Singaku dan Anak Dombaku, bisakah mereka berbaring bersama?

Sang Kokoh (I luv to find this word!) biasanya diperumpamakan sebagai Singa Yehuda ataupun Anak Domba. Hal yang cukup menarik ini menimbulkan suatu perumpamaan di benak saya. Let’s hear my story!

Di dalam diri setiap orang selalu ada dua sosok, yaitu singa dan anak domba. Singa menggambarkan kedewasaan seseorang. Seorang sosok yang agresif dan pengambil keputusan. Seorang sosok yang dewasa dan empunya inisiatif. Sebaliknya ada sosok anak domba, sebuah esensi tentang kebutuhan dasar seseorang akan dukungan, peneguhan, dan pemeliharaan. Sebuah sosok yang haus akan afirmasi, kasih sayang, dan pengakuan. Kedewasaan rohani seseorang ditentukan ketika ia mampu membiarkan anak domba dan singa berbaring bersama.

Jika kita hanya mendengarkan suara singa dengan pasti lama kelamaan kita akan menjadi lelah dan kehabisan tenaga. Sebaliknya jika embikan anak domba yang dominan kita dengarkan maka kita akan menjadi korban kebutuhan kita yang terkadang tidak pernah habis akan perhatian orang lain. Seni dalam kekristenan adalah ketika kita bisa mengakui dan menerima keduanya sekaligus. Bertindak dengan tegas tanpa menyangkal kebutuhan kita.Menyadari dan meminta kebutuhan akan pemeliharaan tanpa harus mengingkari bakat kita dalam menawarkan kepemimpinan.

Anak domba menggambarkan natur kita sebagai anak sang Kokoh, keinginan dan kemampuan dikasihi dan diterima sepenuhnya. Singa menggambarkan natur kita juga sebagai seorang perutusan Sang Kokoh yang dituntut akan tanggung jawab dan kedewasaan pribadi. Keduanya tidak saling menghancurkan. Sebaliknya semakin nyaman kita menjadi anak sang Kokoh, mengakui kebutuhan kita, maka kita semakin merdeka untuk menuntut visi kita dan perutusan kita. Vice versa, semakin kita menyadari bahwa kita mempunyai tugas unik yang harus dipenuhi bagi sang Kokoh, semakin terbuka kita untuk mengakui akan kebutuhan-kebutuhan kita.

So bagaimana dengan Anda? Suara mana yang lebih banyak Anda dengar? Banyak orang yang menekan (bahkan tidak mengakui-secara tidak sadar) salah satu sosok dari kedua sosok tersebut. Fenomena ketidakseimbangan kedua hal ini bisa menjadikan natur seseorang rusak. Gambar diri yang tidak utuh dan berbagai macam ekspresi ketidakutuhan yang kronis. Seperti misalnya pada perempuan yang takut membangun hubungan dengan pria, perempuan yang menjadi korban perasaan terus menerus dalam hubungannya dengan orang lain, pria yang keras, pria yang mencari kenyamanan tidak dari sang Kokoh sehingga cenderung menyenangkan orang lain, dan berbagai macam efek lainnya.

Yesaya 11 : 6 mengatakan “Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya”. Suatu hal yang cukup aneh, tapi tertulis. Akhir kata, giringlah mereka berdua hidup berdampingan…

One thought on “Singaku dan Anak Dombaku, bisakah mereka berbaring bersama?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s