Rantau

Rantau

Rantau

Living overseas is overrated. Yes, it has its own perks, but sometime people ignore its downside. Have been living abroad for the last several years, it is not only once when I starred at the sky and asked myself: “What am I doing here?”. Especially in Winter time like this, when the weather is so cold and my body is just not (never) used to it. Stiff nose, dry skin, headache, coughing, and freezing body : all are first world privilege for a tropical man like me.

Here are some more stories of my friends who may be able to equalize all the Europe trip photos that Indonesian diaspora people brag in their instagram accounts.

1. Pemulung Botol, Pengangkut Sampah, dan Loper Koran

Sebutlah si A, mahasiswa jurusan studi Eropa di Den Haag university. Selama 2 tahun masa kuliahnya di Belanda, hidupnya lancar-lancar saja : keliling eropa dan party di mana-mana. Hingga akhirnya pada tahun ketiga tiba-tiba usaha orang tuanya mulai agak goncang. Sang orang tua tidak bisa mengirim uang sama sekali, nol euro dan si A harus bertahan sendiri hingga lulus. Si A pun harus banting keras bekerja kasar di sana sini sembari menyelesaikan kuliahnya. “Kerja paling parah ngapain lu?” tanya gw suatu kali. “Ini ga parah sih, tapi nyesek aja. Dulu sebelon struggle gw suka dateng ke konser-konser. Tapi kali ini gw bagian kerja jadi tukang bersih-bersih sehabis konser selesai. Jadi gw harus pungutin tuh botol-botol bekas pengunjung konser yang serakan di lapangan luas, malem-malem pake senter di kepala gw.”

Beda lagi dengan si B, mahasiswa ini bekerja sambilan sebagai pengangkut sampah di sebuah kota di Jerman. “Duitnya gede, enak makanya kerja jadi tukang sampah. Gw berdiri di belakang truk sampah gitu trus di tiap rumah gw turun and angkutin tong-tong sampah ke bak di belakang truk.” kata si mahasiswa jurusan teknik mesin ini.

Lalu ada si C, mahasiswa PhD di Seattle. C mempunyai empat orang anak, dan tentu saja tidak mudah untuk membiayai empat orang anak hanya dengan stipend sebagai research assistant. Pekerjaan yang dipilih akhirnya adalah sebagai loper koran. “Saya harus bangun pagi-pagi buta sekitar jam 4, kemudian dari satu rumah ke rumah lain mengantarkan koran-koran itu” cerita C ke gw suatu kali. “Sayangnya ga bertahan lama. Badan saya ga kuat. Uangnya sih lumayan. Tapi ga worth it sama rusaknya badan.” tambahnya lagi. Semua dilakukan agar bisa menyelesaikan PhDnya di kampus bergengsi di Ameriki itu.

2. Kuliah susah,  lama, dan stressful

Setiap orang biasanya merasa kuliahnya paling susah. Ketika gw dulu kuliah di informatika ITB, gw juga ngerasa tugas-tugas selama tahun ketiga itu ga ada bandingannya ama mahasiswa-mahasiswa lain seIndonesia. :p Tapi, mendengar banyak cerita mahasiswa Indonesia di Jerman gw lumayan salut sama perjuangan mereka.

Si D, tahun ini sudah tahun keempat dia di Jerman. Karena satu mata kuliah yang dia tidak lulus maka ia harus berpindah jurusan sekali lagi dan mulai dari nol. Ya mulai dari nol, alias paling cepet tiga setengah tahun lagi dia baru lulus dan dapet S1nya. Sistem kuliah di Jerman, hanya membolehkan mahasiswa untuk mengulang kelas selama satu kali, dan jika ia gagal di kesempatan kedua ini maka ia diharuskan untuk berpindah jurusan lain atau berpindah ke universitas lain. Dan bukan si D nya malas2an sehingga wajar saja ia ga lulus kuliah, tapi sebelum masa ujian, mahasiswa2 Indonesia seperti D ini hidup di perpustakaan dari jam 9 pagi sampai 9 malam, selama hampir sebulan sebelum masa-masa ujian.

Si E, sudah di semester terakhir, hanya tinggal mengambil skripsi. Satu mata kuliah ternyata gagal juga untuk kedua kalinya. Terpaksa E pindah ke universitas lain, mencari apartemen lagi (yang susahnya amit2 kalau di Jerman), pindahan, dan adaptasi lagi. Semua karena sistem pendidikan kuliah di Jerman yang sangat strict.

Bukan berarti tidak ada si X, Y, Z yang sehari-hari bermain dotA dan tetap bisa lulus tepat waktu selama mereka di Jerman, Tapi secara umum, menurut gw mahasiswa2 Indonesia di Jerman ini (yang S1 terutama) pada gila-gilaan belajarnya.

