“Kalau sampai ketauan, kita pura-pura ga bisa bahasa Inggris yah.”

December 23th, 2012. South Station Bus Terminal, Boston. Sekitar jam 10 malem.

Gw berempat bareng ketiga temen gw. Dua mahasiswa lain dari Indo and satu mahasiswa dari Beijing. Setiap orang pada ngebawa satu koper kecil kabin and mungkin menggendong tas backpack. Kali itu kami datang sekitar 2 jam lebih pagi dari jadwal bus kita. Print2an email tiket sudah ditangan gw. Bus Amtrak dari Boston menuju DC. Antrian di depat gate untuk bus tujuan ini juga sudah cukup mengular dan kita pun ikut mengular di belakangnya.

Sambil menunggu dengan santai, iseng-iseng gw baca-baca print2an tiket bus ini. Dan mendadak keringat dingin gw keluar. Ternyata…gw salah beli tiket!!!!

Alih2 beli tiket buat tanggal 23 Desember, gw malah booked tiket buat tanggal 23 November. Super cerdas!!

Panik, gw cerita ama 2 temen Indo, dan mereka ikut panik juga. Malem itu terminal lumayan rame, karena 2 hari sebelum Natal. Orang-orang banyak mudik untuk menikmati liburan natal. Gw uda ragu kalau kita bakal bisa beli tiket untuk malam itu. Worst case kita bakal menginap di terminal dan rencana ke depan akan agak rusak krn kita udah booked tempat tinggal di DC juga.

Segera gw lari ke counter bus2. Gw nanya ke Amtrak, greyhound, peterpan, and bus dengan merk huruf China yang gw ga inget namanya. Hasilnya semua tiket untuk malam itu yg menuju DC habis. Dan tambah panik lah gw.

Gw kembali ke antrian, nemuin temen2 gw. Super stress. Akhirnya gw nanya satu ibu yang antri di depan gw.

gw: “Do you know how do they check our ticket?”

Ibu: “They will check your confirmation number”

gw: “Will they use any kind of machine like a scanner?”

Ibu: “I don’t think so”

Sebuah ide *agak-evil* mulai terpikirkan. Gambling.

Gw cek email konfirmasi pembelian tiket. Abis itu gw copy semua isi email itu. Then, gw buat email dengan paste hasil copyan itu, tapi gw GANTI tanggal tiketnya. Dari November ke Desember. *ampuni saya Tuhan* :p

Satu jaman kita ber4 nunggu di antrian. Gw bilang temen gw, kalau gw gambling. Moga2 bisa masuk karena mereka ga pake scanner and orang cmn butuh nampilin konfirmasi numbernya dari handphone/print2an kertas.

Tapi jelas keringat dingin terus mengalir. Ga mungkin konfirmasi number gw ada di list petugas yang bakal ngeceknya. Dan bener saja. Bus datang dan sopir mulai mengecek satu2 konfirmasi number penumpang. Dia punya semacam kertas. Dimana prosedurnya: penumpang kasih tau si sopir konfirmasi numbernya, dan si petugas akan mencocokkan dengan nomer2 di kertasnya. Setelah nomer dicek, penumpang bisa masukin barang ke bagasi bus dan naik ke bus.

Selama di antrian gw makin panik. Gw bilang ke Jacky “Jek, ga mungkin ini lolos. Pasti ga dapet.”

Dan gw ngomong ke semuanya “Ini kalau kita ketahuan, pura2 susah ngomong Inggris semua yah”. Wakakakkaka

Dan sampailah gw diujung antrian bertemu dengan si supir kulit hitam yang mengecek nomor konfirmasi ini. 3 orang temen gw di belakang gw.  Gw kasih liat hp gw dengan isi email karbitan itu. Dia meng-screen kertas dia dan jelas aja nomer konfirmasi gw ga ada. Dia bolak-balik kertasnya dan tetap ga nemuin nomer kita.

Supir: “When did you book your tickets?”

gw: “Last month”

Dia bolak balik kertas dia lagi and nanya lagi.

Supir: “When did you book your tickets?”

gw: “Last month”

Udah beberapa menit kita nungguin disana si supir keep searching our number in his list. Antrian penumpang masih panjang di belakang. Dan gw makin panik . Akhirnya gw menyerah. Gw bilang ke dia

gw: “We can wait here”

Supir: “No no no no. When did you book your ticket?”

gw: “Last month, sir”

Gw ga tau kenapa dia keep asking that question, tapi akhirnya dia menyerah juga. Mungkin karena antrian di belakang masih panjang. Dia tulis konfirmasi number kita di kertas dia dan suruh masukin barang2 kita ke bagasi.

Kita pun naik. Temen2 gw nanyain “gimana ini? td gimana?”. Gw bingung jawab apa. Gw naik aja ke bus diatas mereka.

Udah di atas gw masih super panik. Antrian penumpang masih panjang. Dan kalau sampai ada 4 orang ga dapet tempat duduk, bisa2 kita ketauan. Parahnya lagi koper2 kita udah dimasukkin ke bagasi, udah ditumpuk bersama koper2 lain. Gw bayangin kalau sampai ketauan and kita diusir, ga mungkin si supir mau nyari koper2 kita yang udah nyungsep di dalem bagasi bus. Jadi worst casenya kita ketauan, diusir, malu, berurusan ama polisi, plus koper2 kita dibawa ampe ke DC. *facepalm*

Di dalem bus gw panas-dingin nungguin. Gw terus itung berapa jumlah orang yang didalem antrian, dibandingin ama jumlah kursi yang masih kosong di dalam bus tingkat itu. Gw pun bilang ke temen2 gw “Kalau kita lolos jangan terlalu keliatan yang senengnya”. wakakakak

Panas dingin panas dingin stress panik stress panik…mungkin itu salah satu 15menitan waktu paling intensed yang pernah gw alamin…

Dan akhirnya…busnya berangkat!!! Bus tingkat itu full occupied and miraclenya ga ada orang yang ditinggal. Kita pasti merasa bersalah bgt kalau gara2 tindakan kriminal kita, ada 4 org ketinggalan di Boston and ga bisa ngerayain natal bareng keluarganya. Tapi thanks God, smua antrian berangkat dan busnya full occupied. wakakka

Gw langsung keinget film Argo, ada satu scene dimana orang2 US itu ngelewatin daerahnya Iran dan mereka langsung menangis dan saling peluk2an. Lega. Persis kaya itu yang gw rasain. Setelah nglewatin 2 jam paling intensed yang pernah gw rasain. Super legaaaaa….

3 thoughts on ““Kalau sampai ketauan, kita pura-pura ga bisa bahasa Inggris yah.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s