Surat untuk para Swing Voters

letter-writing

Disclaimer: Tulisan ini tidaklah netral. Saya hanya berusaha menjelaskan runut berpikir saya. Maka dari itu saya menyarankan Anda untuk membaca artikel/tulisan lain yang bersebrangan pendapat dengan saya sehingga Anda bisa mendapat pendapat dari dua sisi.

Surat ini saya tujukkan pada para swing voters. Saudara mungkin belum benar-benar memantapkan hati akan capres mana yang akan Anda pilih nanti pada 9 Juli. Saudara mungkin juga sudah jengkel dengan racauan, fitnah, berita-berita tidak kredibel, dan broadcast hoax yang memenuhi dinding social media dan blackberry messenger Anda. Saudara mungkin juga merasa kehilangan dua televisi berita nasional kita: Tvone dan Metro TV karena keduanya sudah sangat tidak masuk akal dalam menunjukkan keberpihakkannya. Saudara mungkin juga geleng-geleng kepala, kenapa persoalan capres ini bisa membuat teman, keluarga, bahkan suami istri bersitegang; semuanya demi menonjolkan kebaikan capres unggulannya masing-masing dan menjelekkan capres lawan.

Hari-hari ini memang bising dan berisik. Saya sendiri secara jujur juga ingin kalau bisa waktu ini di fast forward menuju tanggal 9 Juli. Agar kebatilan yang berbentuk fanatisme, fitnah, dan kebodohan yang disebar secara ber-ramai2 dalam hari-hari ini segera berhenti. Namun saya harus tetap bersyukur. Di beberapa negara, mengkritik negara bisa berbalas penculikan dan menunjukkan keberpihakan pada yang bersih bisa berbalas penjara. Di negara Indonesia dengan demokrasi yang masih muda ini, kita semua masih belajar untuk bernegara secara patut. Belajar untuk memilah informasi mana yang benar dan informasi mana yang tampak meragukan. Belajar untuk memilih pemerintahan yang nantinya akan membuat kebijakan-kebijakan yang bersentuhan dengan kehidupan kita.

Akhirnya, dari dalam semua kebisingan ini, saya yang dulunya juga merupakan swing voter akhirnya mengambil keputusan:

Saya memilih untuk mendukung orang baik.

Sampai disini, Anda mungkin akan mengira bahwa tulisan saya akan sangat subjektif untuk mendukung salah satu capres. Namun saya anjurkan Anda untuk tetap meneruskan membaca tulisan ini sampai akhir. Untuk lebih fair, sehabis membaca tulisan ini, Anda bisa mencari dan membaca artikel/tulisan blogger lain yang menuliskan alasan-alasan mengapa mereka memilih capres yang tidak saya dukung. Sehingga pada akhirnya Anda bisa mendapat masukan dari kedua sisi, membuat keputusan, dan segera keluar dari kebisingan ini.

Berikut adalah lima alasan utama saya mengapa saya akan mendukung orang baik ini. Tentu saja dalam menuliskan tulisan ini, saya bukanlah ahli politik ataupun orang yang mendapat informasi inteligen A1 tentang konspirasi kristenisasi arabisasi pekok-isasi dan asi2 lainnya. Tetapi semoga tulisan ini tetap bermanfaat untuk para swing voters.

  1. Mengambil Keputusan Sulit dalam Kebisingan

Pilpres kali ini memang sulit. Di sisi orang baik saya tidak begitu senang dengan Ibu Suri dan PDIP. Orang baik juga dinilai kurang mempunyai kapabilitas untuk memimpin  dalam skala Indonesia. Di sisi orang tegas saya tidak begitu respek dengan orang tegas, Ical, dan beberapa partai atau ormas di belakangnya. Orang tegas juga mempunyai catatan hitam HAM yang masih diperdebatkan hingga sekarang. Namun saya harus tetap memilih karena saya percaya itu sebuah privilage dalam hidup di negara demokrasi.

Menjawab keraguan saya akan orang baik, selama di Solo dan Jakarta, saya tidak melihat orang baik ini ada di ketiak PDIP ataupun Ibu Suri persis seperti layaknya bu Risma di Surabaya yang membela rakyatnya bukan PDIP, partai pengusungnya. Dan saya menaruh kepercayaan yang besar bahwa orang baik ini akan tetap tidak terpengaruh jika nantinya dia terpilih sebagai presiden. Ketakutan orang-orang akan orang baik yang nantinya hanya menjadi boneka Ibu Suri menurut saya cukup meragukan. Jujur saja, walau saya menghormati Ibu Suri sebagai mantan presiden RI, saya meragukan Ia mempunyai kapasitas intelektual untuk mempengaruhi orang baik dari belakang. Menurut saya, Ibu Suri adalah orang baik tapi sayangnya ia bukanlah orang pintar. Sehingga sulit melihat Ibu Suri bisa mengatur orang baik ini. Ketakutan yang lain adalah orang baik akan menjual aset negara dengan mudah seperti zaman Ibu Suri. Hal ini juga saya ragukan. Masa pemerintahan Ibu Suri adalah masa-masa fragile setelah krisis moneter yang membuat Indonesia harus mengambil keputusan2 sulit. Orang baik akan berpikir ratusan kali jika Ia mau melakukan praktek ini lagi. Dan saya yakin tingkat intelektual orang baik jauh di atas Ibu Suri.

