Tentang UX


Ux_katzenbergdesign_engl

Apa itu UX? Apa objective dari UX?

Apa itu User Experience? Ga banyak orang tahu tentang bidang yang gw kerjain sekarang. Berbeda dengan di US, dimana UX field sudah cukup ubiquitous, di Asia sini (apalagi Indonesia) orang sangat awam dengan istilah UX. Bahkan untuk orang yang bekerja di bidang IT…

Lalu apa itu User Experience? Sebenernya sangat simple yaitu pengalaman (experience) pengguna (user) dalam menggunakan sebuah produk (yang biasanya sebuah produk digital seperti website, software, mobile app, dsb). Seorang UX professional bertugas memastikan bahwa ada satisfaction bagi para pengguna sebuah produk digital. Memastikan bahwa ada efektivitas dan efisiensi dalam sebuh produk. Misalkan sebuah perusahaan ingin membuat sebuah produk e-commerce, maka UX professional harus memastikan bahwa pengguna bisa berhasil melakukan transaksi pembelian sebuah baju secara mudah (efektivitas), cepat (efisiensi), dan pengguna pun meraa senang dan puas setelah melakukan tindakan itu (satisfaction).

Di sisi lain, selain ke-3 hal itu (efektivitas, efisiensi, dan kepuasan) UX professional juga harus memperhatikan stakeholders yang lain. End-user atau pengguna adalah salah satu stakeholder dari e-commerce itu, tetapi ada stakeholder yang lain seperti sales people misalnya. Sales people berkepentingan agar e-commerce itu harus berhasil menghasilkan revenue bagi perusahaan. Dan terkadang kepentingan antar stakeholder ini akan saling bertentangan. Situs kompas.com misalnya. Sebagai UX professional yang ingin memberikan kepuasan buat end-users maka opsi pop-up iklan bukanlah sebuah ide yang bagus. Tapi bagi pihak sales, pop-up iklan adalah sebuah cara untuk menghasilkan uang bagi situs itu. Disinilah fungsi UX professional untuk menjadi jembatan antara stakeholder yang ada dan yang utama tetap menjadi advocate bagi suara pengguna.

Bagaimana proses UX?

Metode UX sangatlah bermacam-macam dan gw belum pernah melihat yang benar-benar baku seperti rumus e=mc squared nya Einstein. Tapi menurut gw, secara garis besar ada 3 proses dalam UX :

1. Mencari tahu siapa pengguna sebenarnya dan apa saja tugas utama (task) mereka

Untuk membuat situs berita seperti kompas.com, gw tentunya perlu tau dengan pasti siapa yang akan menggunakan situs ini. Apakah mereka menggunakannya di HP? Atau lebih sering di desktop? Apa motivasi mereka? Apakah mereka sangat sibuk sehingga hanya punya waktu sedikit? Apakah mereka cukup familiar dengan situs2 berita yang lain? DImana biasanya mereka mengakses situs ini? Semua pertanyaan ini perlu diketahui jawabannya karena untuk mendesain sebuah barang kita harus benar-benar tau SIAPA penggunanya.  Untuk menjawab pertanyaan ini ada berbagai macam metode UX yang biasa digunakan seperti: pure observation, field study, ethnography research, dsb. Dari hasil riset ini, UX people biasanya akan membuat artifak yang sering disebut sebagai persona.

Selain mengetahui SIAPA pengguna produk yang akan kita desain, kita perlu tahu juga APA saja tugas-tugas (tasks) utama yang akan didukung oleh produk ini. Untuk mendesain situs pemesanan tiket, kita perlu tau task-task utama mulai dari: mencari tiket yang diinginkan, mendaftar sebagai pengguna, melakukan pembayaran, mengganti pemesanan, dsb. Dari semua task yang kita temukan, bisa kategorikan task mana yang penting dan mana yang sekunder. Karena terkadang task-task ini bisa saling bersinggungan kepetingannya. Misalkan dalam sebuah portal analytics, jika task utama nya adalah membandingkan besaran makan visualisasi yang paling cocok adalah menggunakan histogram, tetapi jika task utamanya adalah untuk melihat secara garis besar, mungkin pie chart akan lebih cocok. Task analysis adalah nama metode kategorisasi task ini.

Sebenarnya ada istilah yang lebih umum dibandingkan task yaitu kebutuhan penguna (user needs). Mencari user needs bukanlah perkara yang mudah. Terkadang apa yang dikatakan user berbeda dengan apa yang mereka benar-benar butuhkan. Untuk itulah proses iterasi adalah sesuatu yang sangat penting dalam dunia UX.

111

-Discovery Phase-

Pertanyaan yang perlu dijawab dalam proses ini:

Who are the users? What are they trying to do?

Metode UX yang dipakai:

persona, pure observation, field study, ethnography study, contextual inquiry, survey, stakeholders interview, competitive analysis, task analysis

2. Iterasi dalam Desain & Riset

Setelah mendapatkan data mengenai siapa user, kebutuhan mereka, dan task2 mereka maka dimulailah proses pengembangan (development). Dahulu metode dalam membuat produk software/website/produk digital biasanya dilakukan secara waterfall (mencari requirement -> analysis& design -> implementasi -> verifikasi -> maintenance). Namun metode ini sudah jarang dipakai karena terlalu kaku dan terbukti tidak efektif. Dari 2 perusahaan IT yang gw pernah bekerja, mereka semua menggunakan metode agile/scrum. Di development engineering seperti ini proses iterasi desain bisa dimasukkan (lean UX/agile UX) dimana proses desain dan testing dilakukan secara bertahap dan berulang-ulang.

