Kalau aktivitas seremonial sudah dianggap menjadi ‘hubungan intim’

Sudah 4 tahun saya bertumbuh di The Bridge. Salah satu karateristik unik dari The Bridge adalah aktivitasnya yang sangat padat (kalau tidak mau dibilang banyak). Coba hitung saja berapa kegiatan komsel rutin setiap minggunya. Mulai dari doa jemaat, pertemuan tim inti komsel, komsel, doa pagi, PA ke bawah, PA ke atas, dan ibadah hari minggu. Belum juga Anda masih tergabung dalam kepanitiaan temporer (aka Encounter, Gathering, Outreach , dsb) dan Pelayanan aka Creative Team. Cukup padat….Padat seh.

Aktivitas-aktivitas di atas cukup bisa menarik kapasitas seseorang hingga kesakitan dan terus bertumbuh menjadi kuat bak otot yang dilatih di tempat fitness (trust me!). Namun dalam 4 tahun ini saya punya pengalaman yang bisa menjadi blunder dalam kondisi diatas, yaitu ketika aktivitas seremonial sudah dianggap menjadi hubungan ‘intim’. Apa maksudnya? Lets hear my story

Tujuan tertinggi seorang manusia sejatinya adalah hubungannya yang intim dengan Penciptanya. Hubungan ini membuahkan banyak hal mulai dari visi, hati, belas kasihan, hingga kerelaan. Jadi lajur yang benar harusnya adalah Hubungan Intim menumbuhkan kerelaan dan gairah akan aktivitas seremonial (baca: Komsel, Services, dsb). Namun terkadang yang terjadi justru kebalikan. Aktivitas seremonial membuat kita merasa sudah mempunyai hubungan intim dengan sang Kokoh.

Sebagai contoh ketika dalam seminggu seseorang (baca : saya) sudah kecapekan pelayanan, penjangkauan, komsel, dsb ia merasa sudah mempunyai hubungan yang Intim dengan sang Kokoh. Padahal Sang Kokoh menunggu di depan kamar kostannya hanya untuk sedikit berbincang dan memberikan hatiNya. Terkadang tanpa sadar karena Ia selalu dikelilingi oleh komunitas The Bridge, ikut pelayanan, ikut ini itu, Ia jadi merasa bahwa Ia sudah fine-fine saja, sudah mendirikan bangunan di atas dasar yang kokoh. Padahal tidak sadar Ia hanya membangun apartemen dengan pondasi rumah kayu, one day it will disappear in one moment.

Tidak jarang bahkan sering dalam aktivitas seremonial yg kita lakukan kita bisa menemukan Sang Kokoh. Namun hubungan yang intim dan pribadi tidak boleh digantikan dengan apapun. Status dan Jabatan dan Tugas Pelayanan dan Tugas Kepanitiaan tidak boleh sejengkal pun merenggut waktumu dengan Sang Kokoh. Lebih baik Anda menjadi seorang anak dengan satu pelayanan dan satu anak rohani tapi melekat dengan pokok Anggur daripada Anda punya 10 anak rohani, selalu mengikuti pelayanan Pastor kemana-mana, terkenal dipanggung rohani, sibuk ini itu tapi hanya membaca firman seminggu tiga kali. Di komsel, doa jemaat, dan gereja. Berdoa juga 25 kali seminggu, 21 kali doa makan, 1 x doa jemaat, 1 x komsel, 1 x Sunday service.

2 thoughts on “Kalau aktivitas seremonial sudah dianggap menjadi ‘hubungan intim’

  1. Yoel ngomong-ngomong soal fondasi!! Wakakaka.. Jadi inget pas gw ambil keputusan untuk ambil tema TA geoteknik yang sempat ditentang nyokap gw yang lebih pengen gw ada di MRK (Manajemen Rekayasa Konstruksi)..

    Tadi Kak Nala juga ingetin soal ini di sermon hari ini..

  2. =)
    I just find out (mgkn lbh cocok diblg, realizing again…) bhw
    cara paling nikmat dan masuk akal untuk menangani ini selagi tubuh kita masih daging dan jiwa kita masih menyala adalah berhenti menjadi tuan penguasa waktu dan melepas kuasa yg sebenarnya bukan milik kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s