Ketika Kertas Suara menjadi King Maker

Tahun 2014 adalah tahun politik, tahun yang ‘panas’ untuk Indonesia. Lewat tulisan dibawah ini kita akan melihat peran User Experience dalam menentukan nasib sebuah bangsa melalui benda yang kadang dipandang sebelah mata: kertas surat suara.

Pemilu tahun 2000 adalah salah satu pemilu yang paling kontroversial di Amerika Serikat. Pertarungan sengit antara George W. Bush dan Al Gore memuncak di state Florida. Akhirnya, dengan hanya 537 perbedaan suara di provinsi Florida, George W. Bush memenangkan 25 kursi dari provinsi tersebut dan melenggang dengan tenang menuju gedung putih. Para pendukung Al Gore, capres lawan dari partai Demokrat, pun meradang. Ditengerahi telah terjadi kesalahan teknis pada desain kertas suara yang menyebabkan kekalahan Al Gore di swing state ini. 

7 November 2000, seorang Rabbi yang bernama Richard Yellin, bergegas menuju salah satu bilik suara di Palm Beach County. Di dalam bilik suara, Yellin membuka kertas suara yang disebut sebagai “butterfly ballot” –karena layoutnya yang seperti kupu-kupu. Nama capres dan cawapres dari 10 partai ditulis di dua halaman yang berbeda. Di tengah kedua halaman tersebut terdapat deretan lubang yang harus dicoblos untuk memilih salah satu kandidat yang ada. Butuh waktu cukup lama untuk Yellin mencari lubang yang berkorelasi dengan Al Gore, kandidat presiden yang disukainya. Hingga akhirnya Ia mencoblos salah satu lubang, berharap bahwa Ia mencoblos lubang yang tepat.

 

Usability dan Information Design

Palm

Butterfly ballot inilah yang menjadi salah satu biang keladi kontroversi kemenangan George W. Bush. Coba perhatikan gambar kertas suara yang telah membingungkan Richard Yellin ini.

Seorang praktisi User Experience akan langsung bisa menemukan permasalahan usability dari desain informasi kertas suara tersebut dimana ada dua model mental (mental model) yang berbeda untuk mencoblos kertas suara. Yang pertama, pemilih mengikuti arah tanda anak panah. Yang kedua, pemilih akan menggunakan urutan. Kedua cara ini akan menghasilkan pilihan yang berbeda. Untuk memilih Al Gore, seharusnya pemilih mengikuti arah tanda panah dan mencoblos tombol ketiga dari atas. Namun sayangnya tanda visual ini sangat kecil, tersusun secara berantakan dan tidak sejajar dengan label nama. Bisa ditebak, banyak pemilih yang akhirnya kebingungan dan memakai konsep urutan untuk memilih. Dengan konsep urutan, pemilih akan menghitung bahwa Al Gore berada di urutan kedua di halaman kiri dan untuk itu mereka harus mencoblos tombol kedua dari atas, yang malah memberikan suara ke Pat Buchanan, kandidat dari Partai Reform. 

Hasil hitung suara di Palm Beach county, Florida bisa memberikan gambaran mengenai masalah usability ini. Pat Buchanan mendapakan 3,407 suara (0.79% dari total suara) atau hampir satu setengah kali lipat lebih banyak dari rata-rata suara yang Ia dapat secara nasional. Sebuat riset statistik yang digawangi oleh Jonathan N. Wand dari Cornell University berargumentasi bahwa setidaknya 2,000 suara milik Pat Buchanan sebenarnya dimaksudkan pemilih untuk Al Gore dan Al Gore lah yang seharusnya disumpah untuk menjadi presiden AS pada tahun tersebut.

Sulit dipercaya, namun contoh diatas menunjukkan bagaimana desain informasi dan usability mempengaruhi tentang siapa yang terpilih sebagai orang paling berpengaruh sejagad raya. Keduanya merupakan pilar yang cukup penting dalam bidang user experience. Desain informasi bertugas untuk membuat konten yang abstrak dan kompleks menjadi bisa diakses secara lebih mudah melalui komposisi, hierarki dan metafora visual. Sedangkan usability menekankan kemudahan dan kecepatan pengguna dalam memakai sebuah produk/servis yang juga sangat berkaitan dengan resiko kesalahan yang mungkin dibuat oleh para pengguna.

Bagaimana dengan kertas suara pemilu di Indonesia?

Tanggal 6 April adalah hari yang cukup bersejarah untuk saya. Hari itu adalah pertama kalinya saya memilih calon legislatif. Bersama beberapa teman saya menuju KBRI Singapura untuk merayakan pesta demokrasi ini. Seperti kebanyakan orang, saya cukup takjub dengan kertas suara pemileg ini. Memang tidak mudah untuk menyusun 12 partai dan lebih dari seratus nama di atas selembar kertas. Bahkan berbagai peristiswa ekstrim muncul akibat kertas suara ini seperti seorang wanita di Aceh yang nyaris pingsan setelah melihat kertas suara. “Sewaktu membuka kertas suara saya bingung melihat-lihat, tiba-tiba saja pusing rasanya bumi ini berputar-putar. Seusia saya saja sudah pusing dengan banyaknya kertas suara dipenuhi ratusan nama caleg, bagaimana orang tua lain ya?”  kata wanita ini. Mungkin perlu dilakukan usability testing untuk menghasilkan desain kertas suara yang memberikan experience yang positif bagi para pemilih.

Saya pun berandai-andai. Jika saja tidak ada usability error pada kertas suara di provinsi Florida pada tahun 2000, maka Al Gore mungkin terpilih menjadi Presiden AS. Jika Al Gore terpilih, mungkin perang Afganistan dan Irak tidak akan terjadi. Mungkinkah ini sebuah kesalahan desain informasi yang paling merugikan sepanjang sejarah modern manusia?

One thought on “Ketika Kertas Suara menjadi King Maker

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s