Justru menurut saya ini adalah momen yang baik untuk melakukan reformasi di tubuh PDIP. Selama ini saya kurang respek dengan PDIP karena bentuk kepemimpinan yang aristoktatis di sana. Ketika orang baik yang bukan merupakan trah Soekarno dan rakyat biasa menjadi presiden, maka akan ada dua matahari di PDIP: Ibu Suri sebagai ketua umum dan orang baik sebagai presiden RI. Semoga hal ini justru bisa mengurangi budaya aristokratis di PDIP. Di atas pemikiran ini dan sejarah orang baik di Solo dan Jakarta, saya masih percaya bahwa orang baik bisa memimpin Indonesia tanpa bayang2 Ibu Suri dan PDIP.

Sebagian orang juga berpendapat bahwa orang baik tidak amanah, kutu loncat, dan plin-plan dengan mencalonkan diri sebagai presiden padahal masa pemerintahannya sebagai gubernur di Jakarta belum selesai. Saya justru berpikir sebaliknya. Para gubernur, walikota, dan menteri lah yang seharusnya mencalonkan diri menjadi presiden. Dengan pengalaman memimpin masyarakat di skala daerah. para pemimpin daerah ini telah mempunyai rekam jejak. Kalau tidak mau capres dari kalangan gubernur atau walikota lalu jenjang karir apa yang kita harapkan untuk seorang presiden? Apakah ketua himpunan kerukunan tani Indonesia?

16 Gubernur dan 15 Senator di Amerika Serikat melaju menjadi Presiden. Walikota Teheran yang baru menjabat selama dua tahun, Mahmoud Ahmadenijab, juga menjadi presiden Iran yang keenam. Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa jenjang karir walikota – gubernur – presiden sangatlah lazim ditemukan. Praktek ini juga dilakukan oleh banyak pihak dari kubu orang tegas. Hidayat Nur Wahid yang menjadi anggota DPR dari partai PKS mencalonkan diri menjadi gubernur Jakarta walau kalah. Begitu juga gubernur Golkar dari provinsi Sumsel yang melakukan langkah yang sama. Gubernur Jabar dari PKS. Ahmad Heryawan juga terang-terangan mengaku siap untuk menjadi capres ataupun wapres walaupun tidak mendapat tiket. Contoh lain adalah Gamawan Fauzi, mantan gubernur Sumbar yang menjadi mendagri.  Contoh-contoh perpindahan karir ke level yang lebih tinggi ini bisa berlanjut, menunjukkan bahwa tidak ada salahnya bagi pemimpuin daerah untuk memilih mengambil tanggung jawab yang lebih tinggi. Jelas, saya akan lebih percaya pada kompetensi orang yang sudah pernah memimpin kota ataupun provinsi daripada kepada orang yang telah memimpin organisasi para petani.

Sebaliknya, di sisi orang tegas saya merasa kemungkinan catatan hitam HAM cukup mengganggu saya. Jika orang baik tidak bekerja dengan baik nantinya, saya cukup merasa yakin saya akan dengan bebas tetap bisa menulis kritik akan-nya di blog ini. Jika orang baik memerintah dengan lalai, saya juga yakin orang akan masih bisa dengan  bebas mengkoreksi sembari mengutuknya di demonstrasi-demonstrasi di depan Istana Negara. Namun apa kemungkinannya jika orang tegas memimpin? Rekam jejaknya dalam melempar handpone dan menembakkan peluru ketika marah tentu tidak bisa menjadi indikasi yang valid akan kemungkinan buruk yang bisa terjadi. Tetapi seseorang pernah menulis bahwa orang yang pernah membunuh (atau menculik) akan berpikir bahwa pembunuhan (atau penculikan) adalah salah satu pilihan dalam memecahkan masalah. Kedua calon memang tidak sempurna, tapi saya akan memilih capres dengan kemungkinan terburuk paling kecil.

