Kuda Troya

trojanhorse

Helen Diculik

Sebulanan lalu, di hidup gw beberapa tahun terakhir ini yang minim drama, tiba-tiba langsung jadi kaya opera sabun. Tulisan gw ini tiba-tiba menjadi viral dan puluhan ribu orang membacanya setiap hari. Gw post tulisan ini pertama kali di akun path gw. Dan tentu saja hanya orang2 terdekat gw yang bisa baca tulisan ini. Waktu itu gw belon berani mempost tulisan ini di fb, karena berpikir mungkin tulisan gw ini terlalu vulgar. Sampai akhirnya gw tanya ke kakak gw “Ci, gw mau posting tulisan itu di fb. Terlalu vulgar ga menurut lu?” Cc gw menjawab kalau pasti ada pro dan kontra dari tulisan itu, tapi kalau gw berani menerima konsekuensinya ya go for it. Gw pun akhirnya menshare tulisan itu di fb dan sosmehow menjadi viral di internet.

Perang Troya Dimulai

Yang menjadikan gw merasa seperti Fernando di opera sabun nya Amerika Latin adalah komen2 orang yang masuk ke tulisan ini. Setting blog gw masih dengan menggunakan moderasi, sehingga gw masih perlu me-approve komen2 orang yang masuk, sebelum komen2 itu bisa ditampilkan di blog. Mostly gw approve komen2 mereka dan sampai sekarang ada 1000an komen yang masuk.

Ada di suatu malam dimana ada 130ribuan orang yang membaca tulisan itu hingga komen hampir datang tiap beberapa menit. Waktu itu hp gw lumayan hang karena setting notifikasi blog masih gw aktifkan (blog akan mengirim email jika ada komen baru). Karena terlalu mengganggu akhirnya gw matikan fitur notifikasi dan hidup gw menjadi aman tentram lagi.

Ketika baca komen2 itu perasaan gw mixed. Kadang happy dan excited, ga jarang juga gw bisa geleng-geleng kepala dan ngelus dada melihat respon orang yang jarang bersentuhan dengan otokritik. Banyak label negatif yang dialamatkan ke gw : orang kepaitan dengan gereja/kekristenan, antikris, atheis, agnostik, kurang dekat dengan Tuhan, dsb. Ada waktu dimana gw lumayan terbawa kondisi negatif ini. Disudutkan oleh orang-orang yang menyembah Tuhan yang sama memang lebih menyakitkan. Gw pun berpikir “Separah itu yah tulisan gw? Apa perlu gw hide yah tulisan ini? Kalau memang lebih banyak kerugian daripada manfaatnya.” . Gw pun melempar bola panas ini ke wall fb gw, gw tulis “Please let me know if it (tulisan itu) crosses the line (or cause more disadvantages then advantages) and that I must delete it, as some people suggested me to do so.”.

Tapi beberapa orang menyarankan hal sebaliknya. One of them wrote “You need to keep this online and keep on writing. Nothing in it that crosses the line at all, in fact they’re not even controversial, they’re factual! I’ve read the comments — they are really long, haha, 325 comments this morning — i think it’s good that your post invites discussions. The only ones who are upset with your posts are inferior ones. “.

Salah satu temen deket gw dari gereja di Bandung (cucu rohani sebenernya) juga menghubungi gw lewat whatsapp. I was discussing the same question with him “should I take the writing down?”. Menurut dia, semua terserah gw. Kalau gw masih bisa menanggung konsekuensinya (komen-komen negatif) ya jangan di hapus. Tapi kalau komen2 itu mulai menganggu gw, ya hapus aja. Dan setelah gw pikir2, akhirnya gw putusin buat ga jadi menghapus tulisan itu. Pertahanan gw masih kuat. Seperti benteng kota Troya yang tahan menerima gempuran serangan bangsa Yunani. Teguh dan tak bergeming. Waktu itu gw berpikiran kalau gw ga akan peduli tentang apa pendapat orang akan gw, toh mereka ga mengenal gw secara pribadi. Yang penting orang-orang yang mengenal gw, mereka yang paling tau siapa gw and ga menghakimi gw.

