Identitas

Who are you? Pertanyaan ini lumayan sulit dijawab. Paling gampang dijawab dengan unsur demografis. Gw Yoel, umur 27 tahun, pria dengan rambut hitam dan kulit kuning. Kedua paling gampang, dijawab dengan dimana  kita tinggal, dengan siapa kita bergaul, dan dimana kita bekerja. Gw Yoel, seorang ekspat yang tinggal di Jerman, bergaul banyak dengan Indonesian community, dan seorang 3stripes-er.

Identitas2 ini bisa dipakai untuk menebak karakteristik seseorang, tentunya dengan streotipe. Misalnya jika saya bertemu dengan orang lulusan ITB,  berasal dari Surabaya, bekerja di perusahaan konsultan strategi di Jakarta, umur 25 tahun, dan lajang, kita (atau gw) langsung bisa menebak/mengira-ngira seperti apa karakter orang ini.

Dari semua hal2 yang  dipakai untuk mendeskripsikan siapa diri gw, menurut gw, dengan siapa kita sering bergaul cukup mempengaruhi karakteristik seseorang. Ketika di Bandung, gw banyak sekali dan konstan bergaul dengan komunitas gereja muda di sana. Gw lumayan berasa kalau “DNA” gw sangat mirip dengan orang-orang dari komunitas itu. Ketika gw tinggal di Amerika atau Singapura, ada berbagai macam komunitas. Ada komunitas orang-orang Indonesia student yang ga suka bergaul dengan orang lokal. Ada komunitas mahasiswa international. Ada komunitas ekspat. Setiap komunitas sedikit banyak mempengaruhi identitas personal seseorang. Yang membedakan bagi setiap individu adalah kadar seberapa besar komunitas akan mengubah karakter seseorang. Ada orang yang karakternya kokoh tak bergeming, dimanapun dia ditempatkan. Ada orang yang karakternya akan beradaptasi tergantung dimana ia sedang bernafas.

I may be  wrong, tapi menurut gw, gw lebih cenderung ke sisi orang yang beradaptasi tergantung dimana gw sedang bernafas. Masalah timbul, ketika gw mulai bertanya, apakah berarti identitas (karakter) gw akan terus plin-plan berubah-ubah karena dalam beberapa tahun terakhir gw lumayan nomaden?

Ada orang yang bilang kalau orang kadang seperti bandul yang bergerak dari satu ektrem ke ekstrem lainnya hingga saatnya berhenti di titik keseimbangan. Semoga suatu waktu, gw juga menemukan equilibrium gw.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s