Boarding Pass

601093_10152313729539167_20826826_n

Joko

Jakarta – Dubai – Paris. Emirates Air. First Class.

Hanya Bapak dan Ibu yang mengantarku ke terminal 2B di Cengkareng. Padahal aku berharap bisa bertemu Kania di bandara. Aku maklum sih. Pasti Kania juga merasa sungkan dengan Bapak dan Ibuku. “Ingkang ngatos-atos ing Paris. ampun kesupen sholat gangsal. Telepon Ibu Bapak menawi sanguh” (Yang hati-hati di Paris. Jangan lupa sholat. Telepon Ibu Bapak kalau bisa). “Inggih Bu.”

Aku berjalan melewati pintu imigrasi dan kemudian pintu keberangkatanku – 2K. Persis seperti inisial nama Kania. Kenapa Ia terus menghantui hidupku. Kania Kartika. Aku mengenalnya sudah sejak sembilan tahun yang lalu. Bahkan aku sudah berpacaran dengannya selama enam tahun. Belum pernah aku bertemu dengan seorang wanita yang sepintar dan sebaik dia. Selama enam tahun hubungan kami seperti menunggu bom yang pasti meledak. Sebenarnya tidak ada yang salah diantara kami berdua. Hanya ada satu duri dalam daging. Kania seorang Sunda dan aku seorang Jawa tulen. Iya iya. Aku tahu ini sudah abad 21. Tapi sayangnya duniaku tidak semaju film Hollywood dimana seorang wanita Kaukasian bisa menikah dengan pria berkulit hitam. Duniaku lebih mirip dengan latar Eropa abad ke-15 ketika tragedi Romeo dan Juliet terjadi hanya karena nama belakang mereka adalah Capulet dan Montague.

Bukan aku yang terlalu peduli apakah leluhur Kania adalah dari raja-raja Pajajaran atau raja-raja Majapahit. Tapi aku terhimpit oleh dua pusat gravitasi besar: Kania dan Ibuku.

Ibuku adalah seorang Jawa tulen. Bahkan konon kata Bapak, Ibu masih ada darah biru, keturunan dari raja-raja di Kerajaan Jogjakarta.  Entah kenapa, dari sejak SMA aku menemukan satu keanehan. Ibu tidak suka setial kali aku dekat dengan wanita dari suku Sunda. Tentu saja ini hal yang aneh. Karena dari kecil aku tinggal di kota Bandung, tempat dimana mayoritas penduduknya berasal dari suku Sunda. “Mangke menawi mileh semah ingkang soleh uga menawi sanguh saking keluarga Jawi” (Nanti kalau memilih istri yang sholeh dan kalau bisa dari keluarga Jawa). Semakin dewasa, aku semakin bisa menafsirkan kata-kata Ibuku itu. “Kalau bisa” bukanlah sebuah saran, melainkan lebih sebagai sebuah ultimatum. Calon istri orang Jawa atau mending tidak sama sekali.

Entah daripada datangnya sentimen primordialisme Ibu ini. Mungkin hal ini bisa ditarik keabad ke-14 di masa keemasan kerajaan Majapahit (suku Jawa). Konon katanya  suku Jawa dan Sunda sukar masuk dalam ikatan pelaminan karena pengkhianatan Gajah Mada dan Hayam Wuruk terhadap kerajaan Sunda di perang Bubat. Seluruh rombongan kerajaan Sunda tewas ketika membawa putri Dyah Pitaloka yang hendak diperistri raja Hayam Wuruk. Walau sampai sekarang masih simpang siur kebenaran sejarah ini. Tapi yang pasti hingga kini aku sadari tidak ada satupun jalan di Bandung yang dinamai dengan raja-raja Jawa seperti Gajah Mada atau Hayam Wuruk.

“Aku pikir kamu akan antar aku di bandara.”

“Sorry Jok. Aku tiba-tiba ada keperluan mendadak di kantor. Kamu sudah di bandara?”

“I see. Sudah di dalam pesawat nih. Sebentar lagi aku matiin handphoneku”

“Okay. Safe flight Jok. Bon voyage!”

“Merci.”

Aku tahu Kania hanya mencari-cari alasan. Dia hanya tidak mau menemuiku saat ini. Semoga ketika aku mendarat di Paris nanti aku bisa segera menelponnya.

Acong

Jakarta – Istanbul – Nuremberg. Turkish Airlines. 12 Jam Transit di Istanbul.

