Belum ada Judul

Kemah paduka Furansu, Raja Besar Negara Gajah. Perkemahan Langit Utara

“Bagaimana laporan hari ini, Kreya?” suara seorang pria tua dengan jenggot putih.
“Lapor Paduka Furansu! Kita mengalami beberapa kerugian besar hari ini. Pasukan Jenderal Bruno mengalami kerusakan besar di medan Timur. Beberapa pasukan berkuda mereka pulang dengan luka-luka berat. Tak sedikit kuda-kuda itu pulang tanpa penunggangnya. Jenderal Bruno juga tampak marah sekali. Kerugian terjadi karena pasukan musuk membawa pasukan naganya. Kuda-kuda berlari ketakutan begitu mendengar kepak sayap naga-naga ini. Mereka begitu susah untuk diatur dan mengacaukan barisan pasukan lainnya. Seharusnya hal ini tidak terjadi. Putri Jenderal Bruno, Fesia, yang bertindak sebagai ahli strategi sudah memprediksi keadaan ini. Jenderal Zion dari medan tengah sebetulnya sudah berjanji akan membantu dengan pasukan elite panah mereka begitu pasukan Naga musuh tiba. Namun sampai tengah hari, hujan panah yang dijanjikan tidak kunjung datang. Maka dari itu Jenderal Bruno begitu marah dan menarik mundur pasukannya.” Kreya sang penasehat raja mencoba untuk menjelaskan.

“Untungnya Putri Fesia bertindak cepat, Ia menyuruh batalyon Timur II untuk segera membakar semak belukar yang ada di bagian utara medan perang. Angin berpihak pada mereka dan membawa asap ke pasukan Naga tersebut. Asap ini tampaknya cukup mengganggu pandangan naga-naga itu dan mempersempit manuver mereka. Ketika naga-naga itu kebingungan Jenderal Bruno langsung memerintahkan semua pasukan untuk mundur serentak dan sampai di perkemahan mereka ketika matahari hampir terbenam. Kerugian yang ada diperkirakan sejumlah 478 pasukan berkuda mati, 1221 terluka, 4 menara tembak hancur, dan 18 pelontar batu tidak bisa dipakai lagi karena terbakar. Saat ini Jenderal Bruno sedang menunggu instruksi berikutnya dari Paduka dan berharap untuk memberi waktu dua hingga empat minggu untuk memulihkan keadaan pasukannya.” Lanjut Kreya.

“Hmm… apa yang terjadi dengan Jenderal Zion. Kalau saja pasukan elite panah dia tiba seharusnya kerugian tidak akan sebesar ini. Toh aku yakin tidak semua naga musuh diturunkan di medan Timur. Aku dengar mereka justru sedang dipakai untuk berperang di negara Biru.” Kata Raja Furansu.

“Hal yang aneh tampaknya sedang terjadi dengan Jenderal Zion, paduka. Saya sudah mengirimkan surat kepada Ia melalui kurir, namun belum ada kabar dari Jenderal.” Jawab Kreya

“Apa ini ada hubungannya dengan si pembuat cerita?” tanya Raja.

“Mungkin paduka. Tidak ada yang bisa memastikan saat ini.” Jawab Kreya

“Baiklah besok aku sendiri yang akan berbicara dengan Zion. Siapkan kereta kudaku besok pagi-pagi benar. Kirim surat juga pada Jenderal Bruno. Bilang padanya untuk menunggu instruksi berikutnya dan jangan bertindak apa-apa kecuali musuh menyerang. Siagakan semua pasukan pelontar batu dari medan Utara, Barat, Timur, dan Selatan di depan perkemahan mereka sehingga musuh akan berpikir dua kali untuk menyerang mereka.” Perintah sang Raja

“Siap Yang Mulia Raja Furansu. Hamba memohon diri”

Senin pukul 05.00 pagi waktu negeri Gajah

“Pagi sekali kita harus berangkat Paduka.” Kata Kreya
“Iya, aku ingin melihat kondisi perkemahan medan tengah di pagi hari. Sudah beberapa bulan aku tidak mengunjungi Jenderal Zion dan perkemahannya. Aku dengar setiap pagi mereka berlatih dengan keras” kata paduka Furansu
“Memang Paduka, Jenderal Zion dan pasukannya memang suka berlatih perang setiap paginya” kata Kreya
“Apa lagi yang kamu dengar tentang pasukan mereka Kreya? Bagaimana keadaan jendral-jendral di bawah Zion? Aku lupa. Siapa saja namanya?” kata paduka Furansu
“Secara umum mereka masih dalam keadaan fit dan siap untuk perang, Paduka. Ada tujuh jendral bintang dua dibawah Jendral Zion. Nama mereka Durape, Robiru, Samule, Stefene, Toporus, Curisti, dan Hasnele. Masing-masing dari mereka memimpin pasukannya uniknya masing-masing.” Jawab Kreya
“O ya! Memank pasukan medan tengah aku dengar cukup unik. Sayang Zion suka merahasiakan bahkan dari padaku. Tapi tak apalah, semakin banyak orang yang tahu, kemungkinan musuh untuk tahu juga menjadi semakin besar.” Sambung paduka Furansu
“Kita sudah semakin dekat Paduka. Sais! Kita harus turun di depan awan nimbulus berwarna biru itu, aku yakin pintu perkemahan mereka ada di bawah itu” perintah Kreya pada sais kereta kuda

