Heuristic-Pengkotbah-Gadungan

Alkisah saya lagi liat link teman Fulbright yang menari tradisional  di acara kampusnya. Cukup menarik dan hebat pikir saya. Congratulation! It was cool! Proud of him. Dia memposting tariannya di youtube. Karena iseng, saya click profilenya di youtube. Dengan tujuan ingin melihat video2 dia lainya di youtube. Mungkin saja ada acara2 lain dimana kebudayaan Indonesia dia perkenalkan.

Tidak ada ternyata. Tetapi ada satu link yang menarik. Di history dia nampak dia berdiskusi di comment panel sebuah video youtube berjudul “kesaksian pendeta Rahmat Hidayat”. Juduknya sangat menarik pikir saya.

Akhirnya saya lihat juga video. Dan benar saja, saya terus tersenyum ketika melihat video itu. Walaupun saya tidak mendengar semua kotbahnya, krn sebagian besar kotbahnya di ucapkan dalam bahasa Sunda.

Berikut adalah video pertama dari tiga seri kotbah “dai” ini.

Video ini tampaknya ditujukan untuk kalangan Islam. Jujur saya tidak terlalu mengenal secara dalam tentang ajaran Islam. Namun karena si pembicara menyatakan bahwa Ia adalah mantan pendeta dan di dalam kotbahnya Ia banyak menyebut kaum “Nasroni”, saya pikir saya mempunyai hak untuk mengomentari video itu.

Saya bisa kategorikan video ini sebagai hate speech. Mengapa? karena di dalam pidato ini si “dai” berusaha menularkan kebencian pada kaum lain (yang biasanya berbeda dengan kaum audience speech-nya).  Tentu saja sulit untuk memberi batasan apakah kotbah dari dai ini bisa disebut hate speech atau tidak. Bagaimana kalau si dai hanya ingin memberi warning buat kaum muslim agar berhati-hati terhadap kaum nasrani/yahudi. Sah2 saja sebenarnya, seperti seorang dai yang mem-warning umatnya akan bahaya narkoba. Hanya saja saya berharap semua orang bisa mempunyai filter yang tinggi akan speech2 model seperti ini.

Yang menjadi concern saya adalah kredibilitas dai2/pengkotbah2 yang suka mengiklankan diri sebagai mantan penganut agama lain. Orang2 ini suka menjual cerita2 yang ga masuk akal tentang agama sebelumya. Audience dari cerita dia, tentu saja tidak terlalu familiar dengan agama/kepercayaan sebelah. Dan si pembicara mempunyai label sebagai mantan seseorang yang tahu banyak ttg agama sebelumnya. Tentu saja akhirnya audience akan percaya denagn apa saja yang diceritakan oleh dai/pastor/pengkotbah2 gadungan ini.

Praktek ini tentu tidak saja jamak ditemukan di satu agama tertentu. Praktek2 pengkotbah gadungan seperti ini saya yakin ada di semua agama. Di Kristen ada juga orang2 yang “mengaku” sebagai mantan pemuka/praktisi garis keras agama lain. Sebut saja pengkotbah2 yang pernah mengaku sebagai mantan paranormal seperti Tony Daud, Eku Hidayat, dan Ki Gendeng Pamungkas. Waktu zaman smp saya suka melihat buku2 “kesaksian” mereka di toko2 buku Kristen.

Nah ada dua hal yang menurut saya harus diuji dari dai/pendeta/pengkotbah yang mengaku sebagai mantan aktivis agama lain. Sebelum dua hal ini teruji saya anggap mereka gadungan. Dan jika mereka gadungan, pengaruhnya untuk masyarakat akan sangat berbahaya. Mengapa? Karena jika mereka gadungan, berarti tujuan mereka hanya untuk either fame, power, or money. Dan yang terakhir yang paling kuat. Nah untuk tujuan itu, hate speech adalah tool yang sangat bagus? Mengapa? Karena semua orang suka trailer! People like stories! Mana yang lebih menarik? Kotbah mengenai bahaya narkoba atau kotbah mengenai gerilya kaum Yahudi yang ingin menjajah kaum Muslim dengan menggunakan social network yang bernama facebook yang dibuat oleh seorang Yahudi bernama Mark Zuckerberg? Oh poin kedua yang lebih menarik tentu.

Apakah kedua hal yang patut diuji dari dai/pendeta/biarawati/pengkotbah yang mengaku sebagai mantan2 ini? Yang pertama adalah kredibilitas dari si pengkotbah2 ini. Dan yang kedua adalah pengetahuan dia akan agama “sebelumnya” yang berusaha dia jual. Kedua poin ini berhubungan, pengetahuan yang meragukan akan agama-sebelumnya tentu meragukan kredibilitas si pengkotbah gadungan ini.

