The Tree of Life and Book of Job

 Do I still question my God after watching this movie?

Kali ini gw mau nulis tentang sebuah film yang judulnya “The Tree of Life” (2011). I am not an experienced movie critic so I will just tell you what I think about this movie. Film ini diibuat oleh sutradara ekstentrik bernama Terrence Malick dan dibintangi Brad Pitt dan Sean Penn, walaupun Sean Penn hanya mengucapkan beberapa patah kata dalam film ini. Secara umum, film ini cukup berhasil untuk membuat gw terus berpikir selama melihat film ini dan overall cukup bisa menikmati. Walaupun persentase terbesar penyebab saya bisa bertahan untuk menonton film ini adalah karena curiosity ingin tau apa yang berusaha dikatakan oleh sang sutradara. DI beberapa fase, saya sempat bosan karena memang film ini bukan film mainstream yang mengacak-acak emosi atau adrenalin ketika penonton melihatnya. Tanggapan temen2 gw yang nonton bareng juga cukup beragam, ada yang super bosen  (“That movie is not my type. I fell asleep several times”) ada juga yang super excited (“This is the best movie in 2011. Why it doesn’t win Oscar?”). Di dunia film, Januari 2012 film ini dinominasiin di tiga kategori Piala Oscar (best picture, best director, dan best directory) walau akhirnya tidak meraih pulang satupun piala. Di sisi lain, The Tree of Life memenangkan Palme D’Or (film terbaik) di Cannes Festival, semakin meneguhkan kalau film ini memang bukan film mainstream (mengingat film2 lain yang memenangkan Palme D’Or di Cannes Festival di tahun-tahun sebelumnya).

Sinopsis

Film ini berpusat di tiga karakter utama, seorang ayah (Brad Pitt) yang bekerja di sebuah pabrik, istrinya (Jessica Chastain), dan Jack, anak sulung dari kedua orang tua tadi. Walaupun Jack juga mempunyai dua orang adik laki-laki lainnya. Durasi film ini cukup lama yaitu lebih dari dua jam dan yang unik, Ia mempunyai alur waktu yang sangat tidak linear. Kalau menurut gw, ada tiga masa yang berbeda di film ini: masa sekarang (abad 21) dimana Jack sudah dewasa (dibintangi oleh Sean Penn), masa ketika Jack masih umur belasan tahun (dengan setting Amerika tahun 1950an), dan masa ‘acak’. Gw bilang ‘acak’ karena, sang sutradara memasukkan banyak montage tentang pembentukan awal dunia, gejala-gejala alam, hingga interpretasi dia akan masa afterlife.

Film ini diawali dengan menampilkan kutipan dari Book of Job (Ayub) pasal 48 ayat 4 dan 7. “Di manakah engkau, ketika Aku meletakkan dasar bumi? Pada waktu bintang-bintang fajar bersorak-sorak bersama-sama”. Lalu adegan berganti ke tahun 1950an, dimana sang Ibu dan sang Ayah (Brad Pitt) mendengar berita kematian anaknya, dan bagaimana mereka hancur dalam kesedihan. Gw dibikin mulai berpikir ketika adegan langsung berpindah lagi ke masa sekarang, menunjukkan Jack dewasa, anak dari Brad Pitt (Sean Penn) sedang bekerja dan bagaimana Ia terlibat sedikit konflik dengan ayahnya. Dari percakapannya , gw bisa tau kalau mereka sedang membicarakan tentang kematian adiknya, dan sedikit aura bitterness di dalam diri Jack kepada ayahnya.

