Konspirasi Mamarika Wahyudi Mijon Remason Salibis Liberal-komunis!!

Setiap kali ada orang yang posting sesuatu yang berkaitan dengan teori konspirasi di social media, gw selalu mengernyitkan alis, geleng-geleng kepala, and gigit-gigit kuku jari. Menurut gw kasta orang-orang yang percaya and nyebarin teori-teori ini sama rendahnya ama orang-orang yang nyebarin berita-berita hoax or hate speech dari situs2 seperti voaislam.com and arrahmah.com. lol

Sayangnya orang-orang yang suka percaya or nyebarin teori-teori konspirasi ini banyak juga yang berpendidikan tinggi. Bikin gw makin “keki”. Pagi ini gw liat ada yang post teori konspirasi tentang ISIS. Gimana ISIS sebenernya adalah buatan CIA dan Mossad untuk merusak Islam dari dalam. Again, gw geleng-geleng kepala. *Tarik nafas panjang*. Dan gw pun berpikir tentang beberapa hal.

Mengapa mereka gampang percaya ama teori Konspirasi?

  1. Mencari Rasa Nyaman

Waktu gw nunggu pengumuman diterima di Universitas di US atau waktu gw nunggu visa kerja di Jerman adalah waktu-waktu paling menderita buat gw. Karena disitu ada uncertainty. Ketidakpastian yang sangat parah karena gw ga bisa berbuat apa-apa. Semua kendali ada di tangan pihak universitas di US atau pihak imigrasi Deplu Jerman. Nah menurut gw konspirasi menjawab kebutuhan manusia yang lumayan dasar ini: memberi rasa nyaman!

Konspirasi menjawab hal-hal yang susak dijelaskan secara nalar, hal-hal yang mengganggu kita, hal-hal yang ekstrim.  Kasus ISIS misalkan, bagi sebagian orang hal yang dilakukan mereka sangat disturbing. Ada orang-orang Kristen yang disalib karena kepercayaannya. Ada orang-orang Islam yang asal ditembak hanya karena mereka mantan prajurit Irak atau tidak mau menyerahkan loyalitas mereka pada “khilafah” baru ini. Nah hal ini sangat membuat ga nyaman. Bagaimana orang bisa melakukan hal-hal barbar seperti itu apalagi dengan embel-embel agama. Teori konspirasi segera menjadi jawaban. Dengan bilang bahwa Mossad ataupun CIA ada di belakang ISIS, maka timbul rasa nyaman bahwa organisasi dengan embel-embel agama tidak mungkin berbuat seperti itu sebenernya, tapi karena ada otak jahat di belakangnya maka hal itu menjadi mungkin. Pihak-pihak yang disalahkan tentu saja biasanya adalah pihak-pihak yang “berbeda” dari orang yang percaya akan teori Konspirasi itu. Di Indonesia, ya yang jamak jadi kambing hitam adalah Amerika, Barat, Yahudi, Komunis, Cina, Kristen, dll. “Kaum Liyan” – mereka yang berbeda dengan saya. Jadi kalau mereka yang ngaco bukan kaum gw, gw bakal lebih nyaman.

Di Amerika juga terjadi hal yang sama. Inget ga ada tragedi penembakan anak-anak SD di Sandy Hook? Setelah itu timbulah banyak teori konspirasi. Kalau di Amerika yang biasa jadi kambing hitam ya pihak pemerintah. Teori konspirasinya adalah penembakan ini disetting oleh pemerintahan Obama supaya Ia bisa segera membuat hukum untuk pembatasan kepemilikan senjata api (yang ditentang oleh orang Republik biasanya). Sekali lagi, hal yang ekstrim ga masuk akal: seseorang bisa dengan santainya nembakin anak-anak kecil butuh penjelasan yang membuat rasa nyaman, aman , dan kepastian. Dan teori konspirasi menjawab kebutuhan ini (terutama bagi sebagian jomblo yang sering ditanyain kapan nikahnya).

 

  1. Motivated reasoning dan confirmation bias

Gw kenal dua istilah itu waktu dulu rame-ramenya kasus korupsi Sapi-nya PKS. Jamaah PKS ramai-ramai langsung membangun benteng argumen. Pihak yang jadi kambing hitam mulai dari KPK, Amerika, hingga Zionis.  Hidayat Nur Wahid langsung berkicau menyalahkan Israel : “Kalau di dalam negeri mungkin ada partai yang tidak ingin PKS jadi partai besar. Terkait dunia internasional, PKS yang suka membantu Palestina, mungkin juga kelompok Zionis,” katanya. Groupies-groupies PKS pun ikut tergabung dalam paduan suara ini. Intinya PKS dizalimi!!! Nah ini adalah salah satu efek dari motivated reasoning yaitu cara berpikir (mengambil kesimpulan dan menganalisa) yang bias terhadap apa yang sangat dipercayai. Bagi groupies PKS, partai mereka adalah partai terbesih. Ga mungkin donk presidennya bisa sampai korupsi. Berlanjutlah pada confirmation bias yaitu cara untuk memilah-milah bukti yang ada. Bukti atau opini yang bertentangan dengan preexisting belief akan diacuhkan, sebaliknya yang mendukung teori mereka akan didukung kuat. Semua pihak yang membawa bukti yang berlawanan dengan kepercayaan akan dikaitkan sebagai bagian dari konspirasi!

