Light after Darkness

Minggu lalu adalah waktu paling tough yang pernah aku alami. Pengalaman minggu lalu menghasilkan pain dan grieve setiap kali aku mengingatnya. Pain dan grieve ini mungkin juga dialami oleh teman2 atau keluarga aku. Aku berharap kalau aku bisa bilang bahwa pain yang kita rasakan akan hilang dan tidak pernah kembali.

Aku yakin di waktu-waktu mendatang akan ada orang yang berkata bahwa “things will get better”, “you will get past this.”, “everything happens for a good reason”. Mereka yang memberikan semangat ini, aku yakin mengatakannya dengan tulus dan memang benar bahwa rasa sakit yang aku (dan kita) rasakan sekarang nantinya akan berlalu. Namun, menurutku apa yang terjadi di minggu lalu akan tetap tinggal di benak kita selamanya. Aku (dan kita) adalah orang yang berbeda karena hari itu.

Jadi, aku ga bisa bilang apa yang ingin aku katakana, bahwa hal ini juga akan berlalu. Tapi, aku justru akan bilang bahwa rasa sakit yang kita rasakan , dan mungkin akan terus kita rasakan, adalah tanda dari kehidupan, cinta, dan keluarga.

Rasa sakit membuktikan bahwa aku (dan kita) masih hidup. Karena hanya yang hidup yang bisa merasa sakit. Aku (kita) merasakan sakit dan grief karena kita mempunyai hubungan. Ketika salah satu dari kita menderita, yang lain juga menderita.

Jadi, ketika aku berhadapan dengan rasa sakit dan grief. Aku ga akan berusaha mematikannya. Tapi aku akan mengakuinya sebagai bukti kehidupan, cinta, hubungan, dan keluarga.

Sebagai orang Kristen, kita percaya bahwa Tuhan alam semesta tidak mengecualikan dirinya dari rasa sakit. Ia bergabung dengan kita dan ikut merasa kondisi manusia, termasuk rasa sakit dan grief. Salib adalah buktinya. Jika God is love then to love means to hurt, to grieve. Pain is a mark of life…

Gereja kadang menawarkan konsep “jika Anda percaya dengan Yesus, maka tidak akan ada penderitaan”. Padahal Yesus berkata sebaliknya. Ia berkata “Blessed are the poor and those who hunger and thirst, and those who mourn, and those who are persecuted.” Dimana ada penderitaan disitu ada Mesias.

Banyak pertanyaan “Mengapa” di benak aku. Mengapa aku? Mengapa kita? Mengapa di waktu itu? Mengapa di tempat itu? Aku ga ketemu jawabannya. Dan menurutku, aku akan menolak siapapun yang berusaha memberi jawaban yang pasti akan pertanyaan2 itu.

Tuhan sendiri tidak menjawab pertanyaan Ayub. Aku mungkin mempunyai firasat dan tanda2, tapi tidak ada satu orangpun yang akan mempunyai jawaban lengkap. Yang aku tahu, dengan pasti, adalah apa yang Tuhan juga rasakan. Aku tahu bagaimana Tuhan memandang hidupku (dan kita). Ia memandang dengan wajah dengan air mata juga. Dimana ada penderitaan, di situ ada Mesias.

Tentu saja aku ga puas dengan jawaban yang tidak pasti. Ketika aku terluka, aku mau jawaban yang pasti. Frederick Buechner mengatakan “I am not the Almighty God, but if I were, maybe I would in mercy either heal the unutterable pain of the world or in mercy kick the world to pieces in its pain.”. Tuhan semesta alam did neither. Ia malah mengirim Yesus.

Minggu lalu adalah waktu yang paling gelap dalam hidup aku. Di waktu yang gelap itu, pertanyaan2 yang paling esensial yang muncul dalam benakku adalah “Siapa keluargaku?” “Siapa yang aku kasihi?” “Bagaimana kira bisa bertahan sebagai keluarga” “Bagaimana aku bisa mengasihi keluargaku”. Saat itu aku ga berpikir tentang karirku atau rencana travelku. Dari saat itu, aku jadi belajar tentang hal2 yang esensial dalam hidupku.

Kalau saja bisa, aku berharap ada janji akan kehidupan yang panjang dan tanpa penderitaan. Sayangnya tidak mungkin. Tuhan juga kayanya ga menjanjikan itu.

Kekristenan percaya tiga hal: the world is good, the world has fallen, and the world will be redeemed.