  1. Kabinet Baik melawan Kabinet Dagang Sapi

Kebanyakan dari kita cukup antipati terhadapa partai politik, terutama para swing voters. Tentu saja kalau Anda hard core kader partai tertentu seperti PKS atau PDIP, kemungkinan besar Anda akan sudah memantapkan hari memilih capres manapun yang didukung oleh partai Anda. Tapi bagi saya, saya selalu meragukan kemampuan orang partai. Saya lebih respect dengan orang-orang non-partai yang bertengger di pemerintahan seperti Ridwan Kamil, bu Risma, Budiono, Bambang W, Sri Mulyani, Chairul Tanjung dan para profesional lainnya. Koalisi pemerintahan SBY saat ini misalnya diisi beberapa menteri dari partai politik yang patut dipertanyakan kredibilitasnya. Suryadharma Ali yang ketua umum PPP misalnya menjadi menteri agama yang ujung2nya terindikasi melakukan korupsi dalam pengadaan Haji. Netizen juga sering dibuat geram akan tindak tanduk menkominfo Tifatul Sembiring yang dulunya ketua umum (presiden) PKS. Atau ada juga Roy Suryo, politikus partai Demokrat yang menjadi menpora yang kocaknya tidak punya banyak rekam jejak di bidang Olahraga. Ketiga contoh diatas mempunyai benang merah yang sama : mereka menjadi menteri bukan karena kapabiltas dan rekam jejak mereka di bidang kementrian yang mereka pimpin tapi lebih karena ada deal politik tentang jumlah kementrian yang harus diberikan pada parta-partai politik pendukung pemerintahan.

Nah, orang baik yang saya dukung hendak menghapuskan (ataupun paling tidak meminimalisir) praktek politik dagang sapi seperti ini. Suara-suara sumbang memang mempertanyakan keefektifan ide orang baik ini. There is no free lunch kata orang. Apa mungkin partai-partai politik yang memberikan dukungan nantinya akan diam-diam saja jika hanya diberi sedikit kursi mentri? Namun saya menghargai inisiatif orang baik ini. Bahkan Ia dengan keras menolak tawaran dukungan partai besar yang meminta jatah menteri. Akan jauh lebih mudah untuk menggaet massa jika orang baik ini sudah melakukan transaksi politik sebelum kemenangan diraih. Tapi saya yakin orang baik ini jauh berpikir ke depan, memilih melawan arus dan ingin membentuk sebuah kabinet yang juga diisi oleh orang-orang baik bukan kapling-kapling yang sudah dijatah pada para pendukungnya.

Coba bandingkan dengan koalisi bentukan orang tegas. Di beberapa media, dituliskan bahwa hampir semua partai politik pendukung koalisi ini sudah dijanjikan posisi menteri. Aburizal Bakrie dijanjikan posisi menteri utama. Ketua sarikat pekerja dijanjikan posisi menteri tenaga kerja. Mahmud MD dijanjikan posisi menteri. Majalah tempo bahkan menulis jika PPP sudah dijanjikan posisi 5 menteri, jumlah yang cukup banyak untuk partai dengan perolehan suara bontot. Orang tegas tidak menyangkal praktek politik dagang sapi ini, di salah satu kesempatan Ia mengatakan bahwa negosiasi dengan PKS paling tough, dikarenakan permintaan PKS yang cukup tinggi.

Saya tidak bisa membayangkan kabinet seperti apa yang akan dibentuk oleh koalisi orang tegas ini. Visi misi apapun yang ditulis oleh orang tegas ini, secara nalar tidak mungkin bisa diteruskan oleh (sebagian besar) kementrian yang sudah dikapling-kapling dibawahnya.

Saya berharap akan ada lebih banyak profesional, orang non-partai, dan orang baik yang akan mengisi kabinet pemerintahan 5 tahun mendatang. Kita tidak perlu orang partai seperti Aburizal Bakrie ataupun Tifatul Sembiring untuk berdiri berfoto bersama di tangga istana negara bersama kabinet mendatang; tapi kita lebih perlu sosok-sosok bersih profesional seperti Anies Baswedan untuk mengisi kabinet mendatang, menyalurkan inspirasi bagi bangsa yang sering pesimis ini.

  1. Perubahan melawan Status Quo

Pemilu India yang hampir berbarengan dengan pemilu legislatif Indonesia memberikan hasil yang cukup bersejarah, Narendra Modi terpilih sebagai presiden tanpa perlu koalisi dari partai lain dikarenakan perolehan partainya yang sangat tinggi. Narendra Modi adalah sosok penantang akan partai Kongres India yang sudah berkuasa dalam 30 tahun terakhir. Rakyat India menunjukkan ketidaksabaran mereka akan pemerintahan petahana yang tidak bisa memberikan kemajuan ekonomi yang seperti diharapkan.

Begitu juga yang saya harapkan saat ini. Ada banyak pertumbuhan ekonomi baik yang SBY lakukan. Makro ekonomi yang cukup baik dan keadaan keamanan yang relatif stabil. Namun banyak pihak termasuk saya berpendapat bahwa Indonesia seharusnya bisa lebih maju lagi. Dengan modal sumber daya manusia dan SDA kita, seharusnya quality of life kita bisa sejajar dengan paling tidak Malaysia atau Singapura.

