Kritikus.

Brand Centre

Brand Centre

Mungkin nyokap gw sendiri ga bisa ngejelasin ke temannya sebenernya kerjaan gw di kantor ngapain. Title resmi gw di kantor adalah “UX/Usability Manager”, walaupun akhir-akhir ini menurut gw title yang lebih cocok adalah “Kritikus”. Usability kalau diartikan secara sederhana adalah kemampuan suatu barang/jasa dalam tiga sifat: efektif (fungsional), efisien (cepat), dan memuaskan. Jadi kalau Usability Engineer, ya fungsi secara sederhananya ada dua yaitu (1) membuat dan (2) memastikan suatu barang/jasa itu efektif, efisien, dan memuaskan. Hampir 50% waktu gw dikantor diisi dengan aktivitas nomer 2 = memastikan atau mengevaluasi. Makanya di atas gw bilang kalau sebenernya title gw lebih cocok ditulis sebagai kritikus! Down side Beberapa tahun terakhir ini, gw cukup menyadari efek buruk dari pekerjaan dan pendidikan master gw. Karena di pekerjaan gw “dipaksa” untuk selalu mengevaluasi usability dari berbagai macam produk digital, mindset critical ini juga kebawa ke hidup sehari-hari. Emang gimana tipikal pekerjaan evaluasi gw? Misalnya nih di situs e-com, gw harus periksa semua page dan semua skenario untuk user: apakah make sense? apakah lancar? apakah bisa cepat dilakukan, dll. Gw akan kritisi tombol yang ga bisa dibaca, gambar karousel yang terlalu cepat, icon yang ga dimengerti, arsitektur informasi yang  tidak intuitif, kata-kata yang ambigu, dan semua hal yang bikin pengalaman pengguna (User Experience) menjadi tidak baik. Gw harus detail melihat semua celah, semua tombol, semua link, semua layout, semua susunan menu navigasi, dsb. Intinya gw harus cari kesalahan dari si UX designernya!!! Masalahnya, karena gw ngelakuin evaluasi ini di hampir 50% waktu gw di kantor (50% lainnya diisi dengan membuat solusi desainnya), otak kritikus gw bakal tetap on even after kerja. Misalnya tadi gw ke sebuah gedung yang belon pernah gw masukin buat meeting, gw bisa tau2 berpikiran kaya gini waktu tadi masuk ke sebuah toilet di sana.

“Ini gagang pintunya bentuknya membuat orang berpikir bahwa ia harus ditarik tapi koq malah kenyataannya harus didorong. Usability failed! Prinsip “self-descriptiveness” dilanggar. Pengguna harusnya tau seketika itu ketika melihat gagang pintunya, apakah ia harus mendorong atau menarik gagang pintunya.”

