Rendang (Hitam)

taken from Warung Cerita Fulbright blog.

Ada satu hal yang saya belajar banyak selama belajar di Seattle, yaitu memasak. Selama kuliah dan bekerja di Bandung saya tidak pernah memasak lebih jauh dari mie instan. Tentu saja karena harga makanan di restaurant dan harga makanan ketika memasak sendiri tidak jauh berbeda. Berbeda halnya dengan Amerika, hampir semua orang disini dapat dipastikan akan memasak. Dengan berbagai macam alasan tentunya, tapi bagi saya yang notabene poor grad student ini, memasak jelas jauh lebih murah dibandingkan dengan selalu makan di luar. Alasan lain, dengan memasak kita bisa mencoba untuk membuat masakan-masakan Indonesia yang sudah kita idam-idamkan.

Suatu ketika saya –dengan begitu percaya dirinya- mengajak keempat teman saya yang sudah lumayan dekat untuk main ke tempat tinggal saya. Dengan sesumbar bahwa saya akan memasakkan mereka makanan Indonesia. Undangan pun dikirimkan ke empat orang ini.

“Calling to be Guinea Pigs”

Please come to my place on this Saturday. I will cook some Indonesian Food. All of you will be the first people who I cook for so make sure that you are healthy enough to taste my food. No guarantee for the effect of the foods.

Dengan cantiknya mereka semua menyanggupi untuk datang dan makan siang ke tempat saya. But tentu saja saya mulai grogi bin bingung bin kalap karena saya belum pernah memasak untuk empat orang. Segera saya ke asian grocery terdekat untuk membeli amunisi dan logistic. Empat menu yang ada di benak saya : Rendang sapi, Mapo Tahu, Ayam Nanking (semacam campuran ayam dan udang cincang dibalur tepung plus saus asam manis), dan Salad sederhana. Tiga menu yang pertama sering saya makan ketika saya tinggal di bandung ( I miss that time! Tinggal telepon delivery number dan sekotak makanan  akan diantar dalam 30 menit ,siap untuk dimakan. Hehe).

Hari Jumat malamnya saya sudah mulai memasak rendangnya atas dasar saran saudara saya, rendang bisa dihangatkan berulang-ulang, dan rasanya akan semakin enak. Sehingga saya pikir, saya akan mulai memasak Jumat malam dan Sabtu siang sebelum teman-teman saya datang, saya tinggal rebus rendang bersama kuah santannya sekali lagi.

Hari Sabtu pun tiba. Dengan kikuknya saya mulai menyiapkan semua makanan. Dapur sudah berantakan, mirip kapal pecah. However, Yeaay! I could finish making all of the dishes. Rendang sapi, ayam Nanking, dan mapo tahunya. Tak lupa saya juga buat nasi seember besar untuk mencukupi hasrat makan orang-orang amerika yang agak anomali itu.

I just need finishing touch buat menata semua makanan di meja dan berharap semua baik-baik saja. Tapi saya mulai ragu ketika saya mulai memindahkan rendang dari panci ke piring lauk. Warna rendangnya super gelap. Mungkin saya tidak sadar sebelumnya karena sisi dalam panci berwarna hitam juga. Dengan panik saya pun mencoba makanan yang seharusnya menjadi jagoan makan siang kali itu, dan ternyata rasanya tidak berbeda jauh dengan tampilannya – keasinan! Akakkaka.

Sudah tidak ada waktu untuk me-recovery makanan itu. Toh, kalau ada waktupun saya tidak tahu juga bagaimana me-recovery-nya. Saya pun pasrah dan teman-teman saya mulai berdatangan satu per satu.

Untungnya belum pernah ada satupun yang pernah makan makanan Indonesia sebelumnya. Jadi pasti tidak ada satupun yang tahu kalau rendang Indonesia seharusnya berwarna coklat kekuningan bukan hitam. Akakakkaka.

Kita pun mulai makan bersama. Sambil terus deg-degan. Apalagi ketika ada satu teman yang bertanya.

“What is that black things?”

Akakakak. Warna hitamnya begitu ketara, hingga dibilang “black things”. :p

Untungnya mereka makan semua makanan dengan lahap, bahkan tidak sedikit yang makan untuk ronde kedua. Semua makanan hampir habis dan cuman saya sendiri yang tidak mau menyentuh black things itu. Akakakka.

Feast ditutup dengan teh kotak yang semua orang ternyata langsung tergila-gila dengannya. Cheers for Indonesian food!!! Cheers for Rendang!! Cheers for Jasmine Tea that tastes like heaven!!!

*Bersama ini saya juga meminta maaf dengan setulus-tulusnya untuk pencipta Rendang Indonesia. Dengan kealpaan saya, saya sudah mengubah image Rendang Indonesia yang tersohor itu dengan image “black things”. :p

At the end one of my friends said ” I just decided to love Indonesian food”. Akakak. Padahal dia cuman ngerasain rendang hitam (gagal) KW1. eheheh. memang Indonesian food is the best. Cheers!

-Yoel-

11/19/11

4 thoughts on “Rendang (Hitam)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s