Oke. Bagaimana kalau kita buat studi kasus tentang praktek2 ini. Dengan menggunakan video kotbah dai Rohmat Hidayat Syarifudin, coba saya analisis kredibilitas dan pengetahuan dia. Saya akan mencoba memakai beberapa transcript yang saya tulis dari video kotbah dia.

1. Credibility Check

Let see the following transcript:

“Pendidikan Alkitab saya berasal dari tujuh negara…. Yang pertama saya mengambil STT, Sekolah Tinggi Teologia, di Beijing. Yang kedua di Belanda. Ketiga di Vatikan. Keempat di Jerman. Kelima di Australia. Keenam di Pilisera<ga jelas> . Ketujuh di Korea. Dan selama enam bulan saya dididik di Amerika tepatnya di Boston untuk mengikuti strategi misionaris. Sebulan dari Amerika kembali ke Indonesia bergabung dengan Dewan Gereja Indonesia dengan tugas untuk menghancurkan Islam atau mengkristenkan Indonesia. “

Transkrip diatas adalah paparan si dai tentang siapa dirinya di awal2 kotbah. Apa impresi anda ketika mendengar paparan ini? Menurut saya orang yang cukup peka langsung bisa mencium bau amis dari beberapa kalimat awal ini. Saya pun tersenyum lebar ketika mendengar paparan dia. STT di tujuh negara? hahahhahahah

Oke berikut adalah beberapa poin amis dari dia:

1. Belajar di tujuh negara? Bukannya saya meragukan tapi untuk orang yang pernah mencoba mencari pendidikan di luar negeri, saya tahu bagaimana susahnya untuk menembus satu negara saja. Kalau ini orang sudah bisa selesai sekolah STT di tujuh negara, mungkin harusnya dia udah dipanggil di Kick Andy kali. It is a big thing you know! Sekolah STT dari tujuh negara! Itu kaya gw dapet Master dari TUJUH negara. hahahaha. Ok let assume si dai ini emank either super jenius or super tajir or super connected or super lucky sehingga dia bisa pergi belajar teologia ke tujuh negara ini. Lets go to poin number 2.

2. Negara-negara yang disebut adalah negara2 terkenal. Australia, Korea, Vatikan, Cina, Belanda, Jerman. Isn’t weird?? Negara2 tersebut saya tebak dipilih oleh si dai-gadungan untuk menaikkan kredibilitas dia. Semuanya negara2 maju dan audience pasti cukup familiar. Tapi  sekali lagi ngaco banget pilihannya. Yang pertama dia sekolah di negara2 yang sangat jarang menawarkan pendidikan teologia. Beijing? Are you kidding me. hahaha. Kalau beneran dia sekolah STT disana, syukur banget ga dipotong lidahnya ama PKC. hahaha. Or let assume lagi dia beneran sekolah ke Cina, Korea, Belanda, etc. Untuk sekolah di ketujuh negara itu dia butuh at least mahir di tiga bahasa: Cina, Korea, and Inggris. Karena uni2 di Cina and Korea terkenal dengan jarang menyediakan pendidikan berbahasa Inggris. Oleh karena itu gw sangat ragu, seseorang mau habisin waktu dan tenaganya untuk belajar tiga bahasa yang berbeda hanya untuk sekolah STT yang kesekian kalinya. Hahhaha

3. Si dai ga bisa bedain kristen ama katolik. Ini fatal menurut saya. Dia memilih berbohong dengan mengatakan sekolah STT di Vatikan which is mostly impossible I think. haha. Kalau sekolah jadi biarawan mungkin banget, tapi STT? no way! hahaha. Menunjukkan ini orang ga bisa bedaiin antara Kristen and Katolik. Mungkin dia beranggapan “Wah gw masukkin Vatikan ah di kebohongan gw. Karena terkenal sebagai negara nasrani. Biar keliatan lebih keren.” Which is a blunder for him.

4. Terakhir dan yang paling menggelikan. Hahaha. Let assume again he really learned theology from those 7 countries. He is super genius. He converted his belief from Christian to Chatolic (that was why he went to Vatican). Then he  back again became a Christian (from Vatikan to Jerman). Let assume that he really experienced those wonderful journey.

But….

From how he pronounced “Bos- tooowwwwn”, everyone should just been cracked up because of  him. Hahahhahah.

Ini ada bonus lain.

“Islam yang harus hancur oleh Nasrani dan Yahudi yang pertama adalah Pulau Jawa. Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Kenapa ketiga pulau ini harus menjadi sasaran? Karena ketiga pulau ini adalah basis pesantren.”

Hahahahhaha. Very funny right. Mungkin di salah satu tesisnya di Jerman dia propose a notion to change Jabar, Jateng, and Jatim as an ISLAND!