Sambil gw kencing, gw trus berpikir. Gila gw rese banget sih. Gagang pintu aja gw komentarin. Tapi beneran, otak gw jadi suka kritikus mode on gitu. *sigh*  Even waktu gw masuk ke ruangan lain, ada pintu otomatis. Langsung otak gw berpikir lagi “Ini kenapa pake pintu otomatis di ruang terbuka gini, ya dingin banget lah kalau winter. Pintu jadi sering kebuka. Harusnya pake pintu berputar. Usability failed! Prinsip “Suitability for the task” dilanggar”. Sambil nulis ini gw juga jadi teringat dialog gw ama salah satu temen baik gw ketika kita lagi jalan-jalan ke Hongkong tahun lalu. Ketika itu gw lupa, gw lagi ngomong apa, intinya gw cerewet setelah melihat sistem antrian di sebuah tempat wisata.  Trus si temen gw itu bilang “Koq lu agak berubah sih ko, sejak pulang dari Amrik. Jadi lebih kritis.”. *sigh* . Teman yang lain juga pernah bilang seperti itu. Gw masih inget kita lagi di mobil, dan gw cerewet mengkritisi satu hal. Dan temen gw dengan bercanda bilang  “Ya udah lah ko. Ga semuanya berpikiran sejauh lu kan. Santai aja kali.” (paraphrased by me. Ga inget juga detailnya). Pledoi *Sigh*. Kadang gw jadi takut kalau gw jadi lebay and ga fun lagi. Semua2nya dipikirin and dikomentarin. Walau selama ini biasanya gw ya cuman bisa cerewet mengkritik ama orang2 yang gw kenal deket. Kalau gw mau cari kambing hitam, gw akan bilang: “Ini karena efek cuci otak di kampus waktu belajar di Ameriki! Ini ya efek karena kerjaan gw di kantor!!!” Hahahha. Ya gimana dong. Ya emang di kampus dulu, gw dilatih dan dipaksa untuk mengkritik dan mencari celah dari sebuah produk digital, sambil memberi rekomendasi tentang bagaimana memperbaikinya. Ya gimana dong. Ya emang di kantor, salah satu KPI gw ya kalau gw nemuin usability issues yang bikin orang ga bisa belanja lewat e-com, celah yang bikin orang ga pake mobile app kita, atau ketololan yang bikin orang kantor yang bisa pake intranet dengan efektif. Toggle Mungkin solusinya, gw harus punya toggle on-off. Jadi kalau lagi di luar kantor, gw harus non-aktifin topi kritikus gw. Biar gw bisa lebib santai and fun! Atau ada solusi lain kah? PS: Kalau mau liat tentang gimana cerewetnya gw kalau nge-evaluasi produk digital, cek UX review gw akan situs klik bca ini.

13 thoughts on “Kritikus.

  1. Kayak temen gue yang kerjanya editor dan penerjemah novel-novel bahasa inggris, dia jadi suka mengkritik dan komentar waktu kami ke toko buku atau lagi kemana gitu. Liat grammar yang salah, dikomentarin. baca novel siapa, dikomentarin. Tapi menurut gue sih seru-seru aja temenan atau jalan sama dia. Ada aja bahan yang diobrolin karena dia suka baca dan ditambah dia juga penulis. Hehe. Menurut gue sih gak perlu sampai me-non-aktifin topi kritikus. Karena kayaknya gak bisa ya. sikap kritis terhadap sesuatu pasti udah melekat, entah itu karena kerjaan atau emang sifat. Buat gue bisa tetep fun kok meski suka mengkritik. semua tergantung cara penyampaian kita. Itu menurut gue sih. Hehe.

  2. Hai Yoel,

    Aku ga membayangkan seandainya suatu saat kamu kembali ke Indonesia. Betapa banyak hal yang tidak efisien dan tidak efektif dalam tatanan masyarakat saat ini.
    Mmg seringkali agak senewen dan marah sendiri bila ada hal2 spt itu. Mungkin bagi orang lain ga penting bgt, tp bagi kita hal tsb mengganggu.
    Sikap kritis itu bagus. Tp jangan sampai membuat kita setres sendiri.

  3. menurut aku orang yang kritis itu bagus krn dia jeli ngeliat suatu hal gitu dan berpikiran lebih jauh drpd org lain. kalo nyebelin dalam ngeritik menurutku yang suka ngritik seseorang terlalu banyak dan terlalu jauh. jadi annoying gt jatohnya

  4. Hai Yoel! Sama dong kita, aku juga kerjaannya gitu. Untung sahabatku juga kerjaannya ngeliat sistem dsb jadi bahasan UX selalu. Plus aku proof reader juga jadi kerjaannya kritik, padahal tulisan sendiri sering banyak erornya.🙂 Aku kemarin baru dapet email org lagi develop website tapi minta pendapat soal design grafisnya aja, dia wanti2 jangan liat content. Terus titlenya ‘user testing’ asli face palm. Duh gregetan pengen teriak ‘ Seriously man, it does not work like that”

    loh aku jadi curhat, padahal cuman mo tosan.😉

  5. Huahahhaa.. Ini kayaknya hal yg inevitable😛
    As a designer myself, kalo liat billboard di jalan lsg deh gw analisa designny kurang ini itu.. Then since I’m an editorial designer now, tiap kali liat majalah dah ga bisa baca dengan tenang and nikmatin berita, adany malah komenin layoutnya.. Zzzz…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s