setuju2 aja.gw cmn tulis segenap hati ya karena ga emanklagi menekankan ngomongi itu. gw cmn mau kasih contoh ketika ekspresi bisa ditekankan karena ada esensi yang lebih dalam

    benar ekspresi bisa menggambarkan esensi, tapi ekspresi bukan bagian dari esensi. di dalam ekspresi bisa terdapat esensi bgitu. maksud gw ketuika lu bilang ekspresi itu adalah esensi menjadi susah garis batasnya.

    kaya misalin gw bilang anjing itu binatang. gw liat pudel bisa bilang itu anjing, bisa bilang juga binatang. gimana donk>? ga jelas kan garis batasmnya.. makanya itu bahayannya statement lu “ekspresi adalah esensi”. gw lebih setuju di dalam ekspresi bisa dicari esensinya. gitu viiid.. uydah kalo mau diskusi chat aja..akakka

  10. gak mau ah pengen disini aja… biar keren gitu kayak blogger2 gitu.

    nah ini kan bentuk ekspresi kita kan? nulis2 di blog loe yg panjang2 ini isinya. tapi esensi nya adalah kita semua tetap harus mencintai Tuhan.

    gue itu tipe orang yang pikirannya bebas nyo, jadi buat gue ekspresi itu bisa jadi esensi, dan sebaliknya, esensi itu juga sebuah ekspresi. bisa kan? kalo dipikir dengan bebas, bisa2 aja.

    ekspresi itu esensi, esensi itu ekspresi.

    makan itu hidup, atau hidup itu makan.

    binatang itu manusia, atau manusia itu binatang.

    ada orang2 yg otak seninya lebih tinggi dari pada eksak. bagi kita, manusia bisa dipikir jadi binatang, dan binatang bisa dipikir jadi manusia. tumpah dalam bahasa, jadinya ya seperti contoh diatas:
    esensi itu ekspresi, bisa? bisa2 aja.
    ekspresi itu esensi, bisa? bisa2 aja. hahaha.

    loe ngomongin binatang, gue ngomongin sayur. hahahaha. gelo siah.

  11. lu bilang lu pikirannya bebas, bisa berpikir bebas jadi bisa bilang esensi itu ekspresi dan vice versa..

    kalo gt pembicaraan kita ga bakal bertemu vid. Karena tema utama tulisan gw, membedakan esensi dan ekspresi, ketika lu mau membuat kaidah sendiri dan kaidah ‘bebas’. Pembicaraannya menjadi sangat bias.

    contohnya gini
    statement gw : “Panas itu energi, dan energi tidak bisa diciptakan”
    trus lu jawab gini : “Ah , gw ma pikirannya bebas, bagi gw energi bisa diciptakan, bisa juga ga bisa diciptakan, terserah gw ekspresiinnya gmn”

    pembicaraan di dunia ini menjadi sangat bias. Karena prinsip bebas yang dipakai. Bebas yang tak teratur. MEnurut gw semuanya harus ada argumentasinya, dan yang kita lakukan sekarang adalah berusaha mencari titik temu. Nah titik temunya harus dilandasi oleh satu dasaran yang sama, walaupun tidak diawali dari titik mula yang sama. Intinya ga bisa gw omong ttg jaringan dari segi komputer, trus lu mau jawab jaringan dari sisi kedokteran,

    Orang bilang ontologi nya ga nyambung.

    Benar, otak kiri boleh lebih dominan dibanding otak kanan. Tapi ketika dalam konteks matematika, ga bisa bilang 1+1 tidak sama dengan 2. Konteks lain bebas berkata 1+1 = 10 dalam biner misalnya.

    Nah sekarang lu harus baca lagi tulisan gw vid, n baca komentar lu terakhir itu. konteksnya sama ga? dasarnya sama ga? gw yang meletakkan dasarannya. Makanya lu bisa berkomentar diatasnya. So ketika lu mau menjawab dengan konteks lain, salah alamat keknyavid..ehhehe

    gmn nurut lu?

  12. menurut loe omongan kita gak akan ketemu, menurut gue (yang berpikiran bebas), bisa? bisa2 aja… hahahaha.

    konteks nya sama aja ah kata gue mah. ini kan bicara soal gereja2 an kan? ekspresi dan esensi yang ada di gereja. yang beda itu adalah esensi dan eksistensi. gitu… wkwkwkkkkk… tapi bisa juga disebut sama. hahahaha.

    skr coba jelasin, menurut loe, apa bedanya esensi dan ekspresi?