Kedua capres: orang baik maupun orang tegas sama-sama menjual ide perubahan dan akselerasi di bidang ekonomi. Namun menurut saya ide perubahan dan akselerasi ekonomi yang dijual di bidang ekonomi oleh orang tegas akan sulit diimplementasikan nantinya. Cawapres dari orang tegas nantinya akan memimpin pos-pos ekonomi dibantu oleh “menteri utama” Aburizal Bakrie. Jelas keduanya adalah bagian dari pemerintah sekarang. Jadi akselerasi apa yang akan dibuat? Koalisi orang tegas memang sulit dibedakan dengan koalisi SBY bahkan menurut saya lebih buruk. Semua partai pendukung SBY merapat pada orang tegas: PKS, Golkar, PPP, PAN, dan PBB. Hanya Demokrat yang diganti oleh Gerindra. Lebih menakutkan, karena alih-alih memberikan posisi wapres pada profesional, kali ini cawapres justru dari PAN.

Jadi pertanyaan besar untuk kita semua: benarkah kita menginginkan perubahan lewat pilihan kita nantinya?

  1. Rekam Jejak melawan Rekaman Iklan

8 tahun lebih terakhir, orang baik yang saya dukung melakukan banyak hal kebaikan. Saya berasal dari Solo walau kuliah dan bekerja di luar Solo. Setiap kali saya kembali ke Solo di masa pemerintahan orang baik, saya selalu tertegun dengan perubahan yang terjadi. Dan saya bangga akan Solo karena perubahan ini. Setiap kali saya berbincang dengan orang Solo, nada yang sama juga dikemukakan oleh mereka. Walau ada saja orang seperti Amien Rais yang pernah mengatakan bahwa Solo itu kumuh. Namun intinya, berapa banyak pemimpin daerah yang bisa membuat perubahan sehingga masyarakatnya bisa bangga akan kotanya? Pastilah hanya dalam hitungan jari. Kita mengenal ada Ridwan Kamil, bu Risma, dan tentu saja orang baik ini.

Selama masa pemerintahannya di Jakarta, orang ini tidak hanya baik tapi juga tegas. Ia tegas melakukan pemindahan masyarakat yang tinggal di area waduk pluit dan bantaran sungai. Ia tegas dengan dominansi preman yang menguasai tanah Abang. Ia tegas dalam perbuatannya. Dalam 8 tahun terakhir Ia menyibukkan diri untuk melayani masyarakat dan bekerja. Memang masih banyak masalah yang dihadapi warga Jakarta seperti banjir dan macet. Namun kita semua menyadari masalah akut itu tidak bisa dipecahkan oleh pemerintahan provinsi saja namun butuh juga pemerintahan pusat yang turun tangan, apalagi hanya dalam dua tahun. Orang baik menunjukkan bahwa dengan resource yang terbatas Ia mampu bekerja dengan bersih dan menunjukkan hasil bukan hanya 8 tahun yang dihabiskan dengan berparade di iklan-iklan televisi.

  1. “Show me your friends and I will show you your future” – Margaret Tatcher

Entah kebetulan atau tidak, orang-orang baik yang sudah saya follow di twitter jauh-jauh hari sebelum hingar bingar pilpres ini menambah angka 2 di avatarnya. Ada Pandji Pragiwaksono, comic yang menginspirasi saya tentang prinsip kebangsaan lewat bukunya. Ada Rene Suhardono yang punya tulisan-tulisan menggelitik tentang passion dalam hidup.  Ada Dewi Lestari yang bukunya selalu saya tunggu-tunggu. Dan banyak lagi orang-orang baik lainnya seperti Arswendo, Glenn Fredly, Anies Baswedan, Todung Mulya Lubis, Dahlan Iskan, Goenawan Muhammad, Butet Kertaradjasa, dll.

Bandingkan dengan deklarasi dukungan pada orang tegas. Memang ada orang-orang baik seperti Mahmud MD dan … (saya berhenti beberapa detik ketika sampai di bagian ini karena saya sulit mencari orang-orang yang menginspirasi saya yang mendukung orang tegas). Barisan pendukung orang tegas justru diisi oleh Aburizal Bakire, dan paramiliter seperti FPI, Pemuda Pancasila, dan PBR. Bukankah ada sesuatu yang jelas dan unik disini?

Di sebuah wawancara Pak Wimar Witoelar mengatakan “All good people are in Jokowi’s side”. Saya mengamini pernyataan itu, bukan dengan spirit kesombongan dan merasa paling benar, tapi dengan keyakinan bahwa pemerintahan 5 tahun mendatang harus didukung oleh orang-orang baik bukan justru oleh para preman bersorban.

