Kerja di Perusahaan Tiga Strip

Print

Nuremberg, Herzogenaurach, dan World of Sports

  1. Markas besar adidas Group itu ada di kota kecil. Namanya Herzogenaurach, 20 km dari kota metropolitan yang namanya Nuremberg. Kota Herzogenaurach ini tempat lahirnya dua bersaudara namanya Adi Dassler ama Rudolf Dassler. Dulu keduanya sama-sama ngebangun perusahaan sepatu bersama. Namun karena alasan yang ga jelas ampe sekarang (ada yang bilang Adi Dassler selingkuh ama istrinya Rudolf Dassler), mereka berdua pecah kongsi. Adi Dassler akhirnya bikin perusahaan dengan nama adidas (with a lower case “a”). Sedangkan adiknya bikin perusahaan sepatu dengan nama Puma. Baik Puma maupun adidas markas besarnya di Herzogenaurach ini. Bikin harga sewa apartment di daerah ini gila-gilaan mahalnya.
  2. Kebanyakan orang makanya tinggal di Nuremberg, kota kedua terbesar setelah Munich di state Bavarian –termasuk gw. Markas Siemens juga sebenernya di kota kecil di deket Nuremberg (Erlangen namanya). Jadi kalau ada orang ngomong pake Bahasa Inggris di Nuremberg, kemungkinan besar kalau dia ga kerja di Puma, adidas Group, ya di Siemens. Di Nuremberg ada neighborhood yang terkenal sebagai tempat tinggalnya orang adidas kaya St. Johannis, Maxfeld. Tentu saja harga rent rumah di daerah2 itu jadi melonjak, karena orang yang kerja di adidas dianggap middle-upper class.
  3. Di dunia, selain di Jerman adidas Group punya kantor yang cukup besar di Boston (untuk merek Reebok), Portland (untuk adidas), Amsterdam (fokus di e-commerce), Rusia, dan Hongkong.
  4. Markas besar di Herzogenaurach lumayan gede. Dinamai sebagai “World of Sport” (atau sering disingkat sebagai WOS). Di WOS ini ada 3000an orang yang kerja jadi kompleksnya mirip kaya universitas. Ruang terbuka dimana-mana plus fasilitas olahraga yang lengkap. Banyak orang yang main tenis, ngegym, atau main voli pantai di sela-sela pekerjaan mereka.
  5. Gedung kerja yang utama namanya “the Spikes”. Orang business, finance, hrd, and senior management tempatnya disini. Dinamai “the Spikes” ya karena bentuknya seperti jeruji. Gedung-gedung the spikes ini dulunya bekas base militer Amerika Serikat waktu mereka masih ngeduduki Jerman.
  6. Gedung kerja paling cool namanya “the Laces”. Product designer and shoes designer kerjanya disini. Jadi kalau masuk ke gedung ini berasa kaya di San Fransisco, penuh orang-orang hipster. :p Ada juga innovation team office di sini, yang ga semua orang bisa dapat akses masuk gedungnya.
  7. Gedung kerja tempat gw ngantor namanya “WoGIT” – World of Global IT. Sayangnya tempat ini kaga cool sama sekali, walau tetap nyaman. Sering diejek sebagai “little India”, karena ya you know lah.. :p
  8. Ada juga gedung yang namanya “Brand Centre”. Bentuknya cukup nerdy karena full dilapisi kaca hitam. Di dalam brand centre juga ada “walk of fame”-semacam galeri sejarah adidas Group dan sample toko adidas.
  9. Ada dua kantin utama di adidas. Yang paling gede namanya “the Stripes”. Jenis makanan yang disajiin macem-macem and lumayan enak. Sayangnya ga gratis. Koki yang membidani kantin ini juga adalah koki yang sama untuk tim sepakbolanya Jerman. Jadi apesnya buat orang Indonesia kaya gw, jarang banget dapet deep-fried food and makanan2 ga sehat lainnya yang biasanya jauh lebih enak dari makanan sehat. Jumat adalah cheating day, jadi ada curry wurst + french fries (yang enak tapi kaga sehat banget).
  10. Untuk ukuran Jerman, cukup aneh karena kantinnya ga jual minuman beralkohol satupun. Even beer yang ga beralkohol juga ga dijual.
  11. Di belakang the Stripes ada kebun sayur + sarang lebah. Jadi madu dan sayur-sayurannya “katanya” fresh from the nature. Walaupun gw ga percaya seratus persen. Untuk bisa kasih makan ratusan orang tiap hari, kayaknya ga mungkin kebunnya bisa panen tiap hari.
  12. Untuk yang punya anak kecil, ga perlu khawatir. Ada fasilitas childcare yang dinamai “World of Kids”. Walau gw belum pernah masuk gedungnya sih.