  13. nurut gw konteks berbeda gini vid

    karena (nurut gw) platform lu : semuanya bebas, jadi ekspresi dan esensi bebas diposisikan

    nah tulisan gw mau blg : harus dibedain mana ekspresi mana esensi

    nah walaupun lu merasa bebas tapi sebenarnya lu pikiran lu sedang tidak bebas dan terikat dalam paham kebebasan lu,

    sedangkan gw ngotot dengan paham ketidakbebasan gw. semuanya harus bisa dideduksikan ataupun diinduksikan.

    gt pid..
    menurut gw esensi itu gampangannya nilai-nilai yang emank diilhamkan oleh Tuhan, nilai-nilai ini kokoh dan tidak bisa ditawar.

    Sedangkan ekspresi itu cmn packaging dari semua hal yang kita lakukan, yang di dalamnya terkadang tertanam sebuah esensi.

    begitu, itu definisi asal seh, ga pake oxford gw..akalkaka

  14. hahahahahahaaaaaaaaaaa (ingin ketawa dulu sebebas2nya). deduksi induksi apapun itu. wah berarti loe juga ngomongin konteks kebebasan yang berbeda dong. bebas yang artinya terlepas, atau bebas yang artinya bisa melakukan apapun sesuka hati.

    kalo gitu, gini deh… menurut loe ekspresi itu sesuatu yang esensi gak?

  15. ya abiz lu seperti menekankan kebebasan yang boleh mengungkapan seperti apa saja, jelas sangat jauh berbeda konteks dengan tulisan gw. gt..

    nah itu, pertanyaan lu “ekspresi itu esensi ga?”

    sedang menjabarkan bahwa definisi ekspresi lu ama gw keknya beda vid dalam perbincangan kita kali ini vid…sekali lagi..coba deh lu baca tulisan gw lagi..akakka

    bagi lu yang lu maksud ekspresi itu arti harafiahnya..
    seperti dalam kalimat :
    1. kita harus memuji dengan ekspresif
    2. Kamu harus mengekspresikan jati diri mu, dsb

    padahal yang gw maksud ekspresi di tulisan ini bukan sedangkal itu. Tapi lebih diatasnya lagi. gampangannya ekspresi yang gw maksud bisa juga contohnya adalah : visi, ketertarikan hati, preference dalam hobi, dsb

    get what i mean?

  16. ya kalo gitu mah namanya bukan ekspresi. tapi lebih ke jati diri. visi itu esensi, ketertarikan hati juga esensi. semua punya itu. it means itu esensi. tapi perbedaannya itu lah yang disebut esensi. ada orang yang jadi normal atau gay, itu ekspresi kan? tapi mereka punya sesuatu yang tetep esensi, yaitu ketertarikan alias chemistry. visi itu beda2, perbedaan itu lah ekspresi, tapi visi itu esensi.

    wkwkwkwk…

    menurut kamus gini…

    esensi itu sesuatu yang secara ekstrem sangat penting.

    ekspresi itu adalah cara seseorang menggambarkan apa yang ada dalam pikiran dan perasaan (dengan kata lain menjelaskan apa yang esensi dalam pikiran dan perasaan kita).

    tanpa ekspresi gak akan ada esensi.
    tanpa esensi gak mungkin ada ekspresi.

    so mana yang lebih penting? gak ada. dua2nya penting. nah, dalam bacaan loe, loe itu seperti sedang membuat keduanya terpisah sejauh2nya. sementara kedua hal itu selalu berdampingan. that’s why gue bilang ekspresi itu esensi, kenapa: karena ekspresi itu sesuatu yang secara ekstrem sangat penting. gue bilang esensi itu adalah ekspresi, kenapa: karena esensi itu adalah ekspresi manusia hidup. hidup manusia harus diekspresikan dengan sesuatu yang esensi.

  17. daviiiiiiiiiiiiiiid………..aaaaaaaaaaaargh!! need someone as the third person to become moderator!

    david inget ga kotbahnya c essly? yang the bridge and the essential. Sebenarnya dari kotbah itu gw terinspirasi membedakan esensi dan ekspresi. c eslly blg gini waktu itu (intinya) “ekspresi bisa berubah-ubah seperti the bridge sekarang menyukai musik pop rock, mungkin 5 tahun lagi menjadi jazz atau klasik, siapa yang tahu, tapi apa esensi dari the bridge? sesuatu yang tidak berubah oleh lekang waktu”

    nah dari situ lah gw mendapat definisi yang tidak harafiah dari ekspresi vid. salah satu contoh ekspresi yang dikasih c essly. Bukan ekspresi dalam artian cara seseorang menggambarkan apa yang ada dalam pikiran dan perasaan. Dimana definisi itu ditekankan dalam kata cara. Bukan pikiran dan perasaan. gt