Masih ada beberapa alasan lain, mengapa saya akhirnya mengambil keputusan untuk memilih orang baik. Namun saya takut, saya hanya akan menambah kebisingan yang Anda, para swing voter rasakan. Terimakasih jika Anda adalah seorang swing voter dan Anda membaca tulisan saya (yang cukup panjang) sampai bagian ini. Jelas Anda pasti akan merasakan keberpihakan atau mungkin bias saya pada si orang baik. Tapi saya hanya mencoba mengungkapkan runut berpikir saya mengapa saya sampai pada pilihan nomor DUA. Jangan lupa untuk membaca artikel2/tulisan2 yang mendukung orang tegas. Dan setelah itu, saya harap Anda bisa menimbang, mengambil keputusan, dan memantapkan hati untuk menerima privilage kita untuk berpesta dalam demokrasi yang bising ini. Bersama-sama mendukung orang baik.

 

Puisi dari Goenawan Mohamad

Puisi dari Goenawan Mohamad

 

 

81 thoughts on “Surat untuk para Swing Voters

  1. sekedar informasi aja, siapapun calon presiden indonesia 2014 yang sebenernya berkuasa di negara indonesia ini adalah ZIONIS YAHUDI DAN ILLUMINATI! hati2 ya jangan sampai kita di adu domba dengan 2 pilihan capres yang bikin kita jadi pecah dan berantem satu sama lain, TNI dan polisi aja sekarang udah gawat karena terpecah 2 kubu, tapi ga di akui aja ama pangab jendral muldoko… hati2 bung, indonesia bisa ancur tambah ancur karena ulah ZIONIS YAHUDI!

  2. ~ Siapapun Calon Presiden yang akan menjabat sebagai Presiden Indonesia Periode 2014 mendatang, kita harus terima dengan lapang dada! ~

    Sebenarnya sungguh sangat simple dengan dua calon kandidat presiden ini. Jadi untuk para voters pemilihan Presiden Indonesia ini, kukuhkan dan tangguhkan pilihanmu serta pada saat mencoblos jadikan tanggung jawab bagi seorang voters jika kelak nanti Presiden yang akan menjabat ternyata tidak sesuai dengan apa yang telah kita harapkan dan kita gembar-gemborkan pada saat ini.

    Pesan dari saya : “Jangan memiliki Ekspetasi yang terlalu tinggi terhadap Calon Presiden saat ini, jika suatu saat nanti tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, maka timbulah perpecahan antara saudara”

    INGAT DALAM SILA KE-3 PANCASILA DIJELASKAN BAHWA :

    “PERSATUAN INDONESIA”

    TERIMAKASIH

  3. Tulisan yang tidak provokatif, tapi juga belum membuka mata, fikiran dan hati saya untuk menentukan pilihan. Semua opini dan logika fikir yang anda ungkapkan pernah ditulis dan diungkapkan, khususnya opini hitam-putih tentang pihak tertentu dikatakan “pihak yang baik” dan yang lain “pihak yang buruk”. Sama seperti media yang pernah menganalogikan Prabowo sbagai Goliath berbadan raksasa dan David yg berbadan kecil (kenyataannya Prabowo cuma kegemukan, Jokowi kurus, tapi sebenarnya beliau lebih tinggi drpd Prabowo yg katanya disebut raksasa tsb). Atau pihak baik itu Pandawa dan satu lagi Kurawa dll dll yang kesemuanya itu, buat saya, terlalu hitam putih dan bias. Tapi apapun pilihan anda yg sudah menentukan pilihan bravo, semoga Indonesia menjadi lebih baik dgn pemimpin yang baru.

  4. Begini saja… menurut saya kita bikin semacam list dari kedua calon ini dan nantinya kita bisa melihat bhw dari kedua calon ini mana yg pernah/sudah membuat hal-hal yg baik dan berguna bagi masyarakat banyak. Sssssst… jangan curang buat diri sendiri ya… cobalah membuat list yg rasional dan jauh dari subjektivitas. Selamat mencoba…:).

  5. Kita hrs memilih dengan logika jernih dan hati nurani !! Salut dgn tulisan krisnanda. Orang baik yg bisa tegas harus kita dukung bersama, kapan lagi kita memilki presiden yg baik dan benar-benar tumbuh dan mekar bersama rakyatnya. Dan bekerja utk rakyatnya tanpa ambisi menjadi Penguasa, tetapi hanya ingin menjadi Pendamping & Pengayom rakyatnya !!!! Bravoooo Pak JOKOWI… Salam DUA JARI..

