(Terlewat) kritis.

Di masa awal-awal perkuliahan gw, gw cukup struggle untuk berpikiran kritis (critical mind). Padahal critical mind adalah salah satu modal penting sebagai seorang grad student. Kalau dari pengamatan gw, asian student emank less-critical dibandingkan dengan native american. Pernah di kelas si dosen ngomong gini (terjemahan kasar);

“Setiap kali saya baca response paper (tulisan tanggapan akan tugas2 bacaan setiap minggu) kalian, saya suka bermain tebak-tebakan. Saya tutup identitas nama di paper kalian dan saya suka menebak asal negara penulisnya. Dari asian countries atau dari amerika. Dan biasanya tebakan saya selalu benar. Murid dari asian countries suka menulis secara sopan, banyak memuji penulis-penulisnya, dan menekankan di bagian mana mereka sangat setuju dengan materi bacanya. Sebaliknya, murid dari amerika cenderung selalu ingin “menghabisi” pendapat  para penulis. Selalu mencari celah kesalahan mereka.”

Susah memang untuk berpikir kritis. Gw sadar itu banget. Apalagi gw produk pendidikan Indonesia. Di salah satu dimensi budaya-nya Hofstede, Indonesia mempunyai nilai yang sangat tinggi mengenai “Power Distance Index” (PDI). Salah satu efeknya di dalam pendidikan, murid2 selalu percaya bahwa guru lah yang memonopoli kebenaran. Guru bisa menjawab semuanya, selalu benar, dan keramat. Murid hanya perlu menunggu dan disuapi. Nah menurut gw, efek jelek dari budaya ini adalah bagaimana susahnya orang Indo untuk berpikiran kritis.

Berpikiran kritis itu baik. Karena selalu mempertanyakan kebenaran hal-hal yang dihidangkan di depan mata kita. Tidak cepat puas dengan penjelasan yang diberikan. Selalu mencari kemungkinan-kemungkinan lain. Dan berpikiran kritis bisa banyak manfaatnya.

Berapa banyak spam yang suka kita dapat? “sebarkan pesan ini jika anda masih mau memakai BBM. Copy paste tulisan ini di wall facebook Anda jika Anda ingin privasi Anda terlindungi. dll”.

Berapa banyak hal yang kita percaya tanpa berpikir dahulu apa informasi itu kredibel?

Masalahnya kalau sudah terlalu banyak orang yang percaya kebohongan, kebohongan itu bisa jadi kebeneran. Getok tular kalau orang Jawa bilang.

Foto visa US misalkan. Banyak orang percaya kalau foto untuk aplikasi visa US maka “KUPINGNYA HARUS KELIHATAN”. Sampai kalau ambil foto untuk visa us dimanapun di Indo, selalu diingetin apa fotografernya. Gw pun jadi percaya2 aja. Sampai akhirnya waktu gw mau apply visa us yang kedua kalinya, gw harus ambil foto di seattle. Di foto lah gw dengan kuping bener-bener ketutup kuping. Gw pun panik. Nanya ke studio fotonya. “Ini gw buat visa US lo. Bukannya kuping harus kelihatan”. Mereka jawab bahwa gpp, ga ada peraturan itu. Dan benar, gw ubek2 itu website kedubes us. Ga ada satupun line yang mention kalau kuping harus keliatan di pas fotonya. Visa gw pun keluar dengan foto rambut gondrong gw.

Salah satu contoh. How I learned that I should always check any assumption.

Masalahnya, sekarang gw merasa kalau kadang gw jadi terlalu kritis. Setiap baca tweetline gw, di otak gw isinya cuman pengen mengkritik tweet2 yang (menurut gw) ga masuk akal. Selalu pengen komentar ke tweet2 berita yang ga make sense.

Ga tau apa gw udah kelewatan atau masih normal2 aja.

One thought on “(Terlewat) kritis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s