In Memoriam Gus Dur : Tokoh yang dikagumi bagi pemuda sipit dan bisa melafalkan doa Bapa Kami

In Memoriam Gus Dur :

Tokoh yang dikagumi puluhan ribu pemuda “yang kebetulan “ dilahirkan dengan diameter mata yang cukup kecil dan memilih melakukan ibadah di hari Minggu

Kemarin malam ketika saya pulang ke kostan, saya cukup kaget ketika mengakses aplikasi facebook di HP saya. Status-status teman saya ramai memberitakan kematian Gus Dur. Saya pun dengan semangat banci berita sempat menjadi “parno”, pertama tentu saja karena berita yang sangat mendadak itu, berbeda dengan wafatnya mantan Presiden Suharto yang telah jauh-jauh hari sebelumnya ramai diberitakan dapat diprediksikan. Kedua, TV di kamar saya sedang tidak ada koneksinya sehingga praktis tabung kaca itu tidak bisa memberikan banyak manfaat bagi saya untuk menggali berita.

Kompas.com (waktu itu) tidak banyak memberi kesegaran, hanya dua berita online yang terpampang mengenai kematian Gus Dur, itupun sangat minim konten. Apalagi Metrotvnews.com, situs ini memang tidak pernah memutakhirkan (update) berita-beritanya setelah pukul 5 sore, mungkin peng-entri datanya sudah pulang kerja. Tak menyerah, saya pun turun menuju kamar Ibu penjaga kost, dengan harapan dan bayangan sebuah kotak besi-kaca disana akan berfungsi dengan baik untuk menyiarkan wafatnya Bapak Bangsa satu ini. Namun tak ayal pupus sudah harapan itu, ketika saya mendekat ke pintu kamarnya, tampak dua bocah sedang menonton siaran cartoon network. Tidak tega hati ini untuk menginterupsi keasyikkan mereka hanya untuk memenuhi gairah banci berita ini.

Siapa tidak mengenal Gus Dur? Saya yakin sebagian besar manusia Indonesia di generasi saya dan dua generasi di atas saya pasti mengenalnya. Pernah menjabat sebagai Presiden selama dua tahun dan polah tingkah ‘unik’nya selama menjabat sebagai Presiden membuat kita sukar untuk melupakkannya. Walaupun tidak pernah bertemu dan mengenalnya secara langsung (iyalaaaaah, siapa gw gt, akakak), saya cukup mengaguminya sebagai seorang Bapak bagi bangsa ini. Saya pun teringat memori pada tahun 2004. waktu itu Negara kita sedang ramai memperbincangkan perhelatan demokrasi akbar. Lima calon presiden siap bertarung di gelanggang panas bangsa. Waktu itu saya masih belajar di tingkat SMA, karena kedekatan saya dengan beberapa guru waktu itu, saya pernah terlibat dengan perbincangan panas mengenai capres-capres ini.

Saya lupa siapa mendukung siapa, namun yang masih teringat adalah saya bersama Pak Bambang (guru bahasa Indonesia waktu itu) termasuk dua orang dari pasukan yang kecewa karena Gus Dur tidak bisa mencalonkan dirinya sebagai Presiden. Memang dengan kesehatannya waktu itu, Ia terjegal dengan UU Kesehatan Presiden yang dibuat pada masa pemerintahan Megawati. (teringat celetukan salah satu pembantu saya waktu Gus Dur terpilih sebagai presiden pada tahun 1999 “Memang di Indonesia ga ada orang sehat yah, masa Cuma buat pilih satu orang sehat buat jadi Presiden aja ga bisa”).

Memang kesehatan mantan Presiden ini cukup memprihatinkan, tidak perlu kapabilitas seorang Dokter untuk mengetahui bahwa Ia mempunyai masalah kesehatan ketika melihat penampilannya di berita-berita nasional.

Tidak jelas mengapa saya yang waktu itu masih sangat buta politik bisa mendukungnya, mungkin karisma dan tingkah lakunya yang “unik dan tidak baku” membuat saya tertarik dengan figure ini. Namun seiirng dengan ketertarikan saya akan politik, saya mulai mengagumi sesosok orang yang gigih untuk berdiri bagi Bangsa ini

Gus Dur sangat bersinar sebagai tokoh nasional yang terus mengkampanyekan Islam yang inklusif, pluralisme, demokrasi, dan dukungan atas kaum minoritas. Ia bisa menjadi Bapak buat semua golongan Islam mulai dari NU, Muhammadiyah, Islam Liberal, hingga golongan Fundamentalis. Meminjam cerita dari Kompas.com , menjelang wafatnya Ia bahkan pernah melontarkan kata-kata “Golongan Fundamentalis itu jangan dibenci, tapi harus dicintai”, sungguh menunjukkan lapangnya hati tokoh ini.

