Otot yang dibentuk di tempat fitness yang ‘mewah’

Hari-hari ini cukup melelahkan untuk saya. Berat, menyedot tenaga, dan kadang melemahkan jiwa. Lalu apa  saja biang masalahnya? Hmm. Sebenarnya tidak banyak kalau dipikir-pikir. Tidak terlalu rumit dan pasti bisa dipecahkan juga. Namun entah kenapa semua hal tampak menghimpit manusia  ini.

.

Seperti otot yang sedang ingin dibentuk dan sebuah gedung yang ingin direnovasi dan diperbesar, pasti banyak ketidaknyamanan yang timbul. Seperti otot bisep yang mengeras dan menyimpan banyak asam laktat dan membutuhkan waktu untuk terurai. Otot dalam kondisi ini akan menyimbulkan rasa tidak nyaman, sakit, dan canggung untuk digerakkan (mungkin kondisi ini cukup familiar bagi orang yang suka fitness). Atau seperti berisiknya, berdebunya, tidak nyamannya sebuah ruangan yang sedang direnovasi untuk diperbesar dan dibangun lebih megah. Seperti itulah hal yang saya percayai sedang terjadi dalam hidup saya. Singkatnya saya percaya kapasitas saya sedang diperbesar. Dibangun untuk apa yang perlu dibangun, dihancurkan untuk apa yang perlu dihancurkan.

.

Secara singkat ada beberapa latihan fitness yang membuat otot-otot ini mengencang, mengeras, dan membuat sekujur tubuh tidak nyaman. Yang pertama urusan sekolah. Bagian satu ini cukup menguras (baca : sangat) tenaga saya. Bekerja dari pukul 6.40 – 16.30, menjadi seorang pribadi yang harus mengajar, mengatur, dan terus berdiri di depan 13 orang setiap harinya. “In the most-exhausted-job list , being teacher sits in the secind rank after being mother” said Miss Memey.  Yup! Its tiring! Sering sekali kalau saya pulang dari sekolah, badan ini udah pengen cepet-cepet aja menemukan pembaringannya. I want to sleep until sun rises tomorrow morning!

.

Ini tahun pertama saya menjadi guru, tentu banyak hal yang memang saya harus belajar banyak. Mengatur sebuah kelas dengan siswa-siswa yang mempunyai tingkat intelegensi yang berbeda  dan tingkat kedewasaan yang berbeda menjadi satu tantangan yang besar buat saya. Boleh dikatakan  dari orok saya cukup terbiasa dengan komunitas orang-orang yang mempunyai tingkat intelegensi di atas rata-rata, berangkat dari sebuah smp favorit hingga kelas akselerasi di sma, sampai akhirnya saya masuk di sebuah jurusan dengan passing grade tertinggi (waktu itu) di universitas yang mengutamakan berapa banyak simpul yang ada di sebuah organ di dalam tengkorak manusia. DI gereja pun saya menjadi leader untuk orang-orang yang paling tidak bisa mengerti konsep biner dan heksadesimal dalam waktu 10 menit (lebay! Akakaka). Karena latar belakang ini saya cukup ‘tidak terbiasa’ ( baca : kikuk/jengah/ga sabar) dengan beberapa siswa yang (boleh dikatakan) kurang berminat dengan ilmu eksakta dan kurang bisa menangkap pelajaran dengan cepat.

.

Karena sekolah ini hanya mempunyai jurusan science, maka semua murid entah apakah ia lebih tertarik ke dunia art/ social mereka tetap harus belajar matematika dengan standar cukup tinggi. Tentu hal ini tidak mudah untuk saya sebagai seorang guru matematika (baru pula!), padahal sekolah menginginkan ‘mastery’ buat setiap muridnya atau dengan kata lain setiap siswa harus menguasai  semua materi ajarnya. Bayangkan saja saya harus mengajar augmented matrices (yang notabene baru diajarkan ke saya di mata kuliah matematika vector) buat beberapa murid yang mungkin memang lebih cocok untuk masuk jurusan social . Atau mengajarkan transformasi fungsi cosecant buat murid yang (sekali lagi) memang tidak akan maksimal di jurusan science dan lebih berbakat untuk menggambar manga dibanding dengan harus dipaksa menggambar kurva naik turun laiknya fungsi cosinus (Draw a graph of y = -3 + 2 sec 9 (x + 2)  find the phase displacement, period, and the concave up parts! hayo siapa yang masih inget? =p).