Kemudian, gw disuguhi sekitar 20 menit video tentang gejala2 alam. Galaksi, bumi, langit, pembentukan dunia mulai dari sel mikroba terkecil, ikan, hingga dinosaurus. Suara-suara berbisik terkadang menyelip di video-video ini, sebagian besar pertanyaan-pertanyaan retorik yang mempertanyakan eksistensi Tuhan. Soundtrack selama fase ini cukup klasik, walaupun gw kurang bisa menangkap liriknya tapi gw tau salah satu liriknya said about “Lacrimosa”, lagu untuk pemakamam yang biasa digunakan umat Katolik (Requiem). Gw cukup menikmati part ini, eventhough montage yang ditampilkan sebenernya tidak jauh berbeda ketika kita lihat Animal Planet atau film Earth tapi ada hal yang berbeda aja ketika melihat adegan2 ini dengan background cerita sebelumnya.

Setelah adegan montage, gw disuguhi cerita masa kecil Jack. Cerita tentang hubungannya dengan ayahnya yang melambangkan hukum Nature yang selfish, Ibunya yang melambangkan hukum Grace. Cerita tentang masa-masa pemberontakannya, konflik dengan kedua adiknya, kebingungan, dan kepaitan dengan ayahnya. Setelah mendalami kehidupan Jack kecil, gw dibawa lagi ke masa ‘acak’ dan adegan2 montage itu. Lalu kembali ke adegan Jack dewasa dan masa2 pencerahannya, ketika Ia bertemu kembali dengan keluarganya di (mungkin) masa afterlife. Film diakhiri dengan perdamaian, perdamaian antara tokoh2 utamanya, perdamaian atas diri mereka sendiri, dan perdamaian mereka dengan Sang Pencipta.

Sinopsis yang gw bikin ini super singkat dan sederhana. Film aslinya penuh dengan adegan metafora dan kadang membingungkan (dan creepy). Bahkan ada satu adegan yang sampai sekarang terus terbayang dan gw kurang ngerti artinya. Adegan seorang anak kecil (mungkin Jack balita) yang bermain dengan sepeda di loteng rumah sembari diperhatikan oleh seorang laki-laki super tinggi and creepy (sambil nulis kalimat ini gw jadi merinding and menoleh kebelakang. Hahahha).

Tapi overall gw cukup menikmati. Setelah gw berpikir-pikir kenapa gw bisa sangat (ga sangat juga sih) menikmati film ini, karena mungkin diawal movie ada kutipan kitab Ayub itu, which is one of my favourit book in Bible. Karena kutipan itu ketika gw nonton film ini, I related this movie to Ayub too much.

 Looking this book through Book of Job’s lens

Kitab Ayub menceritakan seorang yang takut akan Tuhan yang bernama Ayub, Ia melakukan segala sesuatu yang baik di mata Tuhan. Di adegan lain kitab ini, ada percakapan antara si pembohong dan Tuhan, dimana akhirnya Tuhan mengijinkan si raja pendusta untuk memberi celaka pada sang Ayub asal tak mencabut nyawanya untuk menguji iman Ayub. Celaka mulai datang satu persatu ke diri Ayub, mulai dari kekayaannya musnah, anak-anaknya mati, hingga kusta yang merajahi tubuhnya. Walau menderita sedemikian rupa, awalnya Ayub tak bergeming imannya akan Tuhan. Ketika istrinya berkata “Masihkah engaku mau berbuat baik? Kutuki saja Tuhanmu dan matilah”, Ayub menjawab “Engkau berbicara seperti perempuan gila. Masa kita bisa menerima yang baik dari Tuhan tapi tidak yang buruk dariNya.”  Selanjutnya kitab ini bercerita tentang percakapan empat orang sahabat Ayub dan Ayub, mereka semua sahabat saleh yang menganjurkan Ayub untuk mengaku dosanya dan bertobat agar celaka hilang dari pada hidupnya. Bingung, Ayub bersikeras bahwa Ia tidak melakukan apapun yang tercela dimata Tuhan.

Masa Sukar – Dimana Tuhan?