“Kalau boleh balik ke masa lalu, lu bakal tetep mau kuliah lagi ga di Jerman” tanya gw ke F, yang juga harus berpindah jurusan dan mengulang dari awal. “Mungkin ga sih, gw bakal pilih kuliah di Jakarta aja. Hahahahha”. jawab si F

3. What are we doing here?

Ceritanya gw bersama 3 orang Indonesia lainnya lagi road trip ke Vienna, sebutlah si G, H , dan I. Di perjalanan pulang mulai lah kita saling curhat ga enak-ga enaknya hidup di luar negeri. Tiga orang ini bekerja di salah satu perusahaan top di Jerman, yang dimana ekonomi seharusnya bukan menjadi masalah lagi. Si G mengawali sesi curhatnya “Gw paling sedih biasanya kalau habis liburan lama di Jakarta trus balik sini. Waktu pisah ama keluarga sih gpp, tapi begitu udah lewat imigrasi dan jalan menuju gate itu perasaan gw udah campur aduk. Di pesawat biasanya gw bisa nangis sendiri. Gw udah 10 tahun di Eropa and sometime I think what am I doing here?” . You know what, G adalah lelaki tulen. Hahahha. Bikin gw cukup surprise ketika G cerita dia nangis sendiri di pesawat setiap kali balik dari liburan dari Jakarta.

H mempunyai perjuangannya sendiri. Sebagai seorang wanita lajang yang sudah melewati kepala 3, pertanyaan “kapan menikah” mungkin menjadi hantu bagi hidupnya. Masalahnya mencari jodoh di luar negeri, terutama sebagai wanita Indonesia tidaklah mudah. Orang Indonesia biasanya punya satu kriteria utama untuk mencari jodoh: satu agama. Untuk si H, mencari pria muslim Indonesia yang masih lajang dan seumuran dan ada chemistry bukanlah pekerjaan mudah. Karena memang supplynya tidak banyak. Walaupun di beberapa kota di Belanda, Singapore, Malaysia atau US ada komunitas Indonesia yang jumlahnya cukup signifikan. Tapi bandingkan dengan jika si H tinggal di Jakarta, 2 kriteria pertamanya tidak akan menjadi masalah pelik : muslim dan seumuran. Lalu kenapa H tidak balik ke Indo saja? “Belon tentu juga gw kalau balik ke Indo dapet jodoh. Dan gw ga kuat sama macetnya Jakarta plus jumlah cuti per tahun yang sedikit banget. Nanti gw merana banget kalau udah bela2in balik Indo tapi tetep ga dapet jodoh juga.”

How about me?

Like I said, not only once when I asked myself “what am I doing here?”. There are some low times when I am sick, when I miss my family and friends back there in Indo, when I miss all the good foods, when I miss all the comfort for being able to speak with my own mother tongue, when I miss all the comfort of having a driver and a housemaid, when I miss the cheap massages and foods, and the list can continue…

But…to be fair..living abroad also changes my life and I believe, my friends whose stories I wrote here. This article somehow can give more insight about the ups and downs for living abroad.  It wrote the drawback of living abroad:

“This is a huge price to pay with moving abroad. You can have the adventures and the experiences but you can’t have “them.” You’re missing everything from the life you had before and all you can do is watch from the sidelines as people carry on…..Over time, phone calls drop off, emails are less frequent, contact lessens. You’ll never lose your friends and your family will always be family. But you’ll matter less to them and they’ll figure less in your new world.

It’s a harsh reality so face up to it. Or go back while you still can.”

But it also draws the contentment for living it:

Yes, you opened Pandora’s Box and you’ll not be able to close it but you’re a happier, more content, less restless version of the former “you.”

4 thoughts on “Rantau

  1. One of my fav, nice post.
    Btw jadi penasaran dan mau tnya (pertanyaan klise), Yoel ada rencana balik indo kah dan membangun bangsaa kita? Walau menjadi berkat dimana pun sama saja, tp semoga ada kerinduan balik ke indo dan sama2 bangun bangsa kita dengan talenta kamu yg luar biasa itu. Come back soon, I mean soonest ☺

  2. Wow… Ngebaca ini, ternyata banyak juga ya orang Indo yang di luar negeri punya masa sulit tersendiri. Sama hal nya dengan gw juga di Amrik, masih kuliah, bertahan buat lulus, merantau dari Jakarta. Ngebangun kehidupan sendiri di negara orang, bukan hal yang gampang..but you Know What, bagi orang2 yang merantau, biasanya punya pemikiran yang berbeda dari orang yang di kampung halaman.

  3. I can only imagine.. since I might never have those experience..
    My imagination is heavily influenced by movies.. but this real life stories slap me on the face: that i might never have the chance for GOOD REASON. Because i might not survive if I did. Because the real me, now, that has been jobless for 3 years, loved to play games & watch movies & anime (basically NEET), is not a match for the struggling life your friend have to endure for years..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s