Untuk melakukan iterasi dalam desain dan test, seorang UX designer bisa menggunakan bermacam-macam artifak dan metode. Misalkan, UX designer ingin mengetahui fitur-fitur yang penting buat calon pengguna dan bagaimana mengkategorikan fitur-fitur itu dalam sebuah website, seorang UX designer bisa memakai metode card-sorting, first click testing, atau tree testing. Atau jika UX designer ingin mengetahui apakah user flow yang dia desain sudah intuitif, ia bisa menggunakan metode paper prototyping. Sebuah metode yang cepat dan murah untuk menghasilkan insight. Masih panjang lagi metode-metode dalam melakukan iterasi desain ini seperti wireframing dan electronic/interactive prototyping. Prototipe-prototipe yang sudah dibikin ini harus senantiasa dites dengan prospective user, dan ketika telah terbukti bahwa design decision nya cukup bagus maka prototype bisa segera diberikan ke developer team. Sekali lagi, iterasi adalah heart dari dunia UX. Setelah sebuah ide desain diterima oleh users dan stakeholders bukan berarti tugas untuk mendesain telah selesai. Asumsi harus terus dipertanyakan dan opsi-opsi baru serta pengembangan harus selalu diberikan oleh seorang UX designer.

development-and-ux-tracks1

-Design Phase-

Pertanyaan yang perlu dijawab dalam proses ini:

What will the product look like? How will it organized?

Metode UX yang dipakai:

prototyping, wireframing, card sorting, first click testing, tree testing

3. Iterasi Verifikasi

Bagaimana cara memastikan bahwa produk yang telah kita buat benar-benar sesuai dengan kebutuhan user atau memenuhi objektif stakeholder kita? Apakah dengan bertanya dengan mereka? Benchmarking test? Tidak ada cara yang lebih efisien selain dengan melihat mereka MENGGUNAKAN produk itu sendiri. Sulit melepaskan bias dari pihak developer ataupun desainer. Karena produk yang mereka buat pasti telah menjadi sesuatu yang personal. Karena sisi bias ini, maka sulit untuk orang dalam menemukan issue2 dalam produk mereka sendiri. Sehingga sekali lagi peran pengguna sangat penting. Metode riset yang mengajak user untuk menggunakan produk kita sering disebut sebagai usability test. Usability test perlu dilakukan untuk sekali lagi memeriksa setiap asumsi, menemukan issues, dan mencari insight2 baru. Dari hasil usability test ini akan ada rekomendasi2 yang diberikan untuk perubahan/pengembangan sebuah produk. Usabily test sendiri ada berbagai macam tipenya ada remote usability test, moderated usability test, quick and dirty/guerilla/discounted usability test, dsb. Usability test terkadang bisa digabungkan dengan metode eye-tracking. Eye tracking dilakukan untuk melihat heat map dari perhatian user ketika menggunakan produk kita.

Selain usability test, ada berbagai macam metode riset UX yang umum dilakukan seperti heuristic analysis. Berbeda dengan usability testing yang memakai “real users” sebagai source riset, heuristic analysis menggunakan pendapat dari para ahli (expert) untuk mereview produk kita. Tentu saja orang yang melakukan heuristic analysis ini adalah ahli di bidang usability (Usability expert). Heuristic analysis dilakukan karena membutuhkan waktu yang lebih cepat dan tidak membutuhkan persiapan yang rumit. Bentuk rise yang umum lainnya adalah A/B testing. A/B testing lebih sering dilakukan untuk sebuah produk yang telah mempunyai jumlah pengguna dalam jumlah besar. Amazon adalah salah satu tech company yang terkenal sering melakukan riset ini.

1112

-Verification Phase-

Pertanyaan yang perlu dijawab dalam proses ini:

What problems are users having when they use our product?

Metode UX yang dipakai:

Remote usability test, moderated usability test, quick and dirty/guerilla/discounted usability test, eye-tracking, heuristic analysis, A/B testing

Closing

Inti dari UX adalah menggembalikan perhatian utama kepada pengguna. Dengan hal itu diharapkan produk yan dihasilkan akan lebih tepat guna, efisien, dan memuaskan pengguna. Bisa dilihat dari semua metode-metode yang ada di dalam dunia UX, hampir semuanya melibatkan user. Tidak heran bahwa proses-proses dalam UX sering disebut sebagai User-centered design. Hal ini bertolak belakang dengan metode yang berpusat pada teknologi ataupun insting dari developer. Gw belum pernah kerja di Indonesia di bidang IT, tapi cukup penasaran dengan bagaimanakah proses software development di Indonesia. Apakah berpusat pada user? Atau sebaliknya berpusat pada teknologi dan insting para developernya…

5 thoughts on “Tentang UX

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s