.

Tantangan lain timbul dari sisi personal menjadi seorang guru. Menjadi guru berarti harus pandai memilah-milah mana persoalan yang harus dianggap personal dan mana yang harus diabaikan. Kalau ada murid-murid yang bertingkah ‘kurang dewasa’ , seorang guru harus tidak mudah tersinggung, tidak terlalu dianggap personal, walau harus tetap mengingatkan dan meng-encourage anak-anak ini untuk berlaku lebih baik lagi.  Ada satu guru yang pernah bilang ke saya “Rasanya pengen keluar saja, pengen berhenti mengajar. Tapi ya udah, they are still kids!”.

.

Saya dan kak Pican (Mr. Chandra) berasal dari gereja yang sama, komunitas yang sama. Sebuah komunitas yang sangat terbiasa untuk saling menajamkan satu sama lain. Terbiasa mengingatkan diingatkan, mementor-dimentor, membapai-dibapai oleh orang-orang yang berharga di sekelilingi kami. Kami terbiasa tidak bisa tinggal diam ketika melihat sesuatu hal yang kami anggap kurang baik, namun juga diajar untuk merespon segala sesuatu dengan benar dan apropriate. Terbiasa untuk belajar berfokus pada orang lain  Masalahnya ketika makin lama mengajar murid-murid ini, bertemu hampir setiap hari, kami mulai secara tidak sadar menganggap orang-orang ini sebagai ‘important people’ kami. Dan ketika kami menganggap orang-orang ini sebagai ‘important people’ kami, secara tidak sadar (lagi!), saya sering menganggap mereka seperti orang-orang di komunitas kami, anak-anak rohani kami.  Hal ini baik di satu sisi namun cukup fatal di sisi lain jika  kami tidak berhati hati dan bijaksana.

.

Mengapa bisa menjadi fatal? Karena hal ini bisa menghasilkan ekspetasi yang berlebihan dan kekecewaan. Anak-anak ini adalah remaja berumur 14-18 tahun, mereka bukanlah anak-anak rohani saya (kami) yang biasa kami layani di ITB, orang-orang yang bisa dikatakan telah hidup di bumi ini lebih lama beberapa tahun dibandingkan murid-murid ini. Mereka (murid-murid) ini bukanlah seperti anak-anak rohani kami (walau kadang menyebalkan) yang sudah lebih dewasa, sudah lebih bisa merespon dengan baik, sudah lebih pulih gambar dirinya, dan ‘sudah lebih’-‘sudah lebih’ yang lain.

.

Tampak tidak adil untuk membandingkan dua kelompok orang di level kehidupan yang berbeda. Mungkin waktu sma si Hansel juga masih buang sembarangan, mungkin waktu sma si Ronald juga masih suka ngomong ‘anj*ng-stup*d-anjr*t-dan sebangsanya’, mungkin waktu sma si Chandra juga masih sangat berfokus pada diri sendirinya, mungkin waktu sma si Christopher juga suka ngelakuin hal-hal yang ga sadar cukup tidak appropriate di depan guru2nya, Mungkin waktu sma si Christian belum bisa menghargai otoritas di atasnya. Mungkin mungkin mungkin. So kesimpulannya saya tidak bisa memaksakan standar yang biasa (secara otomatis) saya pakai untuk anak-anak rohani kami kepada mereka. Seperti sama tidak adilnya ketika mama saya mencoba untuk memaksakan kedewasaan saya dan pengalaman saya sama dengan kakak tertua saya yang sudah 11 tahun lebih cepat keluar dari rahim mama saya, saya yakin mama saya lebih mempunyai banyak kelonggaran dan pengertian dalam berurusan dengan polah tingkah saya.