    Visi nurut gw adalah ekspresi, yang didalamnya ada esensi untuk memenuhi visi tersebut, bertanya pd tuhan, dsb

    ketertarikan hati yang gw maksud disini misalin kaya gw skrg lagi suka penulis henry nouwen, itu ekspresi gw, bisa berubah nantinya.

    gt vid..karna definisi ekspresi kita berbeda, maka kita ga nyambung…tapi at least gw tau sudut pandang lu..hehehe

  18. and at least, for us, essentials and expressions are necessary. bener kan?

    masalah visi, ada dua frase yang dibahas disini kan? pertama: VISI itu sendiri, kedua: CARA MEMENUHI VISI. nah kalo menurut gue, yg esensi itu ya frase pertama, frase kedua adalah bentuk ekspresi.

    suka penulis a, penulis b, penulis z, itu ekspresi memang benar, tapi ada yang esensi: yaitu bahwa loe ternyata SUKA MEMBACA (hobby).

    esensi gue adalah SUKA MUSIK, ekspresinya bisa keluar dalam bentuk jazz, r’nb, dangdut, rock!, dan lain2. ekspresi itu selalu bersifat harafiah dan “keliatan”. atau bisa ditangkap dengan 5 indra jasmani.

  19. iye setuju, kalo dua2nya penting.. tapi (sekali lagi) kalo lu bca lagi tulisan gw, gw berusaha untuk membedakan mana esensi dan mana ekspresi karna kdg org2 ingin memaksakan org lain untuk mengubah ekspresinya. karna tidak sadar mereka menganggapnya sebagai esensi.

    itulah dasar gw bilang harus bisa membedakan mana esensi dan mana ekspresi. Saya harus memenuhi visi itu esensi, lu boleh ajar gw untuk itu. Tapi apa visi gw menurut gw itu ekspresi karena tidak bisa dipaksakan.

    Suka penulis a, b, dan c adalah ekspresi. Suka membaca sebagai hobby juga ekspresi, keduanya tidak bisa dipaksakan dan diajarkan oleh otoritas di gereja

    lu suka musik itu ekspresi nurut gw, musiknya apa juga ekspresi, tidak bisa dipaksakan.

    balik lagi deh vid, liat konteks tulisan gw, kenapa gw getol pengen org belajar mana ekspresi mana esensi. Kaya dari comment lu pertama yang pengen gw maen ama komsel lu. Itu karena ga sadar mungkin lu anggap itu esensi. esensi dari the bridge yang bisa diajarkan dan mungkin dipaksakan, dan semua org harus mengalaminya. Bagi gw itu ekspresi kita bebas memilih, tidak ada yg salah, tidak ada yg lebih baik, lebih cool, apalagi lebih ebnar.

    gitu bapak david….ehhehe

  20. kalo ekspresi itu penting, maka setiap kita harus belajar bagaimana harus berekspresi. karena ekspresi itu berbeda2, maka kita harus belajar juga bagaimana cara bereskpresi. itulah jalan tengahnya.

    karena bagaimana pun, someday kita akan keluar dari komunitas kita dalam rangka memenuhi visi masing2 kan? kita gak tau apa yang ada di luar sana, ekspresi macam apa yang orang dunia tawarkan. tapi sekali lagi kita harus tetap belajar bagaimana berekspresi.

    seberapa jauh batasan kita akan esensi dengan tetek bengek definisi yang ada, akan membuat kita menentukan prioritas kan. esensi gue adalah manusia, manusia itu makhluk sosial (baca: berekspresi), so gue akan menset diri gue untuk hidup berekspres, karena jika ditelusuri, esensi manusia adalah berekspresi.

