Nama.

“What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet.” – william shakespeare

Nama lengkap gw Yoel Krisnanda Sumitro. Yoel as first name, Krisnanda as Middle name, dan Sumitro a last name. Selama di Indonesia, biasanya saya hanya menulis first dan middle name saya alias Yoel Krisnanda. Namun setelah di US, ternyata last name “lebih laku” ketimbang middle name. Otomatis saya harus memakai nama akhir itu hampir di semua kesempatan seperti kegiatan akademis, registrasi bank, perkenalan, dll.

Uniknya, menyandang nama “Yoel Sumitro” di US cukup mengundang ‘sedikit’ masalah. Walaupun nama saya tidak begitu susahnya untuk dilafalkan seperti “Yunzia Zhong” atau “Vibinshanha Vibuti Salgaonkar”, tetap nama-Indonesia ini mempunyai ceritanya sendiri.

Yang pertama tentang nama pertama saya : Yoel. Nama itu biasa dilafalkan sebagai “Yo-el” oleh teman-teman saya di Indonesia. Tetapi jika dilafalkan dengan tata-bahasa Inggris, “Yoel” harusnya dilafalkan sebagai “Yol”. Dalam perkenalan sangat umum untuk bertukar nama. Dan ketika saya mengucapkan nama saya sebagai “Yo-el”, biasanya orang bingung karena lafal seperti itu asing di telinga dan tidak umum ditemukan disini. Biasanya saya akal-in dengan mencari padanan kata yang mirip dengan “Yo-el” yaitu “Noel” – yang sudah umum dilafalkan sebagai “No-el” bukan “Nol”-. Cukup berguna karena orang jadi langsung bisa mengingat bagaimana nama saya seharusnya dilafalkan (sesuai dengan kebiasaan saya di Indo).

Nama terakhir saya membawa cerita epik lainnya. Sebelum ke US, saya tidak pernah sadar kalau nama akhir sangat penting bagi seseorang dan sering dipakai di beberapa kesempatan. Paling sering tentunya untuk kegiatan-kegiatan formal yang membutuhkan data lengkap saya. Tapi dalam hal sehari-hari, tidak jarang ada saja teman yang menanyakan nama akhir saya. Menjadi epik, karena nama akhir saya adalah “Sumitro”, nama yang sangat Indonesia. Konon ayah saya mengambil nama ini dari Prof. Sumitro Djojohadikusumo, seorang begawan ekonomi yang menjadi menteri di masa orde lama dan orde baru. Nah, sangat jelas kalau nama ini akan sangat asing di telinga oran-orang US. Ketika saya ditanyakan nama akhir saya, jarang saya melafalkannya. Saya lebih suka mengejanya, sehingga saya tidak perlu mengucapkannya berulang kali.

Dua nama itu walau terlihat renik, tapi terkadang membawa banyak kejadiaan unik. Walau sebagian sudah menjadi makanan sehari-hari, sehingga sudah tidak unik lagi  buat saya. Haha. Berikut sebagian adegan yang biasa terjadi antara saya dan Cincah-cincah Laurah yang belum pernah melafalkan kata “Sumitro” seumur hidupnya.

Keping 1 – 2 aktor saling memperkenalkan diri

X : “What’s your name?”
Me : “Yo-el”
X : “What? Can you spell it?” – (nb :  lafal “Yo-el” memang cukup asing. Versi Inggris dari Yoel which is “Joel” juga seharusnya dilafalkan sebagai “Jol”
Me : “Why o ee el”
X : “O you meant ‘Yol’ “ – (nama gw mau diubah2 seenak udelnya. :p)
Me : “No. It is ‘Yo-el’ like ‘No-el”
X : “I see. What a weird name. Haha” – (eh? Maksudnya? haha)

Keping 2 : 3 aktor, temen gw ngenalin gw ke temennya yang lain

X : “So, this is ‘Yo-el’. He is from Indonesia”
Y : “What? ‘Yo-el’ ?”
X : “Yes. Haha. ‘Yo-el’ like ‘No-el’ “
Y : “Haha. Gotcha. ‘Yoel’ like ‘No-el’. And everyone sing…”
X, Y : “Yoooo-ellll, Yooooo-eelll…..” – (nyanyi lagu Yoel dengan irama lagu ‘Noel’)
Me : *ketawa nyinyir*

Keping 2b : 4 aktor, temen gw ngenalin gw ke temennya yang lain

X : “So, this is ‘Yol’. He is from Indonesia”
Y : “What? I thought you want your name to be pronounced as ‘Yo-el’ ?”
Me : “Haha. Whatever”

Z : “Eh?’ *jadi males kenalan ama orang aneh bernama ganda.