.

Sebagai contoh minggu kemarin ada sebuah kejadian cukup ‘lucu’. Seorang murid karena mungkin sedang sangat lelah dan labil emosinya menulis pesan yang kurang (sangat) tidak apropriate untuk dikirimkan ke gurunya. Kalau kejadian ini terdengar di telinga saya dan dilakukan salah satu anak rohani saya atau anak komsel di area saya, pasti seketika itu saya bisa langsung menghubunginya, mengajar dengan keras atas perbuatan impolite ini. Tapi keadaannya berbeda jauh, mereka (murid-murid ini) masih  baru ( atau sudah) akan beranjak dewasa, sebagian sudah, sebagian lain belum dan lagipula tampaknya saldo saya di ‘love bank’ mereka belum banyak, so saya tidak bisa begitu saja ‘memakai rotan’ kepada mereka.

.

Tapi overall mereka orang-orang yang cukup menyenangkan, punya attitude dan aptitude yang bagus (kecuali yang masih belum tentunya..hehe), bisa diharapkan menjadi seorang pemimpin yang punya karakter dan kharisma, dan maksimal di bidangnya masing-masing. I pray that they will find their visions quickly sehingga Sang Kokoh bisa segera menghancurkan setiap pride dan rasa berharga yang salah yang mungkin ada di dalam diri mereka. I think I begin to love them in somehow. Hehe

.

Hal terakhir yang menjadi tantangan saya di sekolah tidak lain tentu saja hal-hal teknis. Bagaimana membuat lesson plan, year-long planning, dan grade report. Membuat soal ujian, rencana alur pembelajaran,  dan terutama kesulitannya adalah untuk mentransfer ilmu dari dalam tempurung tengkorak ini. Mengajar berbeda dengan belajar, untuk mengerti sebuah chapter circular function dari buku pre calculus mungkin bisa saya lakukan sambil boker (hiperbola-sombong-angkuh-akakakka) tapi untuk mengajar 13 orang yang kadang tidak ingat nilai sinus 60 derajad……sungguh melelahkan! Apalagi mengajar dalam bahasa Inggris tidaklah semudah yang dibayangkan, untuk me-translate sebuah kalimat “ satu cycle adalah satu bagian fungsi dimana bagian ini akan berulang terus dalam sebuah fungsi trigonometri”  ke dalam bahasa Inggris dalam hitungan detik, bagi saya…cukup menantang dan sulit! Hehehe. Hal teknis lainnya adalah bagaimana mentransfer ilmu ke murid-murid yang kurang tertarik dengan ilmu eksakta dan bosan dengan pelajaran yang hanya berisi fungi, angka, dan simbol (Sir! Why we should study these graphs? What for?). Terakhir akhir-akhir ini saya cukup berkonflik (tidak secara terbuka tentunya) dengan seorang guru. Hahahah. Cukup menyebalkan dan saya tetap harus belajar merespon dengan benar, dan menghargai Mr. Public Enemy satu ini. Comon El!

.

Enough untuk curcol tentang sekolah, kali ini beban kedua and ketiga akan dikemukakan dengan singkat padat dan tidak jelas. Hehe . Hal kedua tidak lain tidak bukan my honey bunny my beloved one……… TA!!!! Akakakka Tugas Akhiiiiiiiiiiiiiiiiir ku yang terbengkalai karena kesibukan nomor satu di atas. Bertemu dengan dosen tiap hari kamis, mencoba untuk membuat dan menulis, pyuh! Yep! Laiknya latihan treadmill 2 jam sekali pertemuan. Otot kaki bakal teriak-teriak keesokan harinya. Tapi saya harus menang euy buat satu hal ini. Harus cepat-cepat sebelum sekolah masuk semester kedua atau kehidupan saya akan penuh dengan ketidakstabilan dan kelelahan jiwa yang kronis.