  6. Postingan yg baik Dan Subyektif… Bagi anda Dan jg yg sejln dg katagori pemilihan kata yg blh dibilang cukup bijak, Baik Dan Tegas… Sayangnya penilaian msh Blm malah Tdk Obyektif, Sgt cenderung yg Baik. Tp perlu diingat saat ini tdklah cukup dg kebaikan tp diperlukan Ketegasan, tdk hanya dlm sikap tp jg tindakan krn yg Akan dihadapi Indonesia Sbg sbh Negara yg Sgt Kaya Akan Sumber Daya Mineral,Alam Dan dg SDM melimpah pula dan yg blm sepenuhnya dpt secara optimal berperan aktif dlm pengelolaan&Pembangunan dlm sistem Pemerintahan Dan Perekonomian yg spt Kita ketahui Demokrasi Sekurel yg Imperialis adlh Akan TTP SPT ini siapapun RI 1 nya, yg baik atopun yg tegas… Krn yg Indonesia butuhkan saat ini, saat semua Negara Akan alami krisis Sumber Daya Mineral&Alamnya, Indonesialah yg Msh memiliki potensi kekayaan Sumber Alam yg spt Tiada Habisnya krn Blm sepenuhnya dikelola dg baik. ini krn kurangnya Ketegasan Para Pemimpin dlm mengoptimalkan dan memberikan Kesempatan pd Putra Terbaik Ind. Yg berKemampuan&memiliki keahlian(expert, tenaga ahli di bid.msg-msg pastinya) dan dg Kompetensi SDMnya plus kurangnya Teknologi yg semuanya msh bergantung pd negara2adi kuasa yg pd akhir nya merekalah jg yg kuasai Dan Kita yg sdh-sdh jd penonton atau yg saat ini dikatakan sbg pengemis di negeri Kaya Sumber segala Sumber, blm pemimpin n penguasa yg Punya mental korup!… Dan Kita dsini yg blh dibilang msh sbg Penggembira (dg istilah bhs swing voters yg jg Baru kutau ini) adlh lbh Elegan jika ingin posting sesuatu yg sifatnya mmg Murni ingin beri Masukan, sgtlah BIJAK jika Tdk posting atau berikan Penilaian dlm arti Tdk Condong ke slh 1nya. Namun dg berikan SISI POSITIF dr-masing si Baik Dan si Tegas, Dan biarkan yg membaca postingan anda, mempunyai Penilaian yg Bijak pula… Bhw Sejati nya Kita semua punya kekurangan Dan kelebihan utk saling Isi&Lengkapi utk Indonesia BerDaulat Dlm 1 Kesatuan NKRI, dimana nanti RI 1 Dan Gub. 2nya bersama Rakyat HRS memiliki Tekad dan Mau Bekerja Keras utk mengejar ketertinggalan Indonesia Dr negara Tetangganya terdjtnya, terutama dan yg paling utama adlh Kemakmuran&Kesejahteraan Rakyat tercapai Maka Ketahanan Nasional Otomatis Terjadi&Terjaga… Ini adlh Pemikiran yg kurang lbh Subyekfitas atau Obyektifitasnya, kembalikan pd yg Baca jg punya Pemikiran&Kepentingannya sendiri… Salam Indonesia 1

  7. ABang setuju dengan Abah. Kita bukan sedang bertanding tinju (atau pertandingan lainnya), tapi sedang lomba lari (atau perlombaan lainnya). Teman2 pasti tahu perbedaan tanding dan lomba.
    Saya adalah swing voter abadi, karena bukan anggota atau partisan partai apapun. Tapi tidak pernah golput.
    Bila sedang kesulitan memilih, pakailah sistem tabulasi.
    Untuk kasus pilpres ini, buat dua kolom atas nama calon 1 dan 2, dan beberapa (atau sebanyak mungkin) baris untuk faktor2 penentu pilihan (seperti partai pendukung, rekam jejak dll).
    Mudah2an pilihan kita akan mendekati obyektif. Semoga.
    Selamat mencona.

  8. Trm ksh artikelnya dan para komentatornya, sangat menginspirasi. Sy jd berpikir utk tdk golput lagi, meski blm yakin mana yg akan sy pilih.
    Smoga negeri tercinta ini slalu dlm lindungan Tuhan.

  9. tulisan anda sangat rasional menurut saya. bkn bermaksud ingin mempengaruhi orang lain untuk memilih calon tertentu, tp menurut saya tulisan anda ini dpt memberikan informasi dan edukasi yg cukup bagi masyarakat terutama pemilih mengambang. izin share ya😀

  10. Tulisan yang bagus dan inspiratif… Sejak dulu sy tidak begitu tertarik dengan Pemilihan Presiden karena kesannya sangat diatur dan penuh dengan basa basi saja… Namun ketika ada ‘orang Baik” yang mencalonkan diri dgn rekam jejak yg begitu menyentuh hati… secara spontan hati saya berkata “YES” pasti akan ada perubahan baik buat Indonesia dalam Ridho Allah SWT! Seringkali ika melakukan perjalanan keluar negeri terkadang imajinasi saya menerawang, kapankah negara kita lebih maju dari negara2 tetangga karena sering merasakan sesuatu hal yang mengamini bahwa Negara kita “masih jalan di tempat”. Namun dgn adanya perubahan demokrasi dan mulai bermunculan orang-orang baik saat ini yang dibarengi semangat kerja, jujur dan merakyat, saya OPTIMIS akan banyak Perubahan. Mudah2an kita semua dapat memberikan yg terbaik buat Bangsa dan Negara ini yg tentunya mendukung orang-orang yang tidak munafik dan opportunitis.
    Salam 2 Jari!!

