Belum ada Judul – 2

“Robiru! Siaga! Lindungi paduka Furansu! Lihat ke arah Timur” sahut Tuan Durape. Tiba-tiba dari arah timur dua lusin pasukan dengan pakaian serba hitam berlari menuju ke arah kereta Paduka Furansu. Muka mereka tampak misterius dengan ditutupi selubung warna hitam, berlari dengan posisi badan agak menunduk dan pisau kecil di kedua tangan mereka. Kurang dari hitungan menit dan seakan ada komando di belakang mereka, pasukan itu melempar pisau kecil ke arah paduka Furansu. “Robiru!” teriak Durape. “Serahkan padaku!” Robiru mengambil kantong hitam dari pundaknya, dengan muka serius memasukkan tangan kanannya ke dalam kantong itu. “Aha! Ini dia!” sahutnya sigap. Dari tangannya dikeluarkan sebuah mainan dari tanah liat dan dilemparkannya tanah liat itu ke arah pasukan penyerang. “POP!” Tanah liat kecil itu berubah menjadi kura-kura raksasa dengan sisik-sisik biru tua di sekujur tubuhnya  . “Testudo blue commodo tueatur!” teriak Robiru. Berbalik ke belakang dengan canggung, kura-kura biru itu berhasil melindungi kawanan Paduka Furansu. Pisau-pisau kecil berjatuhan setelah mengenai cangkang keras kura-kura raksasa tersebut. ”Gratias!” teriak Robiru lagi. Bersama ucapan terimakasih Robiru, bunyi POP keras kembali terdengar dan kura-kura biru sekejap menghilang, seakan meledak dan menjadi butiran-butiran pasir yang berjatuhan ke tanah. “Bawa paduka Furansu ke tempat yang aman! Aku akan tangani mereka.” Sambil berkata ke Robiru, Tuan Durape melesat menuju kawanan penyerang itu.

 

“Mari ikuti saya Paduka, keadaan di sini terlalu berbahaya.” Kata Robiru. “Bagaimana dengan Jenderal Zion. Aku ingin menemuinya.” Jawab Paduka Furansu. “Nasihat Tuan Durape tampaknya harus kita dengarkan, Paduka. Jika ada dua lusin pasukan penyerang berhasil masuk ke perkemahan, saya takut musuh  telah merencanakan sesuatu yang jahat. Keamanan Paduka Furansu harus lebih diutamakan.” Kata Kreya. “Terserah kamu kalau begitu!” jawab Paduka dengan tidak sabar. Ia pun segera masuk ke dalam kereta lagi. “Biar aku yang mengendarai kereta.” Robiru mengambil tali kendali kereta dari tangan si kusir dan segera melecut kuda-kuda untuk bergerak dengan cepat. Anjing yang selama ini hanya duduk diam dengan pandangan serius juga berlari mengikuti laju kereta kuda. “Kau yakin meninggalkan temanmu sendiri menghadapi pasukan hitam itu?” Tanya Kreya dari dalam kereta. “Tenang saja. Dua lusin pasukan dengan pisau kecil seperti itu hanya akan menjadi mainan untuk Tuan Durape. Sebentar lagi dia akan menyusul kita.” Robiru mengarahkan kereta menuju menara tinggi berwarna coklat di arah Barat Daya. Menara itu tampak kusam karena hanya terbuat dari tanah liat. Di ujung atasnya ada empat buah patung kura-kura menghiasi setiap sisi.