.

Hal ketiga tidak lain tidak bukan tentu saja pelayanan saya. Beberapa waktu yang lalu saya sempet terpikir untuk mundur dari menjadi seorang leader di area ITB. Ada beberapa pertimbangan, seperti saya harus mengurus TA dan pekerjaan saya lebih maksimal, dsb. Hal ketiga ini juga salah satu bagian yang menyedot resources saya. Menjadi bapa rohani buat 8 anak, dan cucu-cucu berarti harus meluangkan waktu untuk mereka. Ikut berpikir untuk pergerakan, ikut ngerayain ulang tahun, ikut komsel, dsb. Walau hal-hal ini menyenangkan tidak bia dinafikan juga akan mengambil jatah waktu, pikiran, dana, dan tenaga kita. Sebagai contoh minggu ini harus nyiapin bicara di retret encounter lagi, so berarti hari jumat pulang dari sekolah saya harus kumpulin en susun bahan. It means waktu dan pikiran yang harus dibayar lagi. Tapi untuk bagian ini saya ga bisa berhenti. Entah kenapa. Walau terkadang sakit, tapi di tempat inilah saya bertumbuh dan bisa menjadi seperti sekarang ini. Terinspirasi oleh orang-orang yang telah menginvestasikan waktu, tenaga, dana, dan pikirannya buat saya. Tempat gratis untuk menghancurkan pride saya, dan memberi rasa berharga yang sehat. Tempat dimana saya menemukan Si penenun sel  saya dan bertumbuh mengenalnya.

.

Yep, cukup curcol saya. Hari-hari ini semua orang tampak hectic, anak-anak kampus pada ujian tengah semester, panitia enc sibuk nyiapin encounter, sibuk follow up, sibuk kerja, sibuk nge-prospek orang (loh?), sibuk nge-TA, sibuk ngurus anak, sibuk nganterin anak ke sekolah pertama, sibuk nyari tulang rusuk (loh? Lagi) tapi saya percaya akan selalu ada waktu untuk beristirahat. Take a rest, seperti saya yang bisa menghabiskan 2 jam untuk menulis tulisan-tidak-penting-ini demi menjaga kestabilan ion-ion di simpul otak saya. C’mon if u need a rest or a break just take a break for a moment. It will make u better.

.

Nb : kenapa judulnya “ Otot yang dibentuk di tempat fitness yang ‘mewah’ “  hayo? Kenapa pakai kata ‘mewah’ hayo? Tunggu postingan saya selanjutnya (baca : tunggu waktu si Yoel stres lagi).. hehe

2 thoughts on “Otot yang dibentuk di tempat fitness yang ‘mewah’

  1. this posting menunjukkan… that my little brother bener2 lagi super stresss ….hahhahah….but niwe, lucky u still hav something untuk mengeluarkan ke-sutris-an…. :p

    Akhir taon jadi ke sini??? hehehhehe…..

  2. akaakak..gw baru baca nih..pas lagi mau nulis message ke fb lo hahaha..humm yap yap setipe lah y sama yg lu sms ke gw dan abed hihii..

    mgkn lo orgnya gampang sakit (baca: ga pernah makan sayur dan berolahraga)..kyk gw iyah aja akakak..trus lo itu labil emosinya…kyk gw enga ajah akakak…
    tapi di mata gw lo itu tetep co yg kuat..why krn pria itu kuat bukan dari fisiknya…otaknya…terlihat sok kuatnya..tapi pria itu kuat dilihat dari hatinya..dan gw tau lo tetep pria yg kuat krn gw tau lu mau bertahan…and yes it is..u’re still here..(secara gw tau lo uda mau kabur dari kapan taun akakka). lu masi bertahan sama job, TA (terpaksa sih ya kita butuh gelar dan toga itu buat sesi foto akakak), dan nak2 lo..we all see it..

    so cmon el!..hanging on together till the end hehehe..end opoooo??? hahahha,,,

    GB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s