Kuda Troya 

Selama 10 tahun benteng kota Troya berdiri kuat. Bangsa Yunani tidak berhasil menggempur Troya secara signifikan. Hingga suatu ketika Odysseus membangun sebuah kuda kayu raksasa. Kuda raksasa ini dibawa masuk oleh orang Troya ke dalam pusat kota dan di malam hari bangsa Yunani keluar dari bangunan kuda ini menghancurkan Troya dari dalam. Menjadi abu dan debu. Persis yang gw alami hari ini. Serangan paling mematikan biasanya berasal dari dalam pusat pertahanan, dari tempat yang paling nyaman.

Sebuah email datang di pagi hari. Email ini berasal dari salah satu member gereja waktu gw di Bandung. Di email itu, ada kata-kata manis dan penyemangat (thanks to her!). Namun di satu bagian ia memberitahukan bahwa beberapa orang (perlu ditekankan, biar gw ga bikin blanket statement ;p )di gereja gw di Bandung cukup tersinggung dan sempat menjadi topik panas di gereja. Gw pun cukup kaget, karena gw tidak (belum) pernah mendengar cerita ini. Gw pikir, gereja gw di Bandung akan cool2 aja karena mereka salah satu gereja yang (gw pikir) cukup mengenal siapa gw. Akhirnya gw bertanya lebih lanjut kepada orang ini dan mendapatkan kenyataan lain, ada setidaknya dua pastor yang marah dan (mungkin) tersinggung akan tulisan gw.

Di sebuah kotbah, seorang pastor bersaksi tentang pentingnya sebuah komunitas karena sebagai contoh “ada dulu mahasiswa yang melayani di gereja ini, kemudian sekarang kerja di Jerman dan menjadi atheis karena tidak mempunyai komunitas”. Cerita lain, ada seorang pastor lain yang bertanya di whatsapp group dengan pertanyaan “Apa si Yoel ini atheis?”.

Ga habis pikir. Pertama, “atheis” is a big word. You don’t just use that word casually. Kedua, how come you can jump into that conclusion without clarifying or talking personally with me? Ketiga, how will you get an answer by asking that kind of question to a whatsapp group where I am not there? You should instead ask me “Yoel, are you an atheis?”. Keempat, pertanyaan ad hominem (menyerang ke personal penulis bukan pada konten tulisan) is so cowardice. Pertanyaan yang lebih tepat bukanlah “Apakah Yoel atheis?” tetapi “Bagaimana menurut saya, tulisan Yoel ini salah?”. Pernyataan yang lebih tepat bukanlah “Yoel itu atheis” tetapi “Menurut saya tulisan Yoel ini salah karena A, B, dan C”. Kelima, kenapa harus merasa tersinggung jika tidak merasa salah? Tulisan gw tidak menyudutkan secara spesifik satupun institusi gereja. Jika 2 pastor ini merasa tulisan gw salah, ya udah dicuekin aja and keep continue doing things that you think is correct. We can always agree to disagree with other people without attacking their personalities.

Sack of Troy

Jujur gw ada merasa marah dan sedih. Karena sampai saat ini (bahkan setelah kejadian kuda Troya ini), gw masih merasa kalau gereja di Bandung adalah tempat dimana gw paling banyak belajar tentang Yesus (mungkin karena memang gw paling lama di tinggal di Bandung dalam 10 tahun terakhir ini). Gw masih menganggap gereja ini sebagai keluarga gw. Dan ketika serangan ini justru datang dari orang2 yang gw pikir cukup mengenal siapa gw, pertahanan kota Troya pun hancur lebur.

