Balada Air Putih (Bagian kedua)


-6 tahun yang lalu-

Benar apa kata orang, Dungdung memang kota unik. Begitu sampai stasiun udara dingin aku rasakan. Stasiun pertama yang bersuhu dingin di waktu siang yang aku pernah singgahi. Sepuluh jam perjalanan aku lewati, naik kereta dengan tiket eksekutif. Sampai di stasiun aku bingung hendak keluar lewat mana –pintu utara atau pintu selatan. Aku ikuti saja ke arah mana kebanyakan orang pergi. Sampai di pintu keluar, aku mulai dikerubuti orang-orang asing. Mulai dari ojek, supir taksi resmi, hingga supir taksi plat hitam.

“Tidak, tidak.”

Aku mencari tempat kosong untuk segera menelepon penjemputku. Namanya Singa. Iya. Sama seperti nama mamalia keluarga kucing  besar itu. Aku langsung bayangkan dia pasti mempunyai rambut gondrong –persis seperti singa-. Nomor handphonenya 0818511794. Cukup unik karena bisa dibaca 0818SINGA. Kreatif.

“Err..Dengan kak Singa? Aku sudah tiba di stasiun Dungdung.”

“Iya. Zion yah? Aku sudah di pintu utara nih. Pakai baju biru. Kamu dimana?”

“Wah. Aku juga di pintu utara. Kakak ada di bagian mananya?”

“Di sebelah kiri kamu. Hey hey!”

Sambil melambai-lambaikan tangannya, kak Singa memanggilku.

“Hi. Kenalkan namaku Singa. Singa Markius”

Ia menjabat tanganku erat-erat sambil tersenyum lebar. Ternyata rambutnya tidak gondrong. Malah terlalu pendek untuk ukurang orang yang bernama ‘singa’. Badannya tinggi besar, sedikit lebih tinggi  dan sangat lebih besar dariku, dengan kulit berwarna putih, ciri khas etnis Tiong-Hoa.

“Hi. Zion. Zion Lukius”

“Wah pasti capek. Sudah makan belum? Ada tempat enak disekitar stasiun ini. Mau kesana dulu ga? O ya ini kenalkan. Putri. Putri Sihombing.”

Ternyata di belakang Singa ada seorang cewek. Badannya mungil dan memakai tas slempang warna biru khas mahasiswa. Mungkin sangking mungil  badannya sampai aku tidak menyadarinya.

“Zion. Zion Lukius”

“Putri. Putri Sihombing”

Sambil tersenyum, cewek ini menjabat tanganku –erat-erat juga-.

“Ayo kita segera keluar. Si Zion pasti udah kelaparan. Iya kan? Ahahhaha”

Kami berjalan keluar stasiun. Singa berinisiatif membawakan sebagian barangku. Percakapan mulai lebih akrab. Dalam empat menit aku sudah tahu kalau Singa adalah anak bungsu, dulu kuliah di Institut Dungdung Barat (IDB) angkatan 2004, makanan kesukaannya kerak telor Betawi,  dan tontonan kesukaannya Kamen Rider. Sedangkan Putri, ia anak tengah dari keturunan Batak, kuliah di IDB juga di jurusan Fisika Kuantum, sekarang masih belajar di tingkat tiga, makanan kesukaannya tahu telor, dan tokoh favoritnya Pramoedya Ananta Toer.Ternyata mereka cukup asyik orangnya. Terutama Singa. Ia sangat ekspresif dan guyonannya termasuk kelas tinggi -menurutku.

Beberapa menit berlalu kami sampai di sebuah rumah makan dekat stasiun. Tertulis di plangnya “Ayam Goreng Mbok Darmo –aseli dari kampung Klaten-“. Kami mencari tempat duduk dan segera memesan makanan.

“Ayam Goreng Kampung khas Mbok Darmo satu. Nasi putih satu.”

Singalah orang yang paling pertama memesan.

“Ayam Bakar Kampung khas Mbok Darmo satu. Tanpa nasi putih”

Putri menyusul.

“hmm.. Ayam Goreng saja. Yang bukan khas Mbok Darmo. Nasi putih satu”

 

Sambil menunggu makanan datang kami mulai bercakap-cakap lagi. Tidak butuh waktu lama sampai aku nyaman berbicara dengan mereka. Kami perbincangkan banyak hal, mulai dari kurs rupiah yang terjun bebas hingga Kamen Rider terbaru. Tak berapa lama, makanan sudah diantar di depan kami. Satu  ayam goreng khas Mbok Darmo, satu ayam bakar khas Mbok Darmo, dan satu ayam goreng bukan khas Mbok Darmo. Piring-piring berisi nasi dan lalapan serta cangkir-cangkir kosong juga dihamparkan di meja depan kami.

Kami mulai mengambil botol air minum dari tas masing-masing. Satu hal yang aku tunggu-tunggu. Penasaran ingin lihat botol air mereka. Botol air minum Singa berwarna biru, dengan corak kartun disekelilingnya. Ukurannya agak besar dan bunyi “Klik” keras terdengar ketika Singa berusaha membuka tutup botolnya. Milik Putri berbeda lagi, warna dasar botolnya biru muda dengan corak batik di seluruh penampangnya. Ukuran sedang dan hampir tidak terdengar bunyi ketika Ia membuka tutup botolnya.

Aku ambil juga botol air minum dari tas ranselku. Kami semuapun mulai menuangkan air ke cangkir kami. Aku sengaja menuangkan air secara pelan-pelan, agar bisa melihat air yang mereka bawa. Rasa lega campur bingung langsung melingkupiku. Haah. Aku menarik nafas.

Air putih. Ya mereka membawa air yang sama. Air putih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s