Kereta kuda berwarna emas itu segera meluncur menembus sekumpulan awan berwarna biru dan sampailah mereka di depan gerbang sebuah benteng. Perkemahan medan tengah ini ternyata dikelilingi benteng yang terbuat dari bebatuan. Berbentuk segi tujuh dengan menara di masing-masing sudutnya. Di bagian tengah ada sebuah undakan yang terbuat dari batu, di ujung atas undakan tersebut ada pelataran datar yang cukup lebar. Kemah besar dengan ujung runcing dan bendera bergambar bintang bersudut tujuh tampak mencolok diantara pelataran kosong itu.

Di depan pintu gerbang berwarna perak, kereta Paduka Furansu bergerak maju. “Hormat Paduka! Selamat datang di perkemahan medan tengah!” sahut sang penjaga gerbang. “Segera buka pintunya penjaga. Kami ingin bertemu dengan Jenderal Zion” jawab Kreya. Pintu gerbang pun dibuka pelan-pelan dengan sebuah tuas besar yang harus ditarik oleh empat orang. Kereta kuda itu pun bergerak perlahan-perlahan melewati gerbang depan. Namun tiba-tiba terdengar suara sangkakala. “Huuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuummmmmm!!!!!”. Suara sangkakala seperti raungan gajah terdengar dari kemah besar di tengah perkemahan. “Ada apa Kreya?” tanya paduka Furansu. “Kurang tahu paduka, semua pasukan tampak siaga dan berlari menuju kemah Jenderal Zion. Mungkin suara tadi salah satu kode yang mereka pakai. Kusir, percepat gerak kereta!”

Kereta kuda paduka segera melaju dengan cepat, namun di tengah jalan kereta itu dihentikkan oleh dua orang pria. Orang yang pertama berbadan tegap dan kurus, mengenakan pakaian serba hitam, dengan tiga pedang panjang di pinggangnya. Rambutnya panjang dan berwarna keemasan ditutupi dengan bandana berwarna hitam. Tampangnya tampak selengehan dan dia memainkan sepotong tangkai daun di ujung mulutnya. Pria di sebelahnya tampak lebih serius dengan badan yang lebih besar juga. Sepotong kapak besar dan karung berwarna hitam yang berukuran cukup besar juga , dipanggulnya di punggungnya. Di sebelah kaki kanannya ada anjing yang tampak duduk dengan pandangan yang tidak kalah seriusnya. “Tolong berhenti paduka Furansu” kata pria yang tampak lebih serius. Kreya segera keluar dari kereta untuk melihat apa yang terjadi di luar. “Siapa kalian berani sekali menghentikan kereta paduka Furansu?” kata Kreya. “Maafkan kelancangan kami, nama aku Robiru dan ia Durape, kami adalah bawahan Jenderal Zion” sahut pria berbadan besar itu. “Jadi kamu bawahan Jenderal Zion. Ada urusan apa kalian dengan paduka Furansu.” Jawab Kreya. “Telah terjadi kekacauan besar di kemah utama. Jenderal Zion ditemukan mati tertusuk pedang di kemahnya. Sangkakala yang barusan terdengar adalah kode bahwa ada bahaya besar yang terjadi pada Jenderal Utama. Pembunuh Jenderal Zion masih belum bisa ditemukan. Untuk itu kami harap Paduka Furansu bisa bersembunyi di Menara 3, Menara tempat saya bertugas, untuk sementara waktu. Jenderal Durape dan saya akan melindungi paduka dari hal-hal yang tidak diinginkan.” Jawab Robiru. “Omong kosong!!” tiba-tiba Paduka Furansu keluar dari kereta. “Bawa aku segera ke kemah utama. Akan aku lihat sendiri apa benar Jenderal Zion telah mati.”

-bersambung-

8 thoughts on “Belum ada Judul

  1. wah..seru nih critanye..nama2ny lucu2 jg :p
    yaah napa zionny mati?? >.<
    request crita doonk: zion hidup kmbali oleh peri kehidupan.. *keukeuh zion hrs idup* hahaha
    seru!!nice story =) lanjutkan!

  2. bagus🙂 selalu bikin cerita tanggung, dan next nya pasti lama muncul🙂 spt cerita sebelumnya juga sptnya masih “nggantung” . keep writing

  3. aiyaaaa. u made me curious,so I made some IP address searching. I think i know you. work in PT. Yutaka. Core group. heheh. How are u old friend?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s