Keteguhan Ayub pun mulai pudar. Berawal dari membela Tuhannya dihadapan istrinya, Ayub mulai melayangkan protesnya dihadapan Tuhan. Ucapan protesnya cukup keras jika tidak mau dikatakan sebagai kutukan atas Tuhannya. “Aku berseru minta tolong kepada-Mu tetapi Engkau tidak menjawab; aku berdiri menanti, tetapi Engkau tidak menghiraukan aku. Engkau menjadi kejam terhadap aku. Engkau memusihi aku dengan kekuatan tangan-Mu” “Hendaklah Yang Mahakuasa menjawab aku!”. Ayub berbicara panjang tentang konsep tabur tuai, meyakinkan kawan2nya bahwa Ia memang telah melakukan segala yang baik dihadapan Tuhan sembari melayangkan protes mengapa Tuhan tidak adil akan hidupnya.  Ia seakan ingin berkata “Hi Tuhan mengapa engkau sangat tidak adil. Kemari! Jawab semua pertanyaanku. Aku lebih sanggup mengatur dunia dibandingMu. Aku lebih adil. Mengapa engkau timpakan hal yang jahat pada orang yang baik.”. Intinya ia bertanya mengapa Tuhan mengijinkan semua kecelakaan itu terjadi. Ayub sangat manusiawi, Ia sebenarnya mempertanyakan banyak pertanyaan yang sama di benak orang sekarang.  “Mengapa ada perang? Mengapa ada kejahatan? Apa salahku hingga aku diperkosa? Apa salahku hingga aku dilahirkan di keluarga yang miskin?” So on and so forth. Keadaan Ayub ini ditampilkan di movie ini dalam beberapa pemain film ini. Sang Ibu sangat terluka akan kematian anaknya, Ia terus berseru “Mengapa Tuhan mengambil anakku? Mengapa?”. Sang Ayah merasakan kegagalan yang sangat ketika Ia diberhentikan dari pekerjaannya “Aku telah mengorbankan passionku untuk menjadi musisi, demi menjadi seorang insinyur yang sukses dan kaya”. Di diri Jack yang terus mempertanyakan mengapa ia dilahirkan dengan seorang Ayah yang sangat keras padanya “Why you (ke ayahnya) were born?”. Di dalam bitterness yang terjadi diantara Jack dan ayahnya, dan juga Jack dan kedua adiknya.

Tuhan menjawab?

Setelah mendengar ucapan (kutukan) Ayub, Tuhan pun berbicara pada Ayub dari dalam badai. Dalam lima pasal penuh, Tuhan berbicara dengan Ayub. Dimulai dengan menunjukkan gegar kebesaranNya “Bersiaplah engkau sebagai laki-laki! Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku”. Anehnya (menurut gw), Tuhan tidak menjawab satupun ‘pertanyaan mengapa’ dari Ayub. Sebaliknya Ia justru menanyai Ayub. Ia menanyai Ayub sembari memperlihatkan kebesaranNya. Ia bertanya pada Ayub “Dimanakah engkau, ketika Aku meletakkan dasar Bumi?”. Ia terus bertanya sembari membicarakan detil ciptaanya. Mulai dari hutan, salju, bebatuan, singa, lembu, cahaya, kegelapan, samudera, kuda, tumbuhan, hingga dinosaurus. Tuhan tidak menjawab pertanyaan Ayub sama sekali, dan terus menanyai Ayub “Siapakah kau yang berani mempertanyakan kebesaranKu?”.  Ayubpun bergeming  “Sesungguhnya aku ini terlalu hina; jawab apakah yang dapat kuberikan pada-Mu?”. Di titik ini Tuhan tidak berhenti, Ia terus menanyai Ayub dengan bercerita tentang ciptaannya Behemoth dan Leviathan yang diterjemahkan sebagai Kuda Nil dan Buaya di dalam Alkitab Bahasa Indonesia.