  11. alaaah PDI-P juga taik banyak yang korupsi!!!! gak ada yang benar lah Indonesia apalagi PDI-P yang sok cari muka, tapi kalau bu Risma baru TOP, sayang gue gk akan pilih perempuan sebagai pemimpin, tapi tetep bu Risma itu TOP

  12. Kalo menurut saya…
    Saya melihat 2 org ini punya tujuan yang sama2 baik…
    Namun alasan saya memilih salah satu dari mereka yaitu melihat dari tujuan yang punya pandangan jelas kedepan dengab teori dan pengetahuannya tentang Indonesia…
    Jadi menurut saya pemimpin Indonesia bukan hnya perlu “orang baik” tapi “orang baik dan memiliki tujuan yang sangat jelas untuk tanah air”

  13. sejatinya anda bukanlah seorang “swing voter” tulisan anda bagian dari kampanye anda yang menjagokan “orang baik” versi anda, tulisan anda tidak proporsional antara orang baik dengan orang tegas, anda seperti salah satu dari dua stasiun berita tv yang anda sebut dalam tulisan anda, jelas sekali mempengaruhi dan mengajak pembaca memilih orang baik yang anda kampanyekan, anda bagian dari timses salah satu pasangan yang bekampanye dengan seperti ini, harusnya tulisan anda proporsioal dan biarkan pembaca yang menentukan pilihannya yang terpenting swing voter tidak menjadi golput.

  14. Tulisan yang sungguh baik untuk dukungan ke “orang baik”… 🙂

    Kalau diijinkan untuk memberi masukan ( jangan dianggap sebagai serangan ya ), menurut saya Anda salah memetakan diri Anda sebagai Swing Voters. Anda mungkin hanyalah Pemilih yang tertunda.

    Swing Voters tidak berpikir seperti alur berpikir Anda. Dari mana saya tau? Dari tulisan Anda diatas sudah terlihat jelas. Tulisan Anda diatas hanya membagi dalam 2 sisi, yang baik dan yang jelek, walaupun Anda bungkus dengan kata-kata “tegas”. Yang satu Anda unggulkan, satu lagi Anda jatuhkan. Tidak jauh berbeda dengan apa yang tiap hari muncul di SosMed seperti Facebook, Twitter, dll, baik dari kubu manapun… mereka melakukannya persis seperti yang Anda lakukan.

    Swing Voters tidak memihak. Mereka jelas berdiri di tengah dan memperhatikan dengan seksama apa yang terjadi di Sudut Kiri beserta barisan pendukungnya dan apa yang terjadi di Sudut Kanan beserta barisan pendukungnya. Mereka memperhatikan, mengumpulkan data, dan mencermati dengan seksama tiap tindakan, kata-kata, tanggapan, sikap, dlsb yang ditunjukkan oleh masing-masing kubu. Mereka tidak tertarik terlibat dalam adu komentar dalam SosMed. Tapi mereka suka mengamati apa yang terjadi di SosMed, karena itu salah satu bahan untuk penilaian mereka. Apa yang diamati? sikap dan cara-cara pendukung masing-masing kubu.

    Swing Voters adalah kelompok yang lebih menggunakan rasio daripada sekedar perasaan. Rata-rata mereka berpendidikan tinggi dan berada di kelas menengah. Mereka cerdas secara EQ. Mereka tidak mudah terbawa arus untuk dukung mendukung. Mereka tidak mudah terbawa arus untuk mendewakan salah satu calon sampai seperti gelap mata tak bisa melihat kelemahan calonnya sendiri. Mereka juga tidak mudah termakan tudingan-tudingan yang dikeluarkan masing-masing kubu terhadap lawannya. Mereka ini justru lebih netral daripada Pers kita saat ini, karena Swing Voters benar-benar akan mencari data pendukung untuk cover both sides. Mereka hanya menunggu data-data tersebut lengkap dan kemudian mengambil keputusan. Dan keputusan itu pun tidak mereka umbar di SosMed. Keputusan itu hanya untuk mereka sendiri, karena begitulah karakter Swing Voters.

    Itu sebabnya, pada saatnya nanti Swing Voters akan memilih mana yang menurut mereka lebih rasional dari semua sisi, semua aspek.

