Tik tok tik tok tik tok.. do you hear the clock?

Sekitar setahunan yang lalu,di depang panggung ratusan orang anak muda berkumpul, mungkin sampai lebih dari 1000 orang lebih kalo tidak salah. Dentuman musik dan cahaya lighting yang berputar-putar memenuhi isi ruangan itu, membuat kita tidak mengenal siapa orang di barisan belakang kita. Waktu itu pikiran saya sangat padat, mengatur 70 orang pemimpin anak muda dari berbagai daerah cukup membuat saya mati kutu. Tapi ada satu kejadian yang tidak pernah saya lupakan waktu itu.

Waktu itu saya sedang berjalan menuju back stage, entah apa yang ingin saya lakukan. Yang saya masih ingat saya melewati ruang make up, ruang barang, dan akhirnya sampai di back stage. Inilah awal kejadian itu, seorang sosok saya temui di tempat itu. Seorang sosok yang orang bilang ke saya “bertampang-sangar-tapi-berhati-lembut”, orang ini sedang berjalan keluar.

Yang membuat saya cukup kaget adalah orang ini sedang menangis. Selama ini saya jarang melihatnya menangis. Mungkin pernah satu dua kali sebelumnya, tapi tangisan kali ini tampak berbeda. Biasanya dia tidak menangis dengan begitu lepas, tapi kali ini saya melihatnya menangis dengan lepas. Sontak saya menghampirinya, “kenapa kak?” kata saya. Dia tak menjawab, dan terus menangis.

Jujur waktu itu, saya suka mendengar tangisannya, lepas, otentik, dan bebas. Namun saya bertambah bingung, karena dia terus menangis. Karena bingung harus berrbuat apa, tak terasa saya pun ikut menangis. Tidak selepas orang ini, tapi saya ikut menangis. Ntah kenapa.

Saya memegang pundaknya dan terus bertanya, “kenapa kak?”, “ada masalah apa?”. “kaka ada konflik dengan siapa?”. Tapi tetap tak dijawab dan dia terus menangis. Sampai di suatu titik sambil tetap menangis dia berkata “Anak-anak hebat”. “anak-anak hebat banget” “Kakak punya hutang banyak dengan mereka” “Kakak punya hutang banyak” . Beberapa kali dia terus mengulang kata-kata itu, sambil tetap menangis.

Entah berapa menit lagi saya bersama orang itu, sampai akhirnya datang bung Be*ny. Gitarisnya Ello ini mungkin emlihat kita dari kejauhan. Tidak ingin menggangu percapakapan mereka, saya pun segera beranjak dari tempat itu, selain karena masih banyak yang harus saya lakukan juga. Saya pergi, tapi ingatan tentang peristiwa itu tidak pernah hilang dari benak saya.

Akhir-akhir ini ntah kenapa kejadian itu terbayang lagi di benak saya. Beberapa analisis di pikiran saya mencoba untuk menjadi jawaban atas apa yang terjadi waktu itu. Mungkin rentetan acara yang sangat padat membuat orang tersebut kelelahan. Mungkin orang ini baru saja berkonflik dengan pemimpinnya. Mungkin dia sangat terharu dengan penundukkan diri orang-orang di bawahnya.  Atau mungkin..mungkin yang lain.. Menurut Anda, kira-kira apa yang telah terjadi di hati orang ini?

Apapun itu, inti dari tulisan saya sebenarnya ingin mendeskripsikan orang yang telah banyak menginspirasi saya. Banyak orang yang telah menginvestasikan hidupnya bagi kita. Terkadang kita bingung untuk mebalasnya. Menulis mungkin bisa dijadikan alternatif, karena tulisan biasanya keluar dari hati yang paling dalam.  Let’s hear my story about this man.

Dominan intim rasul gembala inspirasional persuaderlembut keras teguh bervisi fokus excellent

Kata kata yang bisa sedikit menggambarkan orang ini. Gabungan karakter dominan intim membuat orang ini tegas dalam memimpin dan bisa mempengaruhi orang banyak. Kekuatannya terletak di hatinya. Hati yang teguh namun penuh belas kasihan. Hati yang kuat namun sebenarnya rapuh dan bergantung sepenuhnya pada Tuhan. Aumannya seperti singa ketika dia berdiri di mimbar, namun terkadang saya percaya dia tak ayalnya seperti seekor domba di dekapan gembalanya.  Saya suka gambaran Petrus untuknya, suatu batu karang yang kokoh, dimana Tuhan meletakkan pondasi atas gerejanya. Namun lihatlah perangai Petrus, orang yang sangat intim!