  21. ko yoel. trus gw mau nanya,
    mnurut koko, ketika kita mengajarkan anak rohani misalnya, agar bisa menyapa orang duluan, bisa bertanya2 balik ketika orang ngobrol / curhat (supaya kita gak cuman angguk2 aja), dll, itu bentuk dari ekspresi bukan?
    tp itu esensi juga bukan?

    kalau cuman ekspresi, wajarkah kita ajarin gt? hmmm

  22. iya itu ekspresi..tapi didalamnya ada esensi untuk menghormati ama orang lain and punya karakter untuk membangun hubungan. so yang sedang lu lakukan adalah memberi tahu esensi dengan memberikan contoh ekspresinya.

    so ketika dia punya ekspresi lain dalam menghormati org lain/ membangun hubungan. terserah dia. yang diajarkan esensinya.

    so gpp, kadang emank yang sering kita lakukan adalah langsung memberi contoh lewat ekspresinya. tapi yang lu kasih contoh itu bener2 norma umum, dan smua org hampir menyetujuinya. so batas ekspresi dan esensi menjadi tidak terlalu diperdebatkan. karena dalam kasus ini walo lu memaksakan ekspresi tanpa memberi tahu mereka esensinya. mereka akan seruju aja. karna itu norma umum. bukan sesuatu yang cukup sensitif/ debatable

  23. ah tapi kan tadi loe bilang dan sangat tidak setuju kalo ada seseorang yang memaksakan kehendak yang sifatnya hanya ekspresi. iya kan?

    [Karena bagi saya otoritas boleh memaksakan sesuatu yang esensi untuk karakter saya namun tidak untuk ekspresi saya. Sangat legal ketika kak victor berteriak “Ayo kalau menyembah harus sperti anak muda, kasih yang terbaik!”, namun tampak janggal ketika kak victor berkata “Ketika memuji lompatnya tidak boleh di tempat harus zig-zag kekanan kiri”]

    nah itu gimana tuh? setelah ada kasus kaya jeans bilang, berarti ada kalanya ekspresi itu emang harus diajarkan (atau mungkin bahkan dipaksakan). gue juga pernah ngalamin yang begituan. sering bahkan. walaupun menyebalkan, tapi gue tau itu bener.

  24. ih baca lagi komen gw diatas..gw tulis.. “yang diajarkan esensinya”

    trus paragraf dibawahnya gw tekanin lagi..contohnya jeans ini terlalu umum, dan sangat norma umum.
    jadi semua org bisa menerimanya..

    comon vid, sebelon comment baca dulu berkali2 comment gw
    gw sendiri aga curiga, sebenrnya lu ga terlalu ngerti keseluruhan tulisan gw di artikel ini..
    akakka

    canda2…

  25. vid..yang kita omongin dari td tu esensi ato ekspresi vid?

    kalo cmn ekspresi gw males ah jawab lagi…akakakka
    kalo mau diskusi aja face to face..heheh

    tapi kalo nurut lu itu esensi yah monggo..

    tapi nurut gw, dr tadi kita cmn ngomongin ekspersi pemikiran yang tidak esensi.. sedangkan esensinya sama2 setuju…
    tapi ekspresi yang diperdebatkan.. gw kaya menjilat lidah sendri..

    memaksakan ekspresi gw ke org lain, padahal gw pengen menekankan keesensiannya..
    semoga lu dan gw ga saling salahj tangkep deh..
    dan ga membuang2 waktu dengan membicarakn ekspresi..akakaka

  26. hahahahahaha, ah ah ah… gak rame ah si yoel mah, gitu aja males. dasar. ayo dong loe bikin lagi nyo, jadi kita nanti “bertengkar” lagi, seru.

    menurut gue sih, esensi itu ya gak semua orang sama juga kan? jadi gak bisa dipaksakan juga dong ke orang lain…

    (hahaha, terpaksa ngomongin esensi karena tetep pengen ngobrol)

  27. ga mau jawab..akakka..gw bikin tulisan lagi tuh..
    daripada gw bales komen lu mending gw lebih banyak menulis lagi..akakak..kasih komen ke lainnya juga don k vid.
    akak

    btw thanks sudah setia membaca dan menanggapi..akakkaa

  28. Yoel, david, menurut saya sebenernya kalian sedang menanggapi notes ini dengan ekspresi yang berbeda! Ini nih namanya ekspresiiii!! Tapi yang esensinya adalah kalian berdua sama sama menyatakan secara langsung maupun tidak langsung bahwa esensi dan ekspresi itu penting. Sekian dari saya, cynthia rudiyanto.

  29. aakkaa.iya2 makasih cynth..makanya di 2 coment terakhir, gw bilang kalo ini cmn ekspresi jangan dilanjutin la..ehehhe
    akhirnya.. we get the moderator! akakakkaka

  30. Hahah telat gueeee. Bis pas baca notes l dn awal awal perdebatan l ma david g uda pengen comment, yahhh tapi saya telat deghh. Hahahahay. Lain kali bilang bilang kalo mau debat, mau doang sok sok jadi moderator hahahahahahay. Keep on writting el!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s