Nadia si Manusia Indonesia

Nadia adalah seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Jakarta. Sehari-hari dia membawa  dua handphone, Iphone dan Blackberry. Di blackberry-nya Ia tergabung dengan berbagai macam online shop groups. Lewat grup-grup itu, Nadia terkadang tidak bisa menahan hasratnya untuk berbelanja mode pakaian terkini. Lewat aplikasi instagram, Nadia akan selalu mengambil gambar hidangan makanan yang tersaji di depannya. Malam ini, Nadia juga cukup pusing. Asisten rumah tangganya menghilang tanpa kabar setelah mudik lebaran. Ia berusaha menenangkan diri “Mungkin aku tidak terlalu membutuhkan ART, toh aku selalu makan di restoran luar”.

Dari cerita singkat tentang Nadia di atas, bisa dilihat bahwa manusia Indonesia adalah manusia dengan budaya yang unik. Lalu apakah ada benang merah antara kebudayaan dengan produk atau servis digital? Apakah ada pengaruh budaya dalam preferensi penggunaan produk digital?

Membandingkan peta produk-produk digital utama antara Amerika Serikat dan China bisa menjawab kedua pertanyaan diatas. Sama-sama sebagai raksasa teknologi, rakyat AS dan China mempunyai preferensi yang berbeda terhadap produk digital mereka. Di China, situs microblogging Weibo lebih dipilih dibandingkan Twitter, situs social media RenRen lebih banyak penggunanya dibanding Facebook, dan mesin pencari Baidu mengalahkan Google secara telak. Ada beberapa teori yang mencoba menjelaskan fenomena ini.  Seperti sebuah teori bahwa budaya Asia Timur yang lebih menyukai hal yang kompleks dibandingkan hal yang sederhana, karena itu desain antarmuka RenRen, Weibo, dan Baidu yang tampak berantakan bagi masyarakat Amerika Serikat justru lebih diterima disana. Namun yang pasti, bisa disimpulkan bahwa budaya sebuah bangsa juga mempengaruhi cara pemakaian, preferensi, dan kebutuhan produk-produk digitalnya.

Pertanyaan berikutnya yang harus dijawab adalah bagaimana mengetahui preferensi dan kebutuhan produk dan servis digital yang unik bagi manusia Indonesia? Di sinilah prinsip User Experience yang selalu berfokus pada pengguna bisa berperan penting dalam membantu proses eksplorasi ini. Dengan menggunakan berbagai macam metode explorasi seperti Contextual Inquiry, Personas, Mobile Ethnography, atau Cultural Probes , seorang praktisi UX bisa mendapat perolehan data qualitatif yang kaya, yang akhirnya diharapkan akan bisa merumuskan produk digital yang bisa memenuhinya kebutuhan unik manusia Indonesia..

Kaskus adalah salah satu contoh sukses dalam hal menemukan kebutuhan unik manusia Indonesia. Dengan lebih dari 6.5 juta anggota, situs ini selalu berada di posisi pertama sebagai situs lokal yang paling banyak dikunjungi di Indonesia. Yang paling menarik dari situs ini adalah Forum Jual Beli. Forum Jual Beli ini dengan jelinya mengambil fungsi sebagai e-commerce, dimana sampai saat ini belum ada pemain utama yang dominan di Indonesia. Ada dua kebutuhan unik masyarakat Indonesia dalam berbelanja online yang menurut saya dengan cermelang dipenuhi oleh Kaskus.

Yang pertama adalah rasa aman dalam melakukan transaksi keuangan. Membeli barang dengan menggunakan credit card ataupun paypal bukanlah kebiasaan masyarakat Indonesia. Biasanya ada keraguan akan keamanan ketika orang Indonesia ingin melakukan transaksi online dengan menggunakan credit card. Walaupun tentu saja kecenderungan ini semakin memudar seiiring dengan perkembangan zaman. Namun Kaskus tidak menunggu bola, secara jenius Ia menciptakan konsep Rekening Bersama atau “rekber”. Dengan sistem rekber, calon pembeli akan mentransfer sejumlah uang kepada “rekber” yang berfungsi sebagai mediator. Kemudia pihak “rekber” akan menkonfirmasi pada pihak penjual bahwa uang sudah tertransfer dan pihak penjual bisa segera mengirimkan barang yang diperdagangkan. Ketika barang tersebut sudah sampai di pihak pembeli, maka “rekber” akan segera mentransfer uang pembelian pada pihak penjual. Dengan sistem ini, Kaskus berhasil mengurangi rasa takut calon pengguna dan pembeli akan sistem credit card maupun penipuan.

Kebutuhan kedua yang berhasil dipenuhi oleh Kaskus adalah rasa percaya calon pembeli pada pihak penjual. Membeli barang secara online memang bukanlah kebudayaan yang sudah umum di Indonesia. Berbeda dengan di Amerika Serikat misalkan, orang tidak pernah mempertanyakan kredibilitas situs e-commerce papan atas mereka seperti Amazon, Target, Bestbuy, dsb. Sedangkan di Indonesia belum ada satupun pemain yang cukup dominan dalam ranah ini sehingga calon pembeli tentu bisa was-was dan mempertanyakan kredibilitas penjual sebelum melakukan transaksi jual beli secara online.

Untuk menjawab kebutuhan rasa percaya ini, Kaskus menyarankan calon pengguna untuk melihat reputasi penjual dari testimoni pembeli-pembeli lain atau komentar Kaskuser di dalam forum Jual Beli. Sebuah solusi sederhana yang bisa menjawab kebutuhan masyarakat Indonesia.

Dari contoh Kaskus diatas bisa disimpulan bahwa yang berhasil menemukan kebutuhan tersembunyi (latent need) manusia Indonesia dan menghasilkan solusinya akan bisa membuat sebuah gebrakan besar. Jadi, produk digital seperti apa yang kira-kira bisa memenuhi kebutuhan tersembunyi Nadia?

2 thoughts on “Nadia si Manusia Indonesia

  1. kaskus awalnya bukan forum jual beli. forum jual beli boleh dibilang terjadi begitu saja; mungkin bisa dibilang evolusi alamiah budaya orang indonesia. rekber sendiri bukan buatan kaskus. kaskus sendiri gagal dengan produknya kaspay sebagai pengganti rekber. cendol dan sebagainya sebenarny bukan pula produk dari kaskus, itu produk dari forum buletin yang menghitung tingkat kepercayaan seseorang. jadi apakah kaskus berhasil menjadi tempat jualan nomor 1 di indonesia? menurut saya gagal. kaskus sangat berhasil menjadi tempat kasak-kusuk orang indonesia, jualan itu cuma terjadi karena proses alamiah saja. dan kaskus gagal dalam memanfaatkan momentum fjbnya untuk mengembangkan layana jual-beli.

    orang indonesia memang unik. dari persona nadia, pelajaran dari kaskus serta melihat dan memperhatikan orang indonesia, produk digital yang bisa memenuhi kebutuhannya adalah produk digital yang mengedepankan fungsi sosialnya, bertukar pendapat, chatting dan selalu tampilkan sosok manusianya dibandingkan mesin.

    salam kenal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s