Bagian lima pasal di kitab Ayub ini seakan difilmkan dalam film The Tree of Life ini melalui montage2 penciptaan dunia. Video-video tentang galaksi bima sakti, percikan api gunung berapi, dan belasan montage tentang (kebesaran) alam lainnya ditampilkan di bagian awal dan (agak) akhir di film ini. Sekali lagi karena, kutipan Ayub di awal film ini, ketika gw nonton bagian montage2 ini, gw langsung resonate dengan lima pasal di kitab Ayub ini. I just felt that God spoke to me directly like He spoke to Job. He didn’t answer my ‘why questions’ but menantang gw (“Dimana lu ketika gw ciptain semua ini? Dimana lu ketika gw buat galaksi? Dimana lu ketika gw buat satu sel membelah jadi dua sel? Berapa persen kebanggaan lu akan tugas2 paper yang lu submit ke dosen lu jika dibandingkan dengan semua hal BESAR yang gw buat ini?”). Jatuh. Semua pride gw. Gw yang suka questioning my God.

Rekonsiliasi

Pada akhirnya setelah dibanting pikirannya oleh Tuhan, Ayub bertobat. Walaupun dalam lima pasal itu, Tuhan tetap tidak menjawab pertanyaan Ayub. Ia tidak memberi tahu sedikitpun tentang adegan percakapan dibelakang layar antara Tuhan dan si raja pendusta, percakapan bahwa Ayub adalah orang saleh yang diuji oleh Tuhan. Bagian ini terus menjadi pertanyaan gw, kenapa Tuhan begitu not fair. He should say the truth behind the scene to Job. Tapi Ayub bukan Yoel dan Yoel ga berjumpa dengan Tuhan (dan ditantang habis2an. Hahahah) seperti Ayub. Gw bayanging di lima pasal itu, mungkin si Ayub bener2 dibawa Tuhan untuk melihat proses penciptaan dunia seperti yang ditulisnya di lima pasal itu –versi asli dari film The Tree of Life :p.

Di pasal terakhir kitab Ayub, Ayub akhirnya menerima sebuah truth: Tuhan terlalu besar, melampaui akal pikiranku. Ayub berdamai dengan Tuhan. Ia berkata “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tudak ada rencana-Mu yang gagal….dan dengan menyesal aku duduk dalam abu dan debu”

Fase rekonsiliasi ini juga dialami ketiga pemain utama film ini. Setelah dipecat dari pekerjaanya, Brad Pitt berkata “For I am foolish man” (senada dengan ucapan Ayub “for I am but dust and ashes”). Brad Pitt juga berdamai dengan anaknya, Ia meminta ampun krn telah bertindak keras dengan anaknya. Di sisi lain, istrinya di akhir film ini, juga mengakui kebesaran Tuhan sembari pulih dari masa berdukanya, Ia berkata “I give him to you. I give my son”. Dan tentu saja, pemain utama di film ini Jack juga berdamai dengan ayahnya dan Tuhannya. Dengan adegan-adegan yang super metaforis, Jack dewasa bertemu lagi dengan adiknya (yang meninggal) dan seluruh keluarganya. Ia mengampuni ayahnya dan mengakhiri film ini dengan sebuah senyuman.

Recommended?

Is this movie recommended? Walau gw mengaitkan film ini dengan Christianity, it doesn’t mean that you need to be a Christian to enjoy this movie. It is just because of my background that made me feeling this way about this movie. I believe that everyone can have their own pilgrimage when they watch this movie. So kalau masih bisa cari DVDnya, I recommend this movie.

Yes.

“There are two ways through life: the way of nature, and the way of grace.  You have to choose which one to follow.” – The Tree of Life

Trailer:

Image source: http://mostlyfilm.com/2011/07/07/the-tree-of-life/; http://sixandsevens.wordpress.com/20; http://www.cinephile-uk.com/2011/06/review-tree-of-life.html12/01/04/the-tree-of-life-2011-terrence-malick/; http://tech.mit.edu/V131/N58/graphics/treeoflife-2.html

One thought on “The Tree of Life and Book of Job

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s