Jadi TKI atau Pulang Kampung

Beberapa minggu akhir ini gw lumayan berpikir antara dua pilihan: pulang ke Indonesia for good atau tetap jadi TKI.

Jadi ada dua pilihan sulit. Di perusahaan dimana gw bekerja sekarang, gw lagi ditawarin promosi. Dan kalau gw jadi promosi, maka at least gw harus dua tahun lagi di Jerman (minimal kontrak). Kalau gw keluar di tengah-tengah bakal ada denda yang harus gw bayar. Di sisi lain, ada tawaran pekerjaan yang lumayan menarik di Jakarta. Di salah satu hot startup di sana, gw ditawarin sebuah role yang lumayan challenging.

Kebanyakan orang yang gw tanyain pendapatnya lebih condong buat gw tetap jadi TKI. Alasanya lebih ke living quality yang tinggi di eropa (ga ada overtime, 6 weeks paid holiday, flexible working hours, fresh air, etc). Selain itu mereka berpendapat kalau ini saatnya buat gw mencari pengalaman sebanyak mungkin di luar sampai nantinya gw plg for good. Toh masih ada 3-4 tahun sebelum rencana gw untuk pulang ke Indonesia for good di umur 30.

Di sisi lain, gw lumayan tempted untuk mencoba bekerja di Indonesia. Selama ini gw belon pernah bekerja di corporate company di Indonesia. Pengen tau aja gimana rasanya bekerja profesional dengan bangsa sendiri, budaya sendiri, dan bahasa sendiri.

Masalahnya kalau gw pulang kampung, gw seperti membakar jembatan. Peluang gw buat kembali bekerja di luar negeri setelah gw stay di Indonesia tampaknya sulit (CMIIW).

Dan kalau gw ambil promosi di perusahaan yang sekarang, maka gw bakal tinggal di land of beers ini at least 2 tahun lagi (which is quite long).

Di negara maju ada living quality yang tinggi, udara segar, ga ada macet, bebas traveling, aman, tetapi hidup cukup monoton, jauh dari keluarga, dan apa2 (cuci, masak, dll) sendiri.

Di Indonesia ada banyak teman2, keluarga, makanan enak, tukang pijit, tapi  macet, polusi, susah buat lari di luar, ga aman, kerja overtime, cuti sedikit, dan harus liat orang2 goblok kaya FP* dan FB*

Kalau kalian jadi gw, bakal pilih yang mana?

21 thoughts on “Jadi TKI atau Pulang Kampung

  1. Kayaknya gue bakal tetap merantau.. toh udah target 3-4 tahun lagi bakal for good, jadi might as well make the best of your working abroad experience sebelum pulang hehehe. Just my 2 cents though🙂

  2. Kalau lebih menyukai tantangan atau hal yg baru berarti balik je Indonesia tapi kalau lebih memilih sesuatu yg sudah pernah atau cukup biasa dikerjakan alias ‘zona nyaman’ tetap aja di Jerman.

  3. Sori mungkin agak ngawang haha. Gue akan mikir, kira-kira pilihan mana yang lebih berguna buat hidup gue 3-4 tahun mendatang ketika gue udah berkarir di Indo.

  4. Kalau panggilan hati terdalam pulang ke Indonesia ya pulang aja dengan segala resiko jeleknya. Keburu kiamat he..he.. Apalagi klo pacar ada di indo. So kalau nanti kecewa ngga boleh nyalahin siapa2. Alternatif lain: Kalau cuma kangen indo kan bisa sering2 pulang ke indo, krn uang jerman cukup utk biaya pp. Masih bingung jg? Klo percaya tuntunan RK ya..silahkan merendahkan diri dihadapan Tuhan berdoalah. Mana ada Bapa yg memberikan batu jika anaknya meminta roti. Amin

  5. Living in DE/ ID would always bring its plus and minus. If you want a stable life, living in DE would be a great choice. However, if you’ve entrepreneurial mindset living in ID would benefit you in the future. Learnt from my past, I try to focus on the inner condition instead the outer condition. No matter where you live, if you have inner contentment, life would always be a paradise. Take SG as an example, they’re one of the most prosperous country however the happiness index survey was always low. The same thing I saw in DE, many people suffered depression and mental illnesses eventhough they lived in a “perfect” country. Just my 2 cents😉

  6. Pengalaman gw balik indo dan akhirnya balik lagi ke negeri tetangga, karena : gw ngmg buruknya dulu
    1. kalo pilihan lu jatoh sama area Jakarta, congratz, you will face the same thing everyday and tiring which is “MACET” dan logika berkendara yang minus zero. kecuali area deket rumah = cukup aman. waktu lu habis di jalan, dan kalo loe kerja deket Sudirman congratz lagi u harus kejar 3 in 1.
    2. di Indo, kemana-mana harus nyetir, mau olahraga dengan alam harus berhadapan dengan pasir dan knalpot (pasir karena banyak development sana sini) bagus sih sbenarnya, tp ga ada standard kebersihan project..soal malas dan rajin juga tergantung kita juga sih, akhirnya karena lingkungan ga kondusif jadinya ga bs exercise deh.
    3. tekanan darah suka naik dan turun meliat kelakuan berkendara manusia planet, belum lagi rasisnya khususnya versus si Miskin melawan si Kaya. (kasus Yaris nabrak motor, yg digebukin malah si Yaris pdhl yg salah motor lawan arah)
    4. pengalaman gw bekerja dgn org2 prof di Indo ga seefisien di luar-IMHO loh..dan banyak alesannya (gw yakin ga semua tp umumnya begitu)
    5. seperti yang lu bilang deh cape hati dan gregetan liat org2 goblok kyk FP* dan berita2 provokatif berbau rasis

    benefitnya pulang Indo :
    1. deket dengan teman dan keluarga
    2. banyak makanan favorit kita
    3. terbukanya peluang usaha jd bisnismen

    Well living in overseas doesn’t mean that we will forget our roots right. IMHO aja sih. akhirnya meskpun gw merasa jembatan gw ke overseas hampir roboh setelah balik indo 2 tahun tapi gw yakin experiences kita itu akan terpakai sebagai penyambung jembatan, karena kan kita yang buat jembatannya so ga mungkin kalo jembatannya terbakar or roboh.

    Follow your heart bro..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s