Dia rasul! Jelas dari manuver jalan pikirannya. Tak lama lagi kota Bandung tampaknya tidak cukup untuk menahan kebaran sayap-sayap visinya. Tapi dia gembala juga! Setiap kali bertemu dengan orang, tidak enggan dia untuk memeluk. Dia cukup tahu pentingnya sebuah sentuhan. Dalam keadaan apapun dia pintar untuk menyembunyikan emosinya karena dia ingin selalu memberikan yang terbaik bagi orang lain. Tidak jarang saya melihat dia berbicara di depan banyak orang dengan berapi-api walau tidak sulit bagi sebagian orang, untuk mengenali bahwa ia sedang tidak terlalu fit.

Dia bisa menyeimbangkan love and punishment. Tidak sembarang orang bisa mendapat kehormatan untuk bisa diberi ‘hajaran’ dan ‘kemarahan’ darinya. Mungkin dia berpikir “tak pantas aku marah sebelum membangun hubungan yang intim”.

Dia sangat tangguh dalam membangun hubungan. Tampaknya asam garam dalam hitungan tahun membuatnya cukup pintar dalam membaca situasi, memberi apresiasi, mengenali kapan bicara kapan mendengar, memberi afirmasi, dan memberi respon yang benar. Ketika di depan orang dia bisa menjadi orang yang  sangat inspirasional dan bisa menyampaikan visinya. Dalam dirinya, manipulasi dan dominansi terkadang susah dibedakan dengan garis inspirasi dan pengaruh. Tapi tak apa menurut saya, selama masih dalam batas yang wajar.

Bagaimana dengan kelemahannya? Biasanya cukup sulit untuk mengenal kerapuhan seorang pemimpin. Padahal percayalah! disana lah mustika seorang pemimpin, engkau bisa belajar banyak hal dari sana. “For my grace is sufficient for me” kata Tuhan pada Paulus suatu kali, ingin menunjukkan keintimannya ke dalam setiap lubang-lubang yang haus akan kasih karunia (baca : kelemahan). Tidak banyak mustikanya yang berhasil saya ekstraksi. Yang paling menonjol mungkin ketakutannnya akan rasa tertolak. “Waktu itu kakak merasa bahwa semua mendesak kakak, Pemimpin mendesak, Rekan sekerja tampak menekan, Kakak juga merasa anak-anak menekan kakak” statement-statement senada lainnya pernah saya dengar. Jelas menampilkan lubang-lubang kehausannya akan kasih karunia. Sungguh membuatnya menjadi pemimpin yang berdarah daging dan berjalan bersentuhan dengan tanah.

Bagaimana dengan visinya? Visinya untuk menjadi bapa bagi generasi muda, anak-anak yang ditolak keluarganya, remaja yang diperkosa, kaum homoseksual dan lesbian, pecandu narkotik dan pornografi, singkatnya generasi muda yang hancur. Hingga ini ntah berapa ratus orang yang berhasil dia kenalkan dengan Tuhan, ratusan lainnya dikenalkan dengan potensi dan visi di dalamnya yang belum tersentuh. Bom waktu dia tanamkan di hati banyak orang. Inilah hal yang sangat menarik dari hidup orang ini.

Jika ibarat dia adalah seorang Pattimura. Jika saya menjadi penulis biografinya suatu saat ini, mungkin di dalam biografinya tidak banyak tertulis tentang Pattimura ini. Tapi  didalam biografinya pasti akan berisi ratusan kesaksian dan komentar Pattimura-Pattimura muda yang berhasil dia bangkitkan. Pattimura ini telah mendedikasikan hidupnya dengan sangat efektif. Tidak banyak KKR yang dibuat oleh Yesus,hanya tertulis sekitar 30an mukjizat yang dibuatnya dan dicatat oleh Alkitab. Tapi dia punya Yesus-yesus muda yang mengubah dunia. 12 orang yang diatas darah mereka gereja mula-mula dibangun. Tombak di perut Thomas dan salib terbalik Petrus lah yang justru menperlihatkan kejeniusan hidup Yesus. Tampaknya Pattimura ini telah berada pada jalur yang sama dengan Yesus. Hidupnya penuh dengan intensi untuk melatuh pattimura-pattimura muda dengan benang merah yang sama.

Tak sabar hati ini ingin melihat Indonesia beberapa tahun mendatang. Ketika bom-bom waktu yang ia tanamkan di banyak orang secara simultan dan sporadis meledak di banyak tempat.  Menghancurkan setiap tembok dan memberi udara segar pada orang-orang yang terkungkung di dalamnya.

Tak sabar..tak sabar..tak sabar…

tik tok tik tok tik tok.. do you hear the clock?

3 thoughts on “Tik tok tik tok tik tok.. do you hear the clock?

  1. tick tock tick tock.. the bomb is ticking and you don’t know when it will be explode.. hahaha.. serasa kenal dan tidak kenal orang ini..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s