Ia pun sangat plularis, semua orang dari berbagai agama bisa nyaman berdialog dengannya. Sering sekali kita melihat di berita nasional, bagaimana tokoh-tokoh Agama ‘sungkem’ ke kediamannya. Baginya Pancasila adalah final! Pada masa pemerintahannya Khong Hu Cu dimasukkan sebagai salah satu agama resmi Negara. Kaum Kristiani juga kehilangan salah satu tokoh yang setia membela mereka. Isu-isu seperti susahnya membuatr izin gereja, pencopotan izin gereja, konflik horizontal dengan basis primordial menjadi makanan sehari-harinya. Sungguh kami kehilangan salah satu tokoh kaum Kristiani yang tidak beragama Kristiani.

Saya jadi teringat sebuah artikel yang saya baca 5 tahun yang lalu, judulnya “melahirkan politikus muda di gereja”, artikel itu mengatakan bagaimana kegamangan gereja akan politik, salah satu kalimat yang cukup menarik adalah “Sampai kapan gereja akan bergantung pada tokoh-tokoh seperti Gus Dur, jika suatu saat beliau meninggal siapa yang akan berdiri bagi kita”. Kini hal itu benar-benar terjadi.

Mengenai dukungannya atas kaum minoritas tidak perlu diragukan lagi. Dalam masa pemerintahannya juga tahun baru imlek dijadikan libur nasional. Perayaan tahun baru imlek ini pun boleh dilakukan secara terbuka. Masih hangat di benak saya, ketika pada masa peraturan itu mulai diberlakukan semua orang menjadi “banci barongsai” dan “banci Liong”. Liong dan barongsai menjadi pertunjukkan rakyat, di sekolah saya, di stadion, dan di jalan-jalan, singa dan ular naga ini bergentayangan sambil meraup amplop merah yang bisa dicaploknya. Nada khas pertunjukkan (“dung-deng dung-deng-deng dung-deng dung-deng-deng!”) mulai akrab di telinga masyarakat.

Sebelum tahun itu saya tidak pernah mengenali budaya itu padahal saya salah satu pemuda dengan kulit putih (yeah..I was…) dan mata sipit (kalo ini masih..akakak). Tahun baru imlek biasanya saya sekeluarga bertandang ke keluarga besar lainnya sambil mencari orang yang dituakan. Di hadapan mereka saya mengepalkan tangan saya dan bilang “Kiong Hi”. Mantra sederhana ini cukup bisa menghasilkan amplop merah di kantong saya. Malam sebelumnya biasanya ada makan besar dalam sebuah keluarga besar, enak! Masih teringat bagaimana enaknya “Ko Lo Kee” buatan bobo (nenek) saya. Hehe Aktivitas paling seru bagi anak-anak tentunya adalah pada malam harinya ketika kami menghitung perolehan “ransum” yang kami dapatkan dari mantra-mantra sederhana itu.

Masa itu saya tidak tahu bahwa perayaan etnis kami itu tidak boleh dirayakan secara terbuka dan meriah dikarenakan beberapa alasan historis. Namun sekarang berkat Gus Dur,saya dan 6-7% penduduk di Indonesia bisa merayakan tahun baru imlek dan kerasnya irama “dung-deng dung-deng-deng dung-deng dung-deng-deng!”bisa dimainkan kapanpun dimanapun oleh siapapun tanpa melihat seberapa besar diameter mata Anda.

Selamat jalan Gus Dur, Kyai Besar, Bapak Bangsa, Pahlawan Nasional, Imam segala golongan, dan tokoh yang dikagumi puluhan ribu pemuda yang kebetulan dilahirkan dengan diameter mata yang cukup kecil dan memilih melakukan ibadah di hari Minggu seperti saya. GBU!

One thought on “In Memoriam Gus Dur : Tokoh yang dikagumi bagi pemuda sipit dan bisa melafalkan doa Bapa Kami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s