Ini paling gampang ditemukan di ranah agama. Agama itu preexisting believe yang sangat kuat. Misalnya di kasus antara hubungan antara science dan agama. Orang suka sekali share tentang gimana kitab suci mereka menjelaskan hal-hal yang ilmiah sehingga kesimpulannya kitab suci mereka adalah yang paling benar. Dan sayangnya tentu saja prinsip-prinsip ilmiah yang dipaparkan ya yang dipilih-pilih. Mana yang mendukung kitab suci mereka.

Nah kedua hal ini (Motivated reasoning dan confirmation bias) akan semakin parah kalau berkembang di sebuah komunitas yang cara berpikirnya seragam (entah karena doktrinasi ataupun kesamaan agama dan unsur-unsur primordial lainnya). Bayangin aja kalau ada 1000 groupies-groupiesnya Jokowi (atau Prabowo) berkumpul di sebuah tempat. Itu dalam 24 jam mereka bisa bikin 7 novel berseri teori konspirasi pihak-pihak yang ingin menjegal Jokowi. And novelnya mungkin bakal ngalahin JK Rowling (bayangin sebuah novel dengan judul “Jokowi dan Babi Ngepet Pencuri Tabungannya” so exciting right?)

 

  1. Semua orang suka cerita misteri, thrilling, dan alluring

Kita semua suka cerita-cerita misteri konspirasi gitu laiknya film Jason Bourne. Bikin hidup lebih menarik. Nah teori konspirasi sekali lagi menjawab kebutuhan itu. Dan lagi secara naturalnya orang itu juga suka ketertarikan untuk memecahkan puzzle dan mencari pattern. Jadi kloplah. Dengan sedikit utak-atik gathuk maka semua pihak yang tidak disukai bisa dimasukin di satu ember dan dibuat cerita kalau mereka lagi berkonspirasi melawan kita. Walau kadang gw juga berpikir gitu sih. Gw curiga kalau ada konspirasi antara raja kecoak di Madagascar yang bekerja sama ama ratu lemak di Texas untuk selalu menggagalkan keinginan gw untuk bangun pagi setiap hari.

 

  1. Guoblok dan Budaya Instan!

Iya alasan keempat ya just simply some people are moron and pengen solusi instan.

  • Ada orang-orang barbar di Suriah dan Irak yang bunuhin orang-orang secara sadis, gimana solusinya? Itu konspirasi Amerika!
  • Ada orang gila nembakin anak-anak SD di Amerika, gimana solusinya? Itu konspirasi partai Demokrat!
  • Jokowi jadi presiden, padahal gw sukanya Prabowo, gimana solusinya? Itu konspirasi orang Cina di Indonesia!
  • Gw ga lulus S1 padahal udah 7 tahun di ITB, gimana solusinya? Itu konspirasi orang penjual buku di palasari, tukang fotokopi di balubur, tukang parkir di dago, dan penjual makanan padang di bonbin biar bisnisnya terus jalan!
  • Sayur kog ga enak rasanya, gimana solusinya? Itu konspirasi McDonald, KFC, Burger King, Taco Bell, Five Guys, ama In and Out biar gw makan junk food terus!

 

Apa Efek Ngaco dari Teori Konspirasi?

  1. Semakin menjauh dari akar masalah dan solusi konkrit

Ada teori konspirasi tentang vaksin. Kalau di Negara barat teorinya vaksin membuat orang Autis. Kalau di Negara mayoritas Islam, teorinya vaksin ada unsur babinya. Nah kebayangkan efeknya? Orang-orang yang harusnya bisa hidup sehat malah bisa rentan ama penyakit macem-macem gara-gara percaya ama teori konspirasi kaya gini. Begitu juga misalin kita percaya kalau ada konspirasi kaum zionis untuk merusak PKS dalam kasus korupsi Sapi. Orang Indonesia semakin menjauh dari pokok permasalahannya yaitu korupsi itu sendiri. Malah jadi sibuk ngebelain preexisting believe masing-masing.

  1. Membebaskan pelaku yang sebenarnya dari kesalahan

Teori-teori konspirasi membebaskan penembak di Sandy Hook, Lutfi Hasan presiden PKS, ISIS, dan  para pelaku kejahatan lainnya dari kesalahan mereka, dengan cara mencari kambing hitam lain. Yang harusnya dihukum malah jadi bebas melenggang dengan cantiknya.