    Yang perlu hati-hati adalah, pendukung salah satu kubu yang terlalu menggebu-gebu sehingga terlalu agresif terus menyerang, mencela, dan tidak bisa melihat ke “cermin”, apalagi ditambah Calon yang didukungnya juga ikut-ikutan selalu mencela, akan masuk dalam kategori tidak rasional lagi untuk dipilih. Para pendukung ini saking semangatnya, saking “buta”nya, mereka terjebak untuk terus menyerang pendukung kubu yang lain. Mereka asyik berbalas celaan. Mereka lupa bukan itu sasarannya. Pendukung masing-masing kubu sudah solid, sulit untuk berubah, jadi tidak usah diurusin. Target mereka adalah Swing Voters yang belum mengambil keputusan. Sayangnya, tindakan dan sikap mereka malah membuat muak para Swing Voters dan bisa-bisa masuk kategori tidak rasional.

    Jadi, percayalah… Swing Voters cukup cerdas untuk bisa mengambil keputusan secara mandiri.

    Salam Indonesia.

    • Pandangan tentang swing voter..sebagian besar saya sepaham, malah “ngerasa”. Trutama tentang para swing voter yang menjadi pengamat sosmed namun justru tidak mengumbar pendapat/pilihan di sosmed.

      Tapi pandangan tentang tulisan ini disamakan dengan tulisan2 sebelumnya di sosmed, buat saya ga. Tulisan ini, dri sekian banyak tulisan terkait pilpres (baik yg dri kubu tertentu yg sdh jelas mndukung capres mana maupun dri yg masih netral ato ngaku2 netral)..adalah yang PALING CERDAS, PALING TIDAK PROVOKATIF..pdhal penulis udh jelas mendukung capres yg mana. Hmmm..mungkin sbnrnya ada unsur provokasi itu, tpi sangat halus..dan ga bikin “meletup”..hanya tersentuh, untuk kemudian berpikir.

      Komen2 terhadap tulisan ini pun…bagi saya sangat cerdas dan santun, seperti tulisannya.
      Smoga makin bnyak tulisan yg seperti ini…🙂

  15. tahun ini umur saya menginjak 17tahun di bulan maret yang lalu,dan sudah mempunyai ktp pada bulan april,sayangnya saat pemilu april kemarin hak saya tidak saya ambil…. di pemilihan 9juli ini saya sudah berinisiatif langsung untuk mempertanyakan hak saya untuk bisa mencoblos,inysa alloh saya yakin benar dengan pilihan saya nanti kepada bapak jokowi dan jk,alasan saya bukan karna ikut2tan orang lain,atau setelah membaca tulisan bapak ini,saya sedikit banyak tau dengan sejarah,jika pijlihan saya ke bapak orang tegas,mungkin negara ini akan AMAN,AMAN bagi anak2 para pns,polisi,tentara,dan guru2,bahkan mungkin saja orangtua mereka akan jauh lebih SEJAHTERA,di banding saya yang orang tuanya hanya pedagang kerajinan tangan sendiri yang di jual di tempat para siswa-siswi saat sedang studi tour di kota bandung..mungkin kah saya akan sejahtera seperti mereka?apa mungkin teman” saya yang ayahnya mungkin pekerjaanya jauh di bawah ayah saya bisa sejahtera?pedagang,petani,tukang beca,penjual pasar,supir angkot,bus,dll kalangan bawah,apakah orang tegas bisa mengsejahterakan kami?mungkin bisa JIKA DALAM VISI MISI mereka tapi di orng tegas tidak seperti orang baik yang terlahir dan di besarkan dari merasakan,melihat langsung.., inysa alloh saya tidak hanya bercerita dan berkoar tapi sayapun berusahan melakukan,MENGYAKINKAN kepada teman” saya pemilih muda dan pertama untuk bisa lebih cerdas dalam memilih untuk setidak-tidaknya tidak salah,jikapun bapak jokowi dan jk tidak di beri mandat oleh rakyat yang sudah terlanjut salah memilih nanti tgl 9,setidak tidaknya saya dan teman” tidak DOSA UNTUK RAKYAT INDONESIA tidak dosa di mata alloh swt,karna saya tidak salah memilih pemimpin indonesia… terimakasih

  16. Reblogged this on Planet Hijau and commented:
    Nah, orang baik yang saya dukung hendak menghapuskan (ataupun paling tidak meminimalisir) praktek politik dagang sapi seperti ini. Suara-suara sumbang memang mempertanyakan keefektifan ide orang baik ini. There is no free lunch kata orang. Apa mungkin partai-partai politik yang memberikan dukungan nantinya akan diam-diam saja jika hanya diberi sedikit kursi mentri? Namun saya menghargai inisiatif orang baik ini. Bahkan Ia dengan keras menolak tawaran dukungan partai besar yang meminta jatah menteri. Akan jauh lebih mudah untuk menggaet massa jika orang baik ini sudah melakukan transaksi politik sebelum kemenangan diraih. Tapi saya yakin orang baik ini jauh berpikir ke depan, memilih melawan arus dan ingin membentuk sebuah kabinet yang juga diisi oleh orang-orang baik bukan kapling-kapling yang sudah dijatah pada para pendukungnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s