Balada Air Putih

Bagian pertama

-waktu kini-

Akhirnya aku sampai di rumahnya, Jalan Belimbing Permai No 6. Rumahnya kelihatan cukup besar dari luar dengan pintu gerbang dari kayu. Aku ketuk pintu tersebut. Tak berapa lama seorang dengan perawakan kurus dan botak membukakan pintu itu.

“Mau bertemu dengan siapa?”

“Err… Benar ini rumah Kakek Tua?”

“Benar. Apakah sudah ada janji?”

“Err… belum…”

“Boleh tau nama saudara?”

“Err.. Zion.. Zion Lukius”

“Oke. Saudara boleh tunggu sebentar, aku akan panggilkan Bapak.”

“Terima kasih”

Sekitar sepuluh menit aku menunggu di depan pintu gerbang kayu itu. Sambil menunggu, aku mulai berpikir apa yang harus aku katakana jika bertemu dengan orang ini. Hmm.. apa dia suka basa-basi yah? Atau mungkin aku harus strict-to-the-point saja. Belum sampai pada sebuah keputusan, pintu gerbang itu dibuka lagi. Orang sama yang membuka sebelumnya keluar dengan muka tanpa ekspresi.

“Silahkan masuk. Bapak menunggu di halaman samping rumah.”

Gila! Akhirnya aku akan bertemu dengan orang ini juga. Si penjaga botak berjalan di depanku dan kami melewati beberapa ruangan. Tampaknya si pemilik rumah ini sangat suka seni. Vas-vas Cina bertebaran di ruangan-ruangan yang aku lewati. Walaupun tampak tak serasi dengan pigura berisi kaligrafi tulisan Arab yang dipasang di dinding-dinding. Si penjaga botak ini terus menuntunku arah langkahku hingga aku sampai di sebuah halaman ,halaman samping rumah yang dimaksud mungkin.

Di situ ada banyak tanaman bonsai, ditata sedemikian rupa hingga cukup takjub untuk dilihat. Di tengah halaman itu ada meja bundar dengan empat kursi bundar di sekelilingnya , satu sudah terisi. Seorang dengan memakai baju berwarna emas duduk membelakangiku. Dari belakang rambut berwarna putihnya tampak mencolok, kontras dengan badannya yang masih tegap.

“Silahkan duduk disana. Itu Bapak Kakek Tua”

Aku berjalan pelan menuju kursi bundar itu. Bingung. Akhirnya bertemu dengan orang yang selama ini aku cari dan seketika merasa bingung apa yang harus aku katakan. Belum sempat mengatakan satu patah kata pun, orang ini tersenyum melihatku dan berdiri.

“Orang disini menyebutku Kakek Tua. Silahkan duduk”

Aku menjabat tangannya.

“Err.. Zion. Zion Lukius. Terimakasih sudah mau bertemu dengan aku.”

“Ahahahah. Tidak masalah nak. Waktuku banyak, terkadang berjalan sangat lambat juga. Ada yang bisa aku bantu,nak?”

“Err.. Aku bingung dari mana mulainya. Tapi bisa aku katakan kalau aku peminum air putih juga.”

“Ahahhahaha. Sudah aku duga, nak. Tidak mungkin badanmu yang setegap itu bisa didapatkan tanpa meminum air putih dengan teratur. Lalu apa masalahmu?”

“Tapi..err..aku sudah tidak minum lagi.”

“Walah2. Kenapa nak? Koq tidak minum. Nanti kamu sakit lo. Sini aku bilang ke Petra untuk menyediakannya untukmu.”

Kakek Tua membunyikan lonceng yang sedari tadi ada di meja bundar. Setelah beberapa menit yang canggung buat aku –kami hanya duduk tanpa berbicara-, penjaga botak itu kembali datang.

“Tolong ambilkan air, Petra.”

“Segera, Pak”

Nama penjaga botak itu Petra  ternyata. Setelah Petra pergi, kembali  menit-menit canggung datang. Aku bingung ingin mulai pembicaraan apa. Menyadari kebingunganku, Kakek Tua mengambil inisiatif.

“Sejak kapan mulai berhenti minum?”

“Tidak lama.”

“Ada masalah dengan airnya?”

“Err..Tidak juga.”

“Lalu?”

“Err..ada sedikit masalah mungkin.”

“sedikit?”

“Err.. Iya.”

Petra kembali muncul dihadapan kami. Dengan dua cangkir kosong berwarna biru dan satu teko besar berwarna biru dengan banyak ukiran tulisan asing disekelilingnya.

“Terima kasih, Petra.”

Petra meninggalkan kami berdua sendiri lagi. Kakek tua mengangkat teko dan menuangkan air ke dua cangkir kosong. Air mulai keluar dan memenuhi dua cangkir tersebut. Air yang sama yang selama ini aku minum.

“Silahkan.” Kata Kakek tua sambil mendorong cangkir berisi penuh air itu ke arahku.

“err.. tidak dulu mungkin.”

“hmm.. ada apa? Kenapa tidak mau minum? Tidak haus yah?”

“Err. Tidak juga. Tapi…”

“Kenapa? Mau bercerita?”

2 thoughts on “Balada Air Putih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s