Selama liburan kemarin, aku merasakan keindahan alam buatan Tuhan. Pegunungan Alpen dan danau-danau di Swiss. Aku bercanda dengan keponakan2 gw. Aku makan dan tertawa bareng keluarga besar aku.
The world is good.

Tapi aku (dan kita) juga tahu bahwa the world has fallen. Minggu lalu, aku merasakannya, dengan semua inderaku. Rasa sakit, putus asa, dan hilang harapan.

Tapi aku juga berharap bahwa aku (dan kita) bisa percaya bahwa, dunia (dan kita) akan ditebus.  Sekarang adalah persinggahan sementara. Dunia yang penuh dengan penderitaan dan rasa sakit  akan berakhir dan ditebus. The world will be redeemed.

I have no problem believing in a good God  but maybe my question is, ‘What is God good for?’. And maybe the answer is “For those who love God, nothing irredeemable can happen to you.” . God is good for that promise.

Aku pengennya ada  janji untuk berakhirnya semua pain dan grief. Janji bahwa kita ga akan lagi merasa rasa sakit. Sayangnya  sekali lagi itu kayanya ga mungkin. Tapi aku akan berusaha untuk berdiri di belakang janji di Roma 8 –kota paling gelap buat hidup gw-, that all things can be redeemed, can work together for your good (for those who love God).

Paulus juga merasakan banyak rasa sakit. Terdampar di laut, dipenjara, dan terluka. Tapi Ia malah mengatakan ”No, in all these things we are more than conquerors through him that loved us. For I am convinced that neither death nor life, neither angels nor demons, neither the present nor the future, nor any powers, neither height nor depth, nor anything else in all creation, will be able to separate us from the love of God that is in Christ Jesus our Lord” (sekali lagi di Roma 8…)

Beberapa minggu lalu, dunia mengingat hari paling gelap di sejarah manusia. Hari dimana manusia bangkit bersama, melawan putra Tuhan dan membunuhnya. Tapi kita mengingatnya bukan sebagai Jumat Hitam, Jumat Tragis melainkan sebagai Jumat Agung, good Friday. Hari yang mengerikan itu justru berujung pada penebusan.

Aku berharap kita bisa menghadapi rasa sakit ini bersama. Rasa sakit ini menunjukkan kehidupan dan cinta. Rasa sakit akan hilang sembari waktu berlalu, tapi itu tidak akan hilang sepenuhnya. Semoga kita tidak berusaha menyembuhkan rasa sakit kita sendiri. Dimana Tuhan ketika kita terluka? Tuhan ada di orang2 yang mempercainya. Dimana ada penderitaan, disitu ada Mesias, dan di dunia ini, Mesias mengambil bentuk sebagai gerejaNya. Tubuh Kristus, yaitu sekumpulan orang2 yang percaya padaNya.

Finally, I hope that I (we) will cling to the hope that nothing that happens, not even this terrible tragedy, is irredeemable. We serve a God who has vowed to make all things new. Sekarang kita bisa merasakan dengan jelas kepedihan dukacita. Tapi sembari pemulihan terjadi, semoga kita juga akhirnya merasakan rasa suka cita, a foretaste of the world redeemed.

 

Light after darkness, gain after loss

Strength after weakness, crown after cross

Sweet after bitter, hope after fears

Home after wandering, praise after tears

 

Sheaves after sowing, sun after rain

Sight after mystery, peace after pain

Joy after sorrow, calm after blast

Rest after weariness, sweet rest at last

 

Give me the hope for tomorrow

Give me the strength for today

You are the promise of peace

On my pathway to faith

 

Near after distant, gleam after gloom

Love after loneliness, life after tomb

After the agony, rapture of bliss

Glory awaits beyond the abyss

 

6 thoughts on “Light after Darkness

  1. Apaapun kejadian yg membuat Yoel (dan keluarga) pain dan grieve, semoga tetap tegar dan kuat yaaa ☺.
    mengutip dr lagi Mary J Blige(Each Tears):

    Each tears, there’s lesson
    make you wiser than before and make you STRONGER than you know.

    Tetaappp semangaat yaa.
    GOD leads

  2. Yoel, I don’t know you, I don’t really know what happened to you..
    But I sincerely hope that through this all, may u get stronger. And in the end, like Job, u can say, now I have Experienced God (even more) ^^. Stay faithful bro!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s