2. Pengetahuan akan “agama-sebelumnya”

“Karena orang Yahudi dan Nasrani punya dogma tersendiri di Alkitab. Harus cerdik seperti merpati. Licik seperti ular”

“Eli, Eli Lama sabakhtani yang dalam bahasa Ibrani Elohim elohim lama sabakhtani yang artinya”

Cuplikan di atas adalah dua hal tentang agama-sebelumnya yang berusaha dia paparkan. Cuman dua doank, el? Iya karena dari 30 menit-an kotbah dia cuman dua hal itu pengetahuan akan agama sebelumnya yang berusaha dia paparkan. Trus sisanya apa? ya….cerita dia based on his experience. Yang tentu saja kredibilitasnya kebenarannya sangat meragukan. Kaya apa cerita dia?  Ini contohnya. *no comment for this quote :p*

“Kenapa ini bisa terjadi? Sedangkan kita diciptakan oleh Allah dengan berjuta2 sel yang ada diotak kita. Tapi bisa dibunuh oleh Yahudi dan Nasrani. Dulu tugas saya untuk menghancurkan umat Islam. Yang pertama dengan makanan yang dimakan oleh Ibu dan bapak harus mengandung minyak babi.”

Okelah walau bahan terbatas tapi coba  let see dari dua “pengetahuan-akan-agama-sebelumnya” yang dia paparkan. Dua-duanya ngaco berat. Anak SMP yang males2an di kelas agama kristen juga harusnya bisa tertawa. Yang pertama kutipannya ngaco berat. Dia sebutkan “cerdik seperti merpati. Licik seperti ular”. Nah apa yang benar? mungkin yang dia maksud adalah ayat dari Matius 10:16 yang berbunyi:

“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.”

Hanya dua kata sih yang berbeda. Tapi it totally changes the meaning. Blunder yang lain, (sekali lagi) dia tidak bisa membedakan kaum Yahudi dan Nasrani. Dua2nya sangat berbeda, dan ayat yang dikutip ini adalah di Perjanjian baru which is hanya dipunyai oleh kaum Nasrani.

Nah yang kedua. Kalimat dia yang bilang ““Eli, Eli lama sabakhtani yang dalam bahasa Ibrani Elohim elohim lama sabakhtani yang artinya…”. Hmm, blundernya simple. Dua frase tersebut sama2 dalam bahasa Ibrani atau “Siro-Chaldaic”.

3. Conclusion

Entah apa kesimpulan orang lain. Tapi bagi saya jelas nampak sekali si dai ini banyak ngibulnya. Baik dalam pengalaman dia, rekam jejak dia, dan pengetahuan2 dia akan “agama-sebelum” dia.

So apa heuristic untuk menganalis pengkotbah gadungan. Berikut adalah heuristic-pengkotbah-gadungan ciptaan Yoel Sumitro, ST. :p Bisa dipakai untuk umat agama manapun ketika menemui seorang pengkotbah yang “jualannya” adalah agama sebelumnya.

Heuristic-Pengkotbah-Gadungan

1. Si pengkotbah-gadungan akan berusaha menunjukkan kredibilitasnya dengan bercerita rekam jejak SUPER dia di agama sebelumnya. Semakin SUPER rekam jejaknya, antena pendeteksi pengkotbah gadungan Anda harus semakin kuat berbunyi.

2. Tanya ke teman Anda yang agamanya sedang didiskusikan. Apakah pengetahuan pengkotbah-gadungan ini does make sense. Kalau si pengkotbah ini gadungan, biasanya pengetahuan akan agama lain juga karbitan koq. Contoh ayat yang salah kutib itu contohnya.

3. Pake logika/perasaan juga ketika si pengkotbah sedang mendiskusikan agama dia yang sekarang. Maksudnya gini, si dai-gadungan Rohmat Hidayat ini sekarang sudah menjadi Islam (agama dia yang sekarang). Nah kalau dia gadungan, biasanya ngaco juga di kotbahnya. Saya ga bahas banyak diatas karena saya kurang mengetahui scr detail ttg Islam. Tapi ada di satu saat dia mengatakan bahwa jika ada seseorang muslim yang berpakaian mini, maka dia menganjurkan untuk memperkosa orang tersebut. Tentu saja saya yakin Islam tidak akan mengajarkan hal itu.