 

Brand Identity

  1. adidas Group sendiri punya beberapa brand di bawahnya. Tentu saja, adidas adalah brand-nya yang paling terkenal. Brand adidas sendiri dibagi jadi tiga kategori: adidas performance (dengan logo 3 stripes) yang focus di pasar olahraga, adidas original (dengan logo trefoil – mirip daun ganja gitu) yang focus di pasar casual apparel, ama adidas style yang focus di pasar high end (merek2 terkenalnya Y3, stan smith, dsb). Selain adidas, adidas Group juga membawahi brand Reebok (ga banyak yang tahu kan?), Taylor-Made (merek golf accessories), dan Rockport (sepatu-sepatu dari bahan kulit).
  2. Staff sales! Adidas ini agak nakal sebenernya, tiap minggu ada aja pengumuman staff sales ini or staff sales itu. Walaupun barang yang dijual jauh lebih murah tapi tetep aja bener-bener menstimulasi pekerja adidas buat spend uang yang ga sedikit. Berasa aneh aja sebenernya, you earn money from adidas then you spend money back to them. Hahaha. Tapi tetep aja gw suka kalap. Pernah beli tiga tas dalam sehari. Gara2 diskon 50%. Or beli sepatu yang ga dibutuhin gara2 diskon dari 100 euro jadi 21 euro. (kapan lagi gw punya sepatu 1,6 juta!!! *kampung* *maaf*)
  3. Ada peraturan eksplisit kalau dilarang pakai produk competitor. Jadi ga pernah tuh gw liat ada Nik*, Pum*, N*rth face, atau produk2 lainnya. Sandal jempit havaian*s aja dilarang. Tapi pakaian yang dipakai tiap hari super casual. Orang-orang banyak pakai celana pendek, jeans, and t-shirt. Walau tentu saja ada “three stripes” di semua pakaian mereka.

Company Culture

  1. Super flexible. Mau kerja dari rumah, dateng siang, atau ga kerja boleh-boleh aja. Yang penting kerjaan beres.
  2. Agak santai. Mungkin karena ini summer juga. Jadi gw ngerasa pace kantor lumayan santai. Hari ini misalnya, si bos kabur buat ber-montain biking ke Austria. Jadi deh gw agak nganggur and nulis blog ini. :p
  3. Khas perusahaan Eropa (katanya) yang terlalu banyak peraturan buat melindungi karyawannya such as: dilarang kerja overtime lebih dari 3 jam dalam satu hari tanpa izin dari serikat kerja, kalau total udah kerja overtime lebih dari 40 jam harus lapor, cuti 28 hari pertahun (yang dalam satu kali minimal harus langsung diambil 10 hari cuti secara berurutan), 3 bulan cuti untuk suami yang istrinya melahirkan, 10 hari cuti tambahan untuk orang yang punya anak (10 hari per anak sebenernya dengan max 25 hari cuti), dsb. Yang ngurusin semuan ini ya serikat pekerjanya (work council). Begitu juga dengan jika ada lowongan pekerjaan. Sistemnya rumit. Setiap loker harus ditawarin ke orang dalam adidas dulu selama 2 minggu, kalau ga ada yang kompeten baru ditawarin ke orang Jerman, kalau ga ada lagi baru ditawarin ke satu Uni Eropa, and terakhir kalau bener-bener ga ada orang yang mereka rasa kompeten baru boleh hire orang dari luar Uni Eropa.
  4. Di perusahaan ada beberapa tipe pekerja: internal employee, external employee, temp employee, training program, working-student, ama intern. Yang nurut gw aga kasihan itu external employee. Jadi by German law mereka ga boleh dikasih meja permanent. Sebenernya peraturannya buat ngelindungi mereka, biar company ga asal hire external employee (yang lebih murah dari internal employee). Karena peraturan itu, daerah meja-meja external employee dipisahin ama meja-meja internal employee. And berasa aneh aja, mereka duduk di satu area yang dilabeli “external working space” yang ga ada apa-apa kecuali kursi meja and laptop mereka. First come first serve.
  5. Semuanya “into” sport. Setiap hari senin jam 11 siang, tim gw lari 7 km bareng. Hari yang lain, tim gw juga pada mountain-biking yang gw kaga bisa ikut karena kaga rela beli sepeda harga 2000an euro itu. Hahahha.
  6. International atmosphere. Walaupun “cuman” 22% jumlah pekerja non-German tapi dalam satu bulan terakhir ini gw ketemu orang-orang dari banyak negara: Amrik, Inggris, Spanyol, Portugal, Columbia, Singapore, China, India, etc. Setiap kali rapat berasa kaya rapat PBB lah. :p Ada 8 orang Indonesia yang kerja di adidas HQ ini sekarangan. Bahasa resmi yang dipakai sehari-hari juga Inggris. Walaupun gw agak apes karena di team gw semuanya orang Jerman kecuali gw. Jadi kadang mereka suka ngomong pake Bahasa Jerman kalau di kantor. Walau biasanya manager gw lumayan thoughtful, kalau liat gw agak “mau” dengerin mereka ngomong apa, dia langsung ganti ngobrol pake Bahasa Inggris. Makasih pak bos. Hehe
  1. Coffee all the time. Ga beda jauh sih ama budaya perusahaan tempat gw kerja di Amrik. Kayanya kalau ga minum kopi pada ga bisa hidup.

 

 

 

 

One thought on “Kerja di Perusahaan Tiga Strip

  1. Seneng bacanya,,,
    Gw skrg lagi baca di kantor, killing time ,nungguin bos yg lagi meeting..
    dan gw berasa kayak zzzuuiiinnggg, terbang & ngbayangin serunya di sana..

    Bahasanya asik.
    Suka banged.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s