  1. Hate Speech

Yang jadi kambing hitam dari teori konspirasi yang biasanya pihak-pihak yang “berbeda”. Bagi rakyat Amerika yang jadi langganan ya pihak Pemerintah, lobbyist, Islam, dsb. Bagi orang Indonesia ya Yahudi, Amerika, Kristen, Cina, dll. Makin terbelah-belah lah orang. Kamu kalian dan kita.

  1. Yang bodoh dan fanatik makin diperdaya

Dengan teori konspirasi orang bigot bisa makin bigot. Dengan makin bigot ya makin gampang diperdaya. Makin  gampang disuruh nyoblos pihak tertentu. Makin gampang digerakkan untuk kepentingan tertentu. Bigotry does produce votes.

Gimana cara deteksi teori Konspirasi yang ngaco?

  1. Most of them are hoax

Ini premis utama gw. Anggap gw naïf, tapi emang gw susah percaya teori Konspirasi.

  1. Kontradiktif

Selalu test teori konspirase dengan sebuah logika atau fakta sederhana. Kalau teori konspirasinya berlawanan ama logika atau fakta sederhana itu, ya teori konspirasinya ngaco.

ISIS buatan Amerika? Apa untungnya buat Amerika? Buat merusak Islam?

Amerika udah rugi berat di Irak. Di Negara sendiri kebijakannya udah ga didukung lagi. Uang disebar abis-abisan disana. Prajurit banyak mati buat mendirikan pemerintah “demokrasi” yang pro Amerika. La trus Amerika sekarang mau buat ISIS buat merongrong pemerintah yang udah pro-Amerika ini? Segoblok-gobloknya George Bush kayanya dia tetep ga akan buat keputusan kaya gitu deh.

  1. Semakin detail sebuah teori konspirasi dan semakin banyak pihak yang harus terlibat, teori konspirasi itu makin kemungkinan besar ngaco.

 

jkw-china-as-di

Jokowi dan Ahok adalah konspirasi Anthony Salim, James Riady, Dahlan Iskan, Chairul Tanjung, China, USA, Demokrat USA, Republik USA, Kristen, Katolik, Komunis, Liberal, dst. Coba lihat diagram diatas. Gila kan? Jago banget yang bisa bikin mereka semua ngopi-ngopi santai bersama di salah satu kafe Starbuck di Seattle buat bikin rencana bareng ini.

  1. Terlalu bombastis

Kalau lu denger ada raja kecoak dan ratu lemak di teori konspirasi apapun bisa dipastikan itu ngaco. Kaum Zionis yang mau merusak Indonesia misalkan. Menurut gw itu bombastis. Kurang kerjaan banget Israel ngurusin negara yang sedikit kepentingannya ama mereka. Itu kaya gw kepo ngurusin penjual doner kebab di Berlin yang gw ga ada urusannya. Kita aja orang Indonesia yang suka ge-er. Berasa semua pihak di dunia ini memusatkan perhatian ke kita and mau do evil things ke kita. Mungkin itu bawaan mental dijajah. Ga ilang-ilang sejak Belanda jahanam jajah kita.

Akhir kata, sekali lagi gw mau ngasih selamat untuk semua agen konspirasi Mamarika Remason Mijon Salibis Liberal Sekuler Cina di seluruh dunia ini. Akhirnya kalian berhasil bikin Ahok jadi gubernur DKI. Next target presiden Indonesia 2019 yah. Nanti gw bantu dengan bikin agen konspirasi bersama raja kecoak dan ratu lemak dari sini. Ciao bella!

5 thoughts on “Konspirasi Mamarika Wahyudi Mijon Remason Salibis Liberal-komunis!!

  1. Hehehe keren keren, paling cetarnya tentu si ciao bella😀

    Tapi mau tanya, “Kalau teori konspirasinya berlawanan ama teori konspirasi, ya teori konspirasinya ngaco.” ini maxudnya gmana ya?? hehehehe

    Lanjut nulis terus!

  2. Yang ISIS memang ada dokumen dari Snowden, Mantan pegawai Badan Keamanan Nasional.
    Jangan pula meremehkan konspirasi ya, krn sy rasa konspirasi itu tidak mustahil exist.

  3. Selama lo ga bisa buktikan bahwa teori konspirasi mamarika remason dll itu salah dengan fakta yg jelas dan ga cuma opini (kayak lo tulis di atas), mungkin aja lho bener..😀

    Syalalalala..

    • Ya, ya, Jokowi bisa jadi presiden itu Konspirasi Mamarika dan para cukong Cina (menurut voaislam, hahaha)
      Tapi kenyataannya Jokowi memperoleh suara terbanyak dari orang orang Indonesia yang hitam dan keriting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s