Selamat (merayakan) hari Natal. 3% versus 67%. SUPER minoritas.

Disclaimer: Tulisan saya di  bawah ini, saya sadari mempunyai blanket statement. Ditambah dengan external validity dan internal validity yang sangat lemah. But I believe you guys can read it with a grain of salt.  photo (3)

Selamat (merayakan) hari Natal

Setiap tahunnya di Indonesia, perdebatan mengenai haram atau tidaknya pengucapan selamat hari Natal selalu menjadi hal yang hangat diperbincangkan. Uniknya hal ini tidak pernah selesai-selesai diperdebatkan seperti bulu dada Rhoma Irama yang tetap menyeruak keluar dari kemejanya setiap tahunnya.

(I really don’t believe that I just wrote the previous sentence).

Tampaknya saya tidak cukup patut untuk mengomentari mengenai halal atau haramnya hal ini. Namun ada satu analisis yang ingin saya tulis.

Di iPhone saya ada beberapa grup chat yang mayoritas anggotanya adalah non-kristiani. Namun akan saya ambil 2 sample grup chat ini yaitu: grup teman SMA (SMA Negeri 3 Solo) dan grup teman-teman yang mendapat beasiswa master Fulbright ke US.

Di grup teman SMA ada 41 orang dengan 33 orang yang non-kristiani (tidak merayakan Natal). Di grup teman Fulbright ada 16 orang dengan 9 orang yang non-kristiani.

Iseng2 saya  menghitung berapa persentase orang yang mengucapkan selamat hari Natal di grup itu. Ini hasilnya:

1. Grup teman Fulbright: 6 orang (out of 9) yang memberikan ucapan selamat hari Natal (or Happy Holiday or selamat merayakan hari Natal). 67 %

2. Grup teman SMA : 1 orang (out of 33) yang memberikan selamat hari Natal. 3 %

67% lawan 3%. Perbandingan yang cukup mencolok.

3% versus 67%

Saya bukan ahli statistik, tapi dengan pasti bisa saya katakan bahwa membandingkan dua sample grup di atas bukanlah apple to apple comparison yang valid. Jadi melakukan t-test, ANOVA test, ataupun mencari nilai chi-square tidak akan membuat perbandingannya lebih valid.

Tapi tetep saja saya ngeyel.  Menurut saya hasilnya tetap menarik untuk diceritakan dan dianalisis. :p

Ada beberapa hal yang menurut saya bisa menjadi alasan perbedaan hasil yang mencolok ini:

1. Grup teman SMA dalam kesehari-harian lebih sepi traffic diskusinya dari grup teman Fulbright. Jadi jelas saja pada waktu Natal pun jumlah diskusi di grup teman Fulbright akan lebih sedikit.

Hipotesa di atas sayangnya salah. Karena yang sering terjadi justru sebaliknya. Grup teman SMA biasanya jauuuuuuuuh (pangkat 6) lebih ramai dari grup teman Fulbright.

2. Distribusi kristiani-non kristiani yang berbeda. 

Di grup teman Fulbright 43% anggotanya adalah umat kristiani sedangkan di grup teman SMA hanya ada 20% anggotanya yang merayakan hari Natal. Jumlah distribusi yang berbeda ini mungkin berpengaruh. Dengan jumlah umat kristiani yang lebih banyak, maka umat non-kristiani mungkin lebih bersemangat memberikan ucapan selamat. Namun hal ini menurut saya sangat kecil pengaruhnya.

3. Grup teman Fulbright pernah sekolah di Amerika sehingga mereka pernah dicuci otaknya

Hipotesa ini menurut saya 99.99% sangat akurat. Dari sejak awal, saya sudah melihat sesuatu yang fishy dengan beasiswa ini. Bayangkan, kami disogok dengan puluhan ribu dollar untuk menggadaikan prinsip kami. Persis seperti kasus dimana orang-orang (konon katanya) diminta untuk menjual agamanya dengan sekotak indomie instant. Dari pengalaman saya ketika masuk pertama kali di entry point di Chicago, otak saya dibedah dan di bagian Cerebelum ditanamkan sekeping chip sekecil bulu dada Rhoma Irama. Setelah itu banyak kejadian aneh yang sering terjadi di hidup saya (dan saya percaya teman2 Fulbright lainnya juga). Misalkan entah kenapa setiap kali saya melihat lembaran-lembaran uang dollar yang penuh dengan tokoh-tokoh Nasional Amerika, hati saya ingin terus bersama lembaran-lembaran itu. Ingin terus mengejar mereka. Setiap akhir bulan, ketika kami bertemu dengan tokoh-tokoh itu hati kami membuncah kegirangan. Mereka benar-benar menanamkan rasa cinta akan tokoh-tokoh nasional mereka secara instan. Sungguh mistik!