“…pakaian itu patut. Tolong perkosaaa! Halal hukumnya! Sok perkosa! “ menit 6:00-an dari video ini http://www.youtube.com/watch?v=iX5yqXWuuZ4&feature=related

4. Isi kotbah dia cenderung menjelekkan agama dia sebelumnya. Lihat saja video si Rohmat ini. Mostly isinya asumsi dan fitnah tentang agama lain. Kenapa pattern seperti ini harus dicurigai? Ya karena ngejelek2in agama lain lebih gampang dibandingkan kotbah yang bener. Pertama, si pengkotbah-gadungan akan jadi orang yg paling “pintar”. Seperti gw ngomong di depan anak IPS tentang kalkulus. Kalau gw ngaku2 as sarjana kalkulus dan bilang kalau limit x mendekati nol untuk fungsi x2 adalah 12345. No one knows! Kedua, hate speech seperti ini lebih menarik. Ada story, thriller, mistery, dan audience diposisikan sebagai calon korban. People love it! And at the end, undangan buat kotbah (dan uang) makin banyak.

5. Terakhir, Googling atau Binging atau Yahoo-ing nama si pengkotbah di mesin pencari. Saya coba googling nama dai Rohmat Hidayat Syarifudin. And tebak saya dapat apa? Nothing! kecuali video2 dia di youtube. Logikanya kalau dia telah bersekolah di tujuh negara + training di Boston, pasti ada sisa jejak dia di Internet. Tidak percaya? coba google nama Anda . Jika Anda at least berpendidikan S-1 biasanya masih ada nama anda di tersebar di situs2 kampus anda dahulu. Intinya, hasil pencariannya bisa membantu penilaian kita. Karena ada pepatah bilang “You are no one until Google recognizes you”.

So, tulisan kali ini semoga bisa dibaca banyak orang. Untuk siapapun dan agama apapun jika mendengar pembicara yang mengaku2 telah convert dan isi kotbahnya cenderung hate speech, silahkan pakai Heuristic-Pengkotbah-Gadungan diatas. hehe.

Salam tidak gadungan,

Yoel

PS: Buat yang tertarik untuk berlatih menggunakan heuristic-pengkotbah-gadungan ini ada banyak contoh lain yang bisa dipakai sbg studi kasus. Misalkan nih ada yang namanya Dr Yahya Yopie Waloni STH MTH. Apa rekam jejak dia? Menarik sekali! hahahha. Dia mengaku sebagai Mantan Ketua Sekolah Tinggi Theologia Calvinis Ebenhaezer di Sorong tahun 2000-2004, Mantan Pendeta GKI, Lulusan S3 / Doktor Theologia, Pendiri dan Rektor UKIP (Universitas Kristen Indonesia Papua) Sorong, dan menulis buku “the logical of simple” Kebenaran Islam menurut Mantan Pendeta. Bau amisnya sih lumayan tercium. Salah satu seri kotbahnya bisa dilihat di video berikut. Ayo coba praktikan analisis dengan heuristic-pengkotbah-gadungan. hehe

5 thoughts on “Heuristic-Pengkotbah-Gadungan

  1. Dear author,

    NIce, tulisannya. Good job.
    Kita, sebagai believers harus terlibat aktif untuk membahas apa yang mereka sampaikan. Dan kitapun otomatis harus banyak belajar. Jangan duduk diam manis di gereja dan masa bodoh dgn disampaikan pendeta kita.

    Bwt pdt gadungan : semakin tinggi kesempatan teologia bukannya semakin tersingkap hal-hal yang tidak bisa dipelajari kaum profesi. and you should love God not to leave Him actually..🙂

    Blessings

  2. kalau punya keberanian jangan bisa komen or omdo(omong doang).ajak debat tuh mantan pendeta tersebut untuk pembuktian ilmu biblenya sampai mana?siapa yang benar?mereka siap utk berdebat(pembuktian pembenaran)lihat dulu dong biodata,profil sekolahnya,dll klo menilai sesuatu harus konfrehensif

    • menulis itu salah satu bentuk tindakan intelektual yang saya percaya. At least itu lebih baik daripada cuman empat kalimat saudara di tulisan saya ini. Sama2 omong doank yang satu menulis di blog, yang satu lagi menulis komen dengan empat kalimat secara anonim. Mana yang lebih mending? :p

      Sebelum saya menulis tulisan ini, saya sedikit riset juga koq orang ini. Saudara juga bisa melakukannya. And silahkan dipikir apa ucapan orang ini masuk akal. Walau mungkin untuk beberapa orang yang narrow minded akan susah menilai secara objektif.

      Salam,
      Yoel

      PS: by the way ga ada kata “konfrehensif” di bahasa Indonesia. Adanya komprehensif. Jadi lain kali kalau menulis yang berhati2 yah, biar ejaannya diperiksa secara komprehensif dulu. :p

  3. Hi there…,
    Tulisan yang menarik, karena sangat jarang ada yang seperti ini :. Awalnya cuman mau baca2 soal Fulbright..eh malah keterusan sampai disini hehe…
    SUKA!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s