Keping 3 : di kelas, dosen lagi sebutin nama satu-satu untuk kenalan,

*dosen baca daftar nama*

*dosen sampai ke nama gw, dan berhenti selama beberapa detik . tanda dia lagi menemukan nama aneh which is should be my name or the-other-weird-Indi*an-or-Chin*se-names. *

Dosen : “Hmm. Is it ‘Yol’?”
Me : “No, It is ‘Yo-el’ “
Dosen : “Okay. ‘Yo-el’. ‘Yo-el’ ‘Syu-mi-to?”
Me : “haha. Yes. ‘Yo-el Su-mi-tro’ “ *udah-males-koreksi. Terserah dia lah gimana sebutin nama akhirnya.
.
Keping 4 : di kelas, dosen *lain* lagi sebutin nama satu-satu untuk kenalan,
.
Dosen : “Hmm. Is it ‘Yol’ or ‘Yo-el’?” – (lumayan pinter dosennya, bisa sebutin alternatifnya. Haha)
Me : “It is up to you.” – (akhir2 ini udah males jelasin, terserah deh mau dipanggil Yol atau Yo-el)
Dosen : “It is up to me?” *satu-kelas-ngakak*

Keping 5 : di coffee shop.

Biasanya kalau kita pesan sesuatu, ditanyain namanya. Nama kita ditulis dicup coffeenya dan akan dipanggil dari counter pelayannya kalau sudah jadi dibuat. Awal-awal gw suka *ngeyel* sebutin nama gw as ‘Yo-el’ tapi biasanya kuping mereka ga langsung tau. Jadinya either, harus dijelasin berulang kali (It is ‘Yo-el’ like ‘No-el’), atau nama gw berubah bin ajaib jadi “Bell”, “Kell”, “Mell”, atau bahkan “Andy” – ga paham.

Karena capek, akhirnya saya memutuskan untuk memakai nama “Jo” setiap kali memesan sesuatu. Dengan premis ngapain susah2 ngeyel pengen dipanggil sesuai nama gw cuman buat se-cup chocolate milk.”

X : “So what is your name?”
Me : “Jo”
X : “Okay, Jo. We will call you when it is ready”
*gw cari tmpt duduk buat nunggu*
Y : “Jo! Jo! Jo!”
*setelah selang beberapa menit gw tetep duduk manis
Y : “Jo! Hot Chocolate for Jo! JOOO!!!”
*gw suka lupa kalau ngaku-ngaku as Jo. Ga sadar kalau dipanggilin dari tadi. Hahaha”

.
Keping 6 – di registrasi bank/ telepon/ internet, dll.

.
X : “Last name?”
Me : “Sumitro”
X : “Whaaat?”
Me : “Suuu-miii-trooo”
X : “Pardon. Sorry”
Me : “Es yu em ai ti ar o” *menyerah gwnya*

Keping 7 – percakapan ama orang yang udah mulai deket, jadi biasanya mulai tuker nomer HP which is akhirnya minta nama akhir

X : “And. What is your last name?”
Y : “Es yu em ai ti ar o” – (belajar dari pengalaman, ga usah gaya2 dilafalin. Haha)

.

Keping 8 – Bule ngeyel

.

X : “Is it ‘Syuuumitloooo’? “
Me : “haha. You can do that.”
X : “No, what is the correct one?”
Me : “Su-mi-tro”
X : “Syuuuumaaaiiitroooo?” – (ampun deh. Susah ngadepin bule ngeyel. Masa gw dibilang shiomay .)

Pelajaran penting

Next time kalau mau kasih nama anak harus hati-hati. Terutama jika anaknya nanti ter-eskpose dengan dunia Internasional (cieilaah). Last name jangan susah-susah and nama indonesia dijadikan nama tengah saja (ga nasionalis donk? :p).

nb : Paling kasihan kalau namanya “Budiman” atau “Herman” (“Whaaat? But* man?”) ahahhaha

2 thoughts on “Nama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s