Kereta kuda melaju dengan sangat cepat hingga tiba-tiba Robiru menarik kekang kuda ke belakang. “Ada apa lagi ini?” teriak Paduka Furansu yang cukuo terganggu dengan goncangan kereta. “Maaf Paduka, di depan ada pasukan Tuan Samule yang sedang berperang dengan pasukan musuh. Saya harus mencari jalan memutar.” Jawab Robiru. Paduka Furansu membuka kain jendela kereta dan sekitar delapan meter di depan kereta kuda dilihatnya ada dua pasukan yang saling berperang. Walau tampak janggal, ada puluhan kurcaci dengan kapak sibuk berperang melawan pasukan berpakaian hitam, pasukan sama yang pernah menyerang paduka Furansu. Kurcaci-kurcaci itu kalah jumlah, namun dengan cakapnya mereka membabi-buta menyerang pasukan Hitam. Suara kapak bertabrakan dengan pisau menggema dimana-mana. “Serang kaki mereka!” Teriak seorang manusia berpakaian warna putih yang tampak janggal diantara kurcaci dan pasukan berwarna serba hitam. Sambil melihat ke arah manusia itu Paduka Furansu berkata “Itu pasti Tuan Samule yang kamu maksud”. “Benar paduka, silahkan paduka kembali masuk ke dalam kereta. Saya akan segera menggerakan kereta lagi.” Sahut Robiru.

 

Lebih dari lima belas menit kereta kuda paduka Furansu melaju dengan cepat hingga akhirnya tiba di menara tanah liat yang menjulang tinggi di antara kemah-kemah pasukan Medan Timur. “Silahkan turun Paduka. Kita sudah sampai” kata Robiru. Kreya bersama Paduka Furansu turun dari kereta itu. “Lewat sini” lanjut Robiru dengan tidak sabar. Paduka Furansu, Kreya, dan kusir kereta berjalan mengikuti pria berbadan gempal itu masuk ke dalam menara. Di dalam menara, paduka Furansu tidak merasa lebih nyaman. Bau tanah liat yang cukup menyengat dan perabotan yang ditata sekenanya cukup mengganggu indera paduka Furansu. “Maaf jika berantakan paduka. Kita akan berlindung di sini sampai keadaan lebih tenang. Saya yakin pasukan kami akan segera mengusir pasukan musuh” Kata Robiru. “Ada apa ini! Mengapa pasukan musuh bisa sampai masuk ke dalam perkemahan! Bahkan pasukan kalian tampak kalah jumlah.  Yang saya lihat hanya sekumpulan kurcaci-kurcaci berkapak itu. Mana pasukan medan Timur yang dibangga-banggakan itu.” Kata Paduka Furansu dengan gusar. “Maaf paduka. Hampir semua pasukan menuju ke kemah Jenderal Zion. Suara sangkakala yang paduka dengar tadi  adalah kode bahwa pasuka harus berkumpul di kemah utama. Tidak ada yang tahu kalau Paduka Furansu datang ke perkemahan kami. Tuan Durape dan saya tahu mengenai kedatangan paduka karena ada kurir yang dikirim Jenderal Zion ke kami, sesaat sebelum sangkakala itu terdengar.” Jawab Robiru.

 