Gw pun bercerita dengan kakak (pembimbing) rohani gw, melampiaskan kekesalan gw. Sampai akhir tahun kemarin, dia adalah salah satu pastor juga di gereja ini sebelum akhirnya memutuskan untuk lebih fokus ke pelayanan olahraga. Fun factnya, dia lah yang memberi usul untuk memberi judul tulisan itu sebagai “12 hal bodoh yang gw percaya”🙂 . Ternyata kedua pastor yang tersinggung ini menanyakan hal yang sama ke kakak rohani gw. Yang satu dengan BBM bertanya “Yoel teh nulis di fb ttg kekristenan, dia teh kepaitan atau kenapa? Dia anak rohani kamu kan yah”. Segala Sembah Puji pada Yesus Tuhan Semesta Alam, kakak rohani gw dengan bijaknya membalas “Bukan kepaitan sih ci, justru dia pengen mencari kebeneran dengan pikiran kristisnya dan perjalanan pencariannya, itu hasilnya” (thanks ko! ). Pastor lain juga menanyakan hal yang sama, dengan nada sinis dia bertanya ke bapa rohani gw “Itu si yoel yoel anak kamu?” dan melanjutkan membahas artikel gw secara singkat di sebuah rapat.

Returns from Troy

Bulan Juli ini gw berencana pulang ke Indonesia. Dan pasti gw berpikiran untuk tinggal beberapa hari di Bandung. Gw sempet berpikir bahwa nanti apa bakal awkward ketika gw datang ke ibadah hari minggu. Tapi the good thing, dari bapa rohani dan beberapa orang yang gw tanya, sebenernya yang tersinggung hanya segelintir orang dan mungkin orang2 yang tersinggung ini tidak benar2 membaca tulisan gw sampai habis. Bahkan, salah satu pastor yang gw cukup respect, menawarkan buat gw tinggal di rumahnya selama gw di Bandung. Kuda Troya berhasil menghancurkan Troya. Yes, I was pissed off and sad. But I still believe that there are still a lot of open minded people in my “family”.

14 thoughts on “Kuda Troya

  1. Hi ko.
    You shouldn’t be worry about it (I know this sentence isn’t that helpful as you’re already attacked by the trojan horse).
    The fact is that is true, what you wrote is true. And it is also true that “The only ones who are upset with your posts are inferior ones.” I couldn’t agree more!
    Yes your writings went viral. Gw baca artikel yg kk tulis dari temen gereja yg dia itu bahkan biasanya ga baca post sharing singkat. Trus kita sampe sempet diskusi via whatsapp di group pemuda gereja cuma dalam selang waktu beberapa menit setelah dia post link ke grup.
    Mereka yang ga ngerti, pada bilang “ini orang tuh saking kritisnya dia menyerang gereja atau ada masalah sih di gereja?” dan pas gw baca pemuda (yg udah usia cukup beda jauh dari gw) bilang gitu gw upset sendiri sambil ngomong dalam hati “oh come on you didn’t get this, seriously??”
    It is very nice to have someone actually wrote what I have been thinking about (but apparently, too lazy to type it and speak out my mind so others know).
    I feel bad that you have to get through this, must be not easy for you..
    But that articles was really good and I am expecting more of your critical thoughts poured to words.

    As one of the hymn said :
    “Be strong in The Lord and be of good courage, Your Mighty Defender is always the same… Put on the armor the Lord has provided; and place your defense in His unfailing care”

    I will pray for you.
    Greetings from Indonesia!

  2. Kaga masalah disebut Antikristus. Dulu tahun 1998-1999, aku juga pernah mempertanyakan beberapa ajaran kekristenan di suatu milis. Aku dituduh sebagai Antikristus.

    Dalam ruang diskusi di kuliah jurusan teologi, kebudayaan, bahasa, dan ilmu sosial, topik yang kritis banyak diangkat. Semua peserta diskusi memiliki level intelektual dan kesabaran serta ketekunan yang kira-kira sama. Kalau di tempat umum: blog, twitter, milis, dll, tiap pembaca memiliki level yang berbeda, jadi kadang banyak yang kesal karena jati diri mereka terusik.

    Biasanya pendeta juga kalau kuliah teologi di universitas, seharusnya sudah terbiasa dengan diskusi kritis. Kecuali kalau ijasah pendetanya dapat dari kursus di internet, mungkin agak berbeda.