Ini salah satu perjalanan pesawatku yang paling menjengkelkan. Kesialan seakan berteman akrab dengan 18 jam terakhirku. Sial pertama terjadi di leg pertama penerbangan dari Jakarta menuju Istanbul. Harapanku bisa duduk di sebelah wanita cantik sirna waktu aku lihat seorang pria paruh baya duduk di kursi 22E. Aku cek lagi boarding pass-ku. Sialan, nomornya benar 22F. Selama 12.5 jam aku harus duduk dengan pria yang ternyata berasal dari Cina daratan ini. Karena tampangku yang memang mirip orang dari Cina daratan, pria 22E ini langsung nyerocos dengan bahasa yang aku tidak mengerti. Sudah terbiasa dengan situasi seperti itu sontak aku menjawab “I am sorry. I don’t speak Chinese”. Si pria 22E itu pun memandangku dengan kebingungan. Bagaimana bisa aku, pria dengan kulit kuning pucat, mata sipit, dan hidung pesek yang nampak 95% seperti etnis Cina bisa tidak berbahasa Mandarin.  Dengan aksen kentalnya Ia balas menjawab “I am sorry. I thought you are a Chinese”. Seperti video tentang keamanan dalam pesawat terbang yang sudah aku dengar berkali-kali, aku sekali lagi harus menjelaskan sejarah singkat kaum keturunan Cina dari zaman Sukarno, pemberontakan PKI, order baru, hingga akhirnya reformasi tahun 1998. Untuk sekadar memberi konteks kepadanya mengapa aku, salah satu dari sekitar tiga juta warga negara Indonesia keturunan Cina, tidak bisa berbahasa Cina.

Sial kedua, ternyata si pria 22E yang mengaku bernama Luobin ini baunya minta ampun! Setiap kali Ia berbicara, aku harus pura-pura menutup hidungku dengan selimut untuk menghindari bau apak mulutnya. Dang! Makin kuat lah stereotipeku tentang orang Cina daratan. Mereka bau, jorok, dan tidak punya tata krama! Loh? Bukannya Luobin hanya bau? Kenapa sekarang aku mengangkat isu bahwa orang Cina daratan juga jorok dan tidak punya tata krama? Masa bodoh! Aku yakin kalau aku menghabiskan waktu lebih lama dengan Luobin maka akan terbukti teoriku kalau orang Cina daratan memang bau, jorok, dan tidak punya tata krama. Titik.

Sial ketiga terjadi di leg kedua dari penerbangan dari Istanbul menuju Nuremberg. Setelah 11.5 jam duduk di sebelah pria bernafas campuran pete dan jengkol, sudah sepatutnya aku mendapatkan perjalanan yang lebih menyenangkan. Dewi Fortuna pun tampaknya sedikit berbelas kasihan denganku. Kuperiksa lagi boarding pas-ku lagi. Yes! Benar. 13C. Seorang wanita muda imut sudah duduk dengan cantiknya di kursi 13B. Aku tebak dari gaya berpakaiannya dan kontur wajahnya, wanita ini berasal dari Jepang. Dan aku benar lagi! Setelah basa-basi sana-sini aku dapat banyak info tentang siapa namanya dan sedang ada keperluan apa di Nuremberg. Dari dulu aku selalu kagum dengan orang Jepang. Mereka sopan dan baik hati. Aku yakin wanita cantik Jepang ini berbanding 180 derajad dengan Luobin yang bau, jorok, dan tidak tahu tata krama. Ah! Seandainya saja nama keluargaku bukan Liang. Tapi Sato, Suzuki, Takahashi, atau Tanaka. Pasti aku lebih bangga dengan darah etnis yang mengalir di tubuhku.

Sayangnya setelah beberapa lama aku bertanya ini itu dengan semangat pada wanita ini, aku mulai menyadari ada seorang lelaki Asia di sebelahnya yang tampak tidak senang. Dan bom kesialan akhirnya jatuh ketika si wanita Jepang ini bercerita bahwa pria di sampingnya adalah pacarnya. Boooo! Aku pikir setelah sial nafas jengkol, aku akan dapat jackpot kenalan cewek lajang cantik dari Jepang. Tapi kali ini, dewi Fortuna tampaknya sedang sibuk memancing di empang. 3 jam terakhir akhirnya aku habiskan dengan tidur hingga aku akhirnya mendarat dengan tenang di Nuremberg, Jerman.

