Zona Nyaman

Hari ini gw ngobrol banyak ama sesama orang Indonesia yang udah 9 tahunan tinggal di Eropa. Sewaktu SMA, dia adalah anak perkumpulan pencita alam yang cukup aktif. Mulai dari gunung Semeru, Merapi, Merbabu, hingga Rinjani dijelajahinnya.

Selama menjelajah gunung dan desa itulah, Ia semaking mengenal Indonesia. Pengalamannya berinteraksi dengan orang-orang di pedalaman Indonesia justru membuatnya terheran-heran.

Pernah suatu ketika, Ia dan rombongan temannya tersesat di sebuah desa di sekitar Gunung Merbabu. Hingga akhirnya mereka bertemu dengan seorang Bapak. Uniknya si Bapak ini tidak bisa berbahasa Indonesia dan hanya bisa berbicara bahasa Jawa halus. Dengan bahasa tarzan, akhirnya mereka diajak untuk menginap di rumah si Bapak tua ini di rumahnya. Teman gw berkata bahwa pengalaman ini ga pernah dia lupain. Si Bapak masakin indomie untuk dia and teman2nya. Dan diakhiri dengan menonton TV kecil hitam putih bersama. Selama satu malam itu tidak ada satupun percakapan yang nyambung, walau “tetap bisa ketawa2 bareng” kata temen gw ini.

Pengalaman yang berkesan lainnya dia dapati ketika bersama anak-anak jalanan di Jakarta. Bersama teman2 organisasi pencinta alamnya, Ia membantu sekelompok anak jalanan untuk membuat sebuah pentas kesenian. Ketika melihat anak-anak itu akhirnya berhasil bermain pentas, Ia berceletuk “Itu salah satu rasa paling bahagia yang pernah gw rasain”.

Menikmati indahnya alam pedalaman Indonesia, bercengkrama dengan orang-orang desa, dan bekerja bersama dengan anak-anak jalanan merupakan hal-hal yang tidak biasa dilakukan oleh orang Indonesia. Kegiatan-kegiatan seperti ini biasanya lahir dari (atau melahirkan) cinta akan bumi dan negara Indonesia. Yang ujung2nya menstimulus akan tindakan2 kontribusi buat tanah air.

Namun Ia melanjutkan ceritanya: “Tapi sekarang udah beda rasanya. Kalau liat ketidakadilan ya gw biasa aja.”

Hidup di negara maju sebagai middle class memang sangat nyaman. Jalan-jalan wisata setiap tahun, mobil, dan banyak hal yang ada di genggaman tangan orang2 Indonesia diaspora ini. Ga ada kerasnya hidup Jakarta yang bisa dilihat tiap hari. Ga ada kernet bis, penjual koran, dan anak jalanan yang menyentil hati di hari-hari biasa. Yang tersisa adalah secangkir kopi 4 euro dan makan malam 20 euro yang bisa didapat tiap hari.

Zona nyaman memang bisa membunuh banyak hal. Salah duanya adalah mimpi dan panggilan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s