“Siapa pasukan yang berpakaian serba hitam itu?” Tanya Kreya. “Belum bisa dipastikan putri Kreya. Namun jika saya melihat cara mereka berperang tampaknya mereka pasukan pembunuh Zabiják. Mereka handal dalam menggunakan pisau kecil dan dapat bergerak dengan cepat.” Jawab Robiru. “Zabiják! Tidak mungkin. Musuh tidak pernah memakai Zabiják di negeri Gajah ini. Mereka musuh abadi kaum bebas di medan Biru bersama para Naga dan Slon. Musuh tidak akan begitu ceroboh memindahkan  pasukan utama mereka di medan Biru ke medan Gajah ini.” Kata paduka Furansu. “Maafkan kelancangan hamba, Paduka. Tapi beberapa minggu ini pasukan musuh dari medan Biru tampak berkeliaran di medan perang kami. Tiga hari lalu, beberapa pasukan kurcaci Tuan Samule pulang dengan luka parah karena tidak bisa berbuat banyak melawan tiga Slon yang tiba-tiba muncul dari arah kamp musuh. Mereka melaporkan bahwa kapak mereka tidak bisa berbuat banyak melawan kulit Slon, bahkan gading Slon menerjang dan merusakkan pasukan mereka. Dua minggu ini banyak hal diluar kendali kami. Saya pikir Jenderal Zion sudah melaporkan pada Paduka Furansu.” Lanjut Robiru. “Tidak! Tidak pernah! Ini aneh. Tiga Slon di medan Gajah? Musuh pasti sedang merencanakan sesuatu.” Kata Paduka. “Tok tok tok” suara ketukan pintu mengalihkan perhatian keempat orang itu. “Keadaan sudah aman Paduka Furansu. Maaf atas ketidaknyamanan Paduka.” Laki-laki dengan dua pedang di tangan kiri dan satu pedang di tangan kanannya melangkah masuk menuju mereka. “Tuan Durape. Senang melihat kau kembali.” Kata Kreya. “Apa yang sebenarnya terjadi Jenderal?” Tanya Paduka dengan tidak sabar. “Jenderal Zion benar-benar telah mati, Paduka. Begitu mendengar kabar itu semua pasukan kami menjadi panik dan menuju kemah utama. Dengan penjagaan yang lebih lenggang beberapa lusin pasukan Zabiják berhasil membunuh penjaga di gerbang Barat, menara Tuan Samule,    dan masuk ke perkemahan. Untungnya Tuan Samule dan pasukan kurcacinya berhasil menahan sebagian besar pasukan Hitam ini. Pasukan yang menyerang Paduka tadi sebenarnya sebagian kecil yang lolos dari pertahanan Tuan Samule.” Jawab Durape. “Bagaimana dengan Jenderal Zion? Bagaimana kau pastikan dia sudah mati?” Tanya Kreya. Hening meliputi ruangan pengap itu. Tuan Durape akhirnya menjawab “Jenderal Hasnele yang melihat secara langsung badan Jenderal Zion yang sudah tidak bernyawa. Sesuai dengan permintaan Jenderal Zion, Jenderal Hasnele segera membakar tubuh jenderal Zion. Hanya sebuah kotak berisi abu mayat jenderal Zion lah yang bisa dilihat pasukan diiringi bunyi sangkakala yang paduka dengar.” “Tidak mungkin! Aku tidak percaya! Siapa Jenderal Hasnele ini? Mengapa dia begitu bodoh langsung membakar tubuh Jenderal Zion. Aku tidak percaya sebelum melihat mayatnya dengan mata kepalaku sendiri.” Kata paduka Furansu. “Maaf kelancangan kami, Paduka. Tapi jauh-jauh hari sebelum perang ini berlangsung, Jenderal Zion sudah membuat kami bersumpah untuk langsung membakar tubuhnya jika beliau meninggal di medan peperangan. ‘Aku tidak mau badanku di gantung menjadi bahan tertawaan di kemah musuh.’ Katanya suatu ketika pada kamu.” Jawab Durape. “Bodoh! Kalian tetap bodoh! Siapa yang akan menggantung badannya di perkemahan kita sendiri. Kalian sungguh bodoh!” teriak paduka Furansu. “Kreya! Ayo kita segera pergi dari tempat ini. Kamu! Durape! Aku perintahkan memegang kendali pasukan Medan Timur sementara. Aku akan bertemu dengan Jenderal Bruno dan Jenderal Le Piro Can untuk membicarakan masa depan pasukan kalian. Robiru! Segera teliti siapa yang membunuh Jenderal Zion dan susun laporan lengkap apa yang sebenarnya terjadi satu jam terakhir ini. Satu lagi. Selidiki mengapa pasukan Zabiják dan Clon bisa sampai ke medan Gajah. Aku akan kembali kesini besok pagi.” Kata paduka Furansu “Siap, Paduka!” Sambil menundukkan kepala kedua pria itu menjawab serentak. “Aku masih tidak percaya Jenderal Zion bisa mati. Kreya kita pergi sekarang. Aku ingin menuju kemah si pembuat cerita.” “Baik Yang Mulia”

(bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s