Sitorus

Jakarta – Amsterdam. Garuda Airlines. Boeing 777-300 ER. 

 Empat mobil penuh orang mengantarku ke Cengkareng. Kebanyakan adalah saudara-saudara dari papaku. Tapi aku tidak bahagia sama sekali. Aku tahu benar siapa siapa mereka ini. Mereka kebanyakan adalah tipikal orang Batak brengsek yang hanya menghargai manusia berdasarkan status ekonomi dan sosialnya. Memang dari dulu keluargaku bukanlah superstar baik di keluarga besar Papa atau Mama. Papa hanya bekerja sebagai tukang las di antara saudara-saudaranya yang bisa terbilang sukses di ibukota. Di setiap acara-acara adat baik itu pernikahan atau kematian, kami seringkali tidak dianggap. Duduk di barisan belakang dan kadang sama sekali tidak disapa. Memang jahanam sifat dasar pragmatis manusia itu. Kita cenderung hanya mau bergaul atau menggabungkan diri dengan kelas-kelas sosial yang kita anggap tinggi, baik dari sudut pandang ekonomi, sosial, pendidikan, ataupun agama.

Coreng muka saudara-saudara brengsekku ini mulai menjadi-jadi jelasnya ketika sedikit demi sedikit “status” keluarga kami mulai meningkat. Baik aku maupun kakak perempuanku diterima di perguruan tinggi negeri bergengsi di Jakarta dan Bandung. Tidak ada satupun dari sepupu-sepupuku yang bisa belajar di kampus Gajah duduk seperti aku. Dan ini seperti pukulan telak bagi mereka. Keluarga Igor Sitorus  yang dulu sama sekali tidak dianggap ternyata anak bungsunya bisa masuk jurusan yang konon katanya paling susah ditembus di Indonesia. Karena “kenaikan status” ini, perilaku mereka pada keluargaku mulai berubah. Akupun makin jengah dan muak.

Boarding pass yang ditanganku ini juga menjadi smash keras ke muka mereka. Tiket Garuda dari Jakarta menuju Amsterdam. Aku akan menempuh studi master dua tahun di negeri bule penjajah itu. Dan terang saja Sitorus-Sitorus yang lainnya semakin mendekat pada keluarga kami. Cuuh! Mereka pikir aku tidak tahu tentang betapa munafiknya mereka. Hanya mendekat ke kami ketika mulai ada label-label baru di keluarga kami. Bukan lagi keluagra Igor si tukang las tapi keluarga Igor yang anak bungsunya bisa sekolah sampai ke Eropa. Apa nilai betapa berharganya seseorang dinilai dari uang atau prospek uang yang bisa dihasilkannya? Apa profesi tukang las lebih berharga dari mahasiswa yang belajar ke Eropa. Dasar para ular beludak yang pikirannya cuman uang.

Tidak beda jauh, makin kesini kakakku juga makin jengah dengan keluarga besar Batak kami. Puncaknya adalah ketika Papa meninggal. Dalam upacara adat batak untuk melepas jenazah Papa, hanya karena jenis kelaminnya kakakku tidak masuk hitungan sama sekali. Sangat sulit baginya untuk duduk disamping peti mati Papa. Bahkan berkali-kali aku dengar ia berteriak “Saya anaknya! saya anaknya!”  dan semua saudara-saudaraku malah melotot marah padanya. Hanya aku sebagai anak laki-laki yang dapat hak khusus. Budaya macam apa ini? Apakah hak kakakku sebagai anak hilang hanya karena dia mempunyai yoni dan aku mempunyai lingga?

Karena pengalaman-pengalaman seperti inilah, beberapa tahun terakhir ini aku tidak pernah mengaku sebagai orang Batak. Jika ditanya oleh orang “Kamu orang apa?” pasti aku jawab “Orang Indonesia”. Walau sebenarnya dari rahang persegiku orang sudah bisa menerka kalau aku pasti punya nama akhir Sihombing, Sitorus, Rajaguguk, Pangaribuan, Purba, atau nama-nama akhir pengacara lainnya.

“Nanti waktu udah sampai di Belanda cari komunitas Batak kau. Pasti banyak boru-mu yang bisa bantu kau. “ kata Opungku. “Amit-amit” dalam hatiku. Suku rahang persegi ini pasti menjadi pilihan terakhir kalau aku ingin mencari bantuan ketika aku mendarat di Amsterdam sana.

 

4 thoughts on “Boarding Pass

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s