Liyan dan Praxis

“To approach the Other in conversation is to welcome his expression, in which at each instant he overflows the idea a thought would carry away from it” – Emmanuel Levinas

Konsep liyan (“the Other”) sudah dikenal sejak lama. Mungkin dari jamannya Hegel dimana dia bilang “Setiap kesadaran pribadi akan selalu mengejar kematian  (kesadaran) ‘orang lain’ (atau liyan)”. Tapi istilah the other (liyan) sendiri  pertama kali diciptakan oleh Emmanuel Levinas,  seorang ahli filosofi dari Prancis. Menurutnya, liyan ini sifatnya antara unggul ataupun lebih rendah dari “kami”.

Konsep liyan ini bisa digunakan untuk berbagai macam kepentingan. Misalnya untuk kepentingan politik, liyan bisa dijadikan sarana mencari kekuasaan. Dengan mempropragandakan bahwa orang selain rasnya adalah liyan yang rendah harkatnya dan  perlu dikuasai, kaisar Jepang dan Hitler memulai perang Dunia ke-2. Ras bermain penting dalam kasus ini, namun variabel2 lain sepertin agama, jender, social ekonomi status, orientasi seksual, dikotomi mayoritas-minoritas, bahasa, dan pop-culture juga biasa digunakan untuk menjadikan sebuah kelompok sebagai liyan.

Seperti di Indonesia misalkan, baru-baru ini sedang ramai konflik horizontal antar masyarakat. Sadar tidak sadar aktivas othering (peliyanan) jadi marak dilakukan oleh beberapa pihak. Pemicunya cukup komplek: radikalisasi agama, kemiskinan, alpanya penegakan hukum oleh negara, dan kebodohan. Respect, awareness, dan pengertian akan pihak-pihak lain yang berbeda adalah salah satu solusi untuk othering ini. Gw sendiri kadang suka emosi ketika melihat cara berpikir liyan –nya gw (yang kadang bisa dilihat dari sosial media ataupun media2 milik mereka). Kata-kata “bolot” sering sekali terucap di dalam hati. Padahal mungkin gw kurang mengerti mereka. Kurang mengerti bahwa jurang kesenjangan sosial semakin tinggi di Indonesia. Ada orang-orang yang bisa jalan-jalan keliling dunia tiap sebulan sekali, punya tingkat pendidikan tinggi, dan gaji enam digit us dollar dalam setahun. Tapi ada juga preman2 yang kalah bersaing dalam dunia ekonomi, kurang berpandangan luas, dan tertatih untuk menyekolahkan anaknya.

Untuk kaum yang kedua, secara logika akan sangat mudah untuk diprovokasi. Gw tinggal panas2i saja mereka dengan konsep liyan dan bantuan ekonomi. Detik berikutnya gw sudah siap dengan pasukan berani mati.

“Lihat mereka hidup enak dan kaya setiap hari karena mereka sogok sana sogok sini, mereka licik dalam berbisnis, mengambil setiap rupiah dari hak kita, mereka pakai babi ngepet!”

“Mereka akan menjadikan anak cucu kita menjadi kafir dengan membagi2 indomie gratis!”

“Amerika, konspirasi Yahudi, freemason, illuminati, dan  perkumpulan penyembah dewa tapir sedang menyusun rencana untuk menjajah kita secara ekonomi, budaya, dan agama. Lawan!!!”

Ironis tapi nyata..

Tahun lalu gw baca buku berjudul “Pedagogy of the oppressed”. Buku terkenal buatan Paulo Freire, seorang aktivis dan pendidik dari Brazil. Dia bekerja selama bertahun-tahun diantara para petani sewa yang termarginalkan secara pendidikan, ekonomi, dan sosial. Menurut dia satu2nya cara untuk menolong orang2 seperti ini adalah dengan dialog atau dia menyebutkan dengan istilah lebih khusus sebagai “Praxis”. Praxis adalah kesinambungan antara dialog dan aksi. Gampangannya, orang-orang diajak untuk berdialog (berpikir) dan kemudian melakukan aksi (perubahan) sesudahnya. Kesinambungan kegiatan dialog-aksi-dialog-aksi akan menimbulkan sebuah komunitas yang refleksif (senantiasa sadar dan merenung akan setiap tindakan dan pikirannya). Freire juga menyerang habis-habis konsep “banking” atau dimana ada satu pihak yang dominan, yang serba tahu dan menyelematkan kaum termarginalkan ini. Pihak yang dominan dan menyelematkan (savior) ini walau awalnya berpikiran untuk menolong kaum yang tertindas dari para penindas, nantinya mereka sendiri akan menjadi penindas yang berikutnya.

Konsep itu tampak nyata di beberapa organisasi2 yang ada di Indo. Organisasi ini “menyelamatkan” kaum yang tertindas dengan cara memenuhi kebutuhan ekonomi dan mungkin spiritual mereka. Tapi akhirnya kaum yang tertindas ini hanya berpindah dari sarang macan ke sarang buaya. Dari miskin ekonomi mereka menjadi miskin kemampuannya untuk berpikir secara jernih. Menjadi mudah terprovokasi dan anarkis.

Konsep menjadi penolong untuk kaum tertindas tidak pernah disetujui oleh Freire karena aktivitas ini biasanya digunakan hanya untuk kepentingan politik dan kekuasaan. Dan pada kenyataaanya hanya men-dehumanisasi manusia. Kemerdekaan kaum termarginalkan ini mungkin hanya bisa dicapai dengan praxis. Dengan dialog dan aksi yang memanusiawikan mereka (ngewongke). Dan ujung akhirnya gw percaya lewat dialog juga mereka bisa mengenal sang Kuat.

“Freedom is acquired by conquest, not by gift. It must be pursued constantly and responsibly. Freedom is not an ideal located outside of man; nor is it an idea which becomes myth. It is rather the indispensable condition for the quest for human completion” – Paulo Freire

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s