    • Hi Condro. Yes, you are correct. I was thinking why christian protestant (charismatic especially) pastors are not very used to with critical discussions maybe because most of them did not go to a theology school or philosophy school like what most of catholic priest do. Let me know if you visit Nuremberg, we should grab a coffee, some people here mentioned about you like Risang, Joshua, Freddy, etc.🙂

    • bener banget! Aku baru baca tulisan kamu beberapa bulan lalu, tepat seperti apa yang seringkali kupikirkan tapi ga pernah berniat untuk aku utarakan, karna biasanya aku males adu mulut sama orang gereja apalagi sama pendeta. Tapi berkat tulisan kamu, untuk kesekian kalinya aku mulai berpikir lagi, dan ya, dari dulu sampe skr aku tetep ga suka sama orang yang terlalu fanatik dengan agamanya sendiri, termasuk di agamaku sendiri. Dan menurutku, ga sedikit juga orang yang terlalu buta mengikuti agamanya atau terkadang aku menyebutnya dengan “terlalu berpikir positif”. Karna terkadang mereka terlalu memuja seorang pendeta atau kakak rohani atau siapapun yg mereka anggap sebagai panutan, sampe engga bisa liat kalo orang yang mereka puja itu terkadang salah ngomong atau kelakuannya salah. Bahkan kadang engga ada yang berani ngomong..please..:|

      Ga sedikit juga aku bahas soal agama, dengan orang Katolik, Islam, dsb yang pikirannya terbuka. Dan bener seperti yang kamu bilang, “yang penting kan urusan kita dan Tuhan”. Deep down in my heart, aku tetep percaya sama Tuhan. Aku hanya engga mau buta dengan semua omongan atau kelakuan my “family”, meski mereka mungkin engga mau nerima pemikiranku.

      yah, semangat deh, aku suka sih tulisan2 kamu, cukup menghibur dan membuka wawasan. terutama dikala senggang macam begini..hahahhaa..

  3. Halo Yoel, aku juga membaca tulisan kamu beberapa bulan yg lalu karena ada yg ngeshare di fesbuk. Aku suka tulisan kamu yang jujur dan sebagian besar emang bener banged. Aneh kalo ada yang tersinggung, karena menurutku apa yang kamu tulis adalah kenyataan. Suamiku sering berkata hal-hal yang sama denganmu, dulu dia Kristen fanatik, tapi sekarang dibawa proses hidupnya jadi lebih ‘menginjak tanah’. Aku rasa ini proses pendewasaan yang dialami orang Kristen yang bener2 haus dan mencari kebenaran. Terus belajar dan membaca Firman, makanya jadi lebih kritis dan berpikir akan segala sesuatunya. Banyak orang Kristen yang ga baca Firman tapi hanya makan ‘firman dari pendeta tiap minggu di gereja’, mereka ini biasanya percaya 100% perkataan pendeta. Aku hormat sama pendeta, tapi bagaimanapun pendeta juga manusia. Tidak 100% perkataannya adalah benar.

    Salam ya🙂 keep on writing!

  4. Menurut saya, kritik semacam ini (post-mu yang dulu) malah bagus sekali dan perlu. Karena semestinya memang gak boleh ada institusi yang kebal dari kritik, kan. Church included. Jarang sekali saya ketemu kritik untuk gereja karismatik yang asalnya dari jemaatnya sendiri. Dulu saya pernah baca tulisan lain yang juga bagus, tapi penulisnya orang luar gereja. This is the link: http://www.counterpunch.org/2013/11/01/59548/ Well, it surely might offend some people, but it also contains many ugly truths about our society viewed from another perspective (which is very interesting).

  5. Hi Nyo…
    Gw butuh 2-3x baca biar ga sampe kepleset pemikirannya…
    Awalnya aneh, secara gw pernah tau ‘keren’nya Yoel sebagai sosok mahasiswa ‘Gerejaan’. Tapi…setelah dipahami lebih dalam,gw nemuin niat baik lu lewat tulisan itu.
    Keep on writing Nyo…

  6. Tuhan Yesus aja ditolak di tempat asalnya… hehe
    aku jg waktu itu forward artikel ttg 12 hal bodoh ke kakak pembimbing rohaniku.. dia sempet ga setuju… tp ternyata dianya bacanya ga sampe habis… judulnya kan “12 hal bodoh yg gw percayai”, tapi dia pikir 12 hal yg gw percayai”
    keep on writting Yoel! you give a lot inspiriation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s