Ditambah lagi ketika tinggal disana kami secara tidak sadar mulai menyembah berhala-berhala sesembahan kaum kafir Amerika ini. Kami ikut berteriak di lapangan football untuk membela tim sesembahan kami. Memakai kostum dengan warna seragam bak acara ritual di zaman medieval. Berteriak dan memaki ketika tim Dewa kami kalah. Sunguh cadas! Setiap hari black Friday, kami memberikan persembahan ke dewa favorit baru kami yang bernama konsumerisme. Tak lupa kami berziarah di tempat-tempat penyembahan berhala kaum kafir ini, mulai dari dewi kesuburan di new york hingga monumen berbentuk lingga (baca: alat kelamin pria) di jantung pemerintahan kaum kafir ini. Sungguh! Kami semua sudah tercuci otaknya. *I should start writing a fiction novel* :p

4. Perbedaan pengalaman (dan paradigma) umat non-kristiani di kedua grup

Dari sisi demography (umur, jenis kelamin, dan variasi profesi) kedua grup ini relatif sama. Tapi ada satu perbedaan yang menurut saya sangat mencolok di antara kedua grup ini. Semua anggota di grup teman Fulbright ini mempunyai satu pengalaman yang tidak pernah dialami grup lainnya yaitu : pengalaman menjadi SUPER minoritas. Apa itu SUPER minoritas? Ini istilah bikin2an saya sendiri. Hahaha. Maksudnya ya menjadi minoritas di berbagai bidang.

Teman2 Fulbright ini sama2 pernah menjadi mahasiswa di Amerika selama beberapa tahun. Dengan demography semacam apapun mereka PASTI menjadi minoritas.

  • Mereka adalah orang Asia diantara white people.
  • Mereka adalah orang beragama diantara para mahasiswa lainnya yang mayoritas Atheist
  • Mereka adalah orang asing diantara para locals
  • Mereka berbicara dengan aksen asing diantara para native English speakers
  • Mereka newbie dalam hal pendidikan di US diantara mahasiswa2 lain yang sudah terbiasa dengan budaya pendidikan di US
  • Mereka mendapat gegar budaya diantara orang-orang di sekitarnya yang sudah merasa homy
  • etc

SUPER minoritas

Super Minoritas….Pengalaman ini yang menurut saya membuat mereka lebih “thoughtful” dalam isu mayoritas-minoritas ataupun toleransi. Mereka pernah merasa menjadi minoritas. Mereka pernah hidup ditengah kaum kapitalis-liberal-ateis-yang-penuh-dengan-konspirasi-wahyudi-Amerika yang uniknya jauh lebih toleran, nice, friendly, menyenangkan dari beberapa orang yang katanya “beragama” di bumi Indonesia tercinta ini. Karena pengalaman2 inilah yang menurut saya membuat mereka bisa mempunyai empati lebih bagi kaum minoritas dan thoughtful.

Mungkin sangat picik karena saya men-judge seseorang thoughtful atau tidak dari kesediaannya memberikan selamat hari raya untuk umat yang berbeda keyakinannya. Tapi menurut saya pemikiran saya cukup valid. Kalau saja..kalau saja..perdebatan tentang halal-haram mengucapkan selamat hari Natal tidak sehangat se-hot sekencang ini setiap tahun saya tidak akan sampai dengan kesimpulan ini. Tapi karena isu ini sudah terlanjur hangat, ucapan selamat natal bisa dipakai sebagai indikator/pertanda tentang paradigma seseorang.

Bayangkan jika Anda seorang non-kristiani dan jika Anda mengucapkan selamat Natal secara terang2an di media sosial, maka ada kemungkinan orang lain menganggap Anda kurang “beragama”. Karena ada probabilitas untuk hal yang buruk ini, perlu guts dan kepercayaan akan sebuah prinsip toleransi yang kuat untuk tetap melakukannya. Sekali lagi..kalaaaau saja isu ucapan-selamat-hari-natal ini tidak terlalu hot , silogisme saya akan salah berat.

Saya berkesimpulan pengalaman menjadi minoritas bisa berpengaruh besar dalam paradigma berpikir seseorang. Kesimpulan saya ini diperkuat dengan 6 ucapan selamat hari Natal yang saya dapat hari ini (selain dari grup Fulbright).

Selama di Seattle, saya sengaja tidak mempunyai banyak kawan orang Indonesia. Awalnya saya ingin berpikir untuk melatih bahasa Inggris saya. Namun ada beberapa kawan Indonesia yang cukup dekat, dan kami sering berkumpul beberapa kali. 6 orang itu semuanya  mengucapkan selamat hari Natal. 4 dari 6 orang ini non-kristiani. 67% lagi!

Susah untuk saya tidak menyimpulkan bahwa pengalaman menjadi minoritas somehow bisa membuat suatu paradigma yang unik (dalam hal memperlakukan kaum minoritas yang lain).

Terima kasih buat teman2 non-Kristiani yang dengan perkasa mengucapkan Selamat Hari Natal / Happy Holiday / Selamat Merayakan Hari Natal / dsb. It means a lot for us. Karena kami merasa di-ewong-ke (bahasa Jawa: diorangkan).

Merry Christmas and Happy Holiday all!

PS: Teman2 grup SMA saya bukan berarti ga thoughful lo. They are super nice in many other sides and I love them too! And sekali lagi saya memakai blanket statement. Jadi hasil analisis akan sebuah grup tidak mendefinisikan setiap (dan semua) pribadi di grup itu🙂

One thought on “Selamat (merayakan) hari Natal